secebis

Blog Mimbar Kata

bahasa dalam puisi

blog mimbar kata

menatap kepayahan dalam denu

blog mimbar kata

kau ada

blog mimbar kata

Showing posts with label minda. Show all posts
Showing posts with label minda. Show all posts

19 Aug 2025

Suasana Hati Dalam Puisi



Suasana hati dalam puisi merujuk kepada perasaan atau mood yang ditimbulkan dalam puisi tersebut. Suasana hati ini bukan sahaja ditentukan oleh tema atau isi kandungan, tetapi juga melalui penggunaan bahasa, imaji, nada, ritma, serta teknik-teknik puitis yang lain. Dengan mencipta suasana hati tertentu, penulis dapat mengarahkan pembaca untuk merasakan emosi tertentu seperti sedih, gembira, tenang, atau resah.

Berikut adalah beberapa aspek yang mempengaruhi suasana hati dalam puisi serta contoh-contoh penerapannya:

1. Pemilihan Kata

Kata-kata yang digunakan dalam puisi memainkan peranan penting dalam membentuk suasana hati. Kata-kata yang membawa konotasi tertentu dapat menimbulkan emosi yang sesuai. Sebagai contoh, perkataan-perkataan yang lembut seperti "hujan renyai," "bayu lembut," atau "cahaya bulan" dapat menciptakan suasana hati yang tenang dan damai. Sebaliknya, kata-kata seperti "gelap," "sepi," atau "kering" mungkin akan menimbulkan rasa kesedihan atau kerisauan.

Contoh:

"Di bawah sinar bulan lembut,
Hatiku tenang seperti riak di tasik yang jernih."

2. Nada Puisi

Nada dalam puisi merujuk kepada sikap penulis terhadap subjek atau tema puisi. Nada boleh bersemangat, melankolik, sinis, marah, atau penuh harapan. Nada ini berinteraksi dengan suasana hati puisi, memandu pembaca untuk merasakan emosi tertentu. Contohnya, nada yang penuh duka akan menimbulkan suasana hati yang sedih atau suram.

Contoh Nada Sedih:

"Gelap malam membekukan harapan,
Tiada lagi sinar untuk aku kejar."

Contoh Nada Penuh Harapan:

"Dan pagi ini, di ufuk langit,
Mentari bangkit lagi, membasuh luka semalam."

3. Imejan dan Simbolisme

Imejan yang kuat dapat mencipta gambaran visual dalam fikiran pembaca yang menimbulkan perasaan tertentu. Contoh, imej "matahari terbenam" boleh menimbulkan suasana hati yang melankolik, sementara imej "matahari terbit" membawa harapan. Simbolisme, seperti bunga layu yang mewakili kesedihan atau kematian, juga membantu mencipta suasana hati yang sesuai.

Contoh Imejan Melankolik:

"Di bawah senja merah yang berlabuh,
Waktu perlahan pergi, dan aku sendiri."

4. Ritma dan Aliran Bahasa

Ritma dalam puisi, iaitu aliran bunyi yang teratur atau tidak teratur, boleh mencipta suasana hati tertentu. Ritma yang lambat dan lembut mungkin mencipta suasana yang tenang atau damai, sementara ritma yang cepat dan tersentak-sentak boleh menimbulkan rasa ketegangan atau kecemasan.

Contoh Ritma Tenang:

"Angin sepoi berbisik lembut,
Di bawah langit biru yang tiada batas."

Contoh Ritma Tegang:

"Kaki melangkah laju di lorong gelap,
Degupan jantung bersaing dengan bunyi tapak."

5. Repetisi

Pengulangan kata atau frasa boleh mencipta suasana hati yang lebih mendalam atau tegang. Pengulangan boleh memperkuatkan emosi tertentu, seperti kebimbangan, kerinduan, atau rasa tidak putus asa.

Contoh:

"Malam ini aku sendiri,
Di bawah bintang yang sepi,
Dalam sunyi yang tak berhenti."

6. Penggunaan Perbandingan (Simile dan Metafora)

Simile dan metafora digunakan untuk membandingkan sesuatu dengan perkara lain, yang membawa pembaca kepada pengalaman emosi yang lebih kuat. Metafora dapat memberikan lapisan makna yang lebih mendalam, manakala simile membandingkan emosi atau peristiwa dengan imej yang biasa tetapi penuh makna.

Contoh Metafora untuk Suasana Melankolik:

"Hatiku bagai daun layu,
Tersapu angin ke sudut waktu."

Contoh Simile untuk Suasana Ceria:

"Hari ini seperti pelangi,
Warna-warna ceria menyinari hatiku."

7. Kontrasti (Antara Suasana)

Kontras antara dua suasana atau perasaan yang berbeza dalam satu puisi boleh memperkuatkan emosi yang disampaikan. Sebagai contoh, jika suasana awal puisi penuh dengan kebahagiaan tetapi kemudian berubah menjadi kesedihan, kontras ini akan memberikan kesan emosi yang lebih mendalam.

Contoh:

"Dahulu kita ketawa bersama,
Kini aku termenung sendirian,
Gelak tawa menjadi gema sepi."

8. Personifikasi

Personifikasi adalah teknik bahasa yang memberi sifat manusia kepada objek, haiwan, atau unsur alam, yang dapat mencipta suasana hati tertentu. Dengan cara ini, pembaca dapat merasakan emosi seolah-olah dunia di sekeliling hidup dan turut merasakan perasaan yang sama.

Contoh:

"Angin malam menangis di jendela,
Seolah-olah mengerti luka di hatiku."

9. Suasana Waktu dan Tempat

Puisi sering menggunakan deskripsi waktu dan tempat untuk membina suasana hati. Misalnya, suasana malam atau hujan lebat cenderung menimbulkan suasana hati yang sedih atau misteri, sementara suasana pagi yang cerah memberikan rasa optimisme dan semangat.

Contoh:

"Hujan deras mengiringi langkahku,
Membawa kenangan yang ingin aku lupakan."

10. Dialog Dalaman

Dialog dalaman dalam puisi yang mencerminkan suara hati atau perasaan penulis boleh mencipta suasana hati yang intim dan mendalam. Pembaca akan terhubung dengan perasaan yang diungkapkan, dan suasana hati dapat lebih terasa melalui pendedahan langsung perasaan ini.

Contoh:

"Adakah aku pernah benar-benar bahagia?
Atau cuma ilusi yang kupegang selama ini?"

Kesimpulan:

Suasana hati dalam puisi adalah komponen penting yang menjadikan puisi bukan hanya rangkaian kata-kata, tetapi pengalaman emosi yang mendalam bagi pembaca. Dengan menggabungkan pilihan kata, imejan, ritma, nada, dan teknik puitis lain, suasana hati dapat disampaikan dengan halus atau jelas, menggerakkan pembaca untuk merasai dan merenung. Penulis puisi yang mahir mampu mencipta suasana hati yang sesuai untuk menguatkan mesej atau perasaan yang ingin disampaikan.

9 May 2025

Katarsis dalam puisi

 


Katarsis adalah salah satu aspek penting dalam puisi yang dapat memberikan efek terapeutik. Dalam konteks puisi, katarsis mengacu pada pengalaman pembebasan emosional atau pelepasan yang dialami oleh pembaca atau penulis puisi.

Katarsis dalam puisi terjadi ketika individu merasakan pembebasan dari emosi yang kuat atau tekanan emosional yang telah mereka simpan dalam diri mereka. Saat membaca atau menulis puisi yang menggugah, individu dapat merasakan pengalaman emosional yang intens. Puisi dapat menggugah perasaan seperti kesedihan, kegembiraan, kemarahan, rasa kehilangan, atau kegembiraan yang mendalam.

Melalui pengalaman katarsis, puisi memberikan jalan bagi individu untuk mengekspresikan emosi mereka dengan bebas dan secara mendalam. Puisi dapat menjadi saluran yang aman dan kreatif untuk membebaskan tekanan emosional yang terpendam, sehingga individu merasa lega dan terbebas dari beban yang mereka rasakan.

Selain itu, katarsis dalam puisi juga dapat terjadi ketika pembaca merasakan identifikasi dan pengertian dengan pengalaman yang diungkapkan dalam puisi. Saat membaca puisi yang berbicara tentang perasaan, situasi, atau pengalaman yang sama dengan yang mereka alami, pembaca dapat merasa diakui dan tidak sendirian. Hal ini dapat menghasilkan rasa katarsis dan pembebasan emosional.

Secara keseluruhan, katarsis dalam puisi melibatkan proses pembebasan emosional dan pelepasan dari tekanan melalui ungkapan dan pengalaman puisi. Puisi memberikan wadah yang mendalam dan bermakna untuk individu merenungkan, mengekspresikan, dan menjelajahi emosi mereka, sehingga menciptakan ruang untuk pertumbuhan, pemulihan, dan transformasi pribadi.

14 Feb 2025

Ekspresi Dalam Puisi

 


Puisi memungkinkan individu untuk mengungkapkan emosi, fikiran, dan pengalaman secara unik dan mendalam. Ketika seseorang menulis puisi, mereka memiliki kebebasan untuk mengekspresikan emosi yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung. Puisi memungkinkan penyair untuk berbicaraeuatu yang emosinal seperti cinta, kesedihan, kegembiraan, kehilangan, kebingungan, dan banyak lagi.

Puisi juga memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan fikiran yang rumit atau abstrak dengan cara yang artistik. Mereka dapat menggunakan bahasa metaforis, simbolik, atau imej yang kuat untuk membawa fikiran mereka kepada kehidupan. Dalam puisi, tidak ada batasan  yang mengikat pemakaiannya, sehingga mereka dapat meluapkan segala idea yang mungkin sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Selain itu, puisi juga memberikan wadah bagi individu untuk berbagi pengalaman peribadi mereka dengan cara yang mendalam dan bermakna. Mereka dapat merangkai kata-kata yang indah dan menggugah untuk menggambarkan momen penting dalam hidup mereka, menghidupkan kembali kenangan yang berharga, atau menyampaikan pelajaran yang telah mereka pelajari. Dengan demikian, puisi memungkinkan individu untuk berbagi apa yang paling intim dan paling bererti dalam diri mereka.

Melalui pengungkapan emosi, fikiran, dan pengalaman dalam puisi, individu dapat menemukan rasa pembebasan, pemahaman diri yang lebih mendalam  bahkan membawa kepada kesembuhan emosional. Puisi memiliki ruang luas bagi individu untuk mengeksplorasi dan memahami diri mereka sendiri, dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berbagi dan merasakan kehidupan dan perspektif orang lain.

 


8 Jul 2023

waad melayu

Waad  Melayu diperjelas dalam Sulalatus Salatin sebagai pegangan hubungan rakyat dan pemerintah.

Bersurupah Berteguh Janji 
 Maka sembah Demang Lebar Daun, "Sungguh tuanku seperti khabar orang itu; jikalau tuanku berkehendakkan patik itu, patik sembahkan, lamun mahu duli tuanku berjanji dahulu dengan patik. Maka titah baginda, "Apa janji paman hendak diperjanjikan dengan hamba itu? Katakan oleh paman hamba dengar." Maka sembah Demang Lebar Daun, "Barang maklum duli tuanku Yang Maha Mulia, jikalau anak patik telah terambil ke bawah duli, jikalau ia kena penyakit seperti patik-patik yang lain, telah maklum ke bawah duli tuanku itu, jikalau ada ampun kumia duli Yang Maha Mulia, janganlah tuanku keluarkan dari bawah istana tuanku. Biarlah ia menjadi gembala dapur Yang Maha Mulia, dan menyapu sampah di bawah peraduan duli tuanku. Seperkara lagi, perjanjian patik mohonkan anugerah ke bawah duli Yang Maha Mulia, segala hamba Melayu jikalau ada dosanya ke bawah duli, patik pohonkan jangan ia difadihatkan, dinista yang keji-keji, jikalau patut pada hukum syarak bunuh, tuanku; jangan duli tuanku aibi." 

Maka titah Seri Teri Buana, "Kabullah hamba akan janji paman itu; tetapi hamba pun hendak minta janji juga pada paman. "Maka sembah Demang Lebar Daun, "Janji yang mana itu, patik pohonkan titah duli Yang Maha Mulia." Maka titah Seri Teri Buana, "Hendaklah oleh segala anak cucu Hamba, jikalau ada salahnya sekalipun, atau zalim jahat pekertinya, jangan segala Haru ba Melayu itu derhaka dan menitikkan darahnya ke bumi, jikalau mereka itu akan cedera, berundur hingga takluk negerinya juga. "

Maka sembah Demang Lebar Daun, "Baiklah tuanku, tetapi jikalau anak cucu duli tuanku dahulu mengubahkan, anak cucu patik pun berubahlah tuanku." Maka titah Seri Teri Buana, "Baiklah paman, kabullah hamba akan waad itu. Maka baginda pun bersumpah-sumpahanlah dengan Demang Lebar Daun. Titah baginda, "Barang siapa hamba Melayu derhaka mengubahkan perjanjiannya, dibalikkan Allah bumbungan rumahnya ke bawah kaki ke atas." Maka sembah Demang Lebar Daun, ''Jikalau raja Melayu itu mengubahkan perjanjian dengan Hamba Melayu, dibinasakan Allah negerinya dan takhta kerajaannya."

Itulah dianugerahkan Allah subhanahu wa taala pada segala raja-raja Melayu, tiada pernah memberi aib kepada segala Hamba Melayu, jikalau sebagaimana sekalipun besar dosanya, tiada diikat dan tiada digantung, difadihatkan dengan kata-kata yang keji hingga sampai pada hukum mati, dibunuhnya. Jikalau ada seorang raja-raja Melayu itu memberi aib seseorang Hamba Melayu, alamat negerinya akan binasa. 

Setelah sudah Demang Lebar Daun berteguh-teguhan waad itu, maka ia menyembah lalu kem bali ke rumahnya, menghiasi anaknya yang bernama Radin Ratna Cendera Puri itu dengan selengkap perhiasan yang keemasan. Setelah sudah, lalu dibawanya masuk ke dalam, dipersembahkannya kepada Seri Teri Buana. Setelah baginda memandang rupa baik paras anak Demang Lebar Daun itu, maka baginda pun hairan serta dengan sukacitanya. Maka titah baginda, "Sepenuh kasih pamanlah, Hamba terima. "Maka sembah Demang Lebar Daun, "Barang Daulat tuanku bertambah-tambah." Seraya ia bermohon kembali. 

dipetik daripada Sulalatus Salatin




4 May 2021

sejalur daun kecil

 


19 Mar 2021

KESUSASTERAAN MELAYU KOMUNIKATIF

 KESUSASTERAAN MELAYU KOMUNIKATIF

PENGENALAN


Kurikulum Standard Sekolah Menengah (KSSM) yang dilaksanakan secara berperingkat mulai tahun 2017 menggantikan Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah (KBSM) yang telah dilaksanakan sejak tahun 1989 bagi memenuhi hasrat yang terkandung dalam Pelan Pembangunan Pendidikan Malaysia (PPPM) 2013-2025.

Selaras dengan perubahan itu, Lembaga Peperiksaan telah mengadakan perekaan bentuk format pentaksiran berdasarkan Dokumen Standard Kurikulum dan Pentaksiran (DSKP) yang dikeluarkan oleh Bahagian Pembangunan Kurikulum (BPK). Seterusnya, perekaan bentuk format pentaksiran menjadi asas kepada pembinaan instrumen pentaksiran.

  ASAS PERTIMBANGAN


Beberapa prinsip yang menjadi asas pertimbangan dalam proses perekaan bentuk format pentaksiran Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) ialah:

KESAHAN
Kesahan merujuk ciri ujian dan melibatkan dua perkara, iaitu kerelevanan dan kecukupcakupan. Perekaan bentuk instrumen pentaksiran ini telah memastikan semua konstruk (perkara yang ditaksir) dijelmakan berdasarkan objektif mata pelajaran. Item- item yang dikemukakan adalah akur dengan kurikulum standard dan spesifikasi ujian serta mempunyai kesesuaian dari segi kumpulan sasaran, aras kesukaran, konteks dan situasi. Kandungan instrumen pentaksiran mencakupi semua aspek pengetahuan, kemahiran dan nilai yang diperoleh dalam pendidikan mata pelajaran berkenaan, seperti yang dihasratkan oleh kurikulum standard.

KEBOLEHPERCAYAAN


Kebolehpercayaan merujuk ciri skor ujian dan melibatkan dua perkara iaitu ketekalan dan ketepatan. Di peringkat pembinaan, satu spesifikasi ujian direka bentuk bagi setiap instrumen pentaksiran untuk dijadikan piawaian. Hal ini adalah untuk memastikan ketepatan, kesetaraan dan ketekalan instrumen pentaksiran yang dihasilkan setiap tahun. Analisis data peperiksaan juga dapat menunjukkan tahap kebolehpercayaan sesuatu instrumen pengukuran.

KEOBJEKTIFAN


Keobjektifan merujuk kejelasan fungsi setiap instrumen yang dibina. Setiap instrumen pentaksiran dibina dengan tujuan khusus mengikut spesifikasi ujian tertentu. Jadual Spesifikasi Ujian berfungsi mengawal kefungsian instrumen yang dibina. Setiap pembina harus jelas dengan kehendak setiap instrumen pentaksiran yang dibina. Antaranya, konstruk yang ditaksir dan inferens boleh dibuat daripada skor yang akan diperoleh.

Dalam item berbentuk subjektif, keobjektifan juga merujuk ketepatan seseorang pemeriksa memeriksa skrip jawapan atau ketepatan seseorang pentaksir memberikan skor calon. Dalam konteks ini, ciri keobjektifan pemberian markah atau skor boleh dipertingkatkan dengan menyediakan skema penskoran yang objektif serta markah atau skor yang diselaraskan melalui mesyuarat penyelarasan. Hal ini dapat mengurangkan perselisihan dalam pemberian markah atau skor dalam kalangan pemeriksa atau pentaksir bagi menjamin kebolehpercayaan skor.

 KEBOLEHTADBIRAN


Kebolehtadbiran merujuk kebolehlaksanaan sesuatu program pentaksiran dari segi kos, masa dan personel sama ada program berpusat dan pentaksiran berasaskan sekolah.

KEMUDAHTAFSIRAN


Kemudahtafsiran merujuk keupayaan skor daripada proses pentaksiran dalam memberikan maklumat tentang seseorang murid dalam perkara yang ditaksir. Skor yang baik berupaya untuk mendiskriminasikan murid yang mempunyai kepelbagaian keupayaan. Di samping itu, kemudahtafsiran dapat memberi sebab serta tujuan sesuatu ujian dan pentaksiran itu diadakan.

KEKOMPREHENSIFAN


Kekomprehensifan sesuatu ujian atau pentaksiran merujuk sejauh mana sesuatu ujian itu mengandungi item yang mewakili semua objektif yang penting dalam kurikulum. Jelasnya, prinsip-prinsip pentaksiran yang dinyatakan itu merupakan landasan penting dalam menjalankan pentaksiran. Justeru, mereka yang terlibat dengan  proses pentaksiran dalam pendidikan sewajarnya akur akan prinsip-prinsip pentaksiran yang telah ditetapkan itu agar matlamat dan objektif pentaksiran dapat dicapai dengan jayanya.

 PUNCA KUASA


Lembaga Peperiksaan, Kementerian Pendidikan Malaysia telah menyediakan format pentaksiran bagi mata pelajaran Kesusasteraan Melayu Komunikatif SPM mulai tahun 2021. Format tersebut telah dibentangkan dan dipersetujui dalam Mesyuarat Jawatankuasa Kurikulum Kebangsaan, Kementerian Pendidikan Malaysia, Bil. 1/2020 pada 21 Februari 2020.

MATLAMAT MATA PELAJARAN


Matlamat KSSM Kesusasteraan Melayu Komunikatif (KMK) adalah untuk melahirkan murid yang dapat memiliki ilmu dan pengetahuan tentang kesusasteraan; berkemahiran dalam menghasilkan karya kreatif yang menepati ciri-ciri; berkeperibadian mulia dan dapat menyumbang kepada pembangunan masyarakat dan negara; serta mampu memahami, menghayati dan menghargai karya sastera.

OBJEKTIF MATA PELAJARAN (OM)


KSSM Kesusasteraan Melayu Komunikatif (KMK) bertujuan untuk membolehkan murid mencapai objektif yang berikut:

OM1: Membaca, memahami dan menghayati karya yang dibaca;
OM2: Mengenali pengarang, memahami definisi, ciri-ciri dan fungsi sastera Melayu;
OM3: Menganalisis elemen sastera yang terdapat dalam puisi dan prosa;
OM4: Membentuk sahsiah diri yang terpuji dengan mengenal pasti dan menilai elemen keagamaan serta keperibadian unggul yang terdapat dalam karya;
OM5: Menjadi ahli masyarakat yang prihatin dengan mengenal pasti dan menilai isu serta citra masyarakat yang terdapat dalam karya;
OM6: Menjadi warganegara yang memiliki sikap bertanggungjawab dan cinta akan negara melalui elemen patriotisme dan kepimpinan yang terdapat dalam karya;
OM7: Mengadaptasi atau menghasilkan karya puisi dan prosa bertulis yang menepati ciri-ciri sastera yang baik;
OM8: Mempersembahkan karya yang diadaptasi atau yang dihasilkan dalam pelbagai bentuk yang kreatif, menarik dan berkesan; dan
OM9: Menghargai (apresiasi) Kesusasteraan Melayu dan memupuk minat membaca karya sastera yang berkualiti.

 

Sumber: Kurikulum Standard Sekolah Menengah (KSSM)

Kesusasteraan Melayu Komunikatif Dokumen Standard Kurikulum dan Pentaksiran (DSKP)

Tingkatan 4 dan 5, September 2018, Bahagian Pembangunan Kurikulum, Kementerian Pendidikan Malaysia




 OBJEKTIF PENTAKSIRAN (OP)

Objektif pentaksiran berdasarkan matlamat dan objektif mata pelajaran Kesusasteraan Melayu Komunikatif (KMK) adalah untuk mentaksir pencapaian murid dalam keupayaan untuk:

OP1: Mengetahui dan memahami konsep dan definisi elemen-elemen Kesusasteraan Melayu dengan betul dan tepat;

OP2: Mengetahui dan memahami elemen-elemen Kesusasteraan Melayu yang terdapat  dalam karya sastera dengan betul dan tepat;

OP3: Mengaplikasi dan menganalisis elemen-elemen Kesusasteraan Melayu yang terdapat dalam karya sastera secara kritis;

OP4: Menilai karya sastera berkaitan elemen sahsiah, isu masyarakat dan isu kenegaraan dalam karya sastera dengan kritis;

OP5: Menghasilkan karya sastera yang sesuai dengan kemampuan murid sama ada dalam bentuk pengkaryaan asli atau pengadaptasian yang menepati ciri-ciri sastera yang baik; dan

OP6: Mempersembahkan karya sastera yang dihasilkan atau yang diadaptasikan sesuai dengan kemampuan murid dalam pelbagai bentuk atau media yang kreatif, menarik dan berkesan.

 KONSTRUK DAN ASPEK YANG DITAKSIR

 Konstruk yang ditaksir

 7.1.1 2216/1 – Kertas 1

  Mengingat dan Memahami

  Mengaplikasi

  Menganalisis

  Menilai

  Mencipta

 7.1.2 2216/2 – Kertas 2

   Mengaplikasi

  Menganalisis

  Menilai

  Mencipta

Aspek yang ditaksir

Mengetahui elemen-elemen dalam kesusasteraan Konstruk ini mentaksir pengetahuan asas murid tentang pengertian istilah sastera dalam karya prosa dan puisi. Antara istilah sastera yang ditaksir ialah maksud, sinopsis, tema atau pemikiran, persoalan, binaan plot, teknik plot, watak dan perwatakan, gaya bahasa, nada, ciri prosa, bentuk puisi, nilai murni, pengajaran, latar, sudut pandangan, kritikan sastera dan pembangunan insan.

Mengetahui dan memahami elemen-elemen sastera dalam karya puisi Konstruk ini mentaksir kebolehan murid mengetahui elemen-elemen sastera dalam karya puisi iaitu, maksud, tema, persoalan, gaya bahasa (simile, metafora, personifikasi, hiperbola, paradoks, perlambangan, alusi, asonansi, aliterasi, anafora, responsi, epifora, simplok, repitisi (kata, frasa, baris, rangkap) inversi, hybrid, konotatif, sarkasme, kata ganda, sinkope, peribahasa, bahasa asing, bahasa istana, bahasa arkaik, dialek), irama (puisi tradisional) atau nada (melankolik, patriotik, sinis, romantik, protes), bentuk puisi (rangkap, baris, perkataan, suku kata, rima akhir, kesimpulan bentuk), nilai murni, pengajaran, kritikan sastera (pandangan, sanjungan dan saranan).

Mengetahui dan memahami elemen-elemen sastera dalam karya prosa Konstruk ini mentaksir kebolehan murid mengetahui elemen-elemen sastera dalam karya prosa iaitu sinopsis, tema atau pemikiran, persoalan, binaan plot (permulaan, perkembangan, klimaks, antiklimaks (penurunan) dan peleraian), teknik plot (dialog, pemerian, suspen, imbas muka, imbas kembali, monolog luaran, monolog dalaman, kejutan, konflik), watak dan perwatakan (utama, sampingan,   antagonis    dan    protagonis),    gaya    bahasa    (simile, metafora, personifikasi, hiperbola, paradoks, perlambangan, alusi, simplok, repitisi (kata, frasa, ayat) inversi, konotatif, sarkasme, kata ganda, sinkope, peribahasa, bahasa asing, bahasa istana, bahasa arkaik dan dialek), ciri prosa, nilai murni, pengajaran, latar (tempat, masa, masyarakat), sudut pandangan (sudut pandangan orang pertama dan sudut pandangan orang ketiga) kritikan sastera (pandangan, sanjungan, saranan).

Menganalisis elemen-elemen sastera dalam karya puisi Konstruk ini mentaksir kebolehan murid menganalisis elemen-elemen sastera iaitu maksud, tema, persoalan, bentuk puisi, gaya bahasa, irama atau nada, nilai murni, pengajaran dan kritikan sastera (pandangan, sanjungan, saranan).

Menganalisis aspek-aspek sastera dalam karya prosa  Konstruk ini mentaksir kebolehan murid menganalisis elemen-elemen sastera dalam karya prosa iaitu sinopsis, tema atau pemikiran, persoalan, ciri prosa, binaan plot, teknik plot, watak dan perwatakan, gaya bahasa, latar, sudut pandangan, nilai murni, pengajaran dan kritikan sastera (pandangan, sanjungan, saranan).

Membangunkan nilai insan. Konstruk ini mentaksir kebolehan murid menilai elemen sahsiah, isu masyarakat dan isu kenegaraan dalam karya sastera.

 Menghasilkan karya sastera .Konstruk ini mentaksir kebolehan murid-murid menghasilkan (karya asli atau adaptasi) dan mempersembahkan karya sastera dalam pelbagai bentuk yang kreatif, menarik dan beresan.

 ARAS KESUKARAN ITEM

Item yang dibina mestilah menepati aras kesukaran yang dihasratkan, iaitu sama ada aras kesukaran rendah (R), sederhana (S), atau tinggi (T).

Aras Item aras R boleh dijawab oleh sebahagian besar calon.
Aras Item aras S boleh dijawab oleh calon yang berprestasi sederhana dan cemerlang.
Aras Item aras T boleh dijawab oleh calon berprestasi cemerlang sahaja.

FORMAT PENTAKSIRAN
 Pentaksiran    mata    pelajaran    Kesusasteraan    Melayu    Komunikatif    menggunakan dua instrumen iaitu;
2216/1 – Kesusasteraan Melayu Komunikatif Kertas 1 (Ujian Bertulis)
2216/2 – Kesusasteraan Melayu Komunikatif Kertas 2 (Kerja Kursus)

 FORMAT INSTRUMEN PENTAKSIRAN SPM MULAI 2021
MATA PELAJARAN KESUSASTERAAN MELAYU KOMUNIKATIF (2216)

 

Bil

Perkara

Kertas 1 2216/1

Kertas 2 2216/2

 

1

 

Jenis Instrumen

 

Ujian Bertulis

Ujian Komunikatif – Kerja Kursus (Penghasilan dan Persembahan)

 

2

 

Jenis Item

 

(a)  Subjektif Respons Terhad

(b)  Subjektif Respons Terbuka

 

Subjektif Respons Terbuka

 

3

 

Bilangan Soalan

 

Bahagian A – 10 item [40 Markah]

 

6 item respons terhad berdasarkan 5 genre.

  4 item respons terhad, iaitu

i.      Item mana-mana genre

ii.     Item kritikan sastera

iii.   Item berdasarkan Pembangunan Insan

 

 

Jawab semua soalan

 

Bahagian B 6 item respons terbuka [60 markah]

 

  Soalan 11 hingga 16

 

Pilih dan jawab 3 daripada 6 soalan

 

Tingkatan 5

(Satu Kerja Kursus secara individu)

 

  Pentaksiran Pusat

Calon dikehendaki menyudahkan Kerja Kursus aspek Pengkaryaan

(Karya asli/adaptasi dan mempersembahkan hasil karya dalam pelbagai bentuk atau media)

 

Bahagian A: Penghasilan Karya [20 markah]

 

Bahagian B: Persembahan Multimedia atau Persembahan Langsung [20 markah]

 

4

 

Jumlah Markah

 

Jumlah : 100 markah

 

Jumlah : 40 markah


Bil

Perkara

2216/1

2216/2

 

5

 

Konstruk


  Mengingat dan Memahami

  Mengaplikasi

  Menganalisis

  Menilai

  Mencipta

 

  Mengaplikasi

  Menganalisis

  Menilai

  Mencipta

 

6

 

Tempoh Ujian

 

2 jam 30 minit (2½ jam)

 

Tingkatan 5: April hingga Mei

 

7

 

Cakupan Konteks


Mencakupi semua standard kandungan dan standard pembelajaran yang terdapat dalam Dokumen Standard Kurikulum dan Pentaksiran (DSKP)

 

8

 

Aras Kesukaran

 

Rendah : Sederhana : Tinggi

5: 3: 2

 

9

 

Kaedah Penskoran

 

  Analitikal

  Holistik

 

Analitikal

  Holistik

 

10

 

Alatan Tambahan

 

Tiada

 

Tiada

 

 

 


 sila download format pdf

 


 



STATUS

Search This Blog

DAUN