malam lebaran langit menyarung bintang
kita menjadi tetamu bahagia
malam menghembus angin gembira
bertamu dari wajah ke wajah
dalam redhamu Ilahi
rumah-rumah itu tidak lagi sepi
nyala lampu dan cahaya menukar warna
kerinduan berakhir
suburlah cinta dan kasih sayang
eratlah persahabatan dan persaudaraan
kata maaf meniti dari bibir ke bibir
dari relung kalbu ke relung kalbu
jiwa menafsir syukur
namun masih ada bersama pekat malam lebaran
kamar berhias kusam sepi mengisi ruang
ada rindu yang tumpah ada jiwa disambar gundah
payung harapan yang patah
airmata masih mengalir membasah pipi
lebaran bukanlah pembawa hiba
segalanya terjadi atas kesaksian
pasrah dan redha menangguk hidup
malam lebaran
sesekali tataplah di kamar yang tak berlampu
mereka yang hanya mampu membilang sepi
fajar esok tak menjanjikan lebaran wangi
anak-anak yang masih menangis menanti ayah
kekasih yang masih ngilu mengusap pilu
ibu yang kesepian mengharung malam
atau ada yang mengapung sarat rindu
jauh di perantauan
tataplah kemurungan dan nestapa itu
alangkah kalau sedikit dari bahagia yang ada
kita lekatkan di pinggir sukma mereka
fajar esok barangkali mataharinya
berwarna sutera
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.