18 Jun 2018

perang tanah melayu


perang di Singapura, Februari 1942



Meratapi pemergian anaknya yang terkena serpihan bom dalam salah satu serangan akhir Jepun sejurus sebelum kejatuhan Singapura, 13 Februari 1942


Satu pasukan tentera Jepun tentera mendarat di Pantai Sarimbun, Februari 1942

10 Februari 1942 - Tentera Jepun menghadapi kehilangan nyawa teramai di Singapura. Krew anti-kereta kebal dan mortar Australia menghala tembakan mereka ke arah Tambak Johor. Tentera Jepun juga ramai terkorban akibat terkepung dalam tumpahan minyak yang terbakar


hari-hari terakhir di singapura


POW dari British Suffolk Regiment, 14 Februari 1942


Lt. Jeneral Arthur E. Percival, Pegawai Pemerintah Tertinggi Tentera British di Malaya sedang merundingkan penyerahan diri dengan Lt. Kolonel Sugita Ichiji


POW bergerak menuju ke Changi, Februari 1942



Jeneral Tomoyuki Yamashita dikenali sebagai "The Tiger of Malaya" berjaya memimpin tenteranya menawan Tanah Melayu dalam masa 70 hari sahaja.


Askar Melayu bangkit mempertahankan Singapura di salah satu medan 
di Singapura pada 10 Februari 1942.


Lt. Adnan Saidi bersama rakan-rakan seperjuangan berjuang sehingga kehabisan peluru dari 12 hingga 14 Februari, 1942. Mereka gugur di Bukit Chandu. Keesokan harinya pada 15 Februari 1942, British menyerah kalah. Walau pun peperangan ini di antara British dan Jepun masakan beliau dan rakan-rakannya hanya jadi 'pemerhati' sahaja. Berjaya membuktikan anak negeri berani dan sanggup berkorban hingga ke titisan darah terakhir. Mereka meletakkan asas penubuhan RAMD yang menjadi teras kekuatan ATM. 
Apakah orang di Malaysia tidak berasa bangga?


Tentera Jepun 'membersihkan' Kuala Lumpur dari saki-baki tentangan, 11 Januari 1941



Royal Engineers bersedia meletupkan sebuah jambatan bagi melengahkan kemaraan bala tentera Jepun.


18th Division dari 25th Imperial Japanese Army memulakan usaha pendaratan jam 00.30 pagi waktu tempatan, 8 Disember 1941. Pearl Harbour pula akan diserang kira-kira 50 minit kemudian (jam 01.18 pagi waktu tempatan), pagi 7 Disember waktu US. Tiba di pantai dalam 4 kumpulan jam 00.45 tetapi terperangkap dengan serangan bertalu-talu dari Indian 9th Infantry Division. Menjelang pertengahan pagi barulah 3 battalion penuh Takumi Detachment berjaya mendarat. Mereka tiba di Kota Bharu pada 10.30 dan hanya dapat menguasainya pada 9 Disember 1941 apabila tentera British mendapat kebenaran untuk berundur. (Gambar sekadar hiasan untuk menggambarkan suasana pertempuran).


Lt. General Takuro Matsui,(berkaca mata) Pegawai Pemerintah 5th Division yang menyerang dari sempadan Thailand setelah mendarat di pantai Singgora dan Patani. Foto diambil di Singapura.


Anggota-anggota Batalion Pertama Regimen Askar Melayu (Malay Regiment) yang baru ditubuhkan berlatih menggunakan bayonet Mereka bersama Lt. Adnan Saidi berjuang hingga ke titisan darah terakhir di Bukit Chandu. Berikutan kekalahan tersebut British telah menyerah kalah

sumber 



Read More

istana peraduan siak

Akhirnya Istana Peraduan Sultan Siak Jatuh ke Pangkuan Pemkab
Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


Foto: Mohamad Arief Rizky/d'Traveler

Pekanbaru - Perebutan bangunan Istana Limas Sultan Siak dengan Pemkab Siak di Riau yang berjalan bertahun-tahun, akhirnya berujung pada putusan Mahkamah Agung (MA). Hasilnya, Istana Limas itu bagian cagar budaya yang harus dikelola Pemkab Siak.

Istana Limas ini lokasi satu komplek dengan areal Istana Siak yang ada di pusat Kota Siak Sri Indrapura di Kab Siak. Posisinya sebelah kiri bangunan utama Istana yang jaraknya hanya belasan meter saja. Bangunannya berbentuk rumah yang kira-kira luasannya 7m x 7 m.
Akhirnya Istana Peraduan Sultan Siak Jatuh ke Pangkuan Pemkab


Bangunan inilah yang menjadi 'rebutan' bertahun-tahun lamanya antara keluarga Sultan Siak yakni sultan Syarim Kasim II. Perebutan siapa paling layak menguasai Istana Limas ini sudah sejak tahun 2009 silam. Keluarga sultan sendiri menempatinya sejak era tahun 60-an.

Ketika itu Pemda Siak meminta kepada keluarga Sultan agar menyerahkan Istana Limas itu ke Pemda Siak bagian dari satu kesatu cagar budaya Istana Siak. Perundingan demi perundingan terus dilakukan. Pendekatan pun dilaksanakan secara damai. Pun itu tidak membuahkan hasil. Keluarga Sultan Siak merasa juga memiliki istana Limas itu bagian dari harta waris mereka.

Singkat cerita, persoalan inipun bermuara ke ranah hukum. Pada tahun 2010 silam, Pemkab Siak melayangkan gugatan perdata atas istana itu untuk dikembalikan bagian dari cagar budaya.
Akhirnya Istana Peraduan Sultan Siak Jatuh ke Pangkuan Pemkab


Dalam putusan di Pengadilan Negeri (PN) Siak, memenangkan Pemkab Siak. Tak puas atas putusan itu, keluarga Sultan Siak terdiri dari, Syarriefah Soud, Syariefah Faizah, Syaed Hasim dan Syaed Lukman melakukan upaya banding untuk mempertahankan istana yang duluan tempat Peraduan (istirahat) Sultan. Pihak keluarga sultan juga meminta ganti rugi ke Pemkab Siak jika mereka harus meninggalkan istana itu.

Dalam upaya banding di Pengadilan Tinggi (PT) Riau, lagi-lagi Pemkab Siak yang menang.

Pada tahun 2012, pihak keluarga Sultan melakukan upaya kasasi karena kalah di PT Riau. Dua tahun setelahnya, MA menguatkan putusan PT Riau dan PN Siak. Artinya perjuangan keluarga sultan pun kandas. Hanya saja dalam amar banding soal tuntutan ganti rugi dikabulkan Rp 2,5 miliar.

Putusan MA disebutkan, bahwa komplek Istana Siak Sri Indrapura yang terdiri dari Asserayah Hasyimiah. Istana Perpaduan, Istana Limas, Istana Panjang dilengkapi kolam dan taman, dengan luas sekitar 20.030 m2 yang terletak di Jl Sultan Syarif Kasim II, Desa Kampung Dalam Kec Siak, Kabupaten Siak Sri Indrapura, Provinsi Riau adalah merupakan peninggalan bersejarah yang telah ditetapkan pemerintah.

MA mengadili menolak permohonan kasasi keluarga Sultan yang diputuskan pada Kamis 26 Juni 2014. Putusan itu diketuai hakim majelis hakim agung Djafni Djamal.

"Kami pun memberikan dana sagu hati Rp 2,5 miliar kepada keluarga Sultan sudah diserahkan di PN Siak pada akhir 2016 lalu," kata Kabag Hukum Pemda Siak, Jon Efendi dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (1/11/2017).

Setelah dilakukan penerimaan ganti rugi dengan keluarga Sultan di PN Siak, kata Jon, pada pertengahan 2017 pihak keluarga sultan pun meninggalkan Istana Limas tersebut.

"Sekarang bangunan istana Limas sudah dikelola Pemkab Siak sebagai bagian dari cagar budaya yang menyatu dengan Istana Siak," kata Jon.
(cha/asp)

detiknews
Read More

songket sampai ke siak

Sejarah Tenun Songket sampai ke Tanah Melayu Siak: Dibawa Orang dari Kerajaan Terengganu, Dikembangkan oleh Tengku Maharatu



Tengku Maharatu, permaisuri kedua Sultan Syarif Kasim II (gambar kiri) dan para puteri di Kesultanan Siak dalam pendidikan di LatifahSchool (gambar kanan). (foto: http://chroniclid.blogspot.co.id/)


PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Orang pertama yang memperkenalkan tenun ini adalah seorang pengrajin yang didatangkan dari Kerajaan Terengganu Malaysia pada masa Kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali.Seorang wanita bernama Wan Siti binti Wan Karim dibawa ke Siak Sri Indrapura, beliau adalah seorang yang cakap dan terampil dalam bertenun dan beliau mengajarkan bagaimana bertenun kain songket. Karena pada saat itu hubungan kenegerian Kesultanan Siak dengan negeri-negeri Melayu di semenanjung sangat lah erat, terutama juga dalam hal seni dan budaya Melayu yang satu.

Pada awalnya tenun yang diajarkan adalah merupakan tenun tumpu dan kemudian bertukar ganti dengan menggunakan alat yang dinamakan dengan "kik", dan kain yang dihasilkan disebut dengan kain tenun Siak (masuk wilayah Provinsi Riau).

Pada awalnya kain tenun Siak ini dibuat terbatas bagi kalangan bangsawan saja terutama Sultan dan para keluarga serta para pembesar kerajaan di kalangan Istana Siak. Kik adalah alat tenun yang cukup sederhana dari bahan kayu berukuran sekitar 1 x 2 meter.

Sesuai dengan ukuran alatnya, maka lebar kain yang dihasilkan tidaklah lebar sehingga tidak cukup untuk satu kain sarung, maka haruslah di sambung dua yang disebut dengan kain "berkampuh".

Akibatnya untuk mendapatkan sehelai kain, terpaksa harus ditenun dua kali dan kemudian hasilnya disambung untuk bagian atas dan bagian bawah yang sudah barang tentu memakan waktu yang lama. Dalam bertenun memerlukan bahan baku benang, baik sutera ataupun katun berwarna yang dipadukan dengan benang emas sebagai ornamen (motif) atau hiasan.

Dikarenakan benang sutera sudah susah didapat, maka lama kelamaan orang hanya menggunakan benang katun. Dan pada saat ini pula kain tenun songket siak dikembangkan pula pembuatannnya melalui benang sutera. Nama-nama motif tenun songket Riau itu antara lain, pucuk rebung, bunga teratai, bunga tanjung, bunga melur, tapuk manggis, semut beriring, siku keluang. Semua motif ini dapat pula saling bersenyawa menjadi bentuk motif baru.

Tokoh Wanita Melayu Riau yang sangat berperan dalam mengembangkan kerajinan kain tenun songket Melayu Siak di Riau adalah Tengku Maharatu. Tengku Maharatu adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua, setelah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggal dunia.

Dia melanjutkan perjuangan kakaknya dalam meningkatkan kedudukan kaum perempuan di Siak dan sekitarnya, yaitu dengan mengajarkan cara bertenun yang kemudian dikenal dengan nama tenun Siak. Tenun Siak yang merupakan hasil karya kaum perempuan telah menjadi pakaian adat Melayu Riau yang dipergunakan dalam pakaian adat pernikahan dan upacara lainnya.

Berkat perjuangan permaisuri pertama yang dilanjutkan oleh permaisuri kedua, perempuan yang tamat dari sekolah Madrasatun Nisak dapat menjadi mubalighat dan memberi dakwah, terutama kepada kaum perempuan.

Tenunan yang lazim di sebut songket itu dalam sejarah yang panjang telah melahirkan beragam jenis motif, yang mengandung makna dan falsafah tertentu. Motif-motif yang lazimnya di angkat dari tumbuh-tumbuhan atau hewan (sebagian kecil) di kekalkan menjadi variasi-variasi yang serat dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai asas kepercayaan dan budaya melayu.

Selanjutnya, ada pula sebagian adat istiadat tempatan mengatur penempatan dan pemakaian motif-motif dimaksud, serta siapa saja berhak memakainya. Nilainya mengacu kepada sifat-sifat asal dari setiap benda atau makhluk yang dijadikan motif yang di padukan dengan nilai-nilai luhur agama islam. Dengan mengacu nilai-nilai luhur yang terkandung di setiap motif itulah adat resam tempatan mengatur pemakaian dan penempatannya, dan menjadi kebanggaan sehingga diwariskan secara turun temurun.

Orang tua-tua menjelaskan bahwa kearifan orang melayu menyimak islam sekitarnya memberikan mereka peluang besar dalam memilih atau menciptakan motif. Hewan yang terkecil seperti semut, yang selalu bekerja sama mampu membuat sarang yang besar, mampu mengangkat barang-barang yang jauh lebih besar dari badannya, dan bila bertemu selalu berangkulan, memberi ilham terhadap pencintaan motif untuk mengabadikan perihal semut itu dalam motif tersebut sehingga lahirlah motif yang dinamakan motif semut beriring.

Begitu pula halnya denagn itik yang selalu berjalan beriringan dengan rukunnya melahirkan motif itik pulang petang atau itik sekawan. Hewan yang selalu memakan yang manis dan bersih (sari bunga), kemudian menyumbangkannya dengan mahkluk lain dan bentuk madu dan selalu hidup berkawan-kawan dengan damainya melahirkan pula motif lebah bergantung atau lebah bergayut.
Bunga-bungaan yang indah, wangi dan segar melahirkan motif-motif bunga yang mengandung nilai dan filsafah keluhuran dan kehalusan budi, keakraban dan kedamaian seperti corak bunga setaman, bunga berseluk daun dan lain-lain. Burung balam, yang selalu hidup rukun dengan pasangannya, melahirkan motif balam dua setengger sebagai cermin dari kerukunan hidup suami istri dan persahabatan.



Ular naga, yang dimitoskan menjadi hewan perkasa penguasa samudra, melahirkan motif naga berjuang serindit mencerminkan sifat kearifan dan kebijakan. Motif puncak rebung dikaitkan dengan kesuburan dan kesabaran. Motif awan larat dikaitkan dengan kelemah-lembutan budi, kekreatifan, dan sebagainya.

Dahulu setiap pengrajin diharuskan untuk memahami makna dan falsafah yang terkandung di dalam setiap motif. Keharusan itu dimaksudkan agar mereka pribadi mampu menyerat dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, mampu menyebarluaskan, dan mampu pula menempatkan motif itu sesuai menurut alur dan patutnya. Karena budaya melayu sangat ber-sebati dengan ajaran islam, inti sari ajaran itu terpateri pula dengan corak seperti bentuk segi empat dikaitkan dengan sahabat Nabi Muhammad SAW yang berempat, bentuk segi lima dikaitkan dengan rukun islam, bentuk segi enam dikaitkan dengan rukun iman, bentuk wajik dikaitkan dengan sifat Allah yang maha pemurah, bentuk bulat dikaitkan dengan sifat Allah yang maha mengetahui dan penguasa alam semesta, dan sekitarnya.

Menurut orang tua Melayu Riau, makna dan falsafah di dalam setiap motif, selain dapat meningkatkan minat-minat orang untuk menggunakan motif tersebut, juga dapat menyebar-luaskan nilai-nilai ajaran agama Islam yang mereka anut, itu lah sebabnya dahulu pengrajin diajarkan membuat atau meniru corak. Ungkapan adat mengatakan :

Di dalam pantun banyak penuntun
Bertuah orang berkain songket Coraknya banyak bukan kepalang
Petuahnya banyak bukan sedikit
Hidup mati di pegang orang
Kain songket tenun melayu
Mengandung makna serta ibarat
Hidup rukun berbilang suku Seberang kerja boleh di buat
Bila memakai songket bergelas
Di dalamnya ada tunjuk dan ajar
Bila berteman tulus dan ikhlas
Kemana pergi tak akan terlantar

Khazanah songket Melayu amatlah kaya dengan motif dan serat dengan makna dan falsafahnya, yang dahulu dimanfaatkan untuk mewariskan nilai-nilai asas adat dan budaya tempatan. Seorang pemakai songket tidak hanya sekedar memakai untuk hiasan tetapi juga untuk memakai dengan simbol-simbol dan memudahkannya untuk mencerna dan menghayati falsafah yang terkandung di dalamnya. Kearifan itulah yang menyebabkan songket terus hidup dan berkembang, serta memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan mereka sehari-hari. ***

Sumber:
[1] Riaudailyphoto.com
[2] Sejarah Tenun Songket Siak Melayu Riau


potretnews


Asal Muasal Keindahan Tenun Siak yang Memukau
25 Sept 2017



Bidal tua Melayu bertuliskan “Dari kapas menjadi benang. Pilin benang menjadi kain” merupakan tugu pengingat dan menjadi simbol kreatifitas masyarakat Siak dalam mengubah kapas menjadi tenunan yang bernilai berharga. Tenun Siak, sebagaimana namanya, adalah tenunan tradisional yang dibuat oleh masyarakat Siak, Provinsi Riau. Tenun Siak sudah ada sejak Siak masih berupa kesultanan yang dipimpin oleh Tengku Said Ali.

Sejarahnya pekerjaan menenun hanya dikenal sebagai pekerjaan sambilan di dalam lingkungan istana saja. Namun, seiring perkembangan zaman tenun Siak dapak dibuat oleh masyarakat kalangan biasa.

Dialah Tengku Maharatu, seorang tokoh Melayu Riau yang sangat berperan dalam mengembangkan kerajinan kain tenun songket Melayu Siak di Riau. Tengku Maharatu merupakan permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua. Setelah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggal dunia, dia melanjutkan perjuangan kakaknya tersebut dalam meningkatkan kedudukan kaum perempuan Siak di lingkungannya, yakni dengan cara mengajarkan bertenun yang hasil karyanya hingga kini disebut dengan Tenun Siak.



Tenun Siak yang merupakan hasil karya perempuan Melayu telah menjadi pakaian adat Melayu Riau yang kerap dipergunakan dalam upacara adat pernikahan dan upacara lainnya.

Pada awalnya tenun yang diajarkan merupakan tenun tumpu dan kemudian diganti menggunakan alat yang dinamakan dengan Kik. Kik merupakan alat tenun yang cukup sederhana dari bahan kayu berukuran 1 x 2 meter. Karena ukurannya inilah, KIK tidak mampu menghasilkan kain tenun yang lebar, sehingga perlu digabungkan untuk dapat menjadi kain sarung. Kain tenun yang telah digabungkan ini disebut dengan kain “Berkampuh”.

Tenun Siak telah melalui sejarah panjang dan kini mempunyai ragam motif dan corak yang variatif. Motif-motif yang kerap dipakai adalah tumbuh-tumbuhan dan hewan. Konon kearifan orang Melayu dalam menyimak ajaran Islam dan alam sekitar telah memberikan mereka banyak inspirasi dalam menciptakan motif. Beberapa motif yang dikenal saat ini antara lain:

Motif Flora: ampuk manggis, bunga tratai, bunga kenanga, bunga kundur, akar berjalin, pucuk dara, bunga melur, bunga tanjung, bunga hutan, kaluk paku, daun pandan, tampuk pedade, bunga cina, daun sirih.
Motif fauna: semut beriring, siku keluang, ayam-ayaman, itik sekawan, balam dua, naga-nagaan, ikan-ikanan, ulat.
Motif Alam: potong wajid, bintang-bintang, jalur-jalur, pelangi-pelangi, awan larat, perahu, sikat-sikat bulan sabit.

mahligai
Read More

Siak Sri Inderapura

Cantiknya Siak, Kota Pusaka Pewaris Kerajaan Islam di Riau
Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


Siak - Kota Siak Sri Indrapura merupakan Ibu Kota Kabupaten Siak di Riau. Kota ini menjadi kota di Riau yang ditetapkan sebagai kota pusaka.

Kota Siak Sri Indrapura, atau lazimnya disebut kota Siak, jaraknya sekitar 98 km dari Pekanbaru. Jika menggunakan roda empat, membutuhkan waktu sekitar 2 jam 20 menit. Kota Siak ini berada di pinggiran sungai Siak yang terkenal sungai terdalam di Indonesia.

Penetapan kota pusaka ini dilakukan Kementerian PUPR melalui Dirjen Cipta Karya pada 15 Desember 2017. Untuk meraih kota pusaka ini, tentunya membutuhkan perjuangan yang cukup panjang dilakukan Pemkab Siak dalam hal ini, Dinas PU Siak. Perjuangan itu dilakukan sejak Februari 2016 lalu dengan berbagai kajian yang harus dilakukan.

Untuk mengajukan sebagai kota pusaka, Pemkab Siak punya segudang alasan yang sangat layak sebagai pertimbangan pemerintah pusat. Karena di Kota Siak ini, menyimpan bukti sejarah masa lampau akan kerajaan-kerajaan Islam yang dikenal dengan Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Cantiknya Siak, Kota Pusaka Pewaris Kerajaan Islam di RiauFoto: ist.

Peninggalan sejarah paling fenomenal Istana Siak yang masih kokoh hingga saat ini. Termasuk juga gedung Balai Kerapatan Adat kerajaan yang masih tersisa hingga sekarang. Masjid Sultan Siak juga masih berdiri dengan kokoh.

Tak hanya itu, sebuah kapal terbuat dari baja besi yang pernah mengarungi hingga ke Eropa, menjadi saksi bisu akan kejayaan kerajaan Siak masa lalu. Kapal milik Sultan Siak itu dapat dijumpai di sebelah Istana Siak. Kapal itu juga sebagai angkutan Sultan Siak kala menghadiri penobatan Ratu Belanda sebelum kemerdekaan.

Berbagai bukti sejarah itu, hingga kini masih 'tersimpan' rapi bak mesuem raksasa yang bisa disaksikan langsung di kota Siak itu.

Kota pusaka merupakan program Kementrian PUPR dalam pelestarian dan penataan situs-situs tinggalan sejarah. Tujuannya tidak lain, progam kota pusaka ini adalah menjaga indentitas kota berdasarkan sejarah awal berdirinya kita tersebut.

Defenisi kota pusaka, adalah sebagai kota yang didalamnya terdapat kawasan cagar budaya dan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai-nilai penting bagi kota dan masyarakatnya.

"Selain itu juga mengantisipasi terhadap lajunya pembangunan infrastruktur dan semakin mengglobalnya budaya luar yang cenderung menyebabkan budaya lama terancam hilang," kata Kepala PU Pemkab Siak, Irving Kahar Arifin dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (20/12/2017).

Dalam sejarahnya, Kota Siak tercatat peninggalan kerajaan Melayu Islam yang pernah berjaya di abad 18 dan 20. Masih kokohnya peninggalan sejarah masa lalu itu, menjadi tantangan tersendiri untuk terus dijaga.

Program kota pusaka inilah, akan memelihara, melestarikan, menata dan mewariskan kembali pada generasi berikutnya dengan memberikan nilai tambah terhadap bangunan sejarah tersebut.

Terhadap program kota pusaka ini, Pemkab Siak di bawah pimpinan Bupati Syamsuar ini, akan membuat delinasi sebagai batasan kawasan. Pola pembangunannya harus betul-betul diatur dan ditata dengan tetap menonjolkan bangunannya sebagai ikon kota pusaka.

"Dan pengelolaannya harus ditetapkan dalam bentuk badan pengelola. Segala bentuk pembangunan dan perizinan harus mendapat rekomendasi dari badan pengelola. Dengan demikian, pelestarian cagar budaya yang ada akan tetap terjaga dengan baik," kata Irving.

Dengan ditetapkan sebagai kota pusaka, maka pembiayaan untuk pelestariannnya akan dibantu dari anggaran APBD, APBD dan CSR.
Cantiknya Siak, Kota Pusaka Pewaris Kerajaan Islam di RiauFoto: ist.

Untuk kawasan kota pusaka Siak deliniasinya adalah kawasan kota, hingga ke Mempura (sekitar kota Siak) sekaligus aliran sungai Siak. Kawasaan itu sebagai pusaka saujana yang memiliki arti penting dari kejayaan kerajaan Siak mulai dari Sultan pertama hingga Sultan terakhir.

Siak ke depannya akan terus mengembangkan potensi sungai Siak sebagai pusaka saujana yang memiliki arti penting dengan membuat wisata air untuk melestarikan pusaka Siak.

"Rencana ke depan, akan dilakukan kajian rencana tatan bangunan dan lingkungan (RTBL) untuk menentukan zona inti dan zona pendukung," kata Irving.

Zona inti itu nantinya merupakan daerah terbatas yaitu zona di mana akan diatur tentang tinggi bangunan yang diizinkan. Ada lagi zona yang hanya boleh bagi penjalan kaki dan zona non smoking area.



"Ini merupakan kebijakan lokal dari Pemda Siak," kata Irving.

Dalam mendukung program kota pusaka ini, Bupati Siak Syamsuar telah berkomitmen membuat regulasi pendukung lainnya. Misalkan saja, Perda Bangunan Gedung Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang satu-satunya hanya ada di Riau saat ini. Tim itu akan diketui OK Nizami Jamil tokoh Siak yang orangtuanya dulu bagian dari jajaran penting di kesultanan Siak. Regulasi lainnya adalah, adanya Perbup Kampung Adat, Perbup RTBL.

Di Indonesia sebelumnya tercatat ada 49 kota dan kabupaten yang telah ditetapkan sebagai kota pusaka. Dan Siak merupakan 5 kabupaten kota lainnya yang selanjutnya menyusul sebagai kota pusaka hingga akhir tahun 2017. Dengan penambahan 5 kota tersebut, maka di Indonesia saat ini tercatat ada 54 kota yang ikut dalam program kota pusaka. Dan untuk Provinsi Riau baru Siak mengukir sejarah sebagai yang pertama.

Menurut UU No 11 Tahun 2010, cagar budaya ada yang bersifat tangible (ragawi) dan intangible (non ragawi). Kota Siak memiliki cagar budaya yang bersifat ragawi yaitu bangunan cagar budaya, benda cagar budaya, kawasan cagar budaya sebanyak 43 buah. Sedangkan yang bersifat non ragawi seperti kebudayaan, makanan tari-tarian dan yang lainnya ada 36 jenis.

"Penetapan kota pusaka Siak ini bukanlah hasil akhir yang dicapai. Namun ini baru langkah awal dari tahapan yang harus dilalui setelah menyelesaikan sejumlah dokumen sesuai program yang ada. Masih ada tahapan penting lainnya dalam penyusunan RTBL, serta perencaan teknis lainnya," kata Irping.

Kota Siak sejak otonomi daerah, jauh lebih baju dibandung masa orde baru. Dulunya, Siak ini hanyalah salah satu kecematan dari Kabupaten Bengkalis. Dulu, untuk mendapatkan kota Siak dari Pekanbaru, kendaraan harus menyeberang dengan kapal atau sampan. Ini karena saat itu belum ada jembatan yang bisa mengakses langsung ke kota Siak.

Di zaman Presiden SBY, sebuah jembatan megah yang menjadi andalan masyarakat setempat akhirnya diresmikan. Bangunan yang megah itu menjadi destinasi tersendiri di kota Siak.

Dari tahun ke tahun, kota Siak terus berbena bak gadis yang akan tumbuh menjadi dewasa. Di sana sani kita Siak terus bersolek dirinya. Dulunya sebuah kawasan kumuh terlihat dengan jelas di pinggiran sungai Siak.

Kini, bangunan yang dulunya tak elok dipandang, sudah berubah menjadi sebuah turap raksasa membentang angkuh di bantaran sungai. Dengan susunan turap yang rapi, kawasan itu menjadi tempat wisata tersendiri sambil menyaksikan kapal-kapal yang melintas di sungai. Penasaran akan indahnya kota Siak, tak ada salahnya Anda mampir ke sana.
(cha/asp)

detiknews



Kesultanan Siak Sri Inderapura



Kesultanan Siak Sri Inderapura (bahasa Inggris: Sultanate of Siak Sri Inderapura), adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil, Pewaris Tahta Kerajaan Johor yang mengasingkan diri ke Pagaruyung Raja Kecil berdasarkan Hikayat Siak, merupakan Putra Sultan Mahmud Syah, Raja Kerajaan Johor yang dibunuh. Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.


Etimologi

Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.

Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani. Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.

Agama

Pada masa awal Kesultanan Melayu Melaka, Riau menjadi tempat pusat agama islam. Setelah itu perkembangan agama Islam di Siak menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat penyebaran dakwah Islam, hal ini tidak lepas dari penggunaan nama Siak secara luas di kawasan Melayu. Jika dikaitkan dengan pepatah Minangkabau yang terkenal: Adat menurun, syara’ mendaki dapat bermakna masuknya Islam atau mengislamkan dataran tinggi pedalaman Minangkabau dari Siak sehingga orang-orang yang ahli dalam agama Islam, sejak dahulu sampai sekarang, masih tetap disebut dengan Orang Siak. Sementara di Semenanjung Malaya, penyebutan Siak masih digunakan sebagai nama jabatan yang berkaitan dengan urusan agama Islam.

Walau telah menerapkan hukum Islam pada masyarakatnya, namun sedikit pengaruh Minangkabau masih mewarnai tradisi masyarakat Siak. Dalam pembagian warisan, masyarakat Siak mengikut kepada hukum waris sebagaimana berlaku dalam Islam. Namun dalam hal tertentu, mereka menyepakati secara adat bahwa untuk warisan dalam bentuk rumah hanya diserahkan kepada anak perempuan saja.

Masa awal

Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, Siak merupakan kawasan yang berada antara Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau, kemudian menjadi vasal Malaka sebelum ditaklukan oleh Portugal. Sejak jatuhnya Malaka ke tangan VOC, Kesultanan Johor telah mengklaim Siak sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. Hal ini berlangsung hingga kedatangan Raja Kecil yang kemudian mendirikan Kesultanan Siak.

Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis. Hal ini bertujuan untuk melepaskan Siak dari pengaruh Kesultanan Johor  Sementara dalam Hikayat Siak, Raja Kecil disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Berdasarkan korespondensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC. Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri yang ditujukan kepada pihak Belanda, menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.

Sebelumnya dari catatan Belanda, dikatakan bahwa pada tahun 1674 telah datang utusan dari Johor meminta bantuan raja Minangkabau untuk berperang melawan raja Jambi. Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin, juga menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673),yang mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah dihancurkan oleh Portugal dan Aceh. Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.

Pada tahun 1718, Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor. Namun pada tahun 1722, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak atas tahta Johor. Atas bantuan pasukan bayaran dari Bugis, Raja Sulaiman kemudian berhasil mengkudeta tahta Johor, dan mengukuhkan dirinya menjadi penguasa Johor di Semenanjung Malaysia. Sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan pada tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan nama Siak Sri Inderapura. Sementara pusat pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta Johor, diakui oleh komunitas Orang Laut. Orang Laut merupakan kelompok masyarakat yang bermukim pada kawasan Kepulauan Riau yang membentang dari timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, dan loyalitas ini terus bertahan hingga runtuhnya Kesultanan Siak.

Masa keemasan


Sultan Siak dan Dewan Menterinya serta Kadi Siak pada tahun 1888


Upacara penobatan Sultan Siak pada tahun 1899

Dengan klaim sebagai pewaris Malaka, pada tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil melakukan perluasan wilayah, dimulai dengan memasukkan Rokan ke dalam wilayah Kesultanan Siak dan kemudian membangun pertahanan armada laut di Bintan. Namun pada tahun 1728, atas perintah Raja Sulaiman, Yang Dipertuan Muda bersama pasukan Bugisnya, Raja Kecil diusir keluar dari Kepulauan Riau. Raja Sulaiman kemudian menjadikan Bintan sebagai pusat pemerintahannya. Atas keberhasilannya itu, Yang Dipertuan Muda diberi kedudukan di Pulau Penyengat.

Sementara Raja Kecil terpaksa melepas hegemoninya di Kepulauan Riau dan mulai membangun kekuatan baru di kawasan sepanjang pesisir timur Sumatera. Antara tahun 1740-1745, Raja Kecil kembali bangkit dan menaklukan beberapa kawasan di Semenanjung Malaya. Karena mendapat ancaman dari Siak, dan disaat yang bersamaan orang-orang Bugis juga meminta balas atas jasa mereka, maka Raja Sulaiman meminta bantuan kepada Belanda di Malaka. Dalam perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1746 itu, Johor menjanjikan akan memberikan Bengkalis kepada Belanda. Perjanjian itu kemudian direspon oleh VOC dengan mendirikan gudang pada kawasan tersebut.

Sepeninggal Raja Kecil pada tahun 1746, klaim atas Johor memudar. Dan pengantinya Sultan Mahmud berfokus kepada penguatan kedudukannya di pesisir timur Sumatera dan daerah vassal di Kedah dan kawasan pantai timur Semenanjung Malaya. Pada tahun 1761, Sultan Siak membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas kedaulatan wilayahnya, serta bantuan dalam bidang persenjataan. Setelah Raja Mahmud wafat, muncul dualisme kepemimpinan di kerajaan ini. Raja Muhammad Ali yang lebih disukai Belanda kemudian menjadi Sultan Siak. Sementara sepupunya Raja Ismail yang tidak disukai Belanda, muncul sebagai Raja Laut, menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, dan membangun kekuatan di gugusan Pulau Tujuh.

Sekitar tahun 1767, Raja Ismail telah menjadi duplikasi dari Raja Kecil. Didukung oleh Orang Laut, ia terus menunjukan dominasinya di kawasan perairan timur Sumatera, dengan mulai mengontrol perdagangan timah di Pulau Bangka, kemudian menaklukan Mempawah di Kalimantan Barat. Sebelumnya Raja Ismail juga turut membantu Terengganu menaklukan Kelantan, hubungan ini kemudian diperkuat oleh adanya ikatan perkawinan antara Raja Ismail dengan saudara perempuan Sultan Terengganu. Pengaruh Raja Ismail di kawasan Melayu sangat signifikan, mulai dari Terengganu, Jambi, dan Palembang. Laporan Belanda menyebutkan, Palembang telah membayar 3.000 ringgit kepada Raja Ismail agar jalur pelayarannya aman dari gangguan. Sementara Hikayat Siak menceritakan tentang kemeriahan sambutan yang diterima oleh Raja Ismail sewaktu kedatangannya ke Palembang.

Pada abad ke-18, Kesultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir timur Sumatera. Tahun 1780, Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan wilayah tersebut dalam pengawasannya, termasuk wilayah Deli dan Serdang. Di bawah ikatan perjanjian kerja sama dengan VOC, pada tahun 1784 Kesultanan Siak membantu VOC menyerang dan menundukkan Selangor. Sebelumnya mereka telah bekerja sama memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.

Perdagangan

Kesultanan Siak Sri Inderapura mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka, serta kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yang menyebutkan pada tahun 1783 ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Malaka. Siak menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Malaka dan Inggris di Pulau Pinang. Namun disisi lain, kejayaan Siak ini memberi kecemburuan pada keturunan Yang Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya kekuasaan mereka pada kawasan Kepulauan Riau. Sikap ketidaksukaan dan permusuhan terhadap Sultan Siak, terlihat dalam Tuhfat al-Nafis,di mana dalam deskripsi ceritanya mereka menggambarkan Sultan Siak sebagai "orang yang rakus akan kekayaan dunia".

Peranan Sungai Siak sebagai bagian kawasan inti dari kerajaan ini, berpengaruh besar terhadap kemajuan perekonomian Siak Sri Inderapura. Sungai Siak merupakan kawasan pengumpulan berbagai produk perdagangan, mulai dari kapur barus, benzoar, timah, dan emas. Sementara pada saat bersamaan masyarakat Siak juga telah menjadi eksportir kayu yang utama di Selat Malaka, serta salah satu kawasan industri kayu untuk pembuatan kapal maupun bangunan. Dengan cadangan kayu yang berlimpah, pada tahun 1775 Belanda mengizinkan kapal-kapal Siak mendapat akses langsung kepada sumber beras dan garam di Pulau Jawa, tanpa harus membayar kompensasi kepada VOC. Namun tentu dengan syarat Belanda juga diberikan akses langsung kepada sumber kayu di Siak, yang mereka sebut sebagai kawasan hutan hujan yang tidak berujung.

Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan Semenanjung Malaya cukup signifikan. Mereka mampu menggantikan pengaruh Johor sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan. Selain itu Kesultanan Siak juga muncul sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama yaitu Siak, Kampar, dan Kuantan, yang mana sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan Malaka. Namun demikian kemajuan perekonomian Siak memudar seiring dengan munculnya gejolak di pedalaman Minangkabau yang dikenal dengan Perang Padri.

Penurunan

Ekspansi kolonialisasi Belanda ke kawasan timur Pulau Sumatera tidak mampu dihadang oleh Kesultanan Siak, dimulai dengan lepasnya Kesultanan Deli, Kesultanan Asahan, Kesultanan Langkat, dan kemudian muncul Inderagiri sebagai kawasan mandiri.Begitu juga di Johor, di mana seorang sultan dari keturunan Tumenggung Johor kembali didudukkan, dan berada dalam perlindungan Inggris di Singapura. Sementara Belanda memulihkan kedudukan Yang Dipertuan Muda di Pulau Penyengat, dan kemudian mendirikan Kesultanan Lingga di Pulau Lingga. Selain itu Belanda juga mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan mendirikan Residentie Riouw yang merupakan bagian dari pemerintahan Hindia Belanda yang berkedudukan di Tanjung Pinang.

Penguasaan Inggris atas Selat Melaka, mendorong Sultan Siak pada tahun 1840 untuk menerima tawaran perjanjian baru mengganti perjanjian yang telah mereka buat sebelumnya pada tahun 1819. Perjanjian ini menjadikan wilayah Kesultanan Siak semakin kecil dan terjepit antara wilayah kerajaan kecil lainnya yang mendapat perlindungan dari Inggris. Demikian juga pihak Belanda menjadikan kawasan Siak sebagai salah satu bagian dari pemerintahan Hindia Belanda, setelah memaksa Sultan Siak menandatangani perjanjian pada 1 Februari 1858. Dari perjanjian tersebut Siak Sri Inderapura kehilangan kedaulatannya, kemudian dalam setiap pengangkatan raja, Siak mesti mendapat persetujuan dari Belanda. Selanjutnya dalam pengawasan wilayah, Belanda mendirikan pos militer di Bengkalis serta melarang Sultan Siak membuat perjanjian dengan pihak asing tanpa persetujuan pemerintahan Hindia Belanda.

Perubahan peta politik atas penguasaan jalur Selat Malaka, kemudian adanya pertikaian internal Siak dan persaingan dengan Inggris dan Belanda, melemahkan pengaruh hegemoni Kesultanan Siak atas wilayah-wilayah yang pernah dikuasainya.Tarik ulur kepentingan kekuatan asing terlihat pada Perjanjian Sumatera antara pihak Inggris dan Belanda, menjadikan Siak berada pada posisi yang dilematis, berada dalam posisi tawar yang lemah. Kemudian berdasarkan perjanjian pada 26 Juli 1873, pemerintah Hindia Belanda memaksa Sultan Siak, untuk menyerahkan wilayah Bengkalis kepada Residen Riau. Namun di tengah tekanan tersebut, Kesultanan Siak masih tetap bertahan sampai kemerdekaan Indonesia, walau pada masa pendudukan tentara Jepang sebagian besar kekuatan militer Kesultanan Siak sudah tidak berarti lagi.

Bergabung dengan Indonesia

Potret Sultan Siak, Sultan Syarif Kasim II dan istrinya (1910-1939)
Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan Siak terakhir yang tidak memiliki putra. Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan negara Republik Indonesia.

Struktur pemerintahan

Sebagai bagian dari rantau Minangkabau, sistem pemerintahan Kesultanan Siak mengikuti model Kerajaan Pagaruyung. Setelah posisi Sultan, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Pagaruyung. Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Yang Ampat di Negeri Sembilan.[49] Dewan Menteri bersama dengan Sultan, menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya.[14][50] Dewan menteri ini terdiri dari:
Datuk Tanah Datar
Datuk Limapuluh
Datuk Pesisir
Datuk Kampar

Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Inderapura juga melakukan pembenahan sistem birokrasi pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh model birokrasi pemerintahan yang berlaku di Eropa maupun yang diterapkan pada kawasan kolonial Belanda dan Inggris. Modernisasi sistem penyelenggaraan pemerintahan Siak terlihat pada naskah Ingat Jabatan yang diterbitkan tahun 1897. Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang panjang serta ditulis dengan Abjad Jawi atau tulisan Arab-Melayu. Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri Inderapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian tanggung jawab dari berbagai posisi atau jabatan di pemerintahan mulai dari pejabat istana, wakil kerajaan di daerah jajahan, pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari setiap uraian tugas para birokrat tersebut, ditutup dengan peringatan serta perintah untuk tidak khianat kepada sultan dan nagari.

Perkembangan selanjutnya, Siak Sri Inderapura juga menerbitkan salah satu kitab hukum atau undang-undang, dikenal dengan nama Bab al-Qawa'id. Kitab ini dicetak di Siak tahun 1901, menguraikan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia Belanda.

Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Siak serta Controleur Siak sebagai anggota. Selanjutnya beberapa nama jabatan lainnya dalam pemerintahan Siak antara lain Pangiran Wira Negara, Biduanda Pahlawan, Biduanda Perkasa, Opas Polisi. Kemudian terdapat juga warga dalam yang bertanggung jawab terhadap harta-harta disebut dengan Kerukuan Setia Raja, serta Bendahari Sriwa Raja yang bertanggung jawab terhadap pusaka kerajaan.

Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak membagi kawasannya atas hulu dan hilir, masing-masing terdiri dari beberapa kawasan dalam bentuk distrik[48] yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak, ialah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan.

Pada kawasan tertentu, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar Penghulu, dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, seperti halnya digunakan di Kesultanan Johor dan Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.




Sejarah Kerajaan Siak

Mengulas Sejarah Kerajaan Siak sebagai salah satu kerajaan yang ada di indonesia.
sebagai bahan renungan buat kita semua, bahwa karena jasa merekalah sampai sekarang masyarakat Siak Riau merasakan kemerdekaannya
Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ.

Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan di angkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut.



Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau.

Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Dalam merebut Kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang, dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan.

Namun, pusat Kerajaan Siak tidak menetap di Buantan. Pusat kerajaan kemudian selalu berpindah-pindah dari kota Buantan pindah ke Mempura, pindah kemudian ke Senapelan Pekanbaru dan kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan Siak terakhir.




Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 ? 1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889.

Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda.
Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).

Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden.

Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968.

Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu.

Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.

Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999



SILSILAH

Raja Raja yang pernah berkuasa di kerajaanSiak
sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah Almarhum Buantan (1723-1744), Sultan Mohamad Abdul Jalil Jalaladdin syah(1744-1760), Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah(1760-1761), Sultan abdul Jalil Amaluddin Syah(1761-1766), Sultan Mohmad Ali Abdul Jalil Mu'azam Syah(1766-1779), Sultan Ismail Abdul Jalil Rakhmat Syah(1779-1781), Sultan Yahya Abdul Jalin Muzafar Syah(1782-1784), Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin(1784-1811), Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jalil Kholiluddin(1811-1827), Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin(1827-1864), Sultan Assyaidis Syarif kasim I Abdul Jalil Syaifuddin(1864-1889), Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin(1889-1908), Sultan Assyaidis Syarif kasim II Abdul Jalil Syaifuddin(1908-1946).

siakbungaraya 


Beberapa Versi Asal-usul Nama ”Siak” dan Rahasia yang Belum Terungkap
 20 Januari 2016

SIAK, POTRETNEWS.com - Karena sangat terbatasnya bukti-bukti pemberitaan dan peninggalan sejarah yang ditemui, belum dapatnya ditunjukkan suatu kepastian tahun bila sebenarnya Siak atau kerajaan Siak pertama ini timbul.Tetapi perihal adanya suatu kerajaan Siak pada zaman itu dapat dipastikan, yaitu disebutnya nama “Siak” dalam sumber-sumber sejarah Indonesia. Misalnya dalam Negarakertagama pupuh 13/1-2; Pararaton; Tarich Tiongkok; Sedjarah Melajoe dan dalam karangan yang ditulis oleh N.J. Ryan., Prof. Dr. Slamet Muljono, Prof. Hamka, serta ahli sejarah mutakhir.

Dalam berita sumber-sumber sejarah kuno (zaman Hindu/Budha) meskipun tidak tersebut dengan tegas bahwa Siak itu kerajaan, namun sangatlah mendekati kepastian bahwa yang disebut Siak itu adalah suatu kerajaan yang lokasinya pasti di salah satu tempat di sepanjang sungai Siak.

Lazimnya bahwa sejak dahulu penyebutan nama kerajaan tidak senantiasa harus disebut secara lengkap dengan wilayahnya. Demikian pula halnya dengan kerajaan Siak, dimana dalam sumber-sumber sejarah sering hanya disebut “Siak” saja.

Bahkan Kerajaan Siak bersama-sama kerajaan Melayu lainnya seperti: Indragiri, Kampar, Bintan dalam sejarah Indonesia sudah lama dikenal dan lazim dicakup saja dalam satu sebutan yaitu kerajaan “Melayu”. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kerajaan Sriwijaya itu adalah kelanjutan dari kerajaan Melayu Lama.

Penyebutan kata “Siak” sudah terdapat di berbagai sumber sejarah nasional Indonesia. Baik yang ditulis oleh pujangga-pujangga zaman Hindu/Budha dahulu maupun oleh para sejarawan modern Indonesia dan asing.

Adapun sekarang, kata “Siak” tersebut menjadi nama dari sebuah sungai, yaitu Sungai Siak yang didapati bekas-bekas Kerajaan Siak di sepanjang aliran sungai tersebut. Mengenai arti kata “Siak” terdapat bermacam-macam pendapat, seprerti:
1). Kata “Siak” menurut bahasa Tapanuli Selatan berarti “pedas”
2). Kata “Siak” ada yang mengatakan berasal dari kata “Suak”
3). Kata “Siak” ada yang menyatakan berasal dari suatu nama panggilan yang diberikan kepada orang yang menjaga mesjid.
4). Kata “Siak” ada yang menyatakan berasal dari nama tumbuh-tumbuhan sejenis perdu yang bernama “Siak-siak”.

Dari beberapa arti kata tersebut, timbul beberapa kemungkinan
ad. 1. Apabila diartikan “pedas” (bahasa Tapanuli Selatan), pastilah mempunyai latar belakang hubungan dengan Tapanuli. Sedangkan kenyataannya tidak ada fakta-fakta menunjukkan bahwa dalam kerajaan Siak ada unsur-unsur Tapanuli yang bersifat monumental.
ad. 2. Kalau yang dimaksud dari arti kata “Suak” tentulah perkataan “suak” mempunyai arti keseragaman. Kenyataannya sampai sekarang kata “suak” dan kata “siak” dalam arti yang berdiri sendiri, seperti kata Sungai Siak, kota Siak. Sedangkan “Suak” diartikan nama suatu tempat atau kampung yang dialiri oleh anak sungai yang kecil sebagaimana banyak terdapat di sepanjang Sungai Siak, misalnya: Suak Gelanggang, Suak Rengas, Suak Lanjut, Suak Santai, Suak Djil, dan sebagainya. Dalam hal ini tidak dipakai kata “siak”. Dengan demikian jelaslah bahwa kata “siak” bukanlah kata yang diturunkan atau perubahan mophologis dari kata “suak”.
ad. 3. Kalau kata “siak” diartikan seorang penjaga masjid tentulah dahulunya daerah siak itu merupakan kerajaan Islam dan kalau kita pelajari ketika Siak di bawah pengaruh Melaka dan Johor merupakan kerajaan yang beragama Islam. Akan tetapi jauh sebelum ini kerajaan Siak sudah ada, sebagaimana disebutkan dalam Kertagama pupuh 13/1-2 menyebut: “Minangkabau, Siak, Rokan dan Kampar di bawah kekuasaan Majapahit”. Dalam perkembangan sejarah Indonesia tidak pernah ada sumber yang menyebutkan kerajaan beragama Islam yang tunduk di bawah kekuasaan Majapahit (Hindu/Budha).
ad. 4. Jika kata “Siak” diambil dari nama tumbuh-tumbuhan yang bernama “siak-siak”, maka harus ada hubungan antara kerajaan Siak dengan tumbuh-tumbuhan tersebut.

Dalam hal ini dapat dihubungkan teori yang diketengahkan oleh J. Kern., Prof. Pubotjoroko dan Prof. Muhammad Yamin tentang pemberian nama kerajaan/raja berdasarkan flora-fauna, dimana nama-nama kerajaan lazim diambil dari nama tumbuh-tumbuhan (flora) dan nama raja diambil dari nama-nama hewan (fauna) seperti halnya nama kerajaan dan raja berikut ini:
a. Majapahit, dari nama pohon “maja” yang buahnya pahit.
b. Tarumanegara, dari nama pohon “tarum”.
c. Galih Pakuan, dari nama tumbuh-tumbuhan “paku-pakuan/pakis”.
d. Malaka, dari nama pohon “malaka”.
e. Johor, dari nama pohon”johar”.
Sedangkan nama-nama raja:
a. Hayam Wuruk, dari kata “hayam/ayam”.
b. Gajad Mada, dari kata “gajah”.
c. Si Singamangaraja, dari kata “singa”.
d. Munding Wangi, dari kata yang bermakna “kerbau”.
e. Sawunggaling, dari kata yang bermakna “ayam jantan”.

Berdasarkan hal tersebut, berkemungkinan sekali bahwa sebutan kata “siak” diambil dari nama tumbuh-tumbuhan (flora). Dan memang di sekitar aliran sungai Siak maupun di sekitar bekas kerajaan Siak banyak sekali terdapat tumbuhan jenis perdu yang bernama “siak-siak”. Oleh masyarakat setempat, tumbuh-tumbuhan itu biasa dipergunakan sebagai bahan obat-obatan dan wangi-wangian. (Tim Penulis: hlm. 4-5).

Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa; kata “Siak” dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak. Selanjutnya nama “Siak”, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani. Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai. ***

Sumber:
facebook.com/notes/gp-ade-darmawi

potretnews
Read More
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena