bertinta sastera berdakwat bahasa

Blogroll

  • slide 1

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • slide 2

    puisi

  • slide 3

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • slide 4

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • slide 5

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label kreatif. Show all posts
Showing posts with label kreatif. Show all posts

31 Jan 2026

teruji warna

 


Share:

9 Aug 2025

MENATAP KEPAYAHAN DALAM DENU

 

Datuk Tamimi Serigar pengarah DENU

MENATAP KEPAYAHAN DALAM DENU

Pada permukaan, hidup ternampak biasa. Malam menjelma pentas Mak Yong menjadi sangat meriah. Audiens berkunjung datang untuk melihat gerak tari, lenggok badan, nyaring suara melantunkan nyanyi dan irama, dan busana yang bergemerlapan. Di tambah dengan kecindan bahasa dan tutur pemain Mak Yong audiens semakin terhibur dan merasa puas hati.
Begitu dunia di atas pentas di celah tingkah gendang dan gong. Tetapi jauh di dasar terbenam banyak kesulitan yang tidak dijelmakan di wajah atau dilantunkan dalam kata. Hasmah sebagai Pak Yong menjadi daya penarik utama persembahan, bukan semanis dan semanja wajah dipamerkan di pentas. Jiwanya kacau dan nanar, tapi sedikit tidak terpetakan pada tingkah dan lakunya. Sedang ada pemberontakan dan amukan yang menggeleggak dalam nuraninya. Perkahwinan yang bukan pilihannya dengan Pak Yeh. Perjanjian yang sengaja dibentangkan agar dirinya tidak begitu lemas dan kecewa.
Pertemuan dengan Amiruddin membongkar gerak baru dalam jiwanya. Hasrat yang lama terpendam untuk keluar dari Pasir Puteh menjadi realiti. Tetapi ia sedar bukan semudah itu perjalanan ke Kota Bharu kerana Amiruddin ada tuntutan dan kemahuannya tersendiri.
Pak Yeh tidak mudah menerima tawaran Amiruddin untuk membawa pasukan Mak Yong ke Kota Bharu. Apa lagi Amiruddin yang lebih berpaut kepada keuntungan mahu melakukan adaptasi ke atas Mak Yong. Jiwanya menolak dari dalam dan tidak pernah disebutkan kerana menghormati Datuk Nik.
Datuk Nik dalam menyelamatkan nafas politiknya berpaut kepada Mak Yong Pak Yeh untuk menyuarakan desak merdeka. Itu pun diterima Pak Yeh dengan cukup terseksa. Pengarah menyelitkan secara halus kritikan terhadap pengaruh dan desak politik yang terpaksa ditelan dan dipikul oleh seniman dalam berkarya. Tapi semua itu disuarakan dalam simbolik cahaya dan warna tanpa utas suara.


Amiruddin

Amiruddin pula terpaksa menggunakan Meli untuk mendekatkan dirinya dengan Asmah. Meli budak kampung yang menyimpan cita-cita besar mahu menjadi pandai dan mahu belajar di sekolah Inggeris, Hasrat itu dipandang remeh oleh Pak Yeh kerana baginya Mak Yong adalah kehidupan yang tak tergantikan. Meli berdepan dengan kesanggupan yang boleh melemaskan dirinya sendiri. Tetapi ia memiliki cita-cita besar. Secara berhemah pengarah menusukkan kesedaran ke dalam benak audiens agar menerima bahawa pendidikan adalah segala-galanya. Manusia harus pandai agar tidak mudah ditindas.
Amiruddin adalah egoisme manusia yang berpaksi kehendak dan keperluan. Ia membawa Mak Yong ke Kota Bharu kerana mahu membawa Asmah jauh dari Pak Yeh. Dia menggunakan Meli seolah-olah menyokong hasrat Meli. Bagi Amiruddin, orang-orang Mak Yong yang bodoh boleh dipermain-mainkan.
Begitu Denu dalam memperlihatkan manusia yang berdepan dengan kepayahan dan kesulitan. Ia adalah garapan emosi yang membuak dari dalam diri. Hinggalah akhirnya semua itu meledak dan terburai. Hanya mereka yang tabah bakal berdiri memikul kejayaan. Siapa?
Saksikan Denu bermula 21 Ogos 2025



Share:

9 May 2025

Proses penyembuhan emosi melalui puisi

 


Proses penyembuhan emosi dapat dilakukan melalui puisi ? Sebenarnya puisi dapat menjadi alat yang efektif dalam proses penyembuhan emosi. Ada beberapa cara di mana puisi dapat menyumbang kepada pemulihan dan kesejahteraan emosi individu:

1.    Ekspresi dan pemrosesan emosi: Menulis puisi memungkinkan individu untuk secara kreatif mengungkapkan emosi yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung. Melalui pemilihan kata-kata, imaji, dan ritme yang tepat, puisi memberikan wadah untuk mengeksplorasi dan menyampaikan perasaan yang kuat. Proses menulis puisi juga dapat membantu individu dalam memproses dan mengatasi emosi yang mungkin terpendam atau rumit.

2.    Refleksi dan introspeksi: Puisi mengundang individu untuk merenung dan mengeksplorasi dunia dalam dan pikiran mereka sendiri. Dalam menulis atau membaca puisi, individu dapat menjelajahi pemikiran, keyakinan, nilai-nilai, dan pengalaman pribadi mereka dengan lebih dalam. Hal ini dapat membantu dalam pemahaman diri yang lebih baik, mengidentifikasi sumber emosi yang mungkin perlu ditangani, dan mempromosikan pertumbuhan pribadi.

3.    Pembebasan emosional: Menulis atau membaca puisi yang menggugah dapat memberikan pengalaman katarsis atau pembebasan emosional. Proses terlibat dengan puisi dapat membantu individu untuk melepaskan dan mengurai emosi yang terjalin dalam diri mereka. Puisi memberikan ruang untuk menyampaikan dan menghadapi emosi dengan cara yang aman, kreatif, dan bermakna, sehingga membantu individu merasakan kelegaan dan beban emosional yang terkurangi.

4.    Pemberdayaan dan transformasi: Puisi dapat memberikan kekuatan kepada individu dengan memberikan suara pada pengalaman mereka sendiri dan menemukan makna dalam perjuangan mereka. Dalam menulis puisi, individu memiliki kontrol penuh atas narasi mereka sendiri dan dapat mengubah pengalaman sulit menjadi karya seni yang berdaya. Hal ini dapat memberikan rasa pemberdayaan dan meningkatkan perasaan harga diri serta mengarah pada perubahan dan pertumbuhan yang positif.

5.    Koneksi dan dukungan: Puisi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan individu dengan orang lain yang mengalami atau memahami perasaan yang serupa. Saat membaca atau berbagi puisi dengan orang lain, individu dapat merasa terhubung secara emosional dan merasakan dukungan sosial. Hal ini dapat membantu mengurangi perasaan kesepian dan isolasi, serta memperkuat ikatan antarmanusia.

Dalam kombinasi dengan kaedah lain seperti terapi, meditasi, atau dukungan sosial, puisi dapat menjadi alat yang efektif dalam proses penyembuhan emosional. Ia memberikan wadah untuk ekspresi, refleksi, dan pertumbuhan pribadi, serta memfasilitasi pemrosesan emosi dan pencapaian keseimbangan emosional yang lebih baik.

Share:

Katarsis dalam puisi

 


Katarsis adalah salah satu aspek penting dalam puisi yang dapat memberikan efek terapeutik. Dalam konteks puisi, katarsis mengacu pada pengalaman pembebasan emosional atau pelepasan yang dialami oleh pembaca atau penulis puisi.

Katarsis dalam puisi terjadi ketika individu merasakan pembebasan dari emosi yang kuat atau tekanan emosional yang telah mereka simpan dalam diri mereka. Saat membaca atau menulis puisi yang menggugah, individu dapat merasakan pengalaman emosional yang intens. Puisi dapat menggugah perasaan seperti kesedihan, kegembiraan, kemarahan, rasa kehilangan, atau kegembiraan yang mendalam.

Melalui pengalaman katarsis, puisi memberikan jalan bagi individu untuk mengekspresikan emosi mereka dengan bebas dan secara mendalam. Puisi dapat menjadi saluran yang aman dan kreatif untuk membebaskan tekanan emosional yang terpendam, sehingga individu merasa lega dan terbebas dari beban yang mereka rasakan.

Selain itu, katarsis dalam puisi juga dapat terjadi ketika pembaca merasakan identifikasi dan pengertian dengan pengalaman yang diungkapkan dalam puisi. Saat membaca puisi yang berbicara tentang perasaan, situasi, atau pengalaman yang sama dengan yang mereka alami, pembaca dapat merasa diakui dan tidak sendirian. Hal ini dapat menghasilkan rasa katarsis dan pembebasan emosional.

Secara keseluruhan, katarsis dalam puisi melibatkan proses pembebasan emosional dan pelepasan dari tekanan melalui ungkapan dan pengalaman puisi. Puisi memberikan wadah yang mendalam dan bermakna untuk individu merenungkan, mengekspresikan, dan menjelajahi emosi mereka, sehingga menciptakan ruang untuk pertumbuhan, pemulihan, dan transformasi pribadi.

Share:

14 Feb 2025

Ekspresi Dalam Puisi

 


Puisi memungkinkan individu untuk mengungkapkan emosi, fikiran, dan pengalaman secara unik dan mendalam. Ketika seseorang menulis puisi, mereka memiliki kebebasan untuk mengekspresikan emosi yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung. Puisi memungkinkan penyair untuk berbicaraeuatu yang emosinal seperti cinta, kesedihan, kegembiraan, kehilangan, kebingungan, dan banyak lagi.

Puisi juga memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan fikiran yang rumit atau abstrak dengan cara yang artistik. Mereka dapat menggunakan bahasa metaforis, simbolik, atau imej yang kuat untuk membawa fikiran mereka kepada kehidupan. Dalam puisi, tidak ada batasan  yang mengikat pemakaiannya, sehingga mereka dapat meluapkan segala idea yang mungkin sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.

Selain itu, puisi juga memberikan wadah bagi individu untuk berbagi pengalaman peribadi mereka dengan cara yang mendalam dan bermakna. Mereka dapat merangkai kata-kata yang indah dan menggugah untuk menggambarkan momen penting dalam hidup mereka, menghidupkan kembali kenangan yang berharga, atau menyampaikan pelajaran yang telah mereka pelajari. Dengan demikian, puisi memungkinkan individu untuk berbagi apa yang paling intim dan paling bererti dalam diri mereka.

Melalui pengungkapan emosi, fikiran, dan pengalaman dalam puisi, individu dapat menemukan rasa pembebasan, pemahaman diri yang lebih mendalam  bahkan membawa kepada kesembuhan emosional. Puisi memiliki ruang luas bagi individu untuk mengeksplorasi dan memahami diri mereka sendiri, dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berbagi dan merasakan kehidupan dan perspektif orang lain.

 


Share:

28 Jan 2025

Terapeutik dalam puisi

 


Puisi dapat memiliki manfaat terapeutik yang signifikan, kerana bentuk seni ini menjadi wadah kreatif untuk ungkapan diri, eksplorasi emosional, dan pertumbuhan pribadi. Puisi dapat membantu individu mengatasi dan memproses emosi, meningkatkan kesedaran diri, serta menemukan ketenangan dalam situasi yang menantang. 

Antara aspek terapeutik dalam puisi adalah :

1. Ekspresi emosi: 

Puisi memungkinkan individu untuk mengungkapkan emosi, fikiran, dan pengalaman terdalam mereka dengan cara yang ringkas dan berkesan. Melalui penggunaan imej yang hidup, metafora, dan ritme, puisi membantu individu menyampaikan perasaan kompleks yang mungkin sulit diungkapkan dalam bahasa sehari-hari.

2.  Katarsis dan pelepasan

Menulis atau membaca puisi dapat memberikan pengalaman katarsis, yang memungkinkan individu untuk melepaskan emosi terpendam dan merasakan kelegaan emosional. Dengan menyampaikan emosi dalam kata-kata dan berbagi di halaman puisi, individu dapat merasakan perasaan pembebasan dan penyembuhan.

3. Refleksi diri dan wawasan

Puisi mendorong introspeksi dan refleksi diri. Saat menulis atau membaca puisi, individu sering kali menelusuri dunia batin mereka sendiri, mengeksplorasi fikiran, keyakinan, nilai-nilai, dan pengalaman peribadi mereka. Proses ini dapat menghasilkan peningkatan kesedaran diri, penemuan diri, dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.

4. Validasi dan koneksi

Puisi memiliki kekuatan untuk memvalidasi pengalaman dan emosi individu. Saat membaca puisi yang menggugah emosi dan resonansi dengan perasaan mereka sendiri, individu dapat merasa diakui dan menemukan kedamaian dalam mengetahui bahawa orang lain juga mengalami  emosi yang serupa. Rasa koneksi ini dapat memberikan kenyamanan dan mengurangkan perasaan isolasi.

5. Pemberdayaan dan ketangguhan: Puisi dapat memberikan kekuatan, memungkinkan individu untuk mengambil kembali suara mereka dan menyuarakan kebenaran mereka sendiri. Menulis puisi memungkinkan individu untuk mengendalikan narasi mereka sendiri dan menemukan kekuatan dalam kata-kata mereka sendiri. Melalui puisi, individu dapat mengeksplorasi tema ketangguhan, harapan, dan pertumbuhan pribadi, yang dapat meningkatkan rasa keinginan untuk terus berusaha.

6, Kesedaran dan Tumpuan

Terlibat dengan puisi mendorong individu untuk terus memberi tumpuan, memperhatikan momen indah dalam puisi, dan tenggelam dalam keindahan bahasa. Dengan fokus pada aliran ritma kata-kata, irama baris, dan imej sensoris, individu dapat mengembangkan kesedaran diri dan menemukan ketenangan dari tekanan kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, puisi dapat menjadi alat  untuk ungkapan diri, penyembuhan emosional, dan transformasi peribadi. Sama ada melalui menulis atau membaca, terlibat dengan puisi dapat memberikan manfaat terapeutik pada kesejahteraan keseluruhan diri

Share:

8 Jul 2023

waad melayu

Waad  Melayu diperjelas dalam Sulalatus Salatin sebagai pegangan hubungan rakyat dan pemerintah.

Bersurupah Berteguh Janji 
 Maka sembah Demang Lebar Daun, "Sungguh tuanku seperti khabar orang itu; jikalau tuanku berkehendakkan patik itu, patik sembahkan, lamun mahu duli tuanku berjanji dahulu dengan patik. Maka titah baginda, "Apa janji paman hendak diperjanjikan dengan hamba itu? Katakan oleh paman hamba dengar." Maka sembah Demang Lebar Daun, "Barang maklum duli tuanku Yang Maha Mulia, jikalau anak patik telah terambil ke bawah duli, jikalau ia kena penyakit seperti patik-patik yang lain, telah maklum ke bawah duli tuanku itu, jikalau ada ampun kumia duli Yang Maha Mulia, janganlah tuanku keluarkan dari bawah istana tuanku. Biarlah ia menjadi gembala dapur Yang Maha Mulia, dan menyapu sampah di bawah peraduan duli tuanku. Seperkara lagi, perjanjian patik mohonkan anugerah ke bawah duli Yang Maha Mulia, segala hamba Melayu jikalau ada dosanya ke bawah duli, patik pohonkan jangan ia difadihatkan, dinista yang keji-keji, jikalau patut pada hukum syarak bunuh, tuanku; jangan duli tuanku aibi." 

Maka titah Seri Teri Buana, "Kabullah hamba akan janji paman itu; tetapi hamba pun hendak minta janji juga pada paman. "Maka sembah Demang Lebar Daun, "Janji yang mana itu, patik pohonkan titah duli Yang Maha Mulia." Maka titah Seri Teri Buana, "Hendaklah oleh segala anak cucu Hamba, jikalau ada salahnya sekalipun, atau zalim jahat pekertinya, jangan segala Haru ba Melayu itu derhaka dan menitikkan darahnya ke bumi, jikalau mereka itu akan cedera, berundur hingga takluk negerinya juga. "

Maka sembah Demang Lebar Daun, "Baiklah tuanku, tetapi jikalau anak cucu duli tuanku dahulu mengubahkan, anak cucu patik pun berubahlah tuanku." Maka titah Seri Teri Buana, "Baiklah paman, kabullah hamba akan waad itu. Maka baginda pun bersumpah-sumpahanlah dengan Demang Lebar Daun. Titah baginda, "Barang siapa hamba Melayu derhaka mengubahkan perjanjiannya, dibalikkan Allah bumbungan rumahnya ke bawah kaki ke atas." Maka sembah Demang Lebar Daun, ''Jikalau raja Melayu itu mengubahkan perjanjian dengan Hamba Melayu, dibinasakan Allah negerinya dan takhta kerajaannya."

Itulah dianugerahkan Allah subhanahu wa taala pada segala raja-raja Melayu, tiada pernah memberi aib kepada segala Hamba Melayu, jikalau sebagaimana sekalipun besar dosanya, tiada diikat dan tiada digantung, difadihatkan dengan kata-kata yang keji hingga sampai pada hukum mati, dibunuhnya. Jikalau ada seorang raja-raja Melayu itu memberi aib seseorang Hamba Melayu, alamat negerinya akan binasa. 

Setelah sudah Demang Lebar Daun berteguh-teguhan waad itu, maka ia menyembah lalu kem bali ke rumahnya, menghiasi anaknya yang bernama Radin Ratna Cendera Puri itu dengan selengkap perhiasan yang keemasan. Setelah sudah, lalu dibawanya masuk ke dalam, dipersembahkannya kepada Seri Teri Buana. Setelah baginda memandang rupa baik paras anak Demang Lebar Daun itu, maka baginda pun hairan serta dengan sukacitanya. Maka titah baginda, "Sepenuh kasih pamanlah, Hamba terima. "Maka sembah Demang Lebar Daun, "Barang Daulat tuanku bertambah-tambah." Seraya ia bermohon kembali. 

dipetik daripada Sulalatus Salatin




Share:

3 May 2023

Menulis Puisi

 


MENULIS PUISI

  1. Temukan inspirasi: Sebelum menulis, carilah inspirasi. Ia mungkin dari pengalaman hidup anda, lingkungan persekitaran, orang-orang yang anda kenal, atau bahkan dari filem, berita, muzik dan sebagainya

  2. Pilih gaya dan format: Puisi dapat ditulis dalam berbagai gaya dan format, seperti soneta, pantun, haiku, balada atau free verse. Pilih gaya dan format yang paling sesuai dengan idea dan mesej yang ingin disampaikan.

  3. Tentukan tema dan mesej: Sebelum menulis, sebaiknya tentukan tema dan mesej utama puisi anda. Ia akan membantu anda untuk memusatkan idea dan puisi anda lebih konsisten serta berfokus.

  4. Permainan kata-kata: Puisi adalah seni kata-kata, jadi jangan takut untuk memainkan kata-kata dan mencuba perkara baru. Gunakan bahasa yang indah, kata-kata yang tidak biasa, dan perbandingan atau perumpamaan yang kuat untuk membuat puisi anda lebih menarik.

  5. Struktur puisi: Puisi memiliki struktur yang berbeza-beza, tergantung pada gaya dan format yang anda pilih. Beri fokus kepada ritme, rima, atau pola metrik yang sesuai dengan puisi anda.

  6. Edit puisi: Setelah menulis puisi, ia memerlukan ulang baca dan edit sebanyak-banyaknya puisi anda. Perbaiki dan ubahsuai kalimat atau frasa yang tidak berfungsi, hilangkan kata-kata yang tidak perlu, dan pastikan bahwa puisi anda memiliki aliran yang baik dan mudah difahami.

  7. Baca puisi orang lain: Bacalah puisi dari penulis lain. Ia dapat membantu untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman anda tentang puisi. Hal ini juga dapat membantu anda menemukan idea baru dan mengasah keterampilan menulis anda. Kemantapan berbahasa, kosa kata, istilah, dan citra terlahir dari penemuan pembacaan anda.

  8. Praktikal: Seperti keterampilan lainnya, menulis puisi memerlukan waktu dan latihan. Praktikkan menulis puisi secara teratur untuk meningkatkan keterampilan menulis anda. Usah jemu menulis dan mencuba sesuatu yang bermain di pemikiran anda.

Share:

1 May 2023

tulislah




 

Share:

26 Sept 2021

ayahanda

 Makna merdeka karya sastera
KAMARIAH KAMARUDIN 
26 September 2021

SETELAH 64 tahun negara menyambut kemerdekaan, bagaimana wajah sastera kita?
Masihkah terbelenggu dengan isu wanita yang menjadi mangsa penindasan, masyarakat yang dihimpit kemiskinan dan kisah berantakan dalam rumah tangga sebagaimana era penjajah?
Rata-rata kisah yang dibentang dalam novel pada era 1930-an dan 1940-an berlegar tentang isu-isu tersebut.
Kisah persahabatan, hubungan kekeluargaan dan konflik alam rumah tangga banyak dituang dalam pengkaryaan.
Berbanding selepas negara mencapai kemerdekaan, kisah yang diungkap pengarang mewakili banyak dimensi kehidupan.
Persoalan tentang agama, ekonomi, pendidikan, budaya dan sosial mula diberikan perhatian oleh pengarang.
Antara novel yang terserlah adalah Ayahanda karya Azizi Haji Abdullah yang telah diadaptasi menjadi drama bersiri di kaca telivisyen baharu-baharu ini.
Sebuah novel malar segar (evergreen) lantaran kisah tentang sosok yang bernama “ayah” merupakan persoalan kemanusiaan sejagat.
Dengan ungkapan tajuk yang sangat signifikan dengan kehidupan masyarakat, novel Ayahanda wajar dimiliki, dihadam dan difahami pembaca.
Novel ini memperihalkan keperibadian seorang ayah yang sarat dengan nilai kasih sayang walaupun tidak diperaga secara tersurat.
Watak ayah digembleng dengan perwatakan yang sukar dimengertikan oleh generasi muda tentang selok-belok nurani warga tua, namun unsur pengajarannya jelas mendidik khalayak dengan nilai keagamaan yang tinggi.
Setelah diadaptasi menjadi sebuah drama, novel ini dapat meruntun perasaan ramai penonton sementelah tatkala musim pandemik yang menyebabkan orang ramai terkurung di rumah.
Hidangan drama bersiri Ayahanda telah membawa masyarakat mulai menghargai makna sesebuah ikatan kekeluargaan dengan lebih akrab.
Lantaran sebelum ini masyarakat terlalu dimomokkan dengan rantaian drama televisyen yang diadaptasi daripada novel popular yang sangat menjengkelkan.
Elemen hedonisme yang dijejerkan dalam novel popular seterusnya diadaptasi menjadi drama televisyen begitu membimbangkan apabila ditonton oleh anak-anak.
Tajuk novel yang menjadi drama kebanyakannya mempamerkan kerancuan bahasa yang begitu ketara.
Wajah sastera yang indah dengan gaya bahasa yang menawan hilang angkara tajuk novel seperti Love You Mr. Arrogant, Rindu Awak 200%, Suri Hati Mr. Pilot, Cinta Si Wedding Planner, Kampung Girl, Bukan Cinta Monyet, Playboy Itu Suami Aku?, Yes, Boss Raya, Projek Memikat Suami dan lain-lain yang menampilkan kepunahan bahasa dan sastera Melayu tanah air.
Kesemua novel terbabit telah diadaptasi menjadi drama bersiri di kaca telivisyen yang ditonton dengan keghairahan masyarakat.

Cintai khazanah bahasa

Berbanding dengan drama Ayahanda yang menawarkan tajuk yang berhemah dan berhikmah sejajar dengan judul novelnya yang digarap oleh salah seorang Pemenang SEA Write Award negara. Ungkapan dialog yang ditutur pelakon disaring terlebih dahulu telah menyuntik semangat penonton khasnya anak muda untuk mencintai khazanah bahasa dan sastera Melayu.
Kemasukan dialek utara turut memberikan penanda bahawa tanah air sarat dengan nilai sejarah dan falsafah yang dapat membangun tamadun dan peradaban bangsa.
Generasi muda wajar diberikan pendedahan tentang rumpun leluhur nenek moyang yang kini kian terpinggir lantaran kerakusan teknologi dan modenisasi.
Petikan kata-kata nasihat, pujangga, terjemahan ayat al-Quran dan hadis yang dikemukakan dalam tulisan jawi di setiap pengakhiran episod drama Ayahanda turut merakamkan keindahan warisan bangsa yang harus dipertahankan.
Malahan tajuk drama Ayahanda yang turut menyerlahkan tulisan Jawi telah menumbuhkan kesedaran kepada penonton tentang keistimewaan keindahan warisan Melayu nusantara yang tidak dimiliki Barat.
Drama ini turut memancing penonton dengan babak yang mengasyikkan di sebuah perkampungan yang sarat dengan nilai tradisi Melayu.
Latar tempat Kedah yang kaya dengan sawah padi dibangunkan pengarang dalam novel Ayahanda jelas menunjukkan tanah air kaya dengan panorama yang mempesona.
Unsur alam yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Melayu tanah air telah disuguhkan dengan menarik dalam novel seterusnya drama yang telah diadaptasi.
Drama ini mengajak penonton untuk menghargai institusi kekeluargaan secara hemah dan hikmah kasih sayang.
Hubungan antara manusia dengan Tuhan (habl min Allah), hubungan manusia dengan manusia (habl min al-Nas) dan hubungan manusia dengan alam (habl min al-alam) jelas dikesani dalam novel dan drama ini.
Nilai keagamaan terpancar dalam setiap babak dan episod yang mengajak pembaca dan penonton bermuhasabah.

Mendidik nurani

Sekalung tahniah untuk penulis novel, Allahyarham Azizi Haji Abdullah, penulis skrip drama, Maizura Ederis dan Wan Mahani Wan Hassan, penerbit novel Dewan Bahasa dan Pustaka seterusnya produksi televisyen dan TV3 Berhad.
Ayahanda telah memberi peluang warga Malaysia menyaksikan hidangan yang bukan sahaja dapat mengasuh peribadi mulia bahkan dapat mendidik nurani untuk menyantuni warga tua dengan sebaik-baik budi dan bahasa.
Sementelah “Ayahanda” juga sesuai untuk tontonan lapisan masyarakat yang mempertaruhkan perutusan yang sangat bermakna selain bauran perasaan yang meruntun jiwa.
Kala rakyat resah gelisah berdepan dengan corona yang masih mengganas, arahan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) yang masih berterusan dan percakaran politik yang merusuhkan, Ayahanda bertandang merawat segala kegalauan itu.
Setelah 64 tahun negara menyambut kemerdekaan, ternyata wajah karya sastera tanah air masih dapat menyumbang makna yang besar kepada masyarakatnya.
Malaysia memiliki deretan karya sastera dengan judul dan gaya bahasa yang indah untuk dijadikan hidangan kepada khalayak.
Misalnya novel Delima Ranting Senja (Siti Zainon Ismail), Sudara (Arena Wati), Tunggul-Tunggul Gerigis (Shahnon Ahmad), Angin Timur Laut (S. Othman Kelantan), Pujangga Melayu (Mohd Affandi Hassan), Bedar Sukma Bisu (Faisal Tehrani), Dinihari (SM Noor), Warisnya Kalbu (Sri Rahayu Mohd Yusop) dan banyak lagi bersiap siaga menanti para penulis skrip drama untuk dibawa ke skrin layar televisyen.
Lambakan karya sastera popular wajar digantikan dengan wajah sastera Melayu yang lebih bermakna untuk kesempurnaan sahsiah anak bangsa.
Dibimbangi generasi muda sudah tidak mengenali budaya bangsa dengan bahasa yang indah dan berseni.
Barangkali ungkapan Tenas Effendy dalam buku Kesantunan Melayu (2001) ini perlu dijadikan renungan: “berbuah kayu rindang daunnya,-bertuah Melayu terbilang santunnya, elok kayu karena daunnya-elok Melayu karena santunnya”.
Ayuh, bebaskan diri daripada belenggu penjajahan dengan wangian merdeka karya sastera yang berhemah, dan berhikmah menjulang angkasa!

* Profesor Madya Dr. Kamariah Kamarudin ialah Penyelaras Seni Persembahan, Jabatan Bahasa Melayu, Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi, Universiti Putra Malaysia







Share:

7 May 2021

tulis hatimu

 





Share:

21 Apr 2021

hari pasar di kelantan

 Harun A. Bakar menerapkan teknik pointilisme, iaitu titik-titik warna yang kecil digunakan dalam karya ini. Langit biru dan pemandangan cerah menunjukkan suasana pagi yang meriah. Orang ramai sibuk ke sana-sini di dalam pasar, berpakaian warna-warni berkain batik, berselendang di kepala, seperti kebiasaannya diamalkan oleh wanita Muslim.
Karya ini menunjukkan suasana di Kelantan. Pada hari ini, pemandangan unik ini masih dapat dilihat di Pasar Besar Siti Khadijah, di mana para peniaga kebanyakannya wanita, yang terkenal dengan kepintaran berniaga.
Harun A. Bakar applied the pointillism technique, where small distinct dots are used in this work. The blue sky and sunny atmosphere presents a bustling scene on a bright morning day. The figures are busy going about the market, wearing colourful and vibrant clothes with batik sarong which included headscarves, as practiced by many Muslim women.
This piece depicts a scene in Kelantan. Today this unique sight can still be seen at Pasar Besar Siti Khadijah, where the sellers are mostly women, known for their business acumen.
HARI PASAR DI KELANTAN
Tanpa tarikh
Harun Hj. A. Bakar
Cat air / Watercolour
68 x 50 cm
Koleksi / Collection of Bank Negara Malaysia
Perniagaan Kecilan / Small Businesses

Pameran maya / Virtual exhibition 'KERINGAT': http://www.museum.bnm.gov.my/forefathers/
Share:

12 Feb 2021

Salina

 

Enam dekad 'Salina' A Samad Said, terus diminati

Oleh Hafizah Iszahanid

13 September 2019



KUALA LUMPUR: Hampir 60 tahun lalu, Datuk Seri A Samad Said yang masih bergelar penulis muda mengusahakan manuskrip dengan hanya satu niat: beliau ingin memenangi hadiah utama dalam Peraduan Penulisan Novel 1958 anjuran Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP).

Bagaimanapun, takdir menetapkan naskhah yang dihasilkan dalam dua jilid berjudul Gerhana 1 dan 2 hanya meraih sagu hati.

Namun, naskhah yang kemudian judul diubah kepada Salina kekal diperkatakan khalayak sastera meskipun sudah berusia 60 tahun.

Malah A Samad, masa kini bergelar Sasterawan Negara (SN) ke-4, iaitu pemenang anugerah paling berprestij pada pentas sastera kebangsaan.

“Manuskrip itu diusahakan dengan keinginan untuk merakamkan pengalaman dan persekitaran sezaman, selain misi untuk menyertai sayembara sastera.

“Bagaimanapun saya berhadapan kesukaran untuk menyiapkannya disebabkan saya bekerja di Cecil Street, Singapura pada waktu siang hingga hanya dapat menulis pada waktu malam,” katanya kepada BH di sini.

A Samad berkata, manuskrip itu dihantar pada -saat akhir sebelum tarikh tutup dengan harapan ia mampu memenangi tempat pertama.

Bagaimanapun, naskhah itu hanya mendapat hadiah sagu hati hingga A Samad sendiri mengakui berasa sedikit marah apabila gagal mendapat tempat pertama.

“Waktu itu, saya baru berusia 25 tahun dan biasalah sebagai anak muda, kita mudah marah.

“Namun, saya diberitahu sebab manuskrip itu hanya menang sagu hati, termasuk tema dibawa tidak murni pada ketika itu,” katanya.

A Samad berkata, Salina ditulis ketika Perang Dunia Kedua baru sahaja berakhir hingga terlalu banyak peristiwa era itu yang mencabar norma dan adab kerana setiap orang berusaha meneruskan kehidupan.

“Saya faham novel itu mungkin tidak mengangkat tema murni tetapi zaman selepas perang sangat mencabar dengan saya sendiri sebahagian zaman itu.

“Kehidupan sangat susah dan setiap orang berusaha terus hidup hingga ada wanita menjual maruah. Kita tidak boleh menilai mereka kerana masing-masing ada desakan hidup tersendiri,” katanya.

Tambah A Samad, watak Salina dalam novel itu tidak pernah wujud sebagai manusia, sebaliknya ia watak yang dikutip di Singapura ketika itu.

Biar apapun tanggapan khalayak pada naskhah itu, rezeki Salina sebenarnya muncul tidak disangka apabila kewujudannya kekal bertahan hingga kini.

Ia bermula apabila dibincangkan sarjana Belanda, A Teuw pada 1964, sekali gus menjadikan populariti Salina jauh mengatasi pemenang pertama pertandingan itu.

Bagaimanapun kata A Samad, tajuk asal ditukar daripada Gerhana kepada Salina disebabkan beliau inginkan judul lebih tepat.

Ia disebutnya dalam proses kreatif Salina yang diterbitkan pada 1987, iaitu Gerhana ialah simbolik keseluruhan pengisian karya tetapi ditukar kepada Salina yang juga watak utama dalam novel berkenaan.

Hari ini selepas 60 tahun, Salina masih mendapat tempat dalam kalangan pembaca dan sarjana hingga masih dikaji di universiti, dibaca di sekolah dan masih mampu dijual dengan baik kepada pembaca muda.

Malah anak keduanya, Helmy terus menghidupkan Salina apabila naskhah itu diulang cetak untuk meraikan ulang tahunnya.

Sementara itu, Helmy berkata, penerbitan semula dibuat kerana beliau mendapat banyak pertanyaan mengenai novel berkenaan.

“Hak penerbitan Salina sudah dipulangkan DBP sekitar 2008 atau 2010, jadi tidak ada masalah untuk pihak kami menerbitkannya semula.

“Malah, hampir semua hak cipta karya dipegang beliau sendiri dan saya menguruskannya di bawah Helmy Samad Publications,” katanya.

Justeru, apabila ada permintaan mengulang cetak Salina, adalah pihaknya tidak sukar membuat cetak ulang termasuk sempena ulang tahun ke-60 yang dijual dengan kaedah prapesanan dan setakat ini sudah ditempah sebanyak 200 naskhah.

“Kami sudah terbitkan Salina buat kali ketiga, cuma tidak pasti jumlah edarannya kerana diterbitkan beberapa kali DBP dan Lejen Press pada 2016,” katanya.

Novel Salina yang mengangkat latar zaman 1950-an di Singapura menceritakan watak Salina yang mengharung keperitan hidup zaman selepas perang hingga terjerumus ke jalan berliku.

Menarik sekali watak Salina itu disorot daripada watak Hilmi, iaitu anak muda yang bercita cita tinggi tetapi terkandas disebabkan kemiskinan.


bharian


Share:

5 Feb 2021

teruji warna

Share:

8 Jan 2021

kad puisi : di tempat itu

 


Share:

9 Dec 2020

kad puisi jalan

 


Share:

20 Nov 2020

deklamasi di tempat itu

 


Share:

kad puisi : di tempat itu

 


Share:

kad puisi : tak kan habis

 


Share:

4 Sept 2020

Masjid Kapitan Keling

 WAKAF adalah satu amalan yang dianjurkan di dalam Islam serta dipraktikkan sejak daripada zaman Baginda Rasulullah SAW. Ia turut digalakkan dalam al-Quran dan al-Sunnah agar berlumba-lumba dalam melakukan kebaikan.

Allah SWT menyebut betapa besarnya ganjaran bagi mereka yang membelanjakan harta untuk mendapat keredaan-Nya. Firman Allah SWT yang bermaksud

Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurnia-Nya, lagi Meliputi ilmu pengetahuan-Nya. ( al-Baqarah: 261)

Masjid Kapitan Keling yang kini memasuki usia 219 tahun menjadi bukti bagaimana indahnya amalan mewakafkan harta demi kebaikan ummah.

Di Masjid Kapitan Keling yang merupakan antara masjid tertua di negeri ini, terselit kisah bagaimana seorang pedagang India Muslim yang kaya mewakafkan dan memanfaatkan hartanya bagi tujuan pengembangan syiar Islam di negeri ini.

Masjid dengan ciri binaan ‘Moorish’ itu diasaskan dan diwakafkan oleh seorang pedagang Islam daripada India Selatan, Cauder Mohudeen Maicar.

Masjid Kapitan Keling dibangunkan pada 1801 ketika Pulau Pinang menjadi lokasi tumpuan bagi masyarakat India Muslim menjalankan aktiviti perniagaan serta perdagangan rempah ratus, tekstil, kopi dan sebagainya.

Pengerusi Kariah Masjid Kapitan Keling, Datuk Meera Mydin Mastan memberitahu, Cauder Mohudeen atau juga dikenali sebagai Kapitan Keling merupakan pedagang Islam yang kaya raya serta merupakan seorang kapten serta pemilik kapal dagang ketika awal 1800-an.

Meera Mydin menunjukkan ruang meletakkan pelita yang masih dikekalkan di dalam masjid.

 

“Pulau Pinang menjadi lokasi tumpuan perdagangan rempah pada masa itu dan Cauder Mohudeen merupakan antara pedagang Islam yang singgah berdagang di Pulau Pinang.

“Tempoh persinggahan yang lama memakan masa dua ke tiga bulan membuatkan Cauder Mohudeen dan masyarakat India Muslim yang berdagang memikirkan bahawa perlunya dibina sebuah masjid di negeri ini,” katanya.

Berpengalaman 20 tahun sebagai Pengerusi Kariah Masjid Kapitan Keling, Meera Mydin berkata, pada awal pembinaannya, masjid itu hanyalah sebuah pondok yang berdindingkan papan dan atap nipah malah sumber pencahayaan untuk menerangi ruang solat ketika Subuh, Maghrib dan Isyak adalah menggunakan pelita.

Katanya, selepas itu, dengan perkembangan syiar Islam semakin ramai masyarakat Islam termasuk masyarakat India Muslim mengimarahkan masjid berkenaan yang memerlukan ruang lebih besar bagi menampung keperluan jemaah.

“Untuk membesarkan ruang masjid Cauder Mohudeen dilantik oleh masyarakat Islam yang ada ketika itu seperti pedagang Acheh dan Arab untuk berunding dengan penjajah British yang menjajah Pulau Pinang ketika waktu itu.

“Akhirnya setelah perundingan dijalankan British bersetuju untuk memberi kira-kira 4.2 hektar tanah berhampiran kawasan pelabuhan untuk tujuan pembangunan masjid,” katanya.

Tambah beliau, Cauder Mohudeen kemudiannya menguruskan pembinaan masjid dengan membawa pekerja-pekerja dari India Selatan.

“Malah dia juga menggunakan wang, kudrat dan tenaganya sendiri untuk memastikan masjid ini dapat disiapkan. Masjid ini juga melalui fasa-fasa pembesaran serta penambahbaikan secara berperingkat di mana menara masjid ini dibina pada 1917.

“Kubah masjid ini pernah dibaiki sekitar tahun 1995 hingga 2010 dan sehingga kini masjid ini masih lagi memerlukan penjagaan yang rapi bagi menjaga nilai-nilai sejarah yang ada di dalamnya,” katanya.

Meera Mydin menjelaskan terdapat juga beberapa barangan peninggalan sejarah seperti perigi, meriam serta makam Imam pertama masjid iaitu Imam Abu Hanifah dikekalkan sebagai bahan sejarah yang dapat dilawati oleh masyarakat.

Beliau menambah, keistimewaan Masjid Kapitan Keling ini juga menjadi bukti betapa konsep wakaf dan sedekah yang menjadi amalan pedagang Islam terdahulu membawa kebaikan sehingga ke zaman ini.

“Tanah seluas 1.2 hektar di sekitar Masjid Kapitan Keling ini juga diwakafkan hasil sumbangan serta sedekah pedagang terdahulu.

“Sumber yang diperoleh hasil daripada tanah wakaf Masjid Kapitan Keling yang diuruskan oleh Majlis Agama Islam negeri ini disalurkan kembali kepada masjid-masjid yang tidak mempunyai dana mereka yang tersendiri.

“Pedagang Islam dahulu yang kaya-raya tidak melupakan agama ketika dikurniakan rezeki oleh Allah, malah mewakafkan pula harta untuk pembangunan ummah,” katanya.

Meera Mydin menambah, generasi masa kini perlu mengambil iktibar daripada kemuliaan hati pedagang-pedagang Islam seperti Cauder Mohudeen yang mewakafkan harta untuk mengembangkan syiar Islam di negeri ini.

“Masjid Kapitan Keling yang berdiri kukuh sehingga kini adalah hasil daripada wakaf dan sedekah, bayangkan pahala yang terus mengalir kepada mereka yang telah mewakafkan harta mereka kepada Allah,” katanya.


utusan

Share:
Powered by Blogger.

teruji warna

 

STATUS

Search This Blog

Blog Archive

DAUN

tanjung 2

tanjung

Blog Archive