secebis

Blog Mimbar Kata

bahasa dalam puisi

blog mimbar kata

menatap kepayahan dalam denu

blog mimbar kata

kau ada

blog mimbar kata

Showing posts with label warisan. Show all posts
Showing posts with label warisan. Show all posts

26 Jan 2020

minanga


KERAJAAN MINANGA

Minanga
Malayu  645–682
Ibukota Minanga
Hulu Sungai Batang Hari
Bahasa Melayu Kuna, Sanskerta
Pemerintahan Monarki
Sejarah
- Didirikan 645
- Invasi Sriwijaya 682
Mata wang Koin emas dan perak

Minanga merupakan salah satu nama dari Kerajaan Melayu yang telah muncul pada tahun 645. Berita tentang keberadaan kerajaan ini didapat dari buku T'ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p'u pada tahun 961 masa Dinasti Tang, dimana kerajaan ini mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kalinya[1]. Kemudian didukung oleh Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682.

ASAL USUL

Dari Prasasti Kedukan Bukit, disebutkan bahwa Dapunta Hyang pendiri Sriwijaya bertolak dari Minanga, dengan membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan[2]. Berita tentang Kerajaan Melayu ini juga disebut dalam catatan perjalanan Pendeta I-tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713) identik dengan kerajaan ini[3].

Selain dari berita buku T'ang-Hui-Yao, dari buku Tse-fu-yuan-kuei pada masa Dinasti Song yang dibuat atas dasar sejarah lama oleh Wang-ch'in-jo dan Yang I antara tahun 1005 dan 1013, juga menceritakan adanya utusan dari Kerajaan Melayu datang ke Cina antara tahun 644 dan 645.
Namun belum ada sumber yang menyebutkan dimana lokasi persisnya tempat yang menjadi ibukotanya serta siapa yang menjadi raja di kerajaan ini.

SUMBER CINA


Artikel ini memuat teks berbahasa Tionghoa. Tanpa dukungan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau karakter lain selain dari karakter yang dimaksud.

Pada masa Dinasti Yuan dan Dinasti Ming, kata Ma-La-Yu disebutkan sering (dalam sejarah cina) untuk merujuk kepada suatu bangsa dari laut selatan dengan ejaan yang berbeda akibat perubahan dinasti.
* (Cina: 木 剌 由)- Bok-la-yu, Mok-la-yu
* (Cina: 麻 里 予 儿) - Ma-li-yu-er
* (Cina: 巫 来由) - Oo-lai-yu (dijiplak dari sumber tertulis biarawan Xuan Zang)
* (Cina: 无 来由) - Wu-lai-yu

Sebagian ekstrak dari Chronicle asli Mongol Yuan (dalam bahasa Cina): Chronicle of Mongol Yuan
"以 暹 人 与 麻 里 予 儿 旧 相 仇杀, 至 是 皆 归顺, 有 旨 谕 暹 人" 勿 伤 麻 里 予 儿, 以 践 尔 言 ".

PERDAGANGAN

Dengan adanya perlindungan dari Cina, Kerajaan Minanga menjadi penguasa lalu lintas Selat Malaka saat itu, dan memiliki hasil tambang emas dan perak.

PENURUNAN

Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, pada tahun 682 Dapunta Hyang bertolak dari Kerajaan Minanga dengan membawa 20.000 tentara kearah selatan lalu mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian pusat kerajaan berpindah ke wilayah muara sungai Musi atau Palembang sekarang.

REFERENSI

^ Slamet Muljana, 2006, Sriwijaya, Yogyakarta: LKIS.
^ George Cœdès, 1930, Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO.
^ Gabriel Ferrand, 1922, L’Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris, “Textes Chinois”.

Prasasti Kedukan Bukit


Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146.

TEKS PRASASTI

ALIH AKSARA
svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya nāyik di
sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
vulan jyeşţha dapunta hiya maŕlapas dari minānga
tāmvan mamāva yamvala dualakşa dangan ko-(sa)
duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
tlurātus sapulu dua vañakña dātamdi mata jap
sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula...
laghu mudita dātam marvuat vanua...
śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa...


ALIH BAHASA
Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
lega gembira datang membuat wanua....
Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....


KETERANGAN


Pada baris ke-8 terdapat unsur pertanggalan, namun bagian akhir unsur pertanggalan pada prasasti ini telah hilang. Seharusnya bagian tersebut diisi dengan nama bulan. Berdasarkan data dari fragmen prasasti No. D.161 yang ditemukan di Situs Telaga Batu, J.G. de Casparis (1956:11-15) dan M. Boechari (1993: A1-1-4) mengisinya dengan nama bulan Āsāda. Maka lengkaplah pertanggalan prasasti tersebut, yaitu hari kelima paro-terang bulan Āsāda yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 682 Masehi.[2]

Menurut George Cœdès, siddhayatra berarti semacam “ramuan bertuah” (potion magique), tetapi kata ini bisa pula diterjemahkan lain. Menurut kamus Jawa Kuna Zoetmulder (1995): sukses dalam perjalanan. Dengan terjemahan tersebut kalimat di atas dapat diubah: “Sri Baginda naik sampan untuk melakukan penyerangan, sukses dalam perjalanannya.”
Dari prasasti Kedukan Bukit, didapatkan data sebagai berikut:[3] Dapunta Hyang berangkat dari Minanga dan menaklukan kawasan tempat ditemukannya prasasti ini (Sungai Musi, Sumatera Selatan).[4] Karena kesamaan bunyinya, ada yang berpendapat Minanga Tamwan adalah sama dengan Minangkabau, yakni wilayah pegunungan di hulu sungai Batanghari. Ada juga berpendapat Minanga tidak sama dengan Malayu, kedua kawasan itu ditaklukkan oleh Dapunta Hyang, tempat penaklukan Malayu terjadi sebelum menaklukan Minanga dengan menganggap isi prasasti ini menceritakan penaklukan Minanga.[5] Sementara itu Soekmono berpendapat bahwa Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (karena tamwan berarti 'temuan'), yakni Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri di Riau,[6] yakni wilayah sekitar Candi Muara Takus. Kemudian ada yang berpendapat Minanga berubah tutur menjadi Binanga, sebuah kawasan yang terdapat pada sehiliran Sungai Barumun (Provinsi Sumatera Utara sekarang).[7] Pendapat lain menduga bahwa armada yang dipimpin Jayanasa ini berasal dari luar Sumatera, yakni dari Semenanjung Malaya.[8]


Teori Proto-Melayu yang didukung oleh Robert von Heine-Geldern, Johan Hendrik Caspar Kern, JR. Foster, James Richardson Logan, Slamet Muljana dan Asmah Haji Omar [1]




Prasasti Kedukan Bukit


REFERENSI


^\ The Encyclopedia of Malaysia: Languages and Literature, Volume 9 / edited by Prof. Dato' Dr. Asmah Haji Omar
^ Casparis, J.G. de, (1956), Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
^ Damais, Louis-Charles, (1952), Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie, BEFEO, tome 46.
^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X
^ Irfan, N.K.S., (1983), Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka
^ Drs. R. Soekmono, (1973 5th reprint edition in 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 38. ISBN 979-4132290X.
^ Muljana, Slamet, (2006), Sriwijaya, PT. LKiS Pelangi Aksara, ISBN 978-979-8451-62-1
^ Coedes, George (1996). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press. hlm. 82. ISBN 978-0-8248-0368-1.


pejuangislam

3 Jan 2020

25 tahun putrajaya

Buka kapsul 25 tahun
Hidayatul Akmal Ahmad dan Siti A’isyah Sukaimi


SEMPENA tahun baharu 2020 semalam, genaplah 25 tahun usia Pusat Pentadbiran Kerajaan Persekutuan di sini, sekali gus detik bersejarah buat Putrajaya yang menyambut Jubli Perak.

Justeru, kemeriahan sambutan berkenaan akan diraikan sepanjang 2020 dengan pelbagai acara, program serta pengisian yang dibawakan khas bermula Januari ini.

Majlis Pelancaran Sambutan Jubli Perak Putrajaya disempurnakan oleh Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad di Dataran Putrajaya, Presint 3, iaitu tokoh bertanggungjawab membuka Putrajaya 25 tahun lalu.

Kemuncak sambutan adalah pada 29 Ogos 2020 yang mana Kapsul Masa ditanam sendiri oleh Perdana Menteri pada 29 Ogos 1995 iaitu 25 tahun lalu akan dikeluarkan dan dibuka.

Menerusi ucapan ringkasnya, beliau melahirkan rasa gembira kerana berkesempatan menyaksikan Pusat Pentadbiran Kerajaan Persekutuan Putrajaya yang mencecah usia 25 tahun.

“Saya amat gembira kerana dapat juga melihat Putrajaya ini berumur 25 tahun. Sebenarnya saya tidak mimpi untuk lihat acara seperti ini.

“Tetapi kerjasama, perpaduan kestabilan dan keamanan negara ini sehingga dapat kita bangunkan sebuah ibu kota pentadbiran yang gilang-gemilang. Sayangilah Putrajaya dan sayangilah Malaysia negara kita bersama,” katanya, kelmarin.

Acara berkenaan dihadiri puluhan ribu pengunjung yang menanti detik sambutan kemuncak tahun baharu 2020.

Bertambah meriah, sambutan berkenaan menjadi penutup tirai kepada Festival Light and Motion Putrajaya (LAMPU) 2019 yang dianjurkan selama empat hari bermula 28 Disember lalu.

Pada masa sama, Dr Mahathir dan isteri, Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali meluangkan masa kira-kira sejam di acara berkenaan serta menyaksikan projeksi pemetaan cahaya mega dipaparkan pada bangunan Istana Kehakiman.

Bagaimanapun, beliau dan isteri tidak menyertai detik kiraan ambang tahun baru 2020 kerana perlu menghadiri acara sambutan tahun baharu di Dataran Merdeka, Kuala Lumpur.

“Oleh kerana saya terpaksa beredar untuk melihat satu lagi acara di Dataran Merdeka. Saya ingin ucap selamat tahun baharu kepada semua rakyat Malaysia,” katanya.

Acara itu turut dihadiri Menteri Wilayah Persekutuan Khalid Abdul Samad dan Presiden Perbadanan Putrajaya (PPj) Datuk Dr Aminuddin Hassim.

hmetro


PERDANA Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad bersama Menteri Wilayah Persekutuan, Khalid Abdul Samad dan Presiden Perbadanan Putrajaya (PPJ), Datuk Dr Aminuddin Hassim melancarkan Sambutan Jubli Perak Putrajaya pada Festival Light and Motion Putrajaya (LAMPU) 2019 di Dataran Putrajaya. NSTP/Luqman Hakim Zubir

PM lancar Sambutan Jubli Perak Putrajaya
Oleh Wan Faizal Ismayatim

PUTRAJAYA: Tun Dr Mahathir Mohamad malam ini menyempurnakan pelancaran Sambutan Jubli Perak Putrajaya.

Ia sempena kehadiran Perdana Menteri pada Festival Light and Motion Putrajaya (LAMPU) 2019 di Dataran Putrajaya yang dibanjiri puluhan ribu rakyat berbilang kaum, selain pelancong asing.

Dalam ucapan ringkasnya, Perdana Menteri menyatakan kegembiraan kerana dapat melihat Putrajaya mencecah usia 25 tahun.

“Sebenarnya saya tidak bermimpi untuk melihat acara seperti ini, tetapi kerjasama, perpaduan, kestabilan dan keamanan negara kita dapat membangunkan sebuah ibu kota pentadbiran yang gilang-gemilang.

“Sayangilah Putrajaya dan sayangilah Malaysia, negara kita bersama,” katanya.

Sambutan Jubli Perak Putrajaya akan berlangsung sepanjang tahun yang padat dengan pelbagai acara, program serta pengisian bermula Januari 2020.

Acara kemuncak sambutan ialah pada 29 Ogos 2020 yang mana Kapsul Masa yang ditanam sendiri oleh Perdana Menteri pada 29 Ogos 1995 akan dikeluarkan dan dibuka.

Perdana Menteri kemudian akan menanam kapsul masa baharu untuk dibuka pada Sambutan Jubli Emas Putrajaya.

Turut hadir, isteri Perdana Menteri, Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali; Menteri Wilayah Persekutuan, Khalid Abdul Samad serta Presiden Perbadanan Putrajaya (PPj), Datuk Dr Aminuddin Hassim.

Sempena pelancaran itu, Dr Mahathir turut menyaksikan persembahan Projeksi Pemetaan Cahaya Mega, selain menyampaikan mesej Selamat Tahun Baharu 2020 kepada pengunjung menerusi paparan projeksi.

Turut berlangsung di Dataran Putrajaya ialah Sambutan Ambang Tahun Baharu 2020 yang turut membabitkan pertunjukan bunga api dan bunga api digital.

LAMPU 2019 berlangsung selama empat hari mulai 28 Disember lalu.


bharian





27 Dec 2019

makam nisan aceh

Kembara Sejarah: Menjejak Makam Nisan Aceh dan Meninjau Bakal Tapak Warisan Dunia Diiktiraf UNESCO
OLEH AZURA HALID

BERSULAMKAN tekad, fungsi pengembangan bahasa, sastera dan penerbitan diadun menjadi satu dalam kembara sejarah apabila pasukan karyawan Dewan Bahasa dan Pustaka Wilayah Selatan (DBPWS) yang diketuai oleh Profesor Datuk Dr. Mohamed Hatta Shaharom, Pengerusi Lembaga Pengelola DBP, dan Abang Haliman Abang Julai, Pengarah DBPWS, telah mengatur kembara menjejak tapak peninggalan sejarah di daerah Kota Tinggi, Johor.

Tanggal 27 April 2019 telah terpahat dalam sejarah apabila 100 orang peserta yang terdiri daripada pencinta sejarah dan budaya, penulis, penjawat awam, organisasi bukan kerajaan dan pelajar telah berhimpun di Muzium Kota Tinggi, untuk memulakan kembara sejarah menjejak makam pemerintah dan pembesar terdahulu.


Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang.

Kota Tinggi menjadi pilihan penganjur pada tahun ini kerana di sini bermulanya pembukaan Johor Lama sebagai pusat pentadbiran dan pemerintahan negeri Johor setelah kejatuhan Kesultanan Melaka. Tahun 1528 mencatat sejarah kegemilangan kerajaan Johor Lama dengan beberapa peristiwa penting yang menarik perhatian para peminat dan pencinta sejarah. Naskhah Sulalatus Salatin pula menjadi kitab agung pegangan para karyawan dan peserta kembara sepanjang kembara. Sulalatus Salatin telah diwartakan sebagai warisan dunia atau Memory of the World Register oleh United National Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada September 2001. Inilah antara karya terpenting dan amat bernilai dalam bahasa Melayu yang ditulis oleh Tun Sri Lanang. Bendahara Tun Sri Lanang merupakan tokoh penulis kelahiran Seluyut, Kota Tinggi, dan marhum di Aceh.


Antara peserta yang mengikuti kembara sejarah menjejak makam pemerintah dan pembesar terdahulu di Kota Tinggi, Johor.

Kampung Makam menjadi destinasi pertama pasukan Kembara. Di Kampung Makam itulah terletaknya Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang. Makamnya terpelihara dan sentiasa dikunjungi pelawat tempatan dan luar negeri. Kisah Sultan Mahmud yang dibunuh oleh Megat Seri Rama telah menguasai sejarah Melayu pada tahun 1699. Sultan Mahmud mangkat pada usia 24 tahun. Kisah ini disingkap dalam pelbagai versi. Kezaliman sultan dan penderhakaan rakyat sekadar simbolik pada perebutan kuasa dan jawatan dalam pentadbiran negeri. Kisah rakyat biasa yang diwakilkan oleh Dang Anum yang dikatakan dibunuh kerana mengidam seulas nangka sulung seorang raja sekadar gambaran kisah cemburu manusia. Kesahihan peristiwa tersebut masih boleh dipertikaikan. Kisah ini juga boleh dijadikan sempadan dan teladan kepada pemilik takhta dan rakyat jelata, seperti mana ilham Tun Sri Lanang dalam Sulalatus Salatin tentang Tun Jana Katib dengan waadat yang termeterai antara pihak istana dengan golongan marhaen. Dengan kemangkatan baginda sultan, maka bermulalah susur galur pemerintahan bendahara dan kemudiannya kekuasaan temenggung dalam Kesultanan Johor.


Makam Tun Habab.


Para peserta turut menziarahi makam Tun Habab, iaitu Bendahara semasa Zaman Sultan Ibrahim Shah I dan jawatan tersebut diteruskan semasa zaman Sultan Mahmud Shah II. Kemudian baginda dilantik sebagai Sultan Johor selepas kemangkatan Sultan Mahmud Shah II yang tidak meninggalkan waris.

Perjalanan diteruskan ke makam Bendahara Tun Habab yang berdekatan dengan makam Sultan Mahmud. Tun Habab dilantik sebagai bendahara semasa pemerintahan Sultan Ibrahim Shah I (1677-1685) dan khidmatnya diteruskan sehingga pemerintahan Sultan Mahmud Syah II (1685-1699). Nama sebenarnya ialah Tun Abdul Majid Tun Habab, juga dikenali dengan gelaran Habib Padang Saujana. Bendahara Tun Habab ditabalkan sebagai pengganti Sultan Mahmud Syah II kerana kemangkatan baginda tidak meninggalkan pewaris takhta. Bendahara Tun Habab menggunakan gelaran Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV semasa pemerintahannya. Baginda membuka pusat pemerintahan di Kota Tauhid dan kemudian berpindah ke Kampung Panchor.


Lawatan ke kota dan makan Touhid iaitu tempat yang pernah menjadi ibu negeri Johor suatu masa dahulu.

Kembara diteruskan menelusuri makam Kota Tauhid. Beberapa orang ulama yang dilantik sebagai penyebar agama Islam di Johor dan menjadi penasihat agama kepada sultan, dimakamkan di Makam Kota Tauhid. Kota Tauhid merupakan ibu negeri Johor kelapan semasa pemerintah Sultan Abdul Jalil Shah III (1623-1677). Baginda mempunyai hubungan yang rapat dengan Belanda. Baginda membina kota ini daripada batu yang diperkenalkan oleh Belanda pada masa itu. Dikatakan kota ini dibina daripada campuran kulit kerang dan putih telur. Keunikan teknologi binaan kota ini sangat dikagumi. Pada tahun 1642, ibu negeri ini bertukar ke Pasir Raja kerana kawasan ini dilanda wabak penyakit.


Kubur yang terdapat di sini terdiri daripada kubur pembesar-pembesar Johor ketika itu.

Sejurus selesai menziarahi Makam Kota Tauhid, kembara diteruskan ke makam Laksamana Bentan atau dikenali juga dengan nama Megat Seri Rama. Bersebelahan dengan makam Laksamana Bentan ialah makam Dang Anum, isteri kesayangannya. Beberapa makam kecil juga dijumpai di kawasan berdekatan yang dipercayai makam anakanda Laksamana Bentan. Beberapa versi sejarah lisan mengatakan bahawa Laksamana Bentan dan Dang Anum mempunyai seorang anak sebelum Dang Anum berbadan dua sekali lagi semasa mengidam nangka sultan. Sejauh mananya kebenaran ini hanya diketahui oleh Tuhan. Sejarah lisan wajar dijadikan pedoman hidup bagi manusia hidup.


Lawatan ke makan Laksamana Bentan.

Kembara 10 kereta, dua van, sebuah 4WD dan sebuah bas diteruskan ke Kampung Kota Johor Lama. Kampung Kota Johor Lama terletak berdekatan dengan Sungai Johor dan Teluk Sengat. Makam Temenggung Johor terletak di kawasan ini. Makam ini juga dikenali dengan nama Makam Bidan. Terdapat juga makam lain yang tidak dapat dikenal pasti pemiliknya di sekitar Kampung Kota Johor Lama.

Kota Johor Lama merupakan kubu pertahanan terbaik antara kota pertahanan yang dibina sepanjang Sungai Johor. Kota ini dibina pada tahun 1540 semasa zaman pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Shah II (1528-1564). Selepas kejatuhan Kesultanan Melaka, Sungai Johor telah dijadikan pusat pemerintahan dan kota pertahanan untuk menyerang balas Portugis di Melaka. Kubu dan benteng pertahanan di sini merupakan benteng semula jadi yang memudahkan pengawasan dibuat terhadap pergerakan keluar dan masuk kapal di perairan Selat Melaka. Dari kawasan ini juga, sayup-sayup kelihatan Kubu Budak yang dikatakan kubu pertahanan bagi menyelamatkan nyawa anak-anak kecil dan kaum wanita. Kubu ini dinamai Kubu Budak kerana binaan kubunya yang diperbuat daripada kepalan pasir pantai telah dibangunkan oleh kanak-kanak yang dilindungi daripada musuh di kawasan kubu berkenaan.


Para peserta turut dibawa melawat ke Muzium Kota Johor Lama di Teluk Sengat, Johor.

Di kawasan ini juga, telah dibina Muzium Kota Johor Lama yang tersimpan pelbagai artifak sejarah termasuklah batu nisan Aceh. Pada setiap ziarah dari makam ke makam, kesemua makam ditandai dengan batu nisan Aceh. Yang membezakannya ialah seni ukir, seni pahat dan saiznya. Keunikan nisan Aceh ini lambang kesenian Islam dalam bidang teknologi binaan nisan. Amat mengagumkan kerana nisan Aceh ini diperbuat daripada batu pasir yang tahan bertahun-tahun lamanya. Makam sultan, raja, pembesar istana dan kerabat diraja sahaja yang ditandai dengan batu nisan Aceh. Ini membuktikan betapa istimewanya hubungan golongan istana dalam dengan kerajaan Aceh pada abad ke-16.

Satu resolusi telah dibentangkan pada sesi akhir Kembara ini dalam slot Bicara Sejarah: Menjejak Makam Nisan Aceh yang dibicarakan oleh Profesor Datuk Dr. Mohammed Hatta, Tuan Haji Kamdi Kamil, Setiausaha Kehormat Persatuan Sejarah Malaysia, Encik Amad Bahri Mardi, Setiausaha Persatuan Sejarah Kawasan Kota Tinggi dan Prof. Madya Dr. Mohd. Kassim Thukiman, Pensyarah Kanan Universiti Teknologi Malaysia, Johor Bahru. Antara cadangan resolusi Kembara ini ialah mengenal pasti tapak dan lokasi yang berpotensi sebagai Tapak Warisan Dunia UNESCO dan Daftar Warisan Kebangsaan, Jabatan Warisan Negara, serta mengemukakan cadangan untuk mengangkat daerah Kota Tinggi, sebagai tapak Warisan Dunia yang diiktiraf oleh UNESCO.

Impian ini tidaklah mustahil untuk dicapai dengan kerjasama daripada pelbagai pihak dan usaha berterusan untuk memelihara dan menjaga tapak bersejarah ini. Kota Tinggi bukanlah kota peninggalan binaan penjajah seperti Melaka yang meninggalkan A Famosa dan bangunan bersejarah lain yang kukuh berdiri sehingga kini. Kota Tinggi ditinggalkan oleh sejarah terdahulu dengan makam yang menjadi petanda pada setiap manusia yang hidup. Daripada kisah makam dan pemakaman inilah lahirnya tamadun yang unggul yang kesinambungan kesultanannya diteruskan daripada kerajaan Johor Lama sehingga terbinanya peradaban Johor moden yang kini diperintah oleh legasi temenggung di negeri Johor

klikweb

1 Nov 2019

kapal korek


KEADAAN di dalam kapal korek dikenali sebagai TT5, di Jalan Tanjung Tualang. - Foto Yahya Zainuddin

Warisan kapal korek terakhir
Oleh Shaarani Ismail

BATU GAJAH: TT5 gelaran atau nama bagi kapal korek terakhir yang masih ada di Malaysia yang terletak di Jalan Tanjung Tualang, dekat sini, menyimpan banyak kenangan kepada bekas ketua forman, Chee Siew Khong.

Ini kerana Siew Kong, 73, yang juga 'dredge master' pernah mengendalikan jentera itu selama kira-kira 20 tahun.

Siew Khong yang mula terbabit dalam sektor perlombongan bijih timah ketika usia belasan tahun namun secara rasmi bekerja dalam sektor berkenaan pada usia 21 tahun, cukup mahir dengan fungsi dan selok-belok kapal korek berkenaan dari sejak ia mula beroperasi hinggalah operasinya dihentikan pada 1982 berikutan kejatuhan harga komoditi bijih timah.

"Sepanjang karier, saya sudah mengendalikan lebih 17 kapal korek bersaiz kecil hingga yang bersaiz besar dan kapal korek TT5 yang masih kekal di Tanjung Tualang ini adalah antara kapal korek bersaiz sederhana yang masih ada.

"TT5 merujuk kepada nombor kapal korek yang ada di Tanjung Tualang ketika itu manakala angka '5' menandakan ia adalah kapal yang kelima ada di Tanjung Tualang yang satu ketika dulu menjadi antara lokasi penting perlombongan bijih timah dalam negara yang menjadi pengeluar bijih timah terbesar dunia ketika itu," katanya yang ditemui BH.

TT5 yang menjadi warisan sejarah Perak dan digelar `The Last Dredge' atau warisan kapal korek terakhir yang masih wujud di negara, kini dalam proses pemuliharaan semula dan ditambah baik dengan pelbagai kemudahan bagi menjadikannya kawasan antara kawasan tarikan pelancongan sejarah di Perak dalam sektor perlombongan.


SIEW Khong berpengalaman mengendalikan kapal korek TT5, selama kira-kira 20 tahun. - Foto Yahya Zainuddin



TT5 mempunyai 115 bakul pengorek atau `bucket' yang dipasang dan boleh digambarkan umpama rantai basikal yang besar yang akan mengorek tanah dan mengumpul bijih timah. - Foto Yahya Zainuddin

Perbadanan Menteri Besar (MB Inc) dipertanggungjawabkan memulihara semula kawasan bersejarah itu supaya ia terus menjadi ingatan dan warisan kebanggaan Perak sebagai pengeluar utama bijih timah dunia satu ketika dulu.

Tanpa memerlukan pelan atau panduan, setiap ruang kerja dan fungsi alatan mekanikal yang ada diperjelaskan satu persatu dengan lancar dari 'A hingga Z'.

"Usaha pemulihan adalah langkah baik dan saya menghargainya. Kawasan ini mempunyai banyak sejarahnya yang tersendiri dan sebagai antara orang yang terbabit secara langsung dalam operasinya, ia memberikan saya satu nilai sentimental yang cukup mendalam," katanya.

Katanya, komponen utama kapal korek dibahagikan kepada dua bahagian atau dua stesen utama iaitu satu bahagian dikhususkan untuk mengumpul atau mengorek galian yang ada dan satu bahagian lagi bertanggungjawab memproses bahan galian yang sudah dikumpul untuk diasing daripada tanah kepada bijih timah.

Siew Khong berkata, TT5 mempunyai 115 bakul pengorek atau `bucket' yang dipasang dan boleh digambarkan umpama rantai basikal yang besar yang akan mengorek tanah dan mengumpul bijih timah yang ada.


KEADAAN di dalam kapal korek dikenali sebagai TT5 di Jalan Tanjung Tualang, yang dalam pengubahsuaian dan baik pulih untuk dijadikan muzium. - Foto Yahya Zainuddin



KAPAL korek ini dihentikan operasinya pada 1982 berikutan kejatuhan harga komoditi bijih timah. - Foto Yahya Zainuddin

"Ini adalah komponen paling utama kerana ia perlu diberikan penekanan, makin banyak tanah yang dikorek semakin baik hasil yang akan diperoleh.

"Tanah yang mengandungi bijih timah kemudian diangkut ke kawasan tinggi dan selepas itu ia dileraikan oleh sumpitan air ketika bahan itu masuk ke tabung silinder berputar, sementara bahan yang mengandungi timah disalurkan ke loji pemisah pertama di mana unsur mineral yang berat terkumpul," katanya.

Siew Khong turut menunjukkan bilik kawalan utama tempat di mana dia diberikan taklimat oleh pengurus dan jurutera di aras dua kapal korek, dari bilik kawalan itu aktiviti pekerja dapat dipantau dan sebarang masalah berkaitan operasi juga diajukan di situ.

Bilik enjin juga terletak di aras sama dan jelas kelihatan pada badan enjin tertera perkataan Allen West Co Ltd, Brighton, England yang juga pengeluar enjin kapal korek berkenaan.


TT5 satu ketika dulu menjadi antara lokasi penting perlombongan bijih timah dalam negara yang menjadi pengeluar bijih timah terbesar dunia ketika itu. - Foto Yahya Zainuddin


INFO:

Nama penuh - Tanjung Tualang Dredge No 5 (TT5)
Perekabentuk - FW Payne and Sons
Pertama kali dibina di England pada 1938 dan dibina semula pada 1963
Operasi terakhir adalah pada 1982
Pemilik asal - Southern Malayan Tin Dredging (M) Sdn Bhd (SMTD) - anak syarikat milik penuh Malaysia Mining Corporation Bhd (MMC)
Pemilik sekarang - Kerajaan Negeri Perak (didermakan oleh MMC sebagai Warisan Kapal Korek)

SPESIFIKASI:

4,500 tan berat
75 meter panjang dan 35 meter lebar
33 meter kedalaman mengorek
0.50976 meter padu kapasiti pengorek (bucket)
2,247 kuasa kuda (HP)
358,000 meter padu kapasiti mengorek pada satu-satu masa

bharian




Kapal korek TT5 jadi tarikan pelancong
Oleh Shaarani Ismail

BATU GAJAH: Pelbagai perancangan dibuat bagi memastikan kawasan persekitaran Warisan Kapal Korek Tanjung Tualang No 5 (TT5) di Jalan Tanjung Tualang di sini mampu diketengahkan semula sebagai antara lokasi pelancongan utama di Perak.

Ia dilakukan Perbadanan Menteri Besar (MB Inc) yang diberi tanggungjawab untuk memulihara kawasan itu dalam memastikan warisan berharga itu terus diingati dan diketengahkan.

Antaranya termasuk program pembangunan keseluruhan kawasan yang meliputi lima fasa bermula dengan usaha menyelamatkan dan membaikpulih, mengetengahkan kembali lokasi supaya dikenali, melaksanakan program yang boleh mendekatkan lagi masyarakat dengan TT5 serta melaksanakan program yang dapat membantu meningkatkan sosio ekonomi penduduk setempat melalui pembangunan semula kawasan itu.

Ketua Pegawai Eksekutif MB Inc, Datuk Aminuddin Hashim berkata, perkara paling asas adalah menyelamat dan membaikpulih dahulu TT5 bagi memastikan ia selamat untuk dilawati pengunjung.

"Itu usaha kita yang pertama bagi memastikan ia sesuai untuk dilawati dan mempunyai nilai tambah. Perlombongan bijih timah di Perak sudah berlangsung selama 100 tahun dan ia banyak menyumbang kepada pembangunan ekonomi negeri, selepas 34 tahun TT5 ini terbiar tanpa sebarang usaha pemuliharaan, MB Inc yang diberikan tanggungjawab ini akan cuba melaksanakannya dengan sebaik mungkin.


AMINUDDIN (kiri) berbincang dengan pegawai MB inc tentang pemuliharaan Warisan Kapal Korek Tanjung Tualang No 5 (TT5) di Jalan Tanjung Tualang di Batu Gajah. - Foto Yahya Zainuddin


KEADAAN kapal korek TT5 yang terbiar tanpa sebarang usaha pemuliharaan. - Foto Yahya Zainuddin

"Kami mendapat hak untuk menguruskan sepenuhnya TT5 pada 2014 dan InsyaAllah menjelang suku ketiga tahun ini ia akan mula dibuka kepada orang ramai bagi membolehkan mereka merasai kembali nostalgia kapal korek yang banyak membantu meningkatkan sosio ekonomi setempat ketika itu," katanya kepada BHplus ketika melawat TT5 baru-baru ini.

Aminuddin berkata, usah membaikpulih bukanlah mudah kerana dengan keadaan kapal korek yang sudah mengalami kebocoran, kerja menampal kira-kira 60 lubang yang sudah dikenalpasti adalah sukar.

Katanya, pada peringkat awal sebanyak RM8 juta diperuntukkan dalam usaha membaikpulih semula kapal berkenaan namun ia berjaya dikurangkan kepada RM4 juta sahaja.

Beliau berkata, fasa pertama membabitkan usaha menyelamat dan membaikpulih atau `save the dredge', diikuti fasa kedua iaitu mengetahkan semula lokasi melalui program `fun the dredge' dan fasa ketiga iaitu merasai sendiri pengalaman di dalam kapal korek melalui program `experience the dredge'.

"Kami sudah mengenalpasti beberapa pekerja mahir dan juga bekas pekerja yang pernah berkhidmat di kapal berkenaan termasuk seorang daripadanya bekas ketua mekanik atau `dredge master' berusia lingkungan 70 an bagi mengenalpasti kerosakan dan mengetuai kerja membaik pulih dan setakat ini kerja baik pulih berjalan lancar.


AMINUDDIN ketika meninjau kapal korek TT5. - Foto Yahya Zainuddin

"Sebaik ia selesai pembangunan fasa kedua akan dilaksanakan dengan mengadakan satu karnival bagi menarik orang ramai datang ke lokasi ini dan mengetengahkannya semula sebagai lokasi pelancongan warisan dan sejarah Perak," katanya.

Katanya, dengan kedudukannya yang begitu hampir dengan tarikan utama Batu Gajah iaitu Kellie's Castle yang terletak kira-kira 15 kilometer dan berjaya menarik kira-kira 15,000 pengunjung setiap bulan, tidak mustahil melalui pemuliharaan dan program yang disusun, Warisan Kapal Korek akan turut dikunjungi.

Beliau berkata, pembangunan fasa ketiga iaitu merasai sendiri pengalaman memasuki dan meninjau keadaan TT5 akan dilaksanakan selepas ia diperbaiki dan disahkan selamat dengan jumlah pelawat akan dihadkan kepada 10 pengunjung pada satu-satu masa, bagaimanapun pengunjung masih boleh menjelajah kawasan luar kapal korek kerana ia adalah kawasan terbuka.

"Selepas itu baharulah pembangunan fasa keempat dan kelima akan dilaksanakan iaitu pembinaan kemudahan asas dan infrastruktur kepada pengunjung yang akan turut memberikan nilai tambah kepada masyarakat setempat termasuk pembinaan calet butik, pembinaan taman tema dan kawasan sukan air serta kemudahan asas termasuk restoran dan gerai menjual makanan minuman dan cendera mata.

"Selain itu kami juga akan menyediakan tapak khas yang boleh disewa oleh orang ramai bagi mengadakan majlis perkahwinan bertemakan taman dan warisan di kawasan ini," katanya.

Aminuddin berkata, fasa akhir akan membabitkan projek perumahan dan komersial di kawasan berhampiran kerana keseluruhan tanah yang dimiliki MB Inc di kawasan itu keseluruhannya adalah seluas kira-kira 59 hektar yang turut akan memberikan nilai tambah kepada kawasan itu keseluruhannya.


WARISAN Kapal Korek Tanjung Tualang No 5 (TT5) di Jalan Tanjung Tualang di Batu Gajah. - Foto L. Manimaran


FAKTA NOMBOR:

59 hektar luas keseluruhan kawasan Warisan Kapal Korek TT5
2 bahagian dibahagikan
24 hektar bagi pembangunan infrastruktur dan penyediaan kemudahan asas termasuk gerai dan yang lain
35 hektar lagi dibahagikan kepada pusat santuari, pembangunan taman tema dan sukan air, pembinaan calet berkonsepkan butik dan pembangunan perumahan serta kawasan komersial
RM8 juta kepada RM4 juta pengurangan kos pemuliharaan awal.

bharian

27 Oct 2019

sungai batu

Rahsia Sungai Batu Yang Belum Terungkai
Jumaat, 15 Julai 2016


SUNGAI PETANI: "Pergilah mana-mana sahaja di Kompleks Arkeologi Sungai Batu, pasti akan menjumpai 'tuyere' (peniup angin), iaitu peralatan penting dalam industri kuno peleburan besi.

"Ia berbentuk bulat panjang bersaiz lapan inci dan ada lubang di tengahnya yang digunakan oleh masyarakat purba Sungai Batu ketika itu untuk mengepam udara di relau (furnace) semasa proses peleburan.

"Kami menjumpai lebih dua juta tuyere di sini. Jadi, dengan jutaan tuyere dan 12 tapak peleburan serta kehadiran begitu banyak bijih besi, bayangkan bagaimana sibuknya industri peleburan besi di sini ketika itu," kata Prof Datuk Dr Mokhtar Saidin.

Menurut Pengarah Pusat Penyelidikan Arkeologi Global (PPAG) Universiti Sains Malaysia (USM) ini, ia dipanggil tuyere kerana dijumpai kali pertama di Perancis tetapi jumlahnya tidak begitu banyak, hanya 20 unit sahaja.

Demontrasi menggunakan furnace pada Festival Kedah Tua di Sungai Batu, baru-baru ini.

Berbanding Sungai Batu, yang mana jumlahnya berjuta malah terbukti sebagai industri peleburan besi terawal di Asia Tenggara iaitu pada kurun ke-enam sebelum Masehi ataupun 535 BCE.

"Kalau tidak, ia (peniup angin) sudah dinamakan Sungai Batu bukan tuyere.

Tetapi, disebabkan Perancis memulakan kajian logam lebih awal dan mereka menjumpainya dahulu, ia dinamakan 'tuyere'" katanya sambil berseloroh.

DI MANA PRODUKNYA?

Kajian PPAG USM di kawasan ekskavasi Sungai Batu yang terletak di ladang kelapa sawit di jalan raya baharu Merbok-Semeling ini sejak 2009, telah membuktikan tapak itu adalah tamadun terawal dan tertua di Asia Tenggara.

Ia berdasarkan ujian pentarikhan yang ditemui di tapak jeti, peleburan besi dan syahbandar (monumen pentadbiran), berusia 2,600 tahun berikutan kewujudannya pada 535 sebelum Masehi.

Dengan penemuan itu, Sungai Batu yang menjadi sebahagian daripada tamadun kerajaan Kedah Tua ini didapati sistem ekonominya berteraskan kepada industri peleburan besi. Biarpun demikian, Mokhtar berkata kumpulan penyelidikannya berhadapan kesulitan dalam melengkapkan kajian perusahaan kuno itu.



Mokhtar

"Selepas tiga bulan proses ekskavasi, kami tidak menjumpai produk siap.

Misalnya, pedang, parang atau apa-apa jenis pisau. Kalau ada pun, hanyalah pisau kecil yang kami percaya ia milik persendirian.

"Jadi, di manakah produknya? Sedangkan, kami telah menemui 'pusat peleburan besi' di kawasan itu," ujarnya.

Sesuatu yang sangat mustahil apabila langsung tidak menjumpai satu pun produk besi sedangkan terdapat lebih 10 pusat peleburan, serta jutaan tuyere di situ, sekali gus merungsingkan kumpulan penyelidik PPAG.

JONGKONG BESI

Dalam merungkai kemelut tersebut, Mokhtar bersama pasukan arkeologinya mengambil pendekatan mengkaji balik segala yang berkaitan dengan industri logam lama.

Pelbagai bahan bacaan berhubung topik tersebut telah diselidiki dan mereka mendapati bahawa produk yang dihasilkan oleh masyarakat purba Sungai Batu ketika itu bukanlah sepertimana yang difikirkan selama ini.

"Selepas mengkaji industri besi tamadun awal, kami menyimpulkan produk yang dihasilkan oleh masyarakat zaman tersebut adalah jongkong besi (ingot)," ujarnya.

Biarpun gembira dengan penemuan itu, perjalanan kajian PPAG sekali lagi berdepan masalah apabila gagal menemui satu pun jongkong besi berupa sedemikian semasa proses ekskavasi seluas 4 kilometer (km) dilakukan di ladang itu.

"Seperti biasa, apabila kita memikirkan mengenai 'jongkong', ramai termasuk pakar arkeologi akan menggambarkan ia berbentuk segi empat sempurna," tambahnya.

Walhal, tidak ada satu pun tamadun awal ketika itu yang terlibat dalam perusahaan berkenaan menghasilkan jongkong besi sempurna dan ia berdasarkan kepada bukti-bukti sejarah dunia.

Selain, PPAG mengenalpasti perbezaan jongkong besi semasa tempoh pembinaan awal tamadun Timur Tengah bagi mencari jawapan kepada permasalahan itu," jelas Mokhtar.

"Segala yang terhasil daripada proses peleburan dan mengalir keluar daripada relau, tidak kiralah apa bentuk sekali pun, ia adalah jongkong besi. Biasanya, ia berbentuk seperti sisa besi tetapi selepas dilakukan eksperimen, sah itulah jongkong besi pada zaman tersebut," katanya.

LOKASI PENTING

Dengan penemuan itu, beliau yakin bahawa ia dihasilkan untuk dieksport keluar dari kawasan tersebut. Ini bermakna, Sungai Batu ketika itu sudah pun memainkan peranan cukup besar dalam perkembangan tamadun rantau Asia Tenggara.

Selain, merupakan lokasi amat penting dalam peta dunia suatu ketika dahulu.

Menurut Mokhtar, terdapat beberapa hasil penulisan sejarah yang telah menceritakan akan kepentingan Sungai Batu purba dalam perusahaan besi serta keunggulan kerajaan tamadun Kedah Tua yang pernah wujud di tapak berkenaan.

"Dalam satu puisi Tamil, 'Pattinappalai' ada menyatakan pedagang India telah mengimport besi dari 'Kataram' untuk membuat pedang. Ia berasal daripada perkataan 'kazh' iaitu besi hitam yang merujuk Kedah Tua.

"Sebenarnya, banyak nama yang digunakan oleh pedagang-pedagang bagi merujuk kerajaan purba itu sebagai 'lubuk besi'. Ini termasuklah, Kataha yang bermaksud 'the bowl of iron' di dalam bahasa Sanskrit," katanya.

KEDUDUKANNYA STRATEGIK

Berdasarkan bukti yang ditemui, sekurang-kurangnya Sungai Batu telah menjadi hub mengeksport besi kuno sejak kurun ke-lima sebelum Masehi, tetapi ia masih lagi memerlukan data dan kajian lebih lengkap.

"Inilah menariknya, kerana tidak pernah tercatat dalam sejarah bahawa tanah Melayu ketika itu ada mengeksport besi. Yang kita tahu, hanyalah sebagai pengeluar emas dan timah," katanya.

Kedudukan Sungai Batu yang strategik kerana terletak berdekatan dengan Gunung Jerai, telah membantu para pedagang untuk berlabuh di sini dengan menjadikan puncak gunung tersebut sebagai panduan.

Ini terbukti dengan penemuan 12 buah jeti berhampiran Sungai Batu Kuno yang pernah mengalir di tapak bersejarah itu, lima buah kapal purba yang masih lagi di bawah tanah, sekali gus memberikan gambaran kawasan ini pernah menjadi sebuah pelabuhan sangat pesat.

"Semasa sebelum Masehi dan awal Masehi, aras laut di sini lebih tinggi, menyebabkan Sungai Batu berada di tepi laut ketika itu. Sekarang, lebih kurang 12km ke Tanjung Dawai baharu nampak laut.

"Ia mengecil disebabkan perubahan struktur muka bumi dan alam semulajadi.

Sungai yang dahulunya selebar 100 meter dan sedalam 30 meter semakin cetek setelah ribuan tahun menyebabkan kapal-kapal besar tidak dapat masuk," katanya.

Susulan itu, ia menjadi antara sebab utama kejatuhan Sungai Batu sebagai pusat pelabuhan apabila mereka mula pindah ke kawasan lain yang menghampiri laut seperti Pengkalan Bujang dan Sungai Mas.

SIAPAKAH PEMILIK KERAJAAN INI?

Biarpun demikian, pasukan arkeologi Mokhtar masih lagi belum menjumpai sebarang bukti mengenai manusia dan pemilik kerajaan ini. Namun, beliau yakin masyarakat purba Sungai Batu ketika itu telah pun memulakan satu tamadun yang hebat dan pastinya mereka bukanlah calang-calang orangnya.

"Industri peleburan besi di sini telah wujud sejak kurun ke-enam sebelum Masehi sehinggalah kurun ke-17 Masehi dan kami percaya teknologi yang digunakan mereka adalah lokal.

"Berdasarkan suhu yang digunakan untuk melebur besi iaitu 1,200 darjah celcius, senibina, jeti pelabuhan, bengkel peleburan besi, dan adanya perdagangan di sini, jelas menunjukkan betapa tingginya susunan masyarakat Sungai Batu dan pastinya mereka mempunyai sistem geologi," katanya.

Akan tetapi, siapakah pemilik kerajaan ini? Adakah ia dimulakan oleh orang Melayu, persoalan yang masih misteri dan ini antara misi utama pasukan arkeologi Mokhtar untuk terus merungkai rahsia yang masih tersisip rapi di Sungai Batu.

mstar


RM10mil for ancient secrets
 04 Jan 2019
By ARNOLD LOH


Relic: Visitors looking at an ancient clay furnace (relau), believed to have been made between 5AD and 10AD, in the compound of a kampung house in Kampung Chemara, Jeniang and relocated to the Sungai Batu Archaeological Site at Lembah Bujang, Kedah.

SUNGAI PETANI: The race is on to uncover more secrets from the ruins of the oldest known civilisation in South-East Asia – the Sungai Batu archaeological site in Kedah.

The federal government has approved RM10mil to conduct consultation, conservation and restoration works as well as an archaeological museum.

“The funds were approved under the recent federal budget. It is only for the first phase. The total needed is RM30mil,” said Deputy Tourism, Arts and Culture Minister Muhammad Bakhtiar Wan Chik.

However, Muhammad Bakhtiar said the ministry needed the Kedah government’s assistance to gazette a special area plan for Sungai Batu to ensure that it would be protected.


“Although the National Heritage Department has gazetted Sungai Batu as a heritage site, we need a special area plan to lay down development guidelines and a buffer zone,” he said.

The ministry, he said, had also made progress with Aga Khan Foundation, a global NGO with multiple focus areas including tourism and heritage conservation, to protect Sungai Batu’s historical value.

Muhammad Bakhtiar said his recent trip to view the conservation efforts of ancient sites in India, facilitated by the foundation, made him realise that conservation of vital historic sites was a long, meticulous process.

“It must be about conservation first, not tourism,” he said.

Ever since archaeologists discovered the ruins of an iron-smelting industrial town more than 2,000 years old, the identity of these ancient people has been debated because there is too little cultural evidence of them in the excavated smelting sites.



Sungai Batu is the industrial area of this civilisation, and it is not even one tenth of Kedah Tua, said archaeologist Datuk Dr Mokhtar Saidin, who is Global Archaeological Research Centre director at Universiti Sains Malaysia.

“We haven’t found the places where these ancient people built their homes. They seemed to have had a great sense of organisation. In Sungai Batu, archaeologists keep finding only artefacts used strictly for iron smelting. We haven’t been able to find artefacts of a personal or day-to-day nature, so it seems that this civilisation fully segregated where they worked and lived.

“Archaeologists are still looking for where the residential areas were. Until then, an aura of mystery shrouds the discovery,” he said.

Dr Mokhtar said after the Sungai Batu archaeological site was gazetted as a national heritage late last year, his team designed an archaeo-tourism model to foster public appreciation of the findings.

“We have trained 12 locals and made them licensed tour guides. They are able to conduct guided tours at the site and explain the significance of Sungai Batu to visitors,” he said.

Dr Mokhtar said about 1,500 tourists visit the site each month, and it is crowded on weekends.

He said his team designed a package comprising a guided tour to the ruins of the monument, jetty, iron smelting, administrative sites, and included a chance for visitors to try excavating artefacts, smelting iron and making bricks.

The package costs international visitors US$100 (RM416) for adults and US$50 (RM208) for children. For Malaysians, the charge is RM100 for adults and RM50 for students, senior citizens and those with special needs.

“This is the only way the 12 locals working at the site can earn some money. On days without guided tours, they catalog artefacts found.”

Dr Mokhtar said by using Optically-Stimulated Luminescence (OSL) technology, the date of the jetty ruins was certified as 582BC, sealing Sungai Batu’s ruins as the oldest civilisation in South-East Asia.

A river of about 2km – which is now a stream – once linked Sungai Batu to the expansive Sungai Merbok for traders from as far as India to sail in for the iron.

OSL dating measures the last time quartz sediment was exposed to light.

the star




1 Oct 2019

Kereta Lembu

Kereta Lembu: Kian Pupus Meniti Zaman
Oleh SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM


KERETA lembu merupakan pengangkutan tradisional yang menjadi lambang kemegahan negeri Melaka. Diperkenalkan oleh saudagar India ketika zaman Kesultanan Melayu Melaka pada abad ke-15, kereta lembu pada dasarnya terbahagi kepada empat bahagian, iaitu badan, roda, gandar dan kajang.



.Sulaiman Manan, pembuat kereta lembu di Kampung Balik Bukit, Melaka.

Menurut Encik Sulaiman Manan, 54, seorang pembuat kereta lembu di Kampung Balik Bukit, Melaka, bahagian pada kereta lembu yang paling sukar untuk dihasilkan ialah roda. Pada bahagian tersebut, terdapat tujuh batang kayu yang disambungkan menjadi bentuk bulat. Roda terbahagi kepada beberapa bahagian, iaitu jejari, gantang, tapah, cupai dan simpai. Bahagian jejari pula mudah pecah semasa diketuk, jadi perlu dilakukan secara berhati-hati.

Ada makna tersendiri di sebalik pembuatan kereta lembu. Tayar kereta lembu mempunyai 14 jejari, melambangkan 14 buah negeri di Malaysia. Di tengah tayar ada kayu tengah atau gantang, melambangkan ibu negara. Ibu negara memegang semua negeri yang ada, sama seperti kereta tayar lembu 14 jejari ini dipegang oleh gantang agar kukuh dan boleh berputar dengan sempurna.



Masa yang panjang dan ketelitian diperlukan bagi menghasilkan kereta lembu.

Rangka yang dipasang pada lembu penarik menggunakan rantai khas yang diikat pada kayu gandar, tetapi tali sahaja mungkin digunakan bagi seekor atau dua ekor lembu. Pemandu dan pengiring barangan akan duduk di hadapan dan beban dimuatkan di belakang.

Menurut Sulaiman, jika menggunakan alatan tukang yang lebih moden seperti mesin larik dan potong, sebulan diperlukan untuk menyiapkannya. Manakala jika secara tradisional, masanya lebih lama, iaitu sekitar tiga bulan.

Dahulu, kereta lembu digunakan sebagai pengangkutan oleh orang kaya di Melaka. Ciri-ciri yang membezakan kereta lembu Melaka ini dengan yang lain adalah bumbungnya berbentuk seperti tanduk lembu yang berwarna-warni. Selain kereta lembu yang digunakan di Melaka pada zaman Munsyi Abdullah dan sebelumnya terdapat juga keterangan tentang kereta kerbau atau pedati kerbau.



Kayu gandar kereta lembu.

Pedati biasanya digunakan di kawasan bandar dan persekitarannya sahaja bagi tujuan menarik barang-barang. Munsyi Abdullah ada menggambarkan pedati kerbau yang digunakan pada zamannya itu apabila menyebut: “Maka dengan seketika itu juga diberinya perintah menyuruh bawa mayat itu, lalu dimasukkannya ke dalam pedati kerbau, maka disuruhnya canangkan berkeliling negeri…”

Pada asalnya sebelum wujud kereta beroda dalam kalangan petani di kampung, mereka sudah menggunakan sistem pengangkutan yang dikenali sebagai ‘bentang’. Kereta bentang ini tiada beroda dan ditarik oleh binatang seperti kerbau dan lembu.

Penggunaan pengangkutan ini bertujuan untuk menarik padi, kayu api dan barangan lain yang berat. Kenderaan ini biasanya dapat dilihat di sawah padi dan dusun dalam tahun-tahun 1880-an. Sekarang kereta kerbau atau pedati kerbau tidak digunakan lagi.

Menurut Sulaiman lagi, pada badan kereta lembu ada enam tiang dan di bawahnya ada sebatang kayu kukuh yang membolehkan enam tiang itu berdiri. Enam tiang itu melambangkan enam orang pahlawan Melaka yang berkhidmat untuk negeri atau pemimpin. Mereka ialah Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Yang keenam ialah guru mereka.


Alatan untuk membuat kereta lembu.

Sebenarnya kereta lembu mempunyai banyak perlambangan yang tidak diketahui oleh masyarakat. Melalui perlambangan sebegini, nasihat atau maklumat sejarah dapat diturunkan dari generasi ke generasi.

Jenis lembu yang digunakan untuk menarik kereta juga tidak boleh sembarangan. Lembu tersebut sudah jinak, terlatih, selain berlainan saiz. Lembu di sebelah kanan lebih besar daripada lembu di sebelah kiri dan lembu yang digunakan hanyalah lembu jantan.

Fungsi kereta lembu semakin tenggelam ditelan pembangunan zaman. Masyarakat sekarang tidak lagi menggunakannya sebagai kenderaan pengangkutan sebaliknya menggunakan lori. Akibatnya, tiada lagi tempahan membuat kereta lembu yang diterima oleh Sulaiman.

Kemuncak zaman kegemilangan kereta lembu adalah dari tahun 1950-an hingga 1980-an, terutamanya ketika menyambut pesta dikenali sebagai mandi Safar di Melaka. Pada ketika itu, pemilik akan berarak beramai-ramai menuju ke pantai dan menghias kereta lembu mereka kerana pertandingan kereta lembu berhias turut diadakan.


Kereta lembu Melaka.

Menurut Sulaiman, pembuatan kereta lembu rumit. Oleh itu beliau tawar hati untuk meneruskan kerja membuat kereta lembu kerana tiada permintaan.

Tidak mustahil suatu hari nanti, generasi akan datang tidak tahu kewujudan kereta lembu yang pernah menjadi kebanggaan Melaka. Sulaiman menyerahkannya kepada takdir kerana beliau tidak nampak penyambung yang mahu meneruskan usaha membuat kereta lembu. Sulaiman juga berharap agar pihak bertanggungjawab dapat membantu mengekalkan kereta lembu sebagai salah satu ikon pelancongan, terutama di Melaka.

klikweb

23 Aug 2019

tabung haji pak ungku

Tabung Haji Pak Ungku



MESYUARAT pertama Ahli Lembaga Urusan Tabung Haji di Bilik Gerakan Negara yang dipengerusikan oleh Timbalan Perdana Menteri ketika itu, Tun Abdul Razak Hussein pada 29 Disember 1963.

MOHD. SAIFUL SAHAK
05 Ogos 2019 12:00 PM


PROFESOR Diraja Ungku Abdul Aziz Ungku Abdul Hamid bukanlah satu nama asing yang perlu diperke­nalkan kerana hampir semua rakyat mengetahui jasa tokoh akademik ini kepada negara.

Beliau yang mesra dengan panggilan Pak Ungku juga sa­ngat sinonim dengan usaha membantu orang Melayu terutama dalam membasmi kemiskinan.

Antaranya melontarkan idea penubuhan Lembaga Urusan dan Tabung Haji (LUTH) pada 1963 menerusi kertas kerja­nya yang bertajuk Rancangan Membaiki Ekonomi Bakal-bakal Haji pada 30 September 1959 kepada Kerajaan Persekutuan Tanah Melayu.


UNGKU AZIZ

Intipati kertas cadangan yang dibentangkan itu melibatkan keselamatan simpanan bakal haji agar lebih terjamin dan bebas daripada unsur riba dalam memastikan jemaah haji menunaikan Rukun Islam itu dengan sempurna. Keduanya pula ialah memastikan simpanan bakal jemaah haji tiada meraih bonus atau dividen.
Idea Pak Ungku itu akhirnya diterima Kementerian Pembangunan Luar Bandar yang bersetuju menubuhkan LUTH pada 1969 melalui gabungan antara Perbadanan Wang Simpanan Bakal-bakal Haji (PWSBH) di bawah Undang-undang No. 34, 1962 dengan Pejabat Urusan Hal Ehwal Haji.

Gabungan berkenaan dina­ma­kan sebagai LUTH sebelum ditukar nama kepada Lembaga Tabung Haji atau lebih dikenali Tabung Haji pada 1995.

Pada 30 September 1963, PWSBH yang diperbadankan itu melakar sejarah negara apabila kaunter pertamanya berjaya menerima deposit daripada 1,281 bakal haji yang berjumlah RM46,610.

Tertubuhnya Tabung Haji, urusan ibadat haji umat Islam negara ini menjadi lebih mudah dan teratur.

Urusan pasport, visa haji, pengang­kutan, penginapan di Mekah, Madinah, Mina dan Arafah serta penjagaan kesihatan dan bimbingan ibadat haji diuruskan sepenuhnya Tabung Haji.

Akhbar Utusan Malaysia bertarikh 14 Oktober 2005 me­­muatkan berita “Hayati falsafah penubuhan Tabung Haji” melaporkan, Pak Ungku me­nyu­arakan pendapatnya su­paya pengurusan Tabung Haji harus kembali menghayati penubuhan tabung itu.

Pak Ungku menggesa pengurusan Tabung Haji perlu menjadikan falsafah penubuhan Tabung Haji sebagai pedoman dalam membuat keputusan berhubung pembangunan dan pelaburannya pada masa depan.

Katanya,jika pengurusan Ta­bung Haji mematuhi falsafah yang terkandung dalam Akta 8. Akta Lembaga Urusan dan Tabung Haji 1969, yang menjadi asas penubuhan Tabung Haji tidak akan berlaku sebarang masalah seperti hari ini.

Akta itu antara lain bertujuan:

  • Membolehkan orang Islam menyimpan secara beransur-ansur bagi memenuhi perbelanjaan menunaikan fardu haji atau lain-lain perbelanjaan bermanfaat.
  • Membolehkan orang Islam melalui wang simpanan mereka mengambil bahagian yang lebih berkesan dalam bidang penanaman modal melalui cara yang halal di sisi Islam.
  • Memberi perlindungan pengawalan dan kebajikan kepada jemaah haji yang menunaikan fardu haji dengan me­nga­dakan pelbagai kemudahan dan perkhidmatan
Kejayaan Tabung Haji yang berlandaskan kepada falsafah penubuhannya terbukti apabila mempunyai lebih daripada 10 juta pendeposit dan 125 cawangan dengan hampir 10,000 ‘touch-points’ di seluruh negara.

Tabung Haji berjaya mele­barkan sayapnya operasinya dengan menubuhkan Tabung Haji di Jeddah, Arab Saudi di bawah bidang kuasa Konsulat Malaysia.

Kejayaan demi kejayaan Ta­bung Haji akhirnya tertubuh­nya Yayasan Tabung Haji (YTH) pada 2016 untuk melaksanakan misi dan peranan kemanusiaan dalam membantu golo­ngan kurang berkemampu­an, miskin dan memerlukan.'

utusan

14 Aug 2019

pelayaran solo sang legenda

Pelayaran epik Azhar Mansor
BAHAGIAN PERTAMA

AZHAR MANSOR mengemudi Jalur Gemilang dalam misi pelayaran solonya menakluki dunia.

SAHIDAN JAAFAR
11 Mei 2019

PADA itu pukul 4 petang 2 Februari 1999, cuaca agak cerah dan baik untuk memulakan pelayaran, matahari melimpahkan sinarnya, awan berarak mega dan tidak ada tanda-tanda hujan akan turun.


AKHBAR Utusan Malaysia pada 3 Februari 1999 memaparkan tajuk “Misi Azhar kelilingi dunia secara solo

Datuk Azhar Mansor berjalan berpimpin tangan de­ngan isterinya, Sarah Maria dan anak-anak menuju ke kapal impiannya, Jalur Gemilang di Awana Porto Malai, di Tanjung Malai Langkawi.

Kehadiran Perdana Menteri Tun Dr. Mahathir Mohamad yang tiba untuk menyerahkan bendera kebanggaan Malaysia itu kepada Azhar menjadi pembakar semangat untuk pelayar solo itu mencapai impiannya mengelilingi dunia.

“Saya berjanji akan membawa bendera ini pulang,” kata Azhar kepada Dr. Mahathir.

“Saya doakan demikian juga,” Perdana Menteri menjawab ringkas.

Azhar kemudian menaiki Jalur Gemilang yang kini membawa bersama-samanya lebih dua tan makanan angkatan tentera atau peket makanan tempatan yang setengah masak termasuk sambal ikan bilis, rendang daging, kari ayam, bubur kacang dan sirap nanas. Semua makanan itu ha­nya perlu dipanaskan sekejap sahaja dalam air yang mendidih.

Azhar juga membawa beras untuk dimasak dan snek berupa sejumlah buah-buahan kering seperti epal dan jambu serta bijirin seperti cornflakes.

Bekalan makanan itu mencukupi untuk seorang pelayar biasa hidup selama 140 hari di lautan tetapi bagi Azhar yang tidak kuat makan ia boleh digunakan untuk tempoh sehingga 200 hari.


DATUK AZHAR MANSOR bersama Jalur Gemilang meredah lautan luas.

Azhar mengemudi Jalur Gemilang ke lautan dite­mani sekumpulan kapal dan skuter air dengan penyokong-penyokongnya terus melaung-laungkan na­manya diiringi kata-kata dan lambaian selamat tinggal.

Kumpulan kapal dan skuter laut itu beransur-ansur me­ninggalkan Jalur Gemilang untuk kembali ke pantai dan sebuah kapal peronda polis mengiringi pelayar solo negara itu melintasi garisan permulaan.

Sedang ha­luan Ja­lur Gemilang me­lintasi garisan itu penjaga rasmi ma­­sa merakamkan detik waktu itu pukul 4.30 petang seba­gai rekod rasmi Azhar memu­lakan pelayaran meredah samu­dera luas penuh cabaran.

Dr. Mahathir yang masih berdiri bersama-sama orang ramai di Awana Porto Malai memerhatikan Jalur Gemilang menghilang di tengah-tengah samudera dan akhirnya lepas dari pandangan.

Azhar kini bersendirian me­ngemudi Jalur Gemilang memulakan pelayaran solo ketika angin Monsun Timur Laut sedang bertiup de­ngan baik.

Menurut Azhar dalam buku Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge (2001), laluan beliau mengelilingi dunia sudah ditetapkan iaitu tempat menukar haluan adalah di Tanjung Leeuwin Australia, Tanjung Tenggara Tasmania dan Tanjung Selatan di New Zealand sebelum melintasi selatan Lautan Pasifik ke Tanjung Tanduk di penghujung benua Selatan Amerika.

Azhar kemudian me­ngemudi Jalur Gemilang ke arah utara menuju Kepulauan Fernando de Noronha, sebelum berpatah ke selatan sekali lagi ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan sebelum belayar menuju Langkawi, semula.

Bagi mendapat pengikti­rafan Majlis Rekod Pecutan Pelayaran Sedunia, Jalur Gemilang harus bermula dan menamatkan pelayarannya dari tempat yang sama melintasi semua garis bujur dan mesti melintasi Khatulistiwa. Azhar perlu tiba di Tanjung Tanduk sebelum April 1999 iaitu permulaan bagi musim sejuk.

Pada musim sejuk, pelayar seperti Azhar harus berdepan pula dengan laut yang sema­kin dahsyat dengan gelombang tinggi menggunung, an gin kencang, suhu menggigit tulang dan bahaya terlanggar bongkah air batu.

“Tetapi apa yang dikhuatiri adalah terperangkap di tengah-tengah ‘angin mati’ iaitu Zon Pertembungan Inter-Tropika, satu kawasan meliputi kira-kira lima darjah lintang hampir Khatulistiwa dengan angin menghilang dan laut tidak berkocak sedikit pun.

Azhar bernasib baik, kerana angin tidak muncul selama dua hari sahaja. Situasi ‘angin mati’ itu menyebabkan beliau mudah dilanda kekecewaan dan tenggelam dalam ‘khayalan berhantu’ sebagaimana dirasai pelayar lain.

“Malah, sebenarnya dia turut dicengkam khayalan pada suatu ketika sedang masa berlalu tanpa tiupan angin langsung. Azhar terasa telinganya terdengar alunan muzik, lagu asing yang mengusik-usik se­perti irama Hindustan.

“Dia mendengarnya begitu jelas sekali dan cuba bernyanyi sama tetapi angan-angannya terganggu kerana dia tidak tahu seni kata dan lenggok bahasa Hindi. Lagipun hati­nya berkata takkanlah lagu itu mengalun lalu dari seberang benua kecil India” (Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge 1991).

utusan

Azhar Mansor 'Legenda Pelayaran Solo'
BAHAGIAN AKHIR


11 Oktober 2001 – Tun Dr. Mahathir Mohamad bersama Azhar Mansor melihat buku “Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge” yang dilancarkan semasa pameran LIMA 2001 di Langkawi.


SAHIDAN JAAFAR
12 Mei 2019 4:00 PM

DATUK Azhar Mansor, 41, mencatat sejarah sebagai 'Legenda Pelayaran Solo' sekaligus menempa rekod sebagai orang pertama mengelilingi dunia secara solo melalui laluan baru, Timur-Barat.


AKHBAR Utusan Malaysia bertarikh 12 Ogos 1999 bertajuk “Selamat pulang Azhar” mencatatkan Pelayaran

Azhar, 41, memulakan pelayaran pada 2 Februari 1999 dari Langkawi, berjaya mengelilingi dunia sejauh 25,000 batu nautika dalam tempoh 190 hari dan tiba di pulau Langkawi pada 11 Ogos 1999.

Wartawan Utusan Malaysia, Zuhairi Ali dan Yusri Sahat pada 12 Ogos 1999 melaporkan ketibaan Jalur Gemilang dengan tajuk utama di halaman satu: “Selamat Pulang Azhar” dan “Syabas orang pertama mengelilingi dunia secara solo di laluan baru”.

Ketibaan Jalur Gemilang diarak oleh konvoi kapal Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM), bot peronda Polis Ma­­rin, kapal dan bot pelbagai agensi kerajaan serta persendirian.

“Dalam suluhan kelam lampu-lampu sorot, orang ramai dapat melihat Jalur Gemilang perlahan-lahan menghampiri garisan penamat dan seterusnya menuju ke Jeti Star Cruise. Azhar menjejakkan kakinya ke Jeti Star Cruise pada pukul 11.55 malam setelah JG ditunda dari garisan penamat” (Utusan Malaysia 12 Ogos 1999.

Utusan Malaysia melapor­kan, Azhar terus memeluk anak-anak dan isterinya, Datin Sara Maria Abdullah dan bapa­nya, Mansor Mohd. Saad, 78, yang menyambut kepulangannya.

Kemudian Azhar menuju ke arah Dr. Mahathir dan mereka berpelukan. Pelayar solo itu kelihatan terharu dan menitiskan air mata ketika berjalan di celah-celah orang ramai yang bersesak-sesak menunggunya di jeti itu sejak awal petang.

Kejayaan Azhar mengelilingi dunia secara solo membuktikan slogan “Malaysia Boleh” yang dilaungkan oleh Dr. Mahathir bukan omong kosong dan pelayar itu menganggap­nya sebagai tugas yang diamanahkan kepadanya oleh seluruh rakyat Malaysia.

“Kejayaan ini adalah milik rakyat Malaysia, bukan milik saya seorang,” ucap Azhar di perkarangan Hotel Awana Porto Malai selepas mendarat di Jeti Star Cruise.

Perdana Menteri yang menjadi penaung projek Jalur Gemilang itu menyifatkan kejayaan Azhar luar biasa kerana “tiada seorang di antara 22 juta rakyat Malaysia yang mampu melakukan apa yang dilakukan Azhar”.

Saat rakyat Malaysia berbangga de­ngan kejayaan beliau, Azhar yang masih keletihan bersyukur beliau selamat menjalani misinya se­lama tiga bulan belayar mengelilingi dunia yang penuh dengan kisah suka dan duka.

Menurut Azhar dalam buku Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge (2001), pengalaman menyambut hari jadinya yang ke-41 dan menyam­but Hari Raya Aidil Adha bersendirian di lautan, antara saat paling memilukan dalam hidupnya.

“Saya masih ingat lagi malam-malam dengan angin bertiup sayu dan laut laksana tenang tidak berkocak sedikit pun (ketika angin mati). Dan bila saya mendongak, langit biru diliputi bintang gemerlapan, meng­ingat­kannya bahawa walaupun saya kesepian di tengah lautan nan luas saya masih sebahagian daripada penghuni dunia” (Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge 2001; 145)

Pelayar itu cuba menjauhkan ingatannya daripada keluarganya dengan sentiasa mengisi masanya dengan pelbagai tugas tetapi 11 Februari adalah hari paling sedih baginya kerana ia adalah hari jadinya yang ke-41.

“Dalam keadaan sunyi ini, saya mendengar alunan muzik dari CD dalam komputer. Bia­sanya saya lebih gembira dihiburkan bunyi laut dan angin tetapi sekarang ini apa yang cuba saya elakkan adalah hati ini jadi berkecamuk” (Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge 2001: 59).

Pada 28 Mac 1999 ketika orang Islam di Malaysia sedang merayakan Hari Raya Aidil Adha, pelaut itu tidak dapat meraikannya selain menghubungi keluarganya.

“Saya tiada sebarang ranca­ngan khas di sini, katanya dalam e-mel “tetapi akan berdoa dan memuji keesaan Ilahi sempena Idul Adha dan meraikannya di Lautan Selatan. Memanglah tempat ini bukanlah sesuai untuk belayar seorang diri dalam sebuah kapal” (Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge 2001: 73).

Detik paling mencemaskan dalam hidupnya terjadi apabila tiang layar Jalur Gemilang patah dua akibat dihempas ombak raksasa ketika dalam pelayaran di Lautan Selatan.

“Apa yang saya tidak tahu adalah ketika itu satu ombak raksasa melambung kapal, tiba-tiba pecah berderai menyebabkan Jalur Gemilang terapung di udara seketika (Ocean Wild: Jalur Gemilang Challenge 2001: 85).

Kehilangan tiang layar adalah satu igauan buruk bagi seorang pelayar solo sepertinya. Berita kehilangan tiang layar Jalur Gemilang menyebabkan orang ramai mengirim e-mel memberikan galakan, semangat dan sokongan moral kepada Azhar supaya meneruskan misi pelayaran untuk mengelilingi dunia.

Sumber: Pusat Maklumat Utusan

utusan

irama syair






1 Aug 2019

wasiat raja

Pertahan 7 wasiat Raja-Raja Melayu



GAMBAR Raja-Raja Melayu ketika menandatangani Perjanjian Kemerdekaan Persekutuan Tanah Melayu bersama, Pesuruhjaya Tinggi Persekutuan Tanah Melayu bagi pihak Ratu Elizabeth II pada 5 Ogos 1957.

MOHD. SAIFUL SAHAK
31 Julai 2019

Tujuh Wasiat Raja-Raja Melayu daripada sembilan raja Melayu yang terdiri empat negeri Melayu bersekutu dan lima yang tidak bersekutu disampaikan sebelum Hari Kemerdekaan kepada orang Melayu yang merupakan rakyat asal supaya tidak mengambil mudah hak dan keistimewaan mereka.

Wasiat itu diamanahkan atas kehendak raja-raja Melayu mengekalkan kesinambungan sejarah, kedaulatan dan kuasa serta kesinambungan kedaulatan negara yang terletak kepada raja-raja Melayu serta mendapat pene­rimaan rakyat melalui wakil-wakil sah yang mempunyai locus standi.

Dengan itu, Perlembagaan Persekutuan yang digubal dan termaktub fasal-fasal tertentu yang memerlukan izin Majlis Raja-Raja sebelum sebarang pindaan Perlembagaan dibenarkan berkuat kuasa.


AKHBAR Utusan Malaysia memuatkan berita bertajuk 7 Wasiat Raja Melayu pada 7 Ogos 2009.


AKHBAR Utusan Malaysia memuatkan berita bertajuk 7 Wasiat Raja Melayu pada 7 Ogos 2009.
Akhbar Utusan Malaysia bertarikh 7 Ogos 2009 memuat berita bertajuk 7 Wasiat Raja-Raja Melayu melaporkan titah Raja Muda Perak ketika itu Raja Nazrin Shah yang mengi­ngatkan rakyat khususnya orang Melayu mengenai Tujuh Wasiat Raja-Raja Melayu yang menjanjikan kesejahteraan, kedamaian dan keamanan jika mereka bersatu dan berpegang teguh kepadanya.

Raja Nazrin Shah bertitah ketika melancarkan tiga buku Allahyarham Datuk Dr. Syed Hussein Alatas, berjudul Mitos Pribumi Malas, Intelektual Masyarakat Membangun, dan Rasuah: Sifat, Sebab dan Fungsi, bersempena Seminar Antarabangsa Legasi Pemikiran Pemikir di Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kuala Lumpur.

Baginda bertitah, wasiat yang disampaikan semasa raja-raja Melayu menurunkan tandatangan persetujuan pembentukan Perlembagaan Persekutuan Tanah Melayu pada 5 Ogos 1957 itu ialah:


  • Kami namakan dan kami panggil akan dia, bumi yang kamu pijak dan langit yang kamu junjung Persekutuan Tanah Melayu (sekarang dikenali dengan nama Malaysia).
  • Kami isytiharkan dan kami simpan untuk kamu dan kami benarkan kamu isytihar dan simpan untuk anak cucu kamu, selain gunung-ganang, tasik dan hutan simpan, Tanah simpanan Melayu sehingga nisbah 50 peratus, selebihnya kamu rebutlah bersama-sama kaum lain.
  • Bagi menjaga kamu dan bagi melindungi anak cucu kami serta harta milik kamu, kami tubuhkan Rejimen Askar Melayu selain untuk membanteras kekacauan dalam negara dan ancaman dari luar negara.
  • Kami kekalkan dan kami jamin kerajaan dan kedaulatan raja-raja Melayu memerintah negara ini.
  • Kami isytiharkan Islam adalah agama Persekutuan.
  • Kami tetapkan bahasa kebangsaan ialah bahasa Melayu .
  • Kami amanahkan dan kami pertanggungjawabkan kepada raja-raja Melayu untuk melindungi kedudukan istimewa orang Melayu dan kepentingan sah kaum-kaum lain (kemudian ditambah kedudukan istimewa anak negeri Sabah dan Sarawak).


Akhbar Utusan Malaysia bertarikh 6 Jun 2013 memuatkan berita bertajuk Perkasa tujuh wasiat Raja-Raja Melayu’ melaporkan, Pengarah Pusat Kajian Institut Raja Malaysia, Prof. Datuk Dr. Ramlah Adam berkata, kerajaan perlu me­laksana dan memperkasa Tujuh Wasiat Raja-Raja Melayu supaya kepentingan serta hak keistimewaan orang Melayu seperti termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan terjamin.

Katanya, langkah itu perlu diambil segera berikutan ba­nyak kepentingan orang Me­layu seperti tanah rizab Melayu, kedudukan bahasa Melayu dan agama Islam sebagai agama rasmi semakin terhakis.

utusan

STATUS

Search This Blog

DAUN