secebis

Blog Mimbar Kata

bahasa dalam puisi

blog mimbar kata

menatap kepayahan dalam denu

blog mimbar kata

kau ada

blog mimbar kata

25 Jan 2016

kau dan aku ix



segar kuntum kelopak terbuka
harum kasturi semerbak taman
duga hidup semakin memaksa
bistari langkah mengelak kesulitan
 

neon indah malam cahaya
sayup berkelip pelbagai warna
usah termakan pujuk berbisa
segala palsu pesona dunia


puncak perkasa menggapai angksa
langit tembaga melingkar tasik
usah rasa menyelimut bijaksana
jiwa dan raga hangus terusik






22 Jan 2016

menambat sukma

menambat sukma

siapa yang memutuskan tali kejap
menambat sukma
antara kita
sedang
dalam dayung waktu
surut dan pergi masa
kita tetap sama
dengan jiwa dan rasa
dengan raga dan kata


ketakutan kita adalah serupa
sepi pun tak berbeza
rindu tetap berbanding tiada
cinta dan kasih
berturapkan peta tanpa beza
antara kita



tangan cinta yang memegang
tak berbeza sentuh dan raih
tak berbanding dakap dan usap
antara kita 
atau siapa sahaja
begitu kita menambat sukma
menjadi satu dan bersama
merumahkan cinta


siapapun akan menunggu dan menanti
dengan harap dan mimpi serupa
di mana pun kita berada
tiada berbeza dalam rasa dan hela udara


lorong dan denai yang sama
kita lalui
dalam perjalanan
mencari makmur dan sejahtera
tertambat di sukma
terbingkai di jiwa
tanpa bezanya





kantata takwa



Bermula dari SWAMI dan pada tahun 1989 WS .RENDRA dan SETYAWAN DJODI turut bersama. Mereka gigih melakukan perbengkelan  selama enam bulan di rumah SETYAWAN DJODI.

Di situ lahirlah kelompok muzik KANTATA TAKWA. yang mana terdiri daripada tokoh-tokoh karismatik dalam bidang masing-masing. IWAN FALS dan SAWUNG JABO (pencipta lagu / penyanyi ) , SETYAWAN DJODI (pengusaha), WS.RENDRA (sasterawan), JOCKY SURYOPRAYOGO (arranger / keyboard), DONNY FATAH (bassis), dan INISISRI (drumer / perkusi).

Hasil perbengkelan panjang itu melahirkan KANTATA TAKWA dengan albumnya  "KANTATA TAKWA" yang diedarkan tahun 1990. 

Sebuah album yang berawal dari kegelisahan dan diskusi panjang SETYAWAN DJODY, WS.RENDRA, IWAN FALS, SAWUNG JABO, JOCKY SURYOPRAYOGO, tentang fenomena yang terjadi pada bangsa Indonesiai, tentang nilai, norma , nasionalisme, patriotisme, kemasyarakatan hingga sampai ke agama.

Begitu warna dan jiwa Kantata Takwa dalam memperkasa muzik dan nyanyi... puisi dan suara


Kantata Takwa
oleh: Yockie Suryo Prayogo


Kantata Takwa, adalah sebuah proses interaksi berbagai ego-ego besar yang dipayungi WS.Rendra sebagai penasehat spiritual dan penulis sajak/lirik, Setiawan Djody sebagai fasilitator untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan pembiayaan dan lainnya, Iwan Fals sebagai peniup trompet atau juru vocalnya, Sawung Jabo menyediakan dirinya dengan istilah “tong sampah” untuk menampung segala uneg-uneg bersama yang suatu saat harus ditampung dan didistribusikan secara demokratis, saya sebagai designer musik atau bahasa asingnya arranger.

Karena posisi masing-masing diatas sudah sangat jelas, maka bagi saya selaku arranger, garis batas ruang kerja saya juga tampak semakin jelas.

Proses kerja :
Dua minggu pertama, hanya saya, Sawung Jabo dan Iwan yang melakukan eksplorasi suara untuk membuat lagu. Kami bertiga ‘ngarang’ bersama di Kebon Jeruk (piano dan 2 buah akustik gitar). Saya mencatat semua kemungkinan-kemungkinan dan ambience yang muncul dari eksplorasi tersebut.

Setelah selesai 2 mingguan (kurang lebihnya), saya sendirian melakukan proses kerja awal Studio (saat itu Gin Std). Saya menterjemahkan ulang bahasa lagu yang telah kita hasilkan bertiga lewat piano, tentunya juga dengan pendekatan sebuah aransemen. (untuk menyelesaikan musik dasarnya saya dibantu: Donny F, Totok T, Eet S, Reidy Noor, Budi Haryono, Innsisri dan lain-lainnya).

Setelah musik dasar selesai, saya merekam “guide vocal” sebagai panduan nada bagi Iwan Fals dan Sawung Jabo. Selanjutnya mereka relatif harus mengikuti alur melody lagu yang saya contohkan.

Sebab sudah pasti mereka juga sudah lupa akan bentuk lagu yang masih mentah, seperti saat kita gonjrang-ganjreng latihan sebulan (atau lebih) yang lalu. Apalagi Iwan Fals, hari ini dia nyanyi seperti itu besok bisa jadi sudah lain lagi atau sudah jadi lagu yang baru lagi hehehe.. (berubah terus….sak mate’k ‘e.., demikian celoteh kata Sawung Jabo).

Jadi saya bertugas selaku arranger untuk membatasi segalanya, dan itu wewenang serta hak saya yang semua pihak dengan patuh mentaatinya.

Demikian juga dengan ‘fill in’ lead guitar, bahkan saya menentukan running note yang harus dilakukan, dan punya hak untuk membatasi wilayah-wilayah yang tak boleh dilanggar. Semua itu berjalan dengan sebuah kesepakatan yang sudah disetujui bersama secara demokratis.

Bahkan saya juga bisa minta pendapat WS Rendra untuk merubah sebahagian kata-kata dalam tulisan sajaknya, agar lebih kompetibel masuk dalam ruang-ruang musik dan lagu.

Tapi proses itu bukan tanpa konsekwensi, karena memang akhirnya banyak pihak yang tidak merasa puas menyalurkan keinginannya. Jelas, karena memang dibatasi dengan aturan-aturan Music Arranger.

Salah satu yang merasa tak puas adalah mas Djody, dia merasa terkekang dengan notasi yang saya buat, “itu bukan saya yang sesungguhnya” (*katanya*), yah mungkin juga sih. Anda bisa mendengarkan rekaman-rekaman beliau setelah itu, nah itulah mungkin yang beliau maksudkan, tentang keinginan serta karakternya. Dan memang saya harus menghormati karakter tiap-tiap individu. Bukan masalah selera, suka atau tidak.

Lalu, disepakatilah untuk rekaman berikutnya tidak ada lagi arranger seperti saya dulu menanganinya. Semua boleh jadi arranger, supaya semua puas… dan juga atas nama demokrasi ‘baru’ yang coba untuk kita jalani.

kantatasamudera

Kesaksian

Kesaksian

Aku mendengar suara
Jerit makhluk terluka
Luka luka hidupnya
Luka

Orang memanah rembulan
Burung sirna sarangnya
Sirna sirna hidup redup
Alam semesta luka

Banyak orang hilang nafkahnya
Aku bernyanyi menjadi saksi
Banyak orang dirampas haknya
Aku bernyanyi menjadi saksi

Mereka dihinakan
Tanpa daya
Ya tanpa daya
Terbiasa hidup sangsi

Orang orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi
Kenyataan harus dikabarkan
Aku bernyanyi menjadi saksi

Lagu ini jeritan jiwa
Hidup bersama harus dijaga
Lagu ini harapan sukma
Hidup yang layak harus dibela

KMK 2016 Kertas 4




Kesusasteraan Melayu Komunikatif
Kertas 4 Kerja Kursus

Arahan kepada calon:

Kerja kursus ini wajib dilaksanakan oleh setiap ca/on STPM, iaitu ca/on sekolah kerajaan, ca/on sekolah bantuan kerajaan, ca/on sekolah swasta, dan ca/on persendirian individu sebagai sebahagian daripada komponen pentaksiran sepanjang penggal 2 dan penggal 3.

Ada tiga soa/an kerja kursus yang dikemukakan. Anda dikehendaki memilih satn soalan sahaja. Ca/on mesti menyerahkan kerja kursus tersebut kepada guru!pemeriksa untuk dinilai.

Ca/on juga mesti melaksanakan semua aspek berkaitan dengan kerja kursus seperti yang ditetapkan dalam Manual Kerja Kursus Kesusasteraan Melayu Komunikatif.

Markah penuh bagi kerja kursus ini ialah 60 markah.

Calon dikehendaki memilih satu daripada tiga soalan kerja kursus yang berikut:

1 Tulis sebuah esei tentang budaya berdasarkan karya sastera yang anda kaj i.

Arahan

Esei ini hendaklah mengandungi:

(a) Pengenalan
(b) Objektifkajian
(c) Kaedah kajian
(d) Isi kajian
(e) Penutup
(f) Senarai rujukan

2 Kemukakan satu portfolio seorang tokoh yang dikenali yang mempunyai peribadi seperti Tun Perak dalam Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), selenggaraan A. Samad Ahmad, (2003), Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.

Arahan

Portfolio ini hendaklah mengandungi:

(a) Pengenalan
(b) Objektifkajian
(c) Kaedah kajian
(d) Isi kajian
(e) Penutup
(j) Senarai rujukan

3 Hasilkan satu persembahan multimedia berdasarkan talibun "Keindahan dan Kemakmuran Negeri" seperti yang termuat dalam Permata Sastera Melayu, selenggaraan Majlis Peperiksaan Malaysia, (2012), Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur.

Arahan

(a) Hasil kerja tersebut hendaklah mengandungi elemen multimedia, iaitu grafik, animasi, teks, dan audio-visual.
(b) Tempoh persembahan multimedia adalah antara tiga hingga lima mini!.
(c) Hasil persembahan multimedia hendaklah dihantar dalam cakera padat (CD). Nyatakan spesifikasi yang anda gunakan dalam menghasilkan tugasan tersebut. Contohnya: Power Point, Mikromedia Flash Nlx, Movie Maker, dan sebagainya.
(d) Calon perlu menyediakan laporan bertulis tentang projek multimedia yang dihasilkan.
Laporan tersebut hendaklah mengandungi perkara-perkara yang berikut.
(i) Sinopsis projek
(ii) Papan cerita

mpm 

doa orang lapar : ws rendra





DOA ORANG LAPAR 

Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam
jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam

Allah !
burung gagak menakutkan
dan kelaparan adalah burung gagak
selalu menakutkan
kelaparan adalah pemberontakan
adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur
adalah mata air penipuan
adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan
kelaparan adalah iblis
kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

Allah !
kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin

Allah !
kami berlutut
mata kami adalah mata Mu
ini juga mulut Mu
ini juga hati Mu
dan ini juga perut Mu
perut Mu lapar, ya Allah
perut Mu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca

Allah !
betapa indahnya sepiring nasi panas
semangkuk sup dan segelas kopi hitam

Allah !
kelaparan adalah burung gagak
jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke syurgaMu

WS Rendra

DARI KUMPULAN PUISI “SAJAK – SAJAK SEPATU TUA” ( PUSTAKA JAYA – 1995 )

merah awan


engkau merah awan

engkau merah awan
teratas di langit terbentang
bukakanlah warna terang
terlihat jauh benderang

engkau merah awan
bermain bersama angin
membawa sabda dan pesan
dari jauh benua alam

engkau merah awan
khabar apa terbawa datang
gelap atau terang kias nasib
di bawah ini menunggu
berpegang tangan menggantung harapan

oh engkau merah awan
teratas di langit terbentang
biarlah hujan menghentikan panas panjang
biar redup melindungi 

engkau merah awan
dengarkah suara ini
atau begitu lama kami memuji
begitu lama kami menanti
tak pernah kaudengari

engkau merah awan
apakah hanya manis terpandang
bisumu makin melukakan
 

 
 

20 Jan 2016

Waadat



Waadat merupakan teras penting dalam hubungan kenegaraan rakyat dan raja di alam Melayu. Dalam Sulalatus Salatin perisitiwa waadat ini tertulis dalam petikan berikut :

Maka titah Seri Teri Buana, “Kabullah hamba akan janji paman itu, tetapi hambapun hendak minta janji juga pada paman”. Maka sembah Demang Lebar Daun, “Janji yang mana itu, patik pohonkan titah duli Yang Maha Mulia.” Maka titah Seri Teri Buana, “Hendaklah oleh segala cucu hamba, jikalau ada salahnya sekalipun, atau zalim jahat pekertinya, jangan segala hamba Melayu itu derhaka dan menitikkan darahnya ke bumi, jikalau mereka itu akan cedera, berundur hingga takluk negerinya juga”.

Maka sembah Demang Lebar Daun, ‘Baiklah tuanku, tetapi jikalau anak cucu duli tuanku dahulu mengubahkan, anak cucu patik pun berubahlah tuaku,” Maka titah Seri Teri Buana, “Baiklah paman, kabullah hamba akan waad itu”. Maka bagindapun bersumpah-sumpahlah dengan Demang Lebar Daun. Titah baginda, “Barang siapa hamba Melayu derhaka mengubahkan perjanjiannya dibalikkan Allah bumbungan rumahnya ke bawah kaki ke atas”. Maka sembah Demang Lebar Daun, “Jikalau raja Melayu itu mengubahkan perjanjiannya dengan hamba Melayu, dibinasakan Allah negerinya dan takhta kerajaannya,”. Itulah dianugerahkan Allah subhanahu wa taala pada segala raja-raja Melayu, tiada pernah memberi aib kepada segala hamba Melayu, jikalau sebagaimana sekalipun besar dosanya, tiada pernah memberi aib kepada segala hamba Melayu. Jikalau sebagaimana sekalipun besar dosanya, tiada diikat dan tiada digantung, difadihatkan dengan kata-kata yang keji hingga sampai pada hokum mati, dibunuhnya. Jikalau ada seorang raja-raja Melayu itu memberi aib seorang hamba Melayu, alamat negerinya akan binasa (Sulalatus Salatin, hal. 25-26).

Waadat menjadi teras kepada hubungan antara rakyat dan raja. Sebelum waad berlaku, Seri Teri Buana telah berkahwin sebanyak 39 kali tetapi wanita yang dikahwininya mendapat penyakit kedal. Seri Teri Buana ingin berkahwin dengan anak Demang Lebar Daun iaitu Raden Cendera Puri. Demang Lebar Daun bersetuju dengan syarat Raden Cendera Puri tidak dikeluarkan dari istana jika mendapat kedal.

Syarat-syarat waad itu meliputi : Demang Lebar Daun sedia menjadi hamba atau rakyat kepada Seri Teri Buana. Sebagai rakyat mesti dijaga oleh keturunan Seri Seri Buana. Rakyat yang bersalah boleh dihukum tetapi tidak boleh difadihat, dinista atau diaibkan
Jika anak cucu Seri Terti Buana atau raja bersalah atau berlaku zalim, jangan hamba Melayu derhaka. Rakyat juga tidak boleh menitikkan darah raja ke bumi yakni membunuh atau mencederakan raja. Jika hamba Melayu derhaka, ia akan mendapat tulah atau dibalikkan Allah bumbung rumah ke bawah. Manakala jka raja zalim atau melanggar waad dibinasakan negeri dan takhtanya dan raja kehilangan negeri

Persetiaan Demang Lebar Daun dan Seri Teri Buana ini dilanggari sama ada oleh rakyat atau raja, Sulalatus Salatin telah menggambarkan kesan terhadap perlanggaran waad itu. Seri Maharaja membunuh Tuan Jana Khatib mengakibatkan Singapura dilanggar todak. Raja Iskandar Syah menyula anak Sang Rajuna Tapa di hujung Pasar (mengaibkan) akhirnya Singapura alah kepada Majapahit yang dibantu oleh Sang Rajuna Tapa. Kisah Raja Muhammad membunuh Tun Besar anak Tun Perak. Tidak dilantik menjadi raja Melaka, sebalik hanya menjadi raja Pahang. Kezaliman Sultan Mahmud membawa kepada kekalahan Melaka kepada Ferenggi (Portugis). Bagi rakyat yang melanggar waad ini misalnya, Sang Rajuna Tapa belot kepada Raja Iskandar Syah dengan membuka pintu kota semasa serangan Majapahit, Sang Rajuna Tapa menjadi batu bersama isterinya. Hang Jebat menderhaka dan beliau mati dibunuh Hang Tuah.

Kepentingan utama waad ini ialah lahirnya amalan kesetiaan dalam kalangan rakyat semata-mata untuk mendaulatkan dan memartabatkan kerajaan Melaka. Kesetiaan menjadi elemen perundangan penting dalam Sulalatus Salatin. Kesetiaan yang membawa banyak kesan kepada kemakmuran dan kemasyhuran Melaka.

Kesetiaan Hang Tuah. Hang Tuah merupakan laksamana Melaka, beliau dikatakan seorang hamba Melayu yang menumpahkan kesetiaan kepada raja Melaka tanpa berbelah bahagi, ini dapat dilihat semasa beliau dijatuhkan hukuman akibat dari fitnah salah seorang pembesar yang begitu mencemburui kejayaan yang dicapai oleh beliau ini telah membawa kepada hukuman bunuh, begitu juga kesanggupan beliau menjalankan perintah raja dengan penuh ketaatan tanpa membantah untuk membunuh rakan karibnya Hang Jebat. Tanpa adanya sifat kesetiaan yang ditunjukkan oleh Hang Tuah sudah pasti Kerajaan Melaka akan mengalami kekacauan akibat dari rasa tidak puas hati yang ditunjukkan oleh Hang Tuah dan para pengikutnya. Begitu juga sekiranya Hang tuah tidak melaksanakan perintah Sultan untuk membunuh Hang Jebat sudah pasti tidak ada orang yang berupaya membunuhnya dan ini akan menghuruharakan kerajaan Melaka.

Kesetiaan Bendahara Paduka Raja. Kesetiaan Bendahara Paduka Raja dapat dilihat melalui peristiwa apabila beliau tidak bertindak balas atas kematian anakndanya Tun Besar yang dibunuh oleh putera Sultan Mansor Raja Muhammmad, sewaktu Tun Besar sedang bermain sepak raga tiba- tiba bola raga terkena pada dastar baginda, ini telah menyebabkan Raja Muhammmad merasa murka lalu membunuh Tun Besar. Tindakan ini telah menimbulkan kemarahan di kalangan pengikut Bendahara Paduka Raja, tetapi atas dasar kesetiaan Tun Perak tidak bertindak balas kerana dirinya sedar sekiranya beliau menggambil tindakan sudah pasti akan menyebabkan negeri Melaka terdedah kepada kekacuaan dan sudah pasti pihak musuh akan mengambil kesempatan dan akan menyebabkan Kerajaan Melaka menjadi tidak stabil, sikap Tun Perak ini sebenarnya satu tindakan yang berpandangan jauh, malah beliau hanya menyatakan ketidak sanggupan untuk bernaung di bawah Sultan Muhammad ini menyebabkan baginda Sultan Mansor menghantarnya ke negeri Pahang untuk dijadikan raja di sana.

Kesetiaan Bendahara Seri Maharaja. Kesetiaan Bendahara Seri Maharaja dapat dilihat apabila beliau telah menjadi mangsa fitnah oleh Kitul, Raja Mendeliar dan Laksamana Khoja Hassan yang mengatakan beliau telah mengumpulkan harta kekayaan melebihi kekayaan sultan. Sultan Mahmud yang telah lama mendendami Bendahara Seri Maharaja apabila Bendahara Seri Maharaja tidak menunjukkkan anak gadisnya Tun Fatimah yang rupawan dan dikahwinkan dengan Tun Ali, ini menyebabkan TunMutahir dan keluarganya telah dijatuhi hukuman bunuh dan tindakan sultan ini telah menimbulkan kemarahan para pengikutnya tetapi Bendahara Seri Maharaja telah memujuk para pengikutnya bersabar dan beliau sanggup menerima hukuman bunuh. Tindakan beliau ini merupakan satu pengorbanan yang ingin melihat keamanan yang berkekalan walaupun beliau tahu yang dirinya tidak bersalah tetapi memandangkan ia lebih pentingkan kepada ketenteraman beliau sanggup menghalang para pengikutnya dari terus memberontak.

Perhatikan bagaimana tindak-tanduk Bendahara Seri Maharaja dalam petikan berikut :

Maka Laksamana pun masuklah mengadap Sultan Mahmud; segala kata-kata Raja Mendaliar itu semuanya dipersembahkannya ke bawah duli Sultan Mahmud. Setelah Sultan Mahmud mendengar sembah Laksamana itu, kabullah pada hati baginda, seperti orang mengantuk disorongi bantal; kerana baginda sedia menaruh dendam akan Bendahara Seri Maharaja raja, sebab anaknya Tun Fatimah itu; seperti kata Farsi: "Al mahabbat bain niyat, Wal 'asyiq fikr niyat," ertinya: "Yang kasih itu antara tiada, dan berahi itu bicara tiada." Maka Sultan Mahmud Syah pun menyuruh memanggil Tun Sura Diraja dan Tun Indera Segara; setelah keduanya datang, maka dititahkan baginda membunuh Bendahara Seri Maharaja. Maka mereka keduanya pun pergilah dengan segala hamba raja. Maka segala anak buah Bendahara dan kaum keluarganya, dan segala orangnya semuanya berkampunglah pada Bendahara Seri Maharaja, sekaliannya dengan alat senjatanya; Tun Hassan Temenggung hendak melawan, ditegah oleh Bendahara Seri Maharaja, katanya, "Hei Hassan! Hendak membinasakan nama orang tua-tua kitakah engkau? Kerana adat Melayu tiada pernah derhaka."

Setelah Tun Hassan Temenggung mendengar kata Benda¬hara itu, maka Tun Hassan Temenggung pun membuangkan senjata dari tangannya, lalu berpeluk tubuh; maka kata Bendahara Seri Maharaja pada segala kaum keluarganya, dan kepada segala orangnya, "Barang siapa kamu melawan, hamba dakwa ia di akhirat." Setelah mendengar kata Benda¬hara Seri Maharaja itu, sekaliannya pun membuangkan Senjata dari tangan, lalu kembali ke rumah masing-masing. Maka tinggallah Bendahara Seri Maharaja dua bersaudara dengan Seri Nara Diraja; segala anak buahnya undur belaka.

Kesetiaan Tun Biajid. Tun Biajid merupakan anak Laksamana Hang Tuah, beliau telah ditugaskan oleh baginda sultan untuk menjaga kawasan Merba, sekembalinya beliau dari bertugas menjaga kawasan didapati baginda Sultan Mahmud telah berlaku curang dengan isterinya, peristiwa ini telah terserempak dengan Tun Biajid yang sewaktu itu sedang membawa lembing. Tun Biajid telah menimbang- nimbang lembing untuk di tikam ke dada baginda tetapi memikirkan sebagai seorang bangsa Melayu yang pantang menderhaka kepada raja tambahan pula beliau anak kepada Laksamana Hang Tuah yang terkenal dengan sikap kesetiaannya. Sekiranya Tun Biajid menderhaka sudah pastilah Kerajaan Melaka akan menjadi huru- hara memandangkan baginda Sultan Mahmud terkenal dengan seorang sultan yang lemah dan tidak berwibawa dan sudah pasti orang akan memandang kepada Tun Biajid seorang penderhaka dan tidak dapat mewarisi sikap ayahandanya Laksamana Hang Tuah yang terkenal dengan kepatuhan dan kesetiaannya,malah beliau hanya mengambil tindakan dengan memulau untuk tidak pergi ke istana


Kesetiaan utusan-utusan Melaka semasa melaksanakan tugas. Kemunculan Melaka sebagai sebuah kerajaan yang mantap lagi unggul di mata dunia adalah dibantu oleh golongan- golongan utusan Melaka yang dilantik oleh para sultan dalam menjalankan wakil dari kerajaan Melaka. Para utusan tadi telah menunjukkan kesetiaan dan kebijaksanaan yang tidak berbelah bahagi dalam melaksanakan tugas, contoh utusan Melaka ke China yang diketuai oleh Tun Perpatih Putih telah menunjukkan kesetiaan dan kebijaksanaannya apabila berjaya melihat wajah Maharaja China, Tun Bijaya Sura telah berjaya mengangkat martabat Raja Melaka dan dalam masa yang sama telah menjatuhkan maruah Betara Majapahit melalui permainan sapu- sapu rengit. Menteri Jana Putera dan Tun Telanai berjaya menjaga imej Melaka melalui jawapan- jawapan yang dikemukakan kepada Raja Siam manakala Hang Nadim berjaya memberi tunjuk ajar kepada para pelukis kain di Benua Keling bagaimana untuk menghasilkan corak kain yang baik. Sekiranya para utusan tadi tidak dapat menunjukkan kesetiaan yang begitu tinggi sudah pasti matlamat untuk menjadikan Melaka sebagai sebuah kerajaan yang di pandang mulia di kalangan negara serantau sudah pasti tidak akan mencapai matlamatnya kerana kesetiaan merupakan kunci untuk mewujudkan negara yang cemerlang lagi terbilang

kejatuhan


Detik-detik negara Islam dihancurkan
13 Januari 2014



Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 217 :

“Mereka sentiasa berusaha memerangi kamu sehingga mereka dapat memalingkan kamu dari agama kamu jika mereka mampu berbuat demikian.”

Penjelasan yang benar ini adalah dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mendalam ilmu-Nya. Ia mendedahkan keazaman kaum musyrikin yang degil untuk meneruskan kejahatan mereka, dan untuk menindas kaum Muslimin kerana agama mereka, kerana penindasan itu merupakan satu-satunya matlamat yang tetap bagi musuh-musuh mereka, iaitu satu matlamat yang tidak berubah bagi musuh-musuh Islam di mana-mana negeri dan dalam mana-mana generasi manusia.

[ Tafsir Fi Zilalil Quran, Syed Qutb ]

Hakikat pertembungan ini telah jelas disebut di dalam Al-Quran, dan juga jelas dilihat dengan sejarah yang panjang permusuhan kuffar terhadap Islam yang tidak akan sesekali berhenti sehinggalah Kiamat. Saya ingin membawa pembaca semua untuk kita bersama mengimbas kembali tragedi-tragedi kejatuhan negara milik umat yang dipetik dari kitab At-Tarikh Al-Andalusi oleh Dr Abd Rahman Ali Al-Haji, Ad-Daulah Al-Uthmaniyyah oleh Dr Ali Muhammad As-Solabi dan Haadir Al-‘Alam Al-Islami oleh Dr Taufiq Yusuf Al-Waie untuk diambil iktibar dalam survival umat Islam masa kini :

1. Andalusia

Andalusia merupakan tanah air umat Islam yang telah dibuka oleh Tariq bin Ziyad pada tahun 711, negara Islam telah tertegak di tanah ini selama 781 tahun sehinggalah dihancurkan pada tahun 1492. Sejarah Islam Andalusia berakhir apabila tumbangnya Kota Granada ke tangan Raja Ferdinand V, Raja Kristian Sepanyol ketika itu. Permulaan kejatuhan Granada apabila satu-satunya raja Islam yang tinggal di Andalusia setelah semua kerajaan Islam dihancurkan iaitu Sultan Muhammad bin Yusuf bin Al-Ahmar memeteraikan perjanjian dengan Raja Ferdinand III yang dinamakan Perjanjian Jaen pada tahun 1246 kerana tiada pilihan lain disebabkan kota Granada sudah dikepung tentera Kristian.

Perjanjian ini telah menyebabkan Sultan Ibn Al-Ahmar kehilangan wilayah Jaen, Arjona, Porcuna, Priego, Higuera dan La Frontera dan hanya memiliki Granada di bawah penguasaannya. Baginda juga terpaksa membayar ufti kepada Raja Ferdinand III sebagai jaminan keselamatan. Dalam tempoh 246 tahun selepas itu tentera Kristian telah melanggar perjanjian dengan menyerang umat Islam hinggalah pada tahun 1492, Sultan Abu Abdullah yang merupakan raja terakhir Granada telah mengaku kalah dan menyerahkan Granda kepada tangan Raja Ferdinand V. Selepas kejatuhan itu umat Islam di Granda dibunuh secara beramai-ramai.

2. Turki Uthmaniyyah

Empayar Turki Uthmaniyyah adalah sebuah sejarah yang panjang, rumusan yang telah dibuat oleh Dr Ali Muhammad As-Solabi mengenai kejatuhannya adalah seperti berikut :

“Salah satu sunnah Allah yang jelas dapat dilihat melalui sejarah ialah apabila orang yang mengenali Allah menderhakai Allah, Allah akan membiarkan orang yang tidak mengenali Allah menguasai mereka. Oleh kerana itu, orang Kristian berjaya menguasai umat Islam. Umat ini telah menyimpang jauh daripada fahaman agama yang sebenar seperti aqidah kesetiaan dan ketulusan, pengertiaan ibadat dan budaya syirik, bidaah dan khurafat berleluasa.

Penyimpangan paling dahsyat yang berlaku dalam sejarah umat Islam adalah munculnya golongan sufi sesat sebagai suatu kuasa terancang dalam masyarakat Islam. Mereka membawa kepercayaan, fikiran dan ibadat jauh daripada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Pengaruh sufi sesat ini semakin kukuh pada zaman terakhir Empayar Uthmani. Golongan sesat semakin bertapak kukuh terutama selepas kehadiran penjajah Kristian yang mencengkam umat Islam. Sebagaimana biasa, golongan ini sentiasa membantu dan menjadi musuh yang setia kepada musuh Islam. Golongan sesat yang utama ialah Syiah Dua Belas, Druze, Nasiri, Ismaili, Qadiani, Bahai dan banyak lagi golongan sesat yang mendakwa sebagai Islam.”

3. Palestin

Kronologi Nakbah (malapetaka atau penjajahan) Palestin juga merupakan suatu sejarah yang panjang, dua peristiwa utama yang ingin saya tekankan adalah Deklarasi Balfour 1917 dan pengkhianatan British dan PBB melalui ‘ketetapan 181’.

Deklarasi Balfour merupakan sebuah surat bertarikh 2 November 1917 daripada Setiausaha Luar British Arthur James Balfour kepada pemimpin Yahudi British Lord Rothschild untuk dikirimkan kepada Persekutuan Zionis British dan Ireland. Surat ini menggambarkan kedudukan yang diambil oleh Kabinet British seperti yang dipersetujui semasa mesyuarat pada 31 Oktober 1917. Ia juga menyatakan deklarasi ini sebagai isyarat “simpati kepada aspirasi Zionis Yahudi”. Deklarasi ini kemudiannya disiarkan secara umum pada 9 November 1917 dan menjadi kenyataan rasmi dasar kerajaan British menyokong penubuhan negara orang Yahudi di Palestin. Ini merupakan usaha yang paling jahat dalam sejarah peradaban dunia kerana dengan jelas ianya mencabuli perjanjian antarabangsa.

Penubuhan sebuah negara untuk Yahudi di Palestin disokong penuh oleh kerajaan British dan PBB. Pada 29 November 1947 sidang pleno PBB telah mengeluarkan ‘ketetapan 181′ yang mengakibatkan 2/3 tanah negara Palestin telah dibahagikan kepada pendatang Yahudi manakala bakinya yang hanya 1/3 keluasan tanah pula diberikan kepada penduduk asal Palestin yang sah. Kesan peristiwa ini menyebabkan penduduk Palestin terus dinafikan hak untuk bersuara. Liga Negara Arab pula gagal membantu perjuangan rakyat Palestin bagi mempertahankan hak-hak asasi mereka dalam mempertahankan kedaulatan negara Palestin yang telah mereka diami sejak 4500 tahun lamanya.

Akhirnya pada 14 Mei 1948 yahudi Zionis dengan angkuhnya telah membuat pengumuman penubuhan negara Israel dan secara rasminya pada 15 Mei 1948 negara haram Israel telah diisytiharkan. British telah mengundurkan tenteranya dari Palestin selepas pengisytiharan itu berlaku. Kesan dari penubuhan ini ialah pasukan tentera pengganas Yahudi Zionis yang telah bertindak kejam mengusir lebih daripada 60% rakyat Palestin iaitu lebih kurang 800,000 ke luar negara manakala 30,000 yang lain telah diusir ke daerah-daerah yang ditakluki mereka.

4. Bosnia Herzagovina

Orang Islam di Bosnia tinggal di kawasan tengah selatan Yugoslavia. Mereka mendiami kawasan dari sungai Vardar hingga pergunungan Sar Planina di tenggara Sungai Sava dan Sungai Una di barat laut. Mereka turut berkongsi tanah itu dengan kaum Serb, Croat, penduduk Montegerano, bangsa Alban dan penduduk Macedonia. Pada kurun ke-18 telah tercetusnya peperangan getir antara Empayar Austria dan negara-negara Uthmaniyyah. Tentera kepada Empayar Austria terdiri daripada kaum Serb, Croat dan penduduk Montegerano menentang orang Islam Bosnia yang mewakili Uthmaniyyah. Setelah tentera Uthmaniyyah berundur maka bermulalah penghapusan etnik yang dahsyat terhadap orang Islam Bosnia.

Sejarawan Serb, Stofan Novakovitch menyatakan : “Operasi pembersihan kaum Turki (warga Bosnia yang tinggal di Serbia dinamakan sebagai orang Turki) di Belgrade berlangsung selama dua bulan bagi menentang orang Islam di Belgrade. Serb memasuki kota tersebut pada 8 Januari 1807 dan memusnahkan banyak masjid, sekolah dan kubur. Bilangan orang Islam di Bosnia yang sebelumnya di Serbia pada tahun 1830, dianggarkan seramai 50,000 orang. Apabila Serbia memperolehi pemerintahan autonomi, ia memutuskan orang Islam mesti meninggalkan Serbia. Oleh itu, dalam satu tahun, lebih 20,000 orang telah meninggalkan negara itu. Dalam persidangan antarabangsa Kanikila, orang Islam di Montenegro diwajibkan memeluk Kristian. Orang Islam yang dipaksa menganut Kristian tersebut telah dibaptis dalam satu majlis keraian besar-besaran dengan dihadiri oleh sejumlah besar pegawai polis dan pendeta agama.”

Kejatuhan Empayar Uthmaniyyah dan penjajahan Austria dan Hungary ke atas tanah umat Islam Bosnia bererti perubahan kepada cara hidup orang Islam di sana. Mereka menjadi sebahagian dari tamadun barat. Orang Islam merasa diri mereka dalam kehilangan dan nasib mereka tidak diketahui. Tiada pilihan di hadapan mereka kecuali berhijrah ke Turki, sehinggakan 1/3 bilangan penduduknya telah sampai ke Turki, atau ke negara lain di Timur Tengah.

Operasi penghapusan paling mengerikan berlaku pada permulaan November 1924 di perkampungan Sohubich dan Bavinobolia di wilayah Bilowabolia. Penduduk Montenegro telah membunuh 6,000 orang Islam dalam satu malam. Badan manusia yang masih hidup dipotong kepada beberapa bahagian, mata dikorek, telinga dipotong dan anggota dalaman badan seperti perut dikeluarkan. Tanda salib dilakarkan di atas badan menggunakan pisau. Mereka yang lari daripada penyembelihan ini berhijrah ke utara Bosnia, Turki dan Albania.

Kemuncak penyembelihan umat Islam Bosnia berlaku pada tahun 1992. Akhbar New York Times menyiarkan bilangan orang Islam yang terbunuh dalam perang sahaja berjumlah 200,000 orang. Mereka yang disembelih juga menyamai bilangan ini. Sementara mereka diusir dari kampong halaman melebihi 1.5 juta orang. Tujuan kekejaman ini ialah menghapuskan bangsa ini secara keseluruhan tanpa meninggalkan walaupun seorang. Ketua Majlis Syeikh Bosnia menyiarkan seruan berikut dalam Suara Amerika :

“Kami tahu secara yakin, tragedi yang menimpa kami pada hari ini merupakan perkara yang telah berlaku di Andalus. Bahkan kami melihatnya lebih dahsyat, kerana ia berlaku di hadapan tontonan seluruh dunia. Agensi-agensi berita membawa paparan kejadiannya sejam demi sejam dan minit demi minit. Namun begitu, dunia yang mengaku bertamadun dan berperikemanusiaan sedikitpun tidak bergerak untuk berbuat sesuatu. Penghapusan terus berlaku secara terang-terangan.”

5. Kashmir

Kashmir terletak di timur laut Pakistan. Ia berjiran dengan dengan India di sebelah tenggara, China di sebelah timur laut, Soviet Union di sebelah barat laut dan Pakistan di sebelah barat daya. Bilangan penduduk Kashmir melebihi 12 juta orang dan 85% adalah orang Islam. Penduduknya bukan berasal dari etnik India, kerana mereka berkulit putih dan bersaiz tinggi. Bahasa mereka juga bukan mirip bahasa India. Ramai pemimpin terkemuka di benua India berasal daripada wilayah ini. Antaranya ialah pemikir agung Islam, Muhammad Iqbal.

Era Islam di Kashmir bermula pada akhir kurun ke 14, apabila seorang raja Buddha, Rinchan Sha memeluk Islam. Baginda menamakan dirinya dengan Shodruddin. Ramai pengikut dan penduduk wilayah tersebut yang memeluk Islam bersamanya. Pemerintahan Islam berterusan di sana sehingga tahun 1819 apabila ia ditakluk oleh golongan Sikh. Pada tahun 1846, penjajah Britain menakluki wilayah itu, kemudian menjualnya kepada puak Dugra Hindu dengan bayaran harga sebanyak 7.5 juta rupee. Kontrak penjualan wilayah ini tidak mempunyai tempat dari aspek perlembagaan mahupun akhlak.

Pembahagian benua India terbahagi kepada dua negara yang merdeka iaitu negara Islam Pakistan dan negara sekular India, ini adalah menurut pelan pembahagian yang menetapkan seluruh kawasan yang majoriti Islam akan diserahkan kepada Pakistan, manakala semua kawasan majoriti Hindu akan diserahkan kepada India. Berdasarkan persetujuan ini, sepatutnya Kashmir digabungkan ke dalam Republik Islam Pakistan malangnya ia tidak berlaku. Ini kerana wilayah Kashmir sebelumnya diperintah oleh Maharaja Gulab Singh. Sekalipun dia seorang Hindu, namun penduduk wilayah tersebut majoritinya adalah beragama Islam. Maharaja Gulab Singh mengambil beberapa langkah yang menyingkapkan niatnya yang tidak mahu menyertai Pakistan. Ini tidak pelik kerana mana mungkin dia ingin bergabung di bawah pemerintahan sebuah republik Islam sedangkan dia seorang kafir.

Ketika itu, orang Islam di wilayah Jammu-Kashmir menyedari niat pemerintah mereka yang tidak mahu menyertai Pakistan sebagaimana persetujuan pembahagian benua India. Dalam situasi genting itu lahir Gerakan Pembebasan Wilayah Jammu-Kashmir yang dipimpin oleh Persidangan Umat Islam Wilayah Jammu-Kashmir. Tujuan gerakan ini adalah untuk menyelamatkan wilayah Islam itu dari cengkaman raja Hindu dan bergabung dengan Pakistan. Gerakan ini ditubuhkan pada 19 Julai 1947. Di samping itu, para pemuda wilayah tersebut memutuskan untuk berjihad membebaskan negeri mereka. Mereka telah berjaya memerdekakan sebahagian wilayah Kashmir dan mengasaskan kerajaan merdeka wilayah Jammu-Kashmir pada 24 Oktober 1947.

Pada tahun 1990, kerajaan Hindu mengambil langkah keras untuk menamatkan jihad rakyat Kashmir. Mereka menggunakan segala jenis senjata pembunuhan tanpa sebarang belas kasihan atau simpati. Mereka membunuh ribuan nyawa tidak berdosa dan angkatan tenteranya merogol ramai wanita, membakar ratusan tempat kediaman dan harta. Mereka juga menangkap ribuan pemuda, meruntuhkan masjid-masjid dan mengenakan perintah darurat 24 jam dan kadangkala berlarutan sehingga dua minggu. Sehingga kini Kashmir hanyalah sebuah wilayah yang telah hilang kedaulatan dan tanahnya dipecahkan dibawah tiga pemerintahan iaitu Pakistan, India dan China.

Penutup

Ini hanyalah sebahagian dari penderitaan yang ditanggung oleh umat Islam di seluruh dunia akibat hilangnya Khilafah Islamiyyah yang menaungi umat. Umat Islam di Malaysia seharusnya mengambil sebanyak mungkin pengajaran dari sejarah pertembungan tamadun Islam-kuffar dalam menghadapi ancaman pelbagai pihak di dalam negara mahupun tekanan antarabangsa. Kita perlu bijak memahami percaturan antarabangsa oleh musuh Islam, mereka kini tidak perlu menghantar tentera untuk merosakkan bangsa sesebuah negara, cukuplah mendoktrin generasi yang dengan sendirinya akan melaksanakan agenda penjajahan tersebut, kemudian barulah umatnya disembelih.

Ahmad Nu’man Mazlan
Ketua Biro Dakwah ISMA Jordan

isma


Kejatuhan Al-Andalus – Dr Mahathir Mohamad
9 Oktober  2014 

1. Pada abad kedua Hijrah pasukan Islam dari utara Afrika berjaya menyeberangi terusan yang kini dipanggil Straits of Gibraltar dan menakluk Semenanjung Sepanyol (Iberia). Di bawah pimpinan Tariq, pasukan Islam dapat mengalahkan pasukan Sepanyol dan Portugis.

2. Selama 800 tahun Islam berkuasa di semenanjung yang dikenali arab sebagai Al-Andalus.

3. Tetapi orang Islam di Al-Andalus berpecah selepas pemerintahan Abdul Rahman Ke-3. Ketua-ketua wilayah bersikap bebas dan Al-Andalus berpecah kepada beberapa negeri kecil. Negeri-negari ini sering bermusuh sesama mereka dan berperang.

4. Dalam peperangan antara negeri-negeri Islam ini, ada yang meminta pertolongan orang Kristian Sepanyol yang memiliki tentera yang kuat. Pihak yang bersubahat dengan Sepanyol dapat menewaskan musuh Islam mereka. Tetapi pihak Sepanyol merebut pemerintahan wilayah yang ditawan. Negeri Islam yang mendapat pertolongan Sepanyol tidak dapat membuat apa-apa kerana mereka lemah.

5. Dengan cara membantu pemerintah-pemerintah wilayah Islam yang bermusuh sesama mereka, akhirnya Sepanyol dapat merampas balik seluruh semenanjung.

6. Yang terakhir ialah Wilayah Granada. King Ferdinand dan Queen Isabella berjaya mengalahkan dan menakluk Granada. Dengan ini tamatlah sejarah Semenanjung Iberia sebagai Negara Islam.

7. Orang Islam dan Yahudi di Granada diberi tiga pilihan. Mereka boleh kembali ke Afrika Utara, atau memeluk agama Kristian Katholik atau mereka dibunuh.

8. Inilah hasil “tahaluf siyasi” orang Islam dengan orang yang lebih kuat dari mereka.

9. Apakah ada pelajaran yang boleh didapati dari sejarah Islam di Semenanjung Sepanyol. – www.chedet.cc, 9 Oktober, 2014.

* Tun Dr Mahathir Mohamad ialah mantan Perdana Menteri Malaysia.


Malaysian Insider


KERUNTUHAN LEMAHKAN ISLAM
Ku Seman Ku Hussain
26 April 2015 

Satu demi satu negara Islam yang runtuh akibat pergolakan politik ketika ini adalah satu tragedi yang sangat membimbangkan dan wajar diambil iktibar supaya Islam tidak terus berpecah dan lemah. Selain disebabkan oleh agenda tersirat Barat, keruntuhan politik, peradaban dan perpecahan negara Islam disebabkan oleh pemimpin yang cacat peribadi dan tamak kuasa.

Rakyat melihat gelagat pemimpin begini dan apabila ada pihak yang menyokong kebangkitan dan perubahan, maka terjadilah seperti di Iraq, Mesir, Libya, Tunisia, Syria dan terbaru sekali Yemen. Negara yang tidak mempunyai kebersatuan yang tinggi dalam kalangan rakyatnya dengan mudah dilemahkan oleh anasir-anasir luar dari Barat.

Negara-negara berkenaan tidak berupaya menangkis serangan ideologi yang dipromosikan oleh Barat melalui pelbagai cara terutama gaya hidup dan pemikiran politik. Demokrasi hanya menjadi senjata Barat untuk menguasai Islam. Lebih malang lagi dipercepatkan oleh penolakan rakyat terhadap pemimpin Islam sendiri yang menyeleweng, kuku besi dan menjauhkan diri daripada landasan Islam.

Definisi "demokrasi" Barat mencari ruang daripada penentangan rakyat, misalnya terhadap sistem monarki yang terpisah daripada cara hidup Islam.

Sistem khalifah dalam Islam telah digantikan dengan monarki yang mengaut kekayaan daripada hasil negara yang dulunya menjadi simbol ketinggian peradaban Islam. Apabila Barat membawa "demokrasi", rakyat yang dahagakan keadilan sosial secara melulu menganggap itu ialah model yang terbaik tanpa mencurigai agenda sebenar.

Inilah yang berlaku di banyak negara Islam yang hancur lebur sistem politik dan peradabannya. Keadaan sedemikian secara tanpa sedar telah menghakis kedudukan Islam di mata dunia. Pemimpin Islam wajar dipertanggungjawabkan kerana mereka memberikan mesej yang salah kepada dunia bahawa Islam tidak demokratik dan diktator.

Kita tidak boleh terlalu percaya dengan momokan Barat yakni Amerika Syarikat (AS), misalnya terhadap militan Negara Islam (IS) tanpa mempersoalkan siapakah tangan-tangan ghaib untuk menghancurkan negara-negara Islam?

Akhbar The Telegraph 8 Mac tahun lalu menerusi analisis bertajuk "US and Europe in major airlift of arms to Syrian rebels through Zagreb" antara lain mendedahkan AS menyalurkan bantuan peralatan tentera sebanyak 30,000 tan kepada pelampau Syria. Senjata itu dihantar dari Zagreb menggunakan 75 kapal terbang pengangkut tentera kepada militan yang sekarang dikenali sebagai IS. Maka dunia pun terlupa kepada kejahatan Israel kerana IS dipromosikan di media secara melampau.

Dalam konteks ini, sejarah boleh dimanfaatkan sebagai cermin untuk melihat kegemilangan dan keruntuhan silam yang menimpa negara-negara Islam supaya tidak melalui jalan yang sama pada era ini. Sejarah bukan benda mati tetapi hidup dan berulang berlaku kepada mereka yang tidak belajar daripadanya.

Sejarah kegemilangan Islam di Andalusia (kini sebahagian Sepanyol) misalnya daripada empayar Islam Andalusia tahun 711 di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad.

Tetapi kegemilangan Andalusia hanya mampu bertahan hampir lapan abad apabila hancur pada 1492 selepas tumbangnya Kota Granada kepada Raja Ferdinand V, raja Kristian Sepanyol ketika itu. Kejatuhan Granada bermula apabila satu-satunya raja Islam di Andalusia setelah semua kerajaan Islam dihancurkan, Sultan Muhammad bin Yusuf Al-Ahmar memeteraikan perjanjian Jaen pada 1246 dengan Raja Ferdinand III.

Menyerang

Tetapi perjanjian itu hanya dipatuhi oleh Kristian selama 246 tahun dan selepas itu tentera Kristian telah menyerang umat Islam hinggalah pada tahun 1492 apabila Sultan Abu Abdullah, raja terakhir Granada mengaku kalah dan menyerahkan Granada kepada Raja Ferdinand V.

Turki juga mempunyai sejarah panjang sebagai pusat peradaban Islam di mana zaman kemuncak semasa pemerintahan Sultan Muhammad Al-Fatih yang telah berjaya menawan Kota Konstantinople daripada Byzantin. Ini adalah antara sultan yang berjiwa rakyat, tidak bermegah dengan kemewahan dan jauh sekali membazir tetapi memerintah mengikut lunas-lunas Islam.

Bagaimanapun selepas era Sultan Muhammad Al-Fatih, empayar Uthmaniyyah sudah mulai cair Islamnya dengan sikap tamak dan haloba sultan yang menjadikan kedudukan sebagai pemimpin untuk mengaut kekayaan. Sultan selepas Muhammad Al-Fatih mempunyai kecacatan peribadi yang serius kerana tidak jujur dan bergelumang dengan keseronokan hidup yang melampau.

Strategis Yahudi di Barat telah melihat banyak kelemahan pemimpin Islam Uthmaniyyah. Dengan memegang kuasa terhadap media serta dibantu oleh gerakan Freemason, mereka menonjolkan Mustafa Kamal Ataturk sebagai pemimpin muda dalam pembikinan.

Pada masa sama juga ditubuhkan The Young Turks pada tahun 1908 untuk menggulingkan Sultan Abdul Hamid II. Secara rasmi pemerintahan khalifah di Turki berakhir pada 3 Mac 1924 dan diganti dengan Mustafa Kamal Ataturk yang menolak Islam sepenuhnya.

Hal yang sama berlaku sekarang ini. Ada sesetengah pemimpin Islam bermewah berlebihan dan kejam, telah menghancurkan dan melemahkan Islam keseluruhannya.

Rakyat Mesir misalnya tidak boleh dipersalahkan kerana bangkit menggulingkan Presiden Hosni Mubarak yang mengumpul kekayaan peribadi bernilai lebih RM110 bilion, memiliki banglo enam tingkat di United Kingdom serta banyak lagi harta di atas nama peribadi.

Begitu juga dengan Presiden Tunisia, Zainel El-Biden dan isterinya Leila Tribelsi yang hidup mewah dalam keadaan negara menghadapi inflasi yang teruk. Presiden ini dikatakan mempunyai simpanan emas di atas nama keluarga lebih satu tan. Rakyat yang dalam keadaan marah mudah terpengaruh dengan anasir Barat yang mahu meruntuhkan negara-negara Islam.

Gerakan kebangkitan rakyat di dunia Arab atau Arab Spring yang digerakkan oleh AS tidak mungkin berjaya sekiranya negara seperti Mesir, Tunisia, Libya dan Syria mempunyai pemimpin yang jujur dalam menjalankan tanggungjawab terhadap rakyat.

Barat sememangnya mempunyai agenda meruntuhkan dan melemahkan pengaruh Islam. Oleh kerana itu mereka mengeksport sekularisme dan kehidupan yang tidak beragama menerusi kebebasan media. Agenda ini dipercepatkan dan dipermudahkan apabila rakyat mulai marah dan benci kepada pemimpin mereka sendiri.

Kesan daripada keruntuhan ini, tekanan kepada Islam menjadi semakin kuat terutama dengan agenda tersirat Islamofobia yang menyekutukan Islam dengan keganasan dan hilang peradaban. Islam tentu sukar untuk mempertahankan tuduhan-tuduhan liar Barat kerana terbukti di negara Islam sendiri menghadapi krisis kepimpinan. Sepatutnya pemimpin negara-negara Islam memberikan contoh yang baik kepada dunia dan bukan sebaliknya. Negara Islam memerlukan pemimpin seperti Muhammad al-Fatih.

utusan online


17 Jan 2016

bayang ii


bayang ii

lorong akan sepi
hanya bayang berjatuhan di pasir
dan jejak semakin tertimbus masa
semakin sunyi ketiadaan
usah pula kaumemilih
untuk menjadi pendiam 
bersuaralah agar sepi akan pergi
membuang rindu dan kenang
usah biarkan hanya kicau burung
merintih dari dahan ke dahan
tentang hari rembang 
dan senja bergulung datang

jadilah persis bayang
semakin condong matahari
semakin jauh  dari batas keberadaan
begitu kuharapkan hatimu
akan lebih mengerti
lebih menepati dari apa yang kujanji
lebih melihat dari apa yang kukatakan
lebih mendengar dari apa yang kusuarakan 

cinta akan teruji oleh ketiadaan
dan kau bertahan mengajarkan hatimu
bagaimana  kaucantumkan bayang
 menjadi gubahan keyakinan 
bagaimana  dalam tiada
kau melihat segalanya ada
dan amat mencintainya





 
 


Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2014 : Puisi


Laporan Panel Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2014 (Puisi)


Pendahuluan

Sekretariat Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2014 (HSPM) telah menerima sejumlah 51 buah kumpulan (karya secara individu) sebagai penyertaan. Kumpulan puisi ini diterbitkan oleh berbagai-bagai penerbit di Malaysia. Kesemua kumpulan puisi ini dibaca dan dinilai oleh panel penilai di peringkat saringan dengan menggunakan kriteria dan kayu ukur yang telah digariskan oleh pihak Sekretariat HSPM 2014. Setelah membuat pertimbangan dan penilaian yang saksama di peringkat saringan ini, panel memutuskan sebanyak 16 buah kumpulan puisi yang berjaya untuk diangkat ke penilaian di peringkat selanjutnya. Daripada jumlah 16 buah kumpulan puisi yang dicadangkan itu,empat buah dipilih untuk dinilai di peringkat akhir. Judulnya adalah sebagaimana yang berikut ini:-

Jaulah Sampai Syurga
Membelah Bijaksana
Kembali kepada Fitrah
Malakalis

Panel penilai peringkat akhir telah membaca dan menghalusi karya-karya yang terkumpul dalam setiap kumpulan tersebut. Pertimbangan panel ialah subjek karya, bahasa, dan teknik pengucapan. Panel juga mengambil kira keterangkuman idea yang membentuk sebuah kesatuan karya yang mantap. Panel penilai memutuskan kumpulan puisi yang berjudul Jaulah Sampai Syurga sebagai layak diberikan Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2014.

ULASAN KARYA PEMENANG

Jaulah Sampai Syurga karya Muzaf Ahmad

Kumpulan ini mengandungi 51 buah sajak yang dihimpunkan dalam empat bahagian, masing-masing Saat Melihat Cermin Hakikat ,Tali Ukhuwah yang Dipauti, Tentang Manusia yang Berjuang, dan Berguru dengan Cikgu. Secara umumnya, kumpulan Jaulah Sampai Syurga memuatkan sehimpunan karya yang jernih dan boleh dikatakan bening dari segi pengucapannya. Subjeknya diselimuti nafas keislaman yang halus dan semerbak di mana-mana.Jaulah Sampai Syurga merupakan antologi pengembaraan; Islamik, realistik dan nostalgik. Pandang alamnya konsisten dari mula sampai akhir. Pengisahannya bersifat individualistik sekaligus universal. Puisi-puisi dalam kumpulan ini dapat dinikmati dan dihayati daripada ‘jendela’ yang berbeza. Hal ini merujuk kualiti pengucapan yang sederhana tetapi menuntut renungan; isu persaudaraan tulen sesama insan sebagaimana fitrahnya kejadian manusia. Fitrah manusia suci murni, anjurannya kita kembali kepada fitrah ini, merenung hal-hal yang dianggap kecil dan sering diabaikan padahal ianya formula paling tepat untuk mewujudkan hubungan baik sesama manusia. Isu kesejahteraan hidup sesama insan dan unsur alam yang lain ialah isu universal.

Sejumlah 51 buah puisi yang dititipkan kepada khalayak terungkap dalam bahasa yang puitis, kemas dan padat yang menyelitkan sisi ambiguiti yang menyerlahkan sifat puisi yang indah. Selain itu, gugusan puisi dalam kumpulan ini digarap sarat kesedaran dan keinsafan tentang makna ukhuwah, dahwah dan pengabdian.

Persoalan ukhuwah membawa makna besar dalam konteks yang sangat luas; manusia belajar dari alam, alam membawa petanda kekuasaan Ilahi, manusia juga belajar dengan manusia; manusia dan seluruh isi alam adalah petanda kekuasaan Maha Pencipta. Manusia menyedari kekerdilan diri berhadapan kekuasaan-Nya; dalam ‘wuduk’ kekerdilan dan kekhilafan diri terpamer, sebagaimana tergambara dalam rangkap ini;

mengapa terlalu jauh
aku hincut berlari
sedangkan rumah-Mu ini
tak berdinding atau berpintu
lagikan sejengkal di depan mataku.
saat kupulas pili taubat
Kau-salirkan air keampunan
keluar menderu-deru ke telapak tangan
untuk kujirusbilas dosa yang berjerebu
di jari, muka, siku, ubun dan kakiku.


Amalan berwuduk sebagai syarat menunaikan solat, membaca al-Quran dan melakukan pelbagai perkara dalam kehidupan sering dianggap sebagai tuntutan biasa padahal berwuduk mengandungi hikmah yang tiada batasnya, lebih-lebih lagi memberi kebaikan kepada individu yang mengamalkannya. Hikmah amalan berwuduk disisipkan dalam bandingan yang sangat mudah tetapi berkesan. Jagat keampunan yang tiada batasnya anugerah Allah tersisip kemas dalam ungkapan yang berikut;

aku masuk ke pintu Keampunan-Nya
yang luas terbuka
melihat potret silamku tergantung
seperti mengira dosaku yang tak terhitung.

Pengalaman mematangkan manusia; memberi pengajaran baik dan buruk, namun keyakinan tentang lorong-lorong pengalaman jauh lebih bermakna kerana daripadanya muncul kesedaran, kepasrahan dan kepercayaan, perhatikan:

jalan ini telah melorongkan
kepercayaan.
aku akan jatuh
jatuh dan bangkit
jatuh dan bangkit lagi
jika tidak,
hari ini tentu
aku sedang lumpuh
lumpuh
tak
berkaki.

Sebagai sebuah kumpulan, Jaulah Sampai Syurga dilihat padu. Keseluruhan karya menjuruskan maksud yang terkandung dalam judulnya, yang mengikat kejap idealisme yang diperjuangan pengarangnya. Dalam kesederhanaan gaya pengucapannya, terdapat pemilihan dan penggunaan imej yang berpadanan, penggunaan pelbagai unsur figuratif bahasa bahkan di sana sini, pengarang menyisipkan kata-kata filsafat yang mampu menggugah intelektual pembaca. Falsafah pemikiran yang jernih terpamer dalam banyak puisi, antara contohnya dalam “Titik Perbezaan”;

mengapa dicari titik perbezaan
sedangkan titik persamaanlah
yang mencantum kebijaksanaan
dari kerikil yang memecahbelahkan.

Persamaan dan perbezaan adalah sesuatu yang lumrah. Kejadian manusia yang istimewa setiap satunya adalah petanda kekuasaan Ilahi, dan setiap satunya pula mengandungi hikmah. Justeru, persamaan menemukan manusia dengan kesatuan, kefahaman, kerukunan dan kebijaksanaan berbanding perbezaan yang memisahkan, memecahkan hubungan baik sesama manusia. Beberapa buah puisi yang khusus berbicara tentang kehidupan getir rakyat Pelestin menyajikan sisi yang berbeza, iaitu sebagai pengajaran yang mematangkan keinsafan, kekaguman terhadap perjuangan dan kepasrahan warganya yang tertindas dan terdera. Di samping itu. rentetan kekejaman di bumi anbiya itu terus menyorot keegoan, kesombongan dunia, kemabukan kuasa dan ketidakpekaan negara-negara jiran Palestin. Jelas, puisi-puisi ini diungkapkan dalam kelembutan dan ketajaman minda serta berimpak pada khalayak.


KATEGORI B: PUISI ECERAN

Sekretariat HSPM 2014 menerima sejumlah 2,181 buah puisi daripada pelbagai sumber media penyiaran sepanjang tahun 2014 yang lalu. Daripada jumlah itu, dilakukan dahulu penilaian di peringkat saringan, dan hasilnya sebanyak 126 buah karya dibawa ke mesyuarat penilaian akhir. Panel menilai dengan teliti, dan mengambil kira segenap aspek yang perlu untuk memilih karya yang didapati berkualiti; yang bererti mempunyai muatan subjek yang baharu, segar serta digarap dengan menggunakan medium bahasa yang juga segar dan kaya estetik, serta dapat mengangkat pemikiran kepada khalayak. Karya sewajarnya boleh membuka minda khalayak pembaca juga, dapat mempertingkatkan kefahaman kepada kehidupan dan kemanusiaan, tidak terkecuali mendekatkan diri mereka kepada Tuhan Pencipta Sekalian Alam. Karya seharusnya juga dapat menjadi penanda aras yang baharu kepada bidang penulisan puisi di negara kita.

Setelah menilai dengan penuh saksama, sebanyak 33 buah puisi disenaraipendekkan untuk dibawa ke peringkat akhir. Hasilnya, 10 karya yang berikut ini diperakukan sebagai layak diberikan Hadiah Sastera Perdana Malaysia 2014, iaitu:

1. “Di Padang Sarjana”, Tuah Sujana, Mingguan Malaysia, 5 Januari 2014.

2. “Kalaulah Papa Memukulmu, Adib”, Rahimidin Zahari, Mingguan Malaysia, 23 Februari 2014.

3. “Kepada Perempuan Laut”, Siti Zainon Ismail, Dewan Sastera, Jun 2014.

4. “Rezeki Bumi”, Siti Zainon Ismail, Dewan Sastera, Jun, 2014.

5. “Perkebunan Budaya Melayu”, Basri Abdillah, Dewan Budaya, Julai 2014.

6. “Membaca Aksara”, Muhammad Haji Salleh, Dewan Masyarakat, Julai 2014.

7. “Tigris”, Rosli K. Matari, Jendela Timur, Ogos 2014.

8. “Dari Mimbar Shinjuku”, Syafiq Zulakifli, Mingguan Malaysia, 30 November 2014.

9. “Al-Kisah, di Negara yang Memansuhkan Bahasa”, Muhammad Haji Salleh, antologi ‘Nyala Api dalam Dada’, terbitan ITBM, 2014.

10. “Mencari Jernih”, Shapiai Mohammad Ramly, antologi ‘Cerita Alam Gelora Hujung Benua’, DBP Wilayah Selatan, 2014.

ULASAN KARYA PEMENANG

“Di Padang Sarjana” karya Tuah Sujana

Puisi ini melihat satu sisi kehidupan para sarjana di menara-menara gading khususnya yang berlumba-lumba mengejar kecemerlangan, nama, kuasa dan pengaruh. Mereka berbalah sesama sendiri, mempertahankan secebis ilmu yang dimiliki, berasa hebat dan sombong diri. Di bahu mereka sebenarnya tergalas amanah besar dari Allah SWT agarmenjadi pemimpin yang bersahsiah tinggi bukan bercakaran sesama sendiri. Hal ini dapat dikesan dalam petikan ini;

bagaikan gelanggang sabung
perbezaan adalah senjata
tatkala wacana dicairkan
dimensi dikecilkan

Pencapaian dalam bidang ilmu masing-masing sehingga dikelompokkan dalam kalangan sarjana hanya cebisan ilmu yang berjaya diraih dengan izin-Nya. Justeru, amanah untuk memakmurkan ilmu tersebut wajar difahami. Setiap ilmu itu pula punya tempatnya yang tersendiri dan para sarjana jarang menghormati bidang ilmu di luar bidang ilmu yang dikuasainya. Senario inilah yang menjadikan mereka sering bertelagah sehingga lupa tentang amanah yang telah dipertanggungjawabkan.

“Kalaulah Papa Memukulmu, Adib” karya Rahimidin Zahari

Puisi ini memperkatakan isu sejagat, iaitu kasih sayang. Dengan kasih sayang, hati manusia mampu dilenturkan dan dapat membangun manusia dan kemanusiaan. ‘Papa’ mewakili pemimpin keluarga atau negara yang bertanggungjawab memastikan kesejahteraan setiap ahlinya atau masyarakatnya. Dalam konteks ini anak-anak adalah amanah yang telah dipertanggungjawabkan kepada ketua keluarga. Pendidikan adalah aset berharga buat si anak; anak mewakili generasi muda yang wajar menerima didikan yang baik yang dengannya dapat dipastikan kebaikan sahsiahnya.

Dalam kehidupan ini, setiap kehidupan tidak mungkin mencapai kesempurnaan meskipun bagi mereka yang telah berada di puncak kejayaan, justeru cerdik pandai juga wajar menerima teguran, pendapat dan perkongsian buah fikiran. Sekalipun teguran itu pahit, jika ia benar maka berlapang dadalah menerimanya secara terbuka. Sama juga dalam mendidik anak-anak, jika perlu dipukul untuk mengajar maka itu hanya untuk kebaikan, kerana kasih sayang bukan hanya ditunjukkan dengan belaian.

“Kepada Perempuan Laut” karya Siti Zainon Ismail

Puisi ini mempamerkan antara lain kisah kehidupan sukar wanita di pesisir pantai di Indonesia,hatta di mana-mana jua pun; bergelut untuk hidup di samping mempertahankan maruah, adat dan budaya. Oleh tuntutan yang sentiasa menghimpit, keunggulan wanita lampau menjadi inspirasi. Keistimewaan wanita pulau di Penyengat Tembilahan dilihat dari segi kekayaan serta keunikan tradisinya, cara mereka berpakaian, beradat malah pada keunikan masakan tempatan.

Namun kini, dibimbangi sebahagian daripada tradisinya, ilmu pencak silat, perhiasan wanita dengan keunikan seninya perlahan-lahan akan pupus. Warisan yang masih bersisa perlu diselamatkan dengan kesedaran, ilmu dan kewajipan. Fenomena yang dikisahkan hanya secepis dari kisah kemusnahan; pemerhatian, bukti atas kemusnahan itulah yang wajar menjadi pengajaran. Susuk budaya yang kaya akan lenyap dan tidak akan kembali lagi. Puisi elegi ini sekaligus gagasan mempertahankan tradisi yang dimiliki oleh gugusan pulau-pulau Melayu di Nusantara.

“Perkebunan Budaya Melayu” karya Basri Abdillah

“Perkebunan Budaya Melayu” adalah refleksi terhadap khazanah Melayu bangsa serumpun yang dimiliki; meliputi bahasa, kesusasteraan, ketamadunan, sejarah dan kesenian. Kekayaan tradisi sastera, bahasa dan kesenian berupaya menentukan kelangsungan bangsa yang bertamadun. Setiap satunya dengan yang lain-lainnya saling melengkapi. Peri betapa besarnya peranan bahasadapat dilihat pada:

dahan menunjang wacana
ranting mengimbang neraca bicara
daun melampirkan kalam aksara

Bahasa juga menjadi jambatan penghubung bangsa serantau Nusantara. Kesusasteraan mempamerkan kaitan estetik yang berkuasa sebagai pendamai apabila terbibitnya prasangka. Warisan seninya pula menjadi jambatan penghubung yang berkesinambungan serta mempamerkan kekayaan ketamadunan bangsa Melayu.

“Membaca Aksara” karya Muhammad Haji Salleh

“Membaca Aksara” adalah sebuah penelitian yang rapi tentang makna kata; dari kata ke kata. Aksara adalah himpunan setiap huruf dengan maknanya yang luar biasa. Aksara wajib dikenali, dipelajari dan difahami. Aksara dalam huruf jawi adalah bahasa wahyu, bahasa al-Quran. Bagaimana mungkin aksara yang begitu berharga dilupai begitu sahaja? Misalnya sebagaimana yang terungkap dalam‘…pasir babak dibiarkan bergolak/ hingga kuala keruh…’ pada hal, aksara itu titian pada kata dan pengkisahan; tentang hidup dan kehidupan. Akhirnya, puisi ini menegaskan tentang kepentingan dan kehebatan aksara kepada bangsa dan zaman, perhatikan;

…semangat dan roh
yang bijaksana dan memerhati sejarah.
gerak jiwa dan suara manusia.
semuanya berkata-kata
dan sarjanalah membentangnya
di rehal ilmu.
“Tigris” karya Rosli K. Matari


Tigris membawa tema sejarah dan peradaban. Sungai Tigris yang terletak dalam negara Iraq dijadikan lambang sebuah peradaban manusia yang besar yang mengenalkan kepada pembaca erti kemajuan pada masa lampau dan juga kelangsungan kemajuan masa akan datang. Namun, peradaban yang terbina telah musnah disebabkan perang yang berpanjangan. Sajak ini menampakkan sikap sensitif penyajak terhadap nilai sejarah dan peradaban.Tigris adalah realiti sebuah sejarah, tetapi maksud yang ingin disampaikan penyajak melewati sempadan Tigris itu sendiri.

Penyajak menyuakan pertanyaan tentang masa depan, dan juga tentang perihal warisan peradaban lampau yang musnah; bahawa semuanya akan hancur menjadi sejarah yang hanya mampu ditagisi. Karya ini boleh memberi kesedaran moral yang mendalam kepada kalangan generasi baharu supaya mencintai sejarah dan peradaban bangsa, serta menjauhi perkara-perkara yang memusnahkan kehidupan serta peradaban mereka.

“Dari Mimbar Shinjuku” karya Syafiq Zulakifli

Karya merentangkan suatu bandingan antara manusia yang telah diberi ruang dan peluang mempelajari dan mempraktikkan agama, tetapi tidak menjaganya dengan baik malah mengabaikannya; berbanding masyarakat di Jepun; Shinjuku, Yokohama dan Hiyoshi yang tersesat dalam kemajuan dan kemodenan, akan tetapi kurang mempedulikan akidahnya.

Justeru, hasrat membawa mereka bersama-sama pulang pulang ke landasan benar merupakan suatu kewajiban yang mulia.Meskipun suara penyair merujuk diri, namun persoalan dakwah merupakan tanggungjawab seluruh umat manusia yang cinta akan Allah dan Rasul-Nya. Kewajiban berdakwah tidak memilih bangsa dan warna kulit atau sempadan geografi.

“Rezeki Bumi” karya Siti Zainon Ismail

Puisi ini menyorot keajaiban ciptaan Allah bemula dengan Nabi Adam yang dihantar ke bumi untuk menunaikan amanat memakmurkan alam; melahirkan zuriat dan keturunan manusia. Sesudah itu mereka diuji kerana kasih sayang-Nya; hikmah kesabaran menempuh ujian dibalas kebaikan dunia dan akhirat. Untuk anugerah yang besar itu manusia diingatkan untuk tidak bersikap angkuh, setelah diberikan pelbagai nikmat berkeluarga, bumi yang kaya-raya, dilimpahi makanan dan sumber bumi, seperti yang diungkapkan dalam baris-baris berikut ini:

Masihkah kau lupa
pabila kekayaan tiba
melupakan petaka menjadi bangga
menakluk sendiri harta Ilahi?

Karya ini menganjurkan agar manusia menelusuri sejarah nabi Adam seterusnya menjadikannya sebagai iktibar, hanya ‘…kerana sebutir buah terlarang/ kami berpisah panjang!’ Demikian hukuman yang diterima oleh Adam dan Hawa yang asalnya penghuni syurga!

“Al Kisah,Di Negara yang Memansuhkan Bahasa” karya Muhammad Haji Salleh

Puisi ini padat dengan pengucapan yang tegas dan bermakna. Isu yang diperkatakan ialah isu besar, iaitu bahasa yang berimpak kepada sejarah, ketamadunan dan maruah bangsa.Kekuatan bahasa Melayu dijelaskan seperti yang berikut:

bahasa itu merdu, lekat pada bibir dan usia.
segala rasa fikir ditebar di dalam jaringnya
segala tindak dan putusan dicatat dalam lenggoknya

Pihak tertentu telah membuat keputusan yang tidak bijak; mengabaikan bahasa Melayu sebaliknya mengagungkan bahasa asing. Kemusnahan ini dilihat sebagai kemusnahan bangsa dan kebudyaannya. Suatu kehilangan yang besar dan sukar dibangunkan semula gara-gara ‘bijak pandai’ yang sebenarnya ‘tidak bijak’. Ironisnya tiada sesiapapun yang berani bersuara, ‘… seperti negeri ditampar geroda/ tiada yang berani menggerakkan bibir…’ Puisi ini diungkapkan dalam bahasa sinis. Bahasa dan sejarah ‘… sudah dibuang ke pelimbahan/ dan sastera yang ditutup masa depannya...” Impak daripada perbuatan mengabaikan bahasa seperti mengkhianati leluhur! Bahasa asing diutamakan sehingga membentuk jurang kefahaman, kesetiaan, jati diri dan ketamadunan.

“Mencari Jernih” karya Shapiai Mohammad Ramly

Jernih adalah ungkapan yang mempunyai makna berganda. Dalam puisi ia memungkinkan lahirnya apa yang dipanggil ambiguiti. Kejernihan embun, air yang mengalir, cahaya yang bersinar, cermin yang membiaskan rupa sering dikaitkan dengan makna kejernihan sama ada sebagai lambang atau membawa makna langsung. Sama juga dengan kisah yang dipaparkan dalam puisi ini, mencari penyelesaian pada permasalahan alam sekitar; bakau yang menjadi benteng teluk dan pantai perlu dipastikan kewujudannya. Sungai-sungai yang jernih telah ditimbus kerana pembangunan, lautan menjadi cetek kerana ditimbus menjadi tapak industri dan kediaman mewah.

Kemusnahan ini sukar dibayar kerana alam anugerah Tuhan, sekali dimusnahkan sukar diganti dan tidak lagi hadir dalam rupanya yang asli dan murni. Kemusnahan alam bukan isu baru, tetapi isu yang tiada berkesudahan.Puisi ini memilih jalan tengah, iaitu mencari penyelesaian. Dalam makna pelambangan, ‘jernih’ boleh ditafsir sebagai ketelusan dan keikhlasan. Ramuan kejernihan ini adalah agama; kepercayaan kepada Tuhan. Agama mengajarkan kebaikan, untuk diri, sesama manusia dan sesama makhluk. Jika agama dipertahankan maka kejernihan akan menjadi diri yang daripadanya tertampil perbuatan, amalan, kata-kata yang baik dan memberi kebaikan kepada sesama manusia dan alam. Kebaikan adalah refleksi diri manusia yang jernih sifatnya. Stanza akhir puisi ini merakam fenomena masa kini, dengan jelasnya;

Ketika orang mencari benar
kita masih mengharap sinar
ketika orang mencari jernih
kita masih melangkah jerih.

Pengucapan ini mempamerkan kekesalan tentang sikap dan pelakuan mereka yang dianggap tidak mahu berubah sehingga mereka dilihat sebagai ketinggalan dan pasif.


KESIMPULAN

Demikian, sebuah kumpulan puisi yang berjudul Jaulah Sampai Syurga diangkat menjadi penerima HSPM 2014 kali ini. Sebagai sebuah kumpulan puisi, ia diharap dapat mengalirkan intipati makna karya kepada pembaca. Subjek yang mendasarinya dikira kukuh dalam pengucapan yang mampu mengangkat apresiasi tinggi. Kumpulan ini dihasratkan berupaya menghembuskan kesegaran baharu kepada pengalaman pembacaan, penikmatan dan resepsi khalayak di persada kesusasteraan Melayu kita. Manakala, 10 buah puisi dari jumlah 2,181 yang tersiar dalam pelbagai media penerbitan sepanjang tahun 2014, yang kemudian disaring awal sehingga 126 buah, yang telah dipilih memenangi HSPM 2014 ini sesungguhnya mampu menggugah indera pembaca, bukan sahaja bersandarkan subjeknya yang selektif, tersaring baik dan matang dari segi pengolahan, akan tetapi pengarangnya membuktikan telah menggunakan bahasa yang kreatif serta segar dalam menghantarkan mesej tersiratnya kepada khalayak.

Disediakan oleh:

Dr. Lim Swee Tin
Dr. Sakinah Abu Bakar
Prof. Madya Dr. Abdul Halim Ali

dewan sastera

16 Jan 2016

bayang


bayang

akan tertulis bayang
pada laut berombak tenang
ketika matahari sedang jauh meninggalkan
tak lagi didekatmu cahaya dan warna itu
semua berganti pergi
haluan semakin berbeza
harapan semakin berlainan
begitu dalam waktu
tak selamanya kita bersama
menggenggam harapan serupa
berdiri dengan nyala dan tekad bersama
menjamah perjuangan 
melawan keraguan menentang kesangsian

akan ada waktu
kita akan berada dalam pengasingan
kau akan meneruskan perjalanan
dan aku berada di lain pengkalan
menatap langit yang serupa
tapi dari jarak yang lebih berbeza
apa yang tinggal
adalah bayang
menetas dan membiak
dalam rumah kenangan

di situ aku tak bisa lagi
membawamu berjalan dan memandu haluan
dengan kakimu dengan jiwamu
kauharus meneruskan 
apa yang terbenam dalam mimpimu
jangan pula kauanggap segalanya akan sirna
telah kuajarkan kaumerempuh gelombang
tak selamanya aku bisa menatapmu
kerana satu waktu
antara kita ada yang tiada

biarlah hanya bayang
mengukur antara tempatmu dan jauh beradaku
di situ kita akan lebih tahu
bahasa rindu
dan sejauhmana kaupercaya
segala pedoman dan kata-kataku


13 Jan 2016

tetamu


tetamu

menunggu waktumu
bertamu di pintu itu
dengan apa lagi harapan
terimalah aku
dalam sujud dan doa
terlalu banyak yang tak sempurna
terimalah aku
dalam payah dan hina
berada dalam
cahayamu

permudahkanlah
segala apa yang kuperlakukan
menuju pintumu



gelombang I 2013-2015

Gelombang 1 PPPM memberangsangkan
Oleh Mahaizura Abd Malik



Kuala Lumpur: Pelan Pembangunan Pendidikan Malaysia (PPPM) 2013-2025 dirangka bagi menyediakan pendidikan terbaik untuk pelajar sebagai persediaan menjadi modal insan produktif yang menyumbang kepada kemakmuran negara.

Pelan memakan masa 13 tahun pelaksanaan mengandungi tiga gelombang utama dengan setiap satunya memberi tumpuan kepada keseluruhan membabitkan transformasi sistem pendidikan negara.

Kementerian Pendidikan mengakui transformasi sektor pendidikan suatu perjalanan mencabar, namun usaha berterusan semua pihak terbabit dalam mendukung hasrat PPPM 2013-2025 ternyata bukan mustahil mencapai kejayaan untuk membawa perubahan baru.

Gelombang 1 memberi penekanan kepada mengubah sistem dengan memberi sokongan kepada guru dan penekanan kepada kemahiran teras manakala Gelombang 2 memacu peningkatan sistem serta Gelombang 3 pula menganjak ke arah kecemerlangan melalui peningkatan keluwesan operasi.

Dua tahun pertama pelaksanaan Gelombang 1 (2013-2015) digariskan dalam PPPM 2013-2025 diakui satu permulaan yang menjadi batu asas kepada transformasi pendidikan negara, namun beberapa kejayaan awal dicapai terutama perubahan ketara kemajuan pendidikan dalam bilik darjah dan peningkatan standard kualiti mengajar guru.

Turut menjadi fokus dalam Gelombang 1 ialah penguasaan asas Bahasa Melayu selepas tiga tahun dalam sekolah rendah mencapai 98.7 peratus serta numerasi (98.4) melalui program Saringan Literasi dan Numerasi (LINUS) manakala seramai 10,100 guru dihantar menyertai latihan di bawah Profisiensi Guru Bahasa Inggeris (ProELT).

Kementerian memfokuskan kualiti pelajar dalam menguasai bidang pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Kejuruteraan dan Matematik) yang dipertingkatkan dalam kurikulum.

Turut diubah dalam tempoh dua tahun ini ialah menyusun semula soalan peperiksaan kepada pemikiran menggunakan Kemahiran Berfikir Aras Tinggi (KBAT) selain juga mempertingkatkan praktikal dalam program vokasional melalui kolaborasi dengan sektor swasta.

Pada masa sama, jumlah kemasukan murid ke prasekolah mencapai 92 peratus berbanding 84.2 peratus pada 2014, menengah (88.7 peratus) pada 2015 serta peningkatan kemasukan anak Orang Asli di sekolah rendah dan menengah mencapai 41,207 murid (2014) berbanding 38,871 pada 2012.

Sejumlah 2,140 sekolah terbabit dengan 3,070 projek menaik taraf infrastruktur termasuk membaik pulih kelas, tandas, struktur fizikal (bumbung, dinding, pendawaian, mengecat) serta air terawat yang selamat diminum.

Pada masa sama, Rancangan Integrasi Murid Untuk Perpaduan (RIMUP) dijalankan di 3,011 sekolah dengan penglibatan 20,916 murid dan pengurusan dilatih mengenai konsep program menerusi aktiviti tradisional seperti tarian, sukan, karnival bahasa selain debat perpaduan.

Kementerian juga memastikan 6,623 sekolah dirangkaikan dengan program 1BestariNet serta capaian Internet lebih stabil dan kelajuan optimum.

Melangkah ke 2016, kementerian sekali lagi komited meneruskan misi pelan dengan pelaksanaan Gelombang 2 (2016-2020) memfokuskan beberapa perkara yang lebih kritikal.

Dalam Gelombang 2, kementerian bakal melancarkan kurikulum sekolah menengah dan menyemak semula kurikulum sekolah rendah di samping meningkatkan kesedaran dan minat masyarakat kepada bidang STEM selain meningkatkan pendedahan Bahasa Inggeris sebagai fokus utama, selain penambahan bahasa lain.

Pada masa sama, meningkatkan program kepada kumpulan sasar seperti pribumi, keperluan khas dan kumpulan minoriti lain di samping mempercepatkan inovasi komunikasi dan teknologi maklumat (ICT) terutama membabitkan pembelajaran jarak jauh.

Selain itu, turut menjadi fokus mempertingkatkan bimbingan dan sokongan guru untuk membaiki sistem penyampaian pengetahuan, kemahiran dan nilai lain serta memperluaskan pilihan pendidikan vokasional.

Kejayaan pelajar dalam Gelombang 1


Seramai 114 murid dan guru daripada 21 sekolah seluruh negara yang menyertai program Tarian Integrasi Nasional
mengungguli juara Pertandingan Tarian Integrasi Kebangsaan 2014 hasil daripada pelaksanaan RIMUP.


Tiga pelajar dari Kolej Vokasional Teluk Intan, Perak iaitu Yasril Yahya, Noor Syafiqah Diana Mohamad Ghazali dan Nurul Fila Hazuin Mohd Kassim berjaya mengalahkan 20 negara bertanding menerusi kejayaan memenangi pinggat emas dalam International Engineering Invention and Innovation Exhibition (i-ENVEX) 2014 yang berlangsung di Universiti Malaysia Perlis (UNIMAP) pada 2014.


Muhammad Danial Redzuan (pengkhususan Teknologi Kimpalan) dan Nor Hafizi Shaharudin (pengkhususan Pemesinan Industri) pelajar Kolej Vokasional Slim River, Perak diumumkan sebagai johan Pertandingan Roket Air sempena Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF) yang diadakan di Universiti Funabashi, Kampus Chiba, Jepun pada 28 November hingga 1 Disember 2014.

Sepanjang 2014, empat Sekolah Sukan di seluruh negara muncul johan dalam Sukan Sekolah-sekolah ASEAN (ASG Ke-6), Manila, Filipina, Kejuaraan Hoki Sekolah-Sekolah Asia ke-4, Ipoh, Malaysia, Bola Sepak FAM – Piala Kejohanan Asia FRENZ U16, KL, Malaysia, selain meraih pinggat emas dalam Wushu Belia Dunia, Antalya, Turki.

Sekolah Seni Malaysia Sarawak di Kuching muncul juara keseluruhan International Folk Dance Competition Timisoara, Romania yang berlangsung pada 24 hingga 27 Julai 2014.

metro



Transformasi pendidikan dilaksana dalam 3 gelombang
6 September 2013

KUALA LUMPUR 6 Sept. - Tranformasi pendidikan negara seperti yang terkandung dalam Pelan Pembangunan Pendidikan Malaysia (PPPM) 2013-2025 akan dilaksanakan dalam tiga gelombang.

Gelombang 1 (2013-2015) memberi penekanan kepada menambah baik sistem dengan mempercepat perubahan kaedah pelaksanaan program.

Dalam tempoh pelaksanaan itu, tumpuan diberikan kepada kaedah peningkatan kualiti pengajaran dengan meningkatkan kualiti guru sedia ada, meningkatan kualiti kepimpinan sekolah dan meningkatkan kadar literasi Bahasa Melayu, Bahasa Inggeris dan numerasi.

"Menjelang akhir Gelombang 1, kementerian akan memastikan semua guru, pengetua/guru besar dan sekolah mencapai tahap minimum standard kualiti yang dihasratkan," menurut pelan yang dilancarkan Timbalan Perdana Menteri yang juga Menteri Pendidikan Tan Sri Muhyiddin Yassin hari ini.

Dalam Gelombang 2 (2016-2020), kementerian akan melaksana perubahan struktur pendidikan negara untuk mempercepat perjalanan perubahan kepada semua inisiatif yang bermula semasa Gelombang 1, antaranya pergerakan kesemua 410,000 guru dan 10,000 pengetua/guru besar kepada pakej kerjaya baharu dan penstrukturan semula kementerian.

Kurikulum standard sekolah rendah dan menengah yang disemak semula juga akan diperkenal dalam usaha menangani kebimbangan mengenai pengetahuan, kemahiran dan nilai untuk maju sesuai dengan perkembangan ekonomi dunia hari ini.

Gelombang 3 (2012-2025) akan memfokus kepada anjakan ke arah kecemerlangan dengan peningkatan keluwesan operasi, di mana pada permulaan gelombang ini, semua sekolah, guru dan pengetua/guru besar perlu menunjukkan prestasi melebihi standard minimum.

Kementerian juga akan menganjakkan kebanyakan sekolah kepada model pengurusan berasaskan sekolah dan membangunkan model kejayaan sekolah berdasarkan inovasi dalam pengajaran, dalam usaha membangunkan sistem pengekalan kemajuan kendiri yang mampu untuk mencetuskan inovasi dan meningkatkan pencapaian yang lebih tinggi.

Bagi memastikan objektif PPPM terlaksana, kementerian juga akan melaksanakan beberapa tindakan, termasuk mengekalkan komitmen dan tumpuan dari kepimpinan atasan terhadap pelan ini, serta penubuhan satu unit kecil iaitu Unit Pelaksanaan dan Prestasi Pendidikan (Padu) untuk memacu pelaksanaan PPPM.

Padu akan mempunyai kuasa eksekutif dan berperanan memantau kemajuan, menyelesaikan isu pelaksanaan dengan pegawai bertanggungjawab dan berkomunikasi dengan pihak berkepentingan tentang transformasi.

Kementerian juga akan mewujudkan sistem pengurusan prestasi melalui KPI yang jelas, selain terus melibatkan pegawai kementerian dengan pihak berkepentingan yang lain untuk mendapatkan maklum balas dan input bagi memastikan keseluruhan sistem pendidikan terlibat dalam proses transformasi ini. - BERNAMA

utusan online


 





STATUS

Search This Blog

DAUN