secebis

Blog Mimbar Kata

bahasa dalam puisi

blog mimbar kata

menatap kepayahan dalam denu

blog mimbar kata

kau ada

blog mimbar kata

16 Feb 2014

Letusan Kelud

Letusan Gunung Kelud. Selepas kejadian Gunung Sinabung meletus baru-baru ini, satu lagi gunung berapi di Indonesia meletus dan memuntahkan laharnya. Gunung Kelud yang terletak di wilayah Kediri di Jawa Timur mula meletus pada pukul 10.50 malam (waktu Indonesia Barat). Kejadian itu disahkan oleh Ketua Pelaksana Bidang Pengamanan dan Penyelidikan Gunung Api, Kediri, Indonesia, Gede Suartika.Gunung setinggi 1,731 meter itu telah meragut 15 ribu nyawa sejak 1500. Letusan pada tahun 1568 telah meragut 10 ribu nyawa. Ia adalah satu daripada 130 gunung berapi yang masih aktif di Indonesia dimana ia terletak dalam lingkaran gunung berapi sekitar Lautan Pasifik.

Apa yang terjadi adalah peringatan Allah kepada kita. 
Marilah kita merenung seketika bagaimana segalaanya terjadi sebagai iktibar dan pedoman untuk kita.



Dentuman dan Kilat Iringi Letusan Kelud

TEMPO.CO, Kediri - Hanya berselang satu jam setelah penetapan status Awas, Gunung Kelud di Kabupaten Kediri, Jawa Timur mengalami erupsi. Letusan kali ini terasa sangat kuat dengan kilatan dan dentuman yang terjadi berulang kali. (Baca: Hujan Kerikil di Kediri)

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Kediri Edy Purwanto mengatakan setelah ditetapkan status Awas pada pukul 21.50 WIB, Gunung Kelud mengalami letusan pada pukul 22.50 WIB. "Ini cepat sekali," kata Edy kepada Tempo, Kamis 13 Februari 2014.

Menurut dia, erupsi kali ini sangat mencekam karena terjadi pada malam hari dan disertai lemparan material padat berupa kerikil dan pasir. Dentuman serta kilatan yang berasal dari puncak Kelud menambah suasana pengungsian menjadi mencekam. Saat ini petugas masih berusaha melakukan evakuasi warga yang berada di radius 10 kilometer dari puncak Kelud.

Saat ini para pengungsi dari tiga desa yakni Sugihwaras, Sempu, dan Babadan sudah berkumpul di tempat-tempat pengungsian di Kecamatan Wates. Mereka berdiam di gereja, balai desa, dan gedung sekolah yang sudah dipersiapkan sebagai tempat mengungsi.

Warga telah merasakan Gunung Kelud meletus. berbagai saksi mata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menyatakan status Gunung Kelud menjadi Awas atau Siaga IV. "Radius ditetapkan 10 kilometer dari puncak kawah Gunung Kelud," kata Sutopo saat dihubungi, Kamis 13 Februari 2014.

Sutopo menuturkan naiknya status Gunung Kelud ke Siaga IV berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. "Adanya peningkatan instrumental dari aktivitas vulkanis, seismisitas, dan pengamatan visual dari Gunung Kelud," kata dia.

Dengan naiknya status Gunung Kelud, Sutopo melanjutkan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan PVMBG, Pemerintah Daerah Blitar, Kediri, dan Malang. "Ada sekitar 200 ribu jiwa lebih masyarakat dari 36 desa yang tinggal dalam radius 10 kilometer," ujar Sutopo.

Sejarah kegunungapian di Indonesia mencatat letusan Gunung Kelud yang berada di persimpangan wilayah Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang tak pernah kecil. Bahkan sejak tahun 1000 hingga abad 20 gunung ini telah meletus sebanyak enam kali dengan jumlah korban jiwa yang cukup besar.

Berdasarkan Data pusat informasi di Pos Pemantauan Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri menyebutkan letusan yang terjadi pada tahun 1586 telah menewaskan sedikitnya 10.000 jiwa. Jumlah tersebut adalah terbesar dalam sejarah letusan Gunung Kelud.



Abu Kelud Landa Surabaya, Sidoarjo dan Pasuruan

TEMPO.CO, Jakarta -Hujan abu Gunung Kelud juga melanda sejumlah kawasan di pinggiran utara pesisir Jawa Timur di antaranya Surabaya, Sidoarjo, dan Pasuruan, Jumat dinihari, 14 Faebruari 2014. Pantauan Tempo di sepanjang jalan di tiga daerah tersebut, abu mengguyur tipis seperti embun.

Tempo merasakan sendiri guyuran abu tipis tersebut di sepanjang jalan dari Surabaya, Sidoarjo hingga Pasuruan. Mata akan terasa pedih karena abu masuk ke mata ketika kaca helm dibuka di dalam perjalanan menuju Malang.

Kap-kap mobil yang berseliweran di sepanjang jalan kotor oleh abu Kelud ini. Banyak mobil berhenti sejenak di pom-pom bensin di sepanjang Jalan Raya Gempol untuk membersihkan kaca mobilnya dengan air yang diambil dari pom bensin.

"Seperti habis rally Paris Dakkar. Debunya tebal di kaca," kata Budi seorang pengemudi mobil dengan plat nomer Surabaya di SPBU di Gempol. Budi bersama seorang temannya hendak pergi ke Surabaya dari Malang.

"Abu dari malang sampai sini," katanya. Hal yang sama juga dikatakan Suri, seorang pengendara sepeda motor yang ditemui Tempo di Jalan Raya Porong. "Mata pedih mas terkena abu Kelud," kata Suri kepada Tempo.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menyatakan status Gunung Kelud menjadi Awas atau Siaga IV. Status itu dikeluarkan pukul 21.15. Namun kurang dari dua jam sejak status dinaikkan, Gunung Kelud mengeluarkan material vulkanik.


SURYA / AHMAD ZAIMUL HAQ

SURYA / HAYU YUDHA PRABOWO


Kelud Melemah, Waspadai Lahar Hujan
Minggu, 16 Februari 2014 | 09:01 WIB

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
 Abu vulkanik dari Gunung Kelud menyelimuti permukiman dan lahan pertanian warga di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (15/2). Hingga saat ini proses evakuasi warga masih terus dilakukan dengan penyisiran ke rumah-rumah penduduk.


KEDIRI, KOMPAS.com — Aktivitas vulkanik Gunung Kelud di Jawa Timur, Sabtu (15/2), terpantau kian menurun meskipun belum stabil. Warga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan dan abu vulkanik yang diguyur hujan. Hingga kemarin, empat orang meninggal karena sesak napas.

”Aktivitas vulkanik tak sebesar dua hari terakhir. Namun, statusnya masih Awas dan tetap diberlakukan zona larangan 10 kilometer dari puncak,” ujar Kepala Pusat Badan Geologi Kementerian ESDM Surono, di Kediri, Sabtu.

Perhitungan itu berdasarkan beberapa indikator. Pemantauan pada pukul 06.00-12.00 terlihat asap putih keabuan setinggi 500-1.000 meter. Sehari sebelumnya mencapai 17.000 meter. Tingkat kegempaan pun menurun. Jika sebelumnya tremor menerus dengan amplitudo maksimum 10-15 milimeter, saat ini hanya 6 mm.

Meski aktivitas vulkanik menurun, Surono berharap masyarakat mewaspadai banjir lahar hujan (bukan lahar dingin). ”Hindari sungai saat hujan deras. Banyak material letusan terendap,” ujarnya. Kelud diperkirakan sudah memuntahkan 125 juta meter kubik material vulkanik. Sebagian besar tertampung di sungai di sekitar Kelud, seperti Sungai Badak dan Sungai Kuning.

Potensi lahar hujan makin besar di sekitar Kelud karena selain abu vulkanik juga ada tumbukan material padat berbagai ukuran, termasuk bongkahan batu besar. Abu bisa jadi penggelincir yang baik sehingga bongkah-bongkah batu besar itu mengalir ke tempat- tempat lebih rendah. ”Masyarakat di bantaran sungai harus hati-hati,” kata Surono.

Potensi lahar hujan bisa terjadi di semua daerah yang kini tertimpa abu vulkanik. Ketebalan abu pada radius 10 km mencapai puluhan sentimeter. Di kawasan Plosoklaten, Sugihwaras, Kediri —radius 8 km dari puncak Kelud —misalnya, abu vulkanik tebal bercampur kerikil. Kondisi serupa menyebar hingga Ngantang, Kabupaten Malang.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Hendrasto mengatakan, selain banjir lahar hujan, potensi awan panas juga ada. Namun, berdasarkan pengalaman, awan panas hanya akan mencapai jarak maksimal 10 km dari kawah saat terjadi letusan besar.

Bersihkan abu

Abu vulkanik letusan Kelud harus segera dibersihkan untuk mengurangi risiko. ”Pukul empat pagi setelah letusan, sebagian masyarakat mulai membersihkan abu vulkanik di rumah,” kata Sutrisno, Direktur Perkumpulan Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan Indonesia (Kappala), LSM pengurangan risiko bencana di Gunung Kelud.

Masyarakat sekitar terbiasa membersihkan abu vulkanik di atap rumah menggunakan tempurung kelapa yang dihubungkan dengan galah panjang. Karena tempurung kelapa sulit didapat, masyarakat mengganti dengan kaleng bekas. Namun, abu dibiarkan menumpuk di tanah.

”Abu di atap rumah harus segera dibersihkan sebelum hujan turun,” kata Surono. Abu yang terkena air akan mengeras, mirip campuran semen dan air. Itu membuat ambruk atap dan merobohkan dinding rumah yang tidak didesain menyangga beban terlalu berat.

Di Kabupaten Malang, empat orang meninggal karena sesak napas dan tertimpa tembok yang tak kuat menahan abu vulkanik. Keempatnya warga Desa Pandansari, Ngantang, 8 km dari puncak Kelud.

Di sana ketebalan abu vulkanik bercampur pasir lebih dari 10 cm. Kondisi desa seperti kampung mati. Sejumlah rumah roboh, termasuk bangunan sekolah. Warga yang bertahan akhirnya bersedia dievakuasi kemarin.

Pembersihan juga perlu pada atap fasilitas umum, seperti sekolah, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, dan perkantoran. Pembersihan fasilitas umum itu dapat dilakukan TNI dan Polri.

Kemarin, abu tebal yang melumpuhkan jalur Malang-Kediri mulai bisa ditembus kendaraan bermotor. Sebelumnya, jalanan itu licin dan sangat berdebu. Abu dibersihkan aparat TNI secara manual dan dengan alat berat.

Di Surabaya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Ahmad Sukardi mengatakan, pihaknya sudah mengirim motor grader, traktor dengan lempeng besi di bagian tengah untuk meratakan tanah. Tiga grader untuk Malang dan lima grader untuk Kediri.

Selain motor grader, disediakan traktor loader (pengeruk abu ke bak truk pengangkut) dan dump truck. Kediri dan Malang menjadi daerah prioritas.

Cegah masalah lain

Direktur Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran”, Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno mengatakan, pembersihan abu vulkanik jangan asal-asalan. Tumpukan abu vulkanik di pinggir jalan dan banyak tempat harus ditangani pemerintah. Tanpa manajemen baik, pembersihan itu justru menimbulkan masalah lain.

Abu tebal di sejumlah tempat dibersihkan dengan sekop lalu diangkut kendaraan dan ditampung di tempat lain. Abu beterbangan dan berisiko mengganggu kesehatan.

Di daerah lain dengan abu tipis, pembersihan dengan disemprot air. Akibatnya, gorong- gorong mampat dan memicu sedimentasi sungai.

”Abu vulkanik harus dikelola baik, bisa untuk bahan bangunan, campuran beton, bahan uruk, dan media tanam. Kandungan haranya tinggi,” katanya.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, yang juga dokter spesialis paru, Tjandra Yoga Aditama, abu vulkanik memicu gangguan pernapasan. Dampaknya lebih serius dibandingkan debu biasa karena abu vulkanik mengandung senyawa logam dan semilogam: silika, natrium, kalium, dan kalsium.

Abu vulkanik menimbulkan iritasi mata. Mata terasa pedih, merah, dan berair. Pengguna lensa kontak diminta melepasnya untuk menghindari penumpukan abu di bawah lensa. Abu vulkanik juga menimbulkan gangguan saluran cerna dan memicu diare. Pada kondisi panas dan berangin, abu mudah tersebar, menempel pada makanan.

Bagi petani, abu vulkanik, pasir, dan kerikil merusak tanaman sayur, seperti di Kecamatan Wates dan Ngancar, Kediri. Di Desa Sugihwaras, nanas, cabai, dan tomat rusak.



Hujan Abu di Jogjakarta

Sejarah letusan Gunung Kelud

Letusan Gunung Kelud selama 100 tahun terakhir cenderung berupa letusan besar dan berlangsung sebentar, kecuali letusan pada 2007, demikian pendapat seorang ahli gunung berapi.

"Biasanya letusan Kelud paling lama dua hari, tetapi material yang dilontarkan lebih dari 100 juta meter kubik," kata Surono, ahli gunung berapi, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (14/02) siang.

Menurutnya, letusan Gunung Kelud pada Kamis (13/02) malam, yang telah melemparkan materialnya hingga ketinggian 17km, merupakan ciri khas letusan Kelud selama 100 tahun terakhir.

"Artinya, letusan Kelud kembali eksplosif seperti ciri khas dia selama 100 tahun, kecuali tahun 2007," kata Surono.

Ledakan pada 2007, menurutnya, tidak bersifat eksplosif dan cuma membentuk kubah lava di dalam danau kawahnya.

Dia mengatakan, kubah lava itulah yang kemudian dimuntahkan pada ledakan pada Kamis malam.

Berikut sejarah ledakan gunung Kelud semenjak awal 1901 hingga 2007 lalu, seperti disarikan dari wawancara dengan Surono:

Letusan 1901

Letusan terjadi tengah malam, 22-23 Mei 1901, selama sekitar dua jam dan meningkat pada pukul tiga pagi. Awan panas menyerang wilayah Kediri. Bunyi letusan terdengar sampai Pekalongan, sementara hujan abu menyampai Sukabumi dan Bogor. Korban jiwa dilaporkan cukup banyak, tetapi angka pasti tidak tercatat.

Letusan 1919

Sedikitnya 5160 orang menjadi korban jiwa akibat letusan gunung Kelud pada tengah malam, 20 Mei 1919 yang disebut terbesar dalam abad 20. Letusan ini snagat keras sehingga dentumannya terdengar sampai Kalimantan. Hujan batu cukup lebat dan sebgaian atap rumah hancur, dan hujan abu mencapai Bali. Kota Blitar dilaporkan mengalami kehancuran akibat letusan ini.

Ledakan 1951

Letusan terjadi pada pukul 06.15 pagi pada 31 Agustus 1951 yang menyebabkan tujuh orang tewas dan meulai 157 orang. Setidaknya terdengar empat dentuman keras akibat letusan ini. Hujan batu yang sebagian sebesar buah mangga menerpa sebagian wilayah Margomulyo. Hujan abu terjadi selama sekitar satu jam dan mencapai kota Bandung, Jabar.

Ledakan 1966

Terjadi pada 26 April 1966 pukul 20.15 WIB, letusan ini diwarnai luapan lahar di sejumlah sungai di sekitarnya. Sedikitnya 210 orang tewas akibat letusan ini.

Ledakan 1990

Letusan terjadi secara beruntun pada 10 Februari 1990. Letusan yang terjadi belakangan lebih besar. Letusan utama disertai awan panas sejauh 5km dari kawah. Daerah yang rusak tidak terlalu luas, namun sebaran abu jauh lebih luas dan diperkirakan mencapai luasan 1700km persegi. Sekitar 500 rumah rusak akibat tertimpa hujan abu. Korban jiwa sekitar 32 orang.

Ledakan 2007

Kali ini letusan gunung Kelud tidak eksplosif seperti sebelumnya, melainkan kemunculan kubah lava yang besar di kawah Kelud. Kubah itu terus tumbuh sejak 5 November 2007 hingga berukuran selebar 100meter. Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m.

Khazanah Rumi


Kekasih Yang Berkata "Aku"

Seseorang mengetuk pintu kekasihnya: ”Siapa di situ?” tanya sang kekasih.
Dia menjawab, ”Aku.” ”Pergilah seru kekasihnya, ”ini terlalu cepat: di atas mejaku tiada tempat yang masih mentah.”
Bagaimana yang mentah dapat dimasak kalau bukan dalam api ketiadaan? Apa lagi yang dapat melepaskannya dari kemunafikan?
Dengan sedih dia pun pergi, dan sepanjang tahun hatinya terbakar oleh api perpisahan;
Maka datanglah ia kembali mondar-mandir di samping rumah kekasihnya.
Dia mengetuk pintu dengan ratusan kecemasan dan harapan, kuatir kalau kata-kata tak pantas bakal terucap dari bibirnya.
”Siapa di situ?” seru sang Kekasih. Dia menjawab, ”Engkau, wahai pesona seluruh hati!”
”Kini,” sapa sang kekasih, ”karena engkau adalah aku, masuklah; tiada ruang untuk dua aku dalam ruangan ini.
Dua ujung benang bukanlah untuk selubang jarum: karena engkau adalah satu, masuklah ke lubang itu.”
Inilah benang yang memasuki lubang itu: unta takkan diterima masuk lubang jarum itu.
Bagaimana unta dapat diperkecil kecuali dengan gunting zuhud?
Tapi itu, wahai pembaca, memerlukan Tangan Tuhan, yang merupakan Pembuat dan Pencipta setiap kemustahilan.
Yang bukan-wujud pun, meski lebih mati dibandingkan yang mati harus mendengarkan ketika Dia menitahkannya mewujud.
Bacalah ayat, ”Setiap waktu Dia dalam kesibukan”: janganlah menganggap-Nya menganggur dan lamban.
Setidak-tidaknya, kegiatan-Nya tiap hari, mengirimkan tiga pasukan:
Sepasukan sulbi para ayah menuju para ibu, supaya benih dapat berkembang di dalam kandungan;
Sepasukan dari kandungan menuju Bumi, agaar dunia terisi dengan lelaki dan perempuan;
Sepasukan dari Bumi menuju kawasan di balik kematian, sehingga setiap orang dapat melihat indahnya segala amal baiknya.

Jalaluddin Rumi, Mas. I


Lagu Seruling

Dengar lagu seruling bambu menyampaikan kisah pilu perpisahan
Tuturnya, “Sejak daku tercerai dari indukku rumpun bambu,
Ratapku membuat lelaki dan wanita mengaduh.
Kuingin sebuah dada koyak disebabkan perpisahan
Dengan itu dapat kupaparkan kepiluan berahi cinta.
Setiap orang yang berada jauh dari tempat asalnya
Akan rindu untuk kembali dan bersatu semula dengan asalnya.
Dalam setiap pertemuan kunyanyikan nada-nada senduku
Bersama mereka yang yang riang dan sedih aku berhimpun
Rahsia laguku tidak jauh daripada ratapku
Namun mana ada telinga mendengar dan mata melihatnya?
Tubuh tidak terdinding daripada roh
Pun roh tidak terdinding daripada tubuh
Namun tak ada tubuh yang diperkenankan melihat roh
Riuhnya suara seruling ialah kobaran api, bukan tiupan angin
Mereka yang tidak memiliki api hidupnya sia-sia
Inilah api Cinta yang bersemayam dalam seruling bambu
Inilah kobaran semangat yang terkandung dalam anggur
Seruling ialah sahabat mereka yang terpisah dari sahabatnya
Lagunya sendu dan menusuk kalbu kami
Siapakah yang pernah melihat racun
Dan ubat penawarnya sekaligus seperti seruling?
Siapakah yang pernah menyaksikan orang berduka cita
Dan Pencinta yang menyampaikan rasa rindunya seperti seruling?
Seruling mengisahkan jalan bersimbah darah
Dan menyingkap kembali rindu dendam Majenun.
Hanya kepada meraka yang tidak faham
Kefahaman dan pemahaman dialamatkan:
Lidah tidak punya pelanggan selain telinga.
Dalam kepiluan kami hari-hari hidup kami berlalu tak kenal waktu
Hari-hari kami juga berjalan bersama kepiluan membara
Apabila hari-hari kami mesti pergi, biarlah kami pergi
Abadilah Kau, sebab tiada yang lebih kudus daripada Kau!
Mereka yang tak terpuaskan oleh air-Nya bukan ikan:
Mereka yang tak punya roti buat dimakan setiap hari
Akan berasa alangkah lamanya hari-hari berlalu.
Tiada barang mentah dapat memahamkan kemasakan:
Kerana itu akan kuringkas kata-kataku. Selamat tinggal!
Anakku, patahkan belenggu yang mengikatmu dan bebaskan dirimu!
Berapa lamakah kau akan terikat pada perak dan emas?
Apabila air laut kau tuang ke dalam kendi,
Berapa banyakkah air yang dapat ditakung?
Hanya cukup untuk bekal sehari!
Kendi itu, mata yang tak pernah kenyang itu, takkan penuh:
Ingatilah, tiram yang belum penuh takkan berisi mutiara.
Dia yang jubahnya dipinjamkan dengan cinta sajalah
Yang bersih daripada kelobaan dan ketamakan.
Selamat datang, ya Cinta yang memberi keberuntungan indah–
Kaulah tabib sehala sakit kami, pemulih keangkuhan dan kesombongan
Filosof dan Tabib kami yang sebenar!
Kerana Cinta tubuh yang terbuat daripada tanah ini
Dapat terbang ke angkasa luas, mikraj!
Gunung-gunung lantas menari dan tangkas kakinya.
Cinta menurunkan ilham kepada Bukit Sinai, o Pencinta!
Kerana itu Bukit Sinai mabuk dan Musa jatuh pingsan!
Apabila aku mengikut bibir yang satu haluan dengan bibirku
Aku akan seperti seruling, menazamkan semua yang dapat kunazamkan.
Tetapi dia yang terpisah daripadanya, mulutnya akan membisu
Walaupun memiliki ratusan pantun dan gurindam!
Apabila mawar pergi dan taman lenyap
Maka kisah burung bulbul takkan lagi terdengar.
Kekasih ialah segala-galanya dan pencinta ialah hijabnya
Kekasih ialah hidup dan pencinta benda mati.
Apabila Cinta tidak mengacuhkannya
Jadilah ia bagaikan burung tanpa sayap, sungguh malang!
Bagaimana aku memiliki kesedaran di hadapan dan di sampingku,
Apabila Cahaya Kekasih tak menampakkan diri di hadapan dan sampingku?
Cinta menghendaki hakikat dunia diperlihat:
Apabila cermin tak memantulkan bayangan, apakah sebabnya?
Tahukah kau mengapa cermin jiwa tak memantulkan bayangan
Kerana karatnya tidak dibersihkan daripada parasnya
O Sahabat, dengarlah kisan ini: dalam Kebenaran
Terkandung sumsum kewujudan roh kita.

Jalaluddin Rumi

Teks Terjemahan Abdul Hadi W. M.


15 Feb 2014

Teater Bidasari



Teater ‘Bidasari’ Terpaksa Diolah Agar Lebih Segar

Oleh MOHD AL QAYUM AZIZI


Raja Azura dan Jalaluddin Hassan

KUALA LUMPUR: Pementasan teater Bidasari yang diangkat daripada filem arahan Datuk Jamil Sulong pada tahun 1964 tidak mengikut jalan cerita asal karya lakonan Datuk Sarimah Ahmad dan Tan Sri Jins Shamsuddin itu.

Pengarahnya, Lokman Ghani berkata, pihak produksi melakukan perubahan hampir 70 peratus terhadap jalan cerita asal terutama dari sudut konflik penceritaan agar lebih segar dan menarik untuk dipersembahkan sebagai naskhah teater.

"Pada asasnya ia masih berlandaskan kepada filem asal cuma kita olah dan tambah konflik penceritaan supaya ia tidak membosankan dan lebih menarik apabila dipentaskan nanti," katanya kepada mStar Online.

Teater Bidasari bakal dipentaskan di Panggung Sari Istana Budaya pada 10 hingga 17 Februari ini.

Ia membariskan pelakon seperti Datuk Jalaluddin Hassan, Raja Azura, Aiman Hakim Ridza, Nur Fathia, Hairul Azreen, Radhi Khalid dan Fadilah Mansor.

 Para pelakon teater Bidasari.

Filem berkenaan diingati penonton kerana dialognya yang berirama berasaskan puisi Melayu bertajuk Bidasari.

Dalam perkembangan sama, Lokman berkata, pihaknya turut menekankan sudut teknikal pada pementasan itu bagi memberi impak kepada penonton selain muzik skor dan tarian.

Katanya, kecanggihan sistem dan teknologi di Istana Budaya akan digunakan bagi menghidupkan lagi kisah bangsawan berkenaan.

"Walaupun ia kisah klasik tetapi kecanggihan teknologi di Istana Budaya mampu mengubah teater ini lebih kepada kontemporari sesuai dengan zaman sekarang.

"Ia juga dilihat mampu menarik minat anak-anak muda untuk datang menonton ditambah dengan barisan pelakon yang hebat," katanya.

Sementara itu, Lokman berkata, dia yakin dengan kredibiliti dua pelakon utamanya iaitu Aiman Hakim Ridza dan Nur Fathia walaupun kedua-dua mereka pendatang baharu dalam dunia teater.

Hairul Azreen (kanan) dan Nur Fathia.

Jelasnya, kesungguhan mereka mendalami teknik dan gaya lakonan teater dalam masa singkat cukup mengagumkan.

"Saya harus beri pujian kepada mereka kerana usaha yang ditunjukkan walaupun kami berlatih dalam masa singkat.

"Jika prestasi itu dikekalkan mereka berdua mampu pergi jauh dalam industri teater," katanya.

Tambah Lokman, pelakon seperti Jalaluddin Hassan dan Raja Azura pula berpengalaman luas dan memudahkan latihan yang dijalankan sejak sebulan lalu.

Tiket untuk menyaksikan teater ini dijual pada harga RM30 hingga RM250 manakala RM20 untuk pelajar.

Bagi Orang Kelainan Upaya (OKU) dan warga emas, diskaun 10 peratus diberikan kepada mereka.

Untuk tempahan tiket dan maklumat lanjut boleh melayari www.redtix.airasia.com atau menghubungi 03-8775-4666 atau 03-4026-5520.

mstar online


TEATER BIDASARI


Tarikh : 10 hingga 17hb Februari 2014
Masa : 3:00 petang dan 8:30 malam
Tempat : Panggung Sari, Istana Budaya
Tiket : RM30, RM50, RM70, RM100, RM150 dan RM250
(a) Pembelian Early Bird diberi diskaun 20%
(b) Pelajar IPT/IPTS dan Sekolah diberi flat rate RM20
(c) Diskaun 10% untuk Warga Emas dan OKU

Pelakon : Raja Azura, Dato' Jalaluddin Hasan, Fathia, Radhi Khalid dan ramai lagi!!!


Sinopsis :

Kisah yang diangkat daripada cerita Melayu Klasik. Bidasari yang cantik rupawan tiada tolok bandingannya sehinggakan mengalahkan kecantikan Permaisuri Laila Sari,isteri Sultan di negeri Zamin Ambar yang mempunyai seorang putera bernama Tengku Indra. Bidasari anak angkat kepada saudagar Amir Abdullah yang nyawanya berkembar dengan seekor ikan. Permaisuri Laila Sari yang mengetahui ada orang yang lebih cantik darinya berasa amat marah dan cemburukan Bidasari dan telah membuat satu rancangan. Permaisuri menjemput Bidasari ke istana untuk membuat sebuah persembahan. Ketika Tengku Indra terpandang kecantikan Bidasari ketika inilah juga Permaisuri meminta izin saudagar supaya Bidasari tinggal di istana. Bagaimanakah kesudahan nasib Bidasari ketka di istana? Apakah maksud di sebalik rantai yang sering dipakai Bidasari? Dan bersambutkah cinta pandang pertama Tengku Indra pada Bidasari?

Saksikan kesudahannya...

Cerita Cinta



Isteri meminang 'madu'
Oleh MUHAMMAD AZRUL MOHD. RADI
13 Februari 2014


KEKAL romantis ke usia senja, pasangan ini hanya mahukan kebahagiaan berkekalan.

Sesampainya di Istana Budaya, lokasi yang sudah dijanjikan untuk bersua muka, hanya kelibat Datuk Zulkifli Zain sahaja yang kelihatan.

Ditanya di mana isterinya, Zulkifli Zain memberitahu isterinya ada di ruang dalam. Tidak mahu isterinya berpanas di luar, melihat kelibat saya barulah dipimpinnya si isteri untuk ditemu bual.

Benar, saat usia perkahwinan sudah menginjak ke usia 39 tahun, masih terlihat betapa romantis hubungan cinta mereka.

Hampir satu jam menemu bual pasangan ini, Normala sempat berkongsi sebuah cerita yang bukan sahaja mengejutkan, malah rasanya tidak sanggup dilakukan oleh wanita lain yang bergelar isteri.

Masakan tidak, Normala pernah meminang seorang gadis untuk dijadikan isteri buat suaminya atas rasa cinta kepada rumah tangga yang dibina.

Zulkifli yang ketika itu diam mula berkongsi cerita ketika bagaimana isterinya mula mengetahui bahawa dia sedang mengenali seorang gadis.

“Saya tidak nafikan, isteri memang memberi kebebasan kepada saya sehingga kini. Saya boleh keluar berjumpa rakan-rakan, bila-bila masa sahaja.

“Memang dia ada telefon sekiranya saya keluar terlalu lama, tetapi dia bertanya apa yang saya buat bermakna dia mengambil berat tentang saya," jelasnya.

Tetapi lelaki juga ada nakalnya dan Zulkifli sendiri menceritakan bagaimana dia menyalah gunakan kepercayaan yang diberikan isterinya.

“Ketika dia tahu saya menaruh hati pada seorang gadis, dia cakap mahu berjumpa dengan gadis itu dan mahu meminang untuk pihak saya.

“Masa itu, dia sendiri yang pergi meminang, mungkin dia tidak mahu saya terjebak dengan dosa atau sebagainya.

“Malah, ketika itu, isteri menyuruh saya untuk duduk di belakang bersama dengan gadis itu sementara dia memandu kereta," kongsinya.

Tambah Zulkifli, mungkin sudah ditakdirkan tiada jodoh, perkahwinan itu tidak menjadi dan bila difikirkan semula, itu menunjukkan pengorbanan isteri kepadanya.

Bagi Normala, tipulah jika dia tidak mempunyai secubit perasaan cemburu. Tetapi baginya, apa guna untuk memaksa seseorang itu untuk kekal mencintai dirinya seorang.

“Masa itu memang tidak boleh terima suami bercinta dengan gadis lain. Apatah lagi mengenangkan perkahwinan kami sebelum ini mendapat tentangan keluarga.

“Tapi saya fikir kembali, kalau saya tak beri kahwin, dia akan buat juga di belakang dan saya tidak mahu ia menjadi sesuatu yang lebih buruk.

“Cuma saya dah pesan awal-awal, sekiranya dia berat sebelah, maka saya akan minta dia untuk berpisah dengan saya," katanya.

Tetapi jodoh pasangan ini lebih kuat. Biarlah badai memukul bahtera, jodoh mereka tetap kuat dan romantisnya hingga kini.


Dari mata turun ke hati.Itu kesimpulan yang boleh dibuat bila mendengar kisah bagaimana hati Zulkifli buat pertama kali tertaut dengan isterinya.

Menceritakan detik yang masih diingati jelas itu, cerita Zulkifli, ketika itu dia dan Normala berada dalam satu kumpulan tarian telah dijemput untuk menghadiri majlis keraian di rumah salah seorang Menteri Kebudayaan ketika itu.

“Pada malam itu, saya seperti terpukau melihat Normala. Dia tampak istimewa dan dengan sekali pandang, saya terus terpaut hati.

“Ketika itu saya memang suka dengan wanita berkebaya dan Normala pada malam itu tampil dengan kebaya dan bercucuk sanggul," katanya tersenyum mengingat kisah manis itu.

Ketika majlis tari menari, Zulkifli tampil memaut tangan Normala mengajaknya untuk menari.

“Ketika itu, joget lambak ini memang biasa. Masa itu, saya terus terang dengan dia. Saya cakap, you nak kahwin dengan I tak?"

Normala yang mendengar kisah ini menyelit.

“Bukan macam itu dia cakap. Masa tari menari itu, dia terus cakap, jom kahwin. Saya pula masa itu terus balas, 'jom," kata Normala menahan tawa.

Menyambung bicara, Zulkifli memberitahu, selepas dia menyatakan hasratnya itu, baharulah mereka mula berbincang untuk berkahwin dan bermulalah episod cinta mereka.

“Ketika hendak berkahwin, ibu bapa Normala tidak beri kebenaran apatah lagi beza umur kami 11 tahun. Dia ketika itu baharu berusia 17 tahun.

“Masa itu, ibu bapa Normala menyuruh dia untuk berhenti kerja sebagai penari supaya kami tidak dapat berjumpa lagi, " ujarnya.

Tambah Zulkifli, mungkin sudah jodoh, mereka berkahwin dan ketika itu, dia sedar, ibu bapa mertuanya tidak suka dengan dirinya.

“Hendak buat bagaimana, kami saling mencintai. Tetapi saya pun ada cuba mengambil hati kedua ibu bapa mentua selepas berkahwin.

“Alhamdulillah, selepas kami menimang cahaya mata (Norzizi) baharulah mentua mula menerima saya sebagai menantu," katanya yang sedikit pun tidak berkecil hati.

Dari luaran, nampak Normala ceria sahaja. Hakikatnya keadaan hidupnya agak terjejas ekoran masalah matanya yang kini buta sebelah kiri akibat penyakit kencing manis semenjak lebih dua tahun lalu.

“Suatu hari, ketika bangun pagi, saya langsung tidak nampak apa-apa. Masa itu memang rasa tertekan dan menangis sebab semuanya dah gelap. Ketika itu, bermacam-macam perasaan negatif mula bermain di minda. Malah, ada ketika saya merasakan suami saya akan meninggalkan saya," katanya.

Di sebalik pemikiran negatif itu, Normala sangat bersyukur kerana dikurnia seorang suami yang begitu mengambil berat tentang dirinya.

"Sekarang saya sudah mampu menerima hakikat. Anak-anak dan cucu-cucunya banyak memberi semangat. Ini dugaan tuhan dan saya terima dengan hati yang reda dan kita memohon yang terbaik untuk diri," jelasnya, pasrah.

Bagi Zulkifli, mana mungkin dia akan meninggalkan isterinya saat wanita itu memerlukan dia sebagai kekuatan dalam hidupnya.

“Saya akan bantu dia. Malah, makan pun saya yang suapkan. Bukan sebab tak nampak, tetapi saya buat sebab itu menjadi pengikat kasih kami. Memasak pun saya yang buat sekarang ini. Saya akan tanya apa yang dia hendak makan, dan saya akan masakkan untuk dia," jelas Zulkifli.


Utusan  Malaysia

14 Feb 2014

Derita Yarmouk





Palestinian Refugees: The Terrifying Case of Yarmouk
By Rana Abdulla
Jan 22 2014 


The prevailing situation of the Palestinians in Syria should be heartbreaking for every human being who has knowledge of it.

Of all the privations in the modern world, some of which can be overcome, admittedly with difficulty, such things as the lack of electricity and gas for heating or cooking although we take for granted are not necessarily prerequisites for a life of sorts, yet all would agree, what cannot be endured in any measure is the deprivation of water, food and sanitary conditions. Such is the lot of Palestinians in the Yarmouk refugee camp.

Dehydration, disease and penury are daily reality for a people the world has forgotten or seem to little care. To see a child die of starvation, any child let alone one of your own is a sorrow no one should ever bear, yet this is an everyday occurrence in the Yarmouth refugee camp.

People in Yarmouk camp in Syria are forced to consume grass, leaves, animal feed and literally anything they can find to slake their thirst or assuage their hunger, irrespective of their fitness for human consumption. It is difficult to find words to adequately describing the exact misery of the Palestinian refugees in the Yarmouk camp after 180 + days of sealed siege by the pitiless forces of the Syrian regime. It is difficult to understand why the world has turned its back on these brothers and sisters who are forced to live in such dismal conditions. Despite the conflict which is not the cause or the desire of its residence there have been many opportunities for the international community to administer humanitarian aid to Yarmouk, yet none has been forthcoming. Why is the world, even the Arab world treating the occupants of Yarmouk with such indifference?

The prevailing situation of the Palestinians in Syria should be heartbreaking for every human being who has knowledge of it. If the terrifying hazards of a war zone were not enough for the Palestinian refugees, the added visitation of hunger and disease in the camp, is a shameful slap in the face of the so called civilized world. Yarmouk, no doubt, along with notable other instances, is paying the heaviest price for Syria’s war. There have been a number of reports of Palestinian refugees dying in the Yarmouk camp from starvation. These include children as young as a mere few months old. The television pictures coming out of Yarmouk of starving women and children are nothing short of excruciating to right minded people. Yet the world and especially the Arab world appear unconcerned with the plight of these innocent Palestinians caught up in a conflict not of their making.

Latest reports by activists on the ground detail the death of at least 40 people from starvation already this year, and the count is increasing day by day. Located in the south of Damascus, the Yarmouk refugee camp initially housed 250,000 Palestinian refugees out of which 150,000 were registered with the Syrian government. However, after three years of a bloody and brutal civil war, Yarmouk has been reduced to ruins and only about 18,000 refugees remain. The others it is thought have managed to escape mainly to Jordan or Lebanon. A BBC report claimed that the Yarmouk camp gates have been closed to all traffic, including aid since July, and no help has reached the beleaguered people since then.

Besides the 1,500 Palestinians that are confirmed killed in the ongoing conflict, several others have been wounded and if that were not enough, the already perilous situation is set to worsen and one can only wonder as to the eventual end to the suffering these unfortunate Palestinian people. As if it were not enough to be made a refugee once, but to seek refuge from a refuge is surely an evil beyond mere fortune. A larger number of refugees have fled from Syria nearby areas along with the vast majority being displaced inside Syria itself. The migration itself is a damning indictment of the regions prevailing troubles, however equally culpable in this ongoing disaster is the staggering indifference of the other prosperous Arab nations beyond the immediate local.

The Yarmouk refugee camp is today at the heart of the Palestinian narrative tragedy, even though located in Syria, it has remained the most salient and articulate commentary on the Palestinian situation. One of the reasons for this is the fact that this Palestinian base has been used by Syrian rebels as a point of contact with the outside world for the past six months. This is partly due to the fact that the refugee camp is seen as almost autonomous from Syrian rule, therefore presenting the rebels with a base beyond Syrian government control.

Yet beyond the current conflict the Syrian government is one of the few in the region to provide any sort of a refuge for Palestinians. Compared to some other Arab countries where standards are very poor. However, even in Syria thousands of refugees have become victims of the adverse political machinations and sectarian conflicts that tend to flare-up from time to time in the region. That said, the current conflict is easily the worst faced by the camp. In Dec 2012, the Yarmouk camp was taken over by the Free Syrian Army followed by fierce fighting, after which the camp was bombarded from the air by the government killing dozens while thousands were forced to flee for their lives.

Although the signs of danger for the Palestinians refugees were very obvious, it was some time before the Palestinian leadership decided to negotiate for the designation of a special status, for the Yarmouk camp for refugees in the hope of keeping them out of Syria’s conflict. They agreed that refugees should not be used as fodder in the war in Syria, however all attempts to implement and maintain agreement have thus far failed.

The failure in this regard is not limited to the Palestinian leadership or the Syrian government alone, rather the international community too has failed to recognize the gravity of the situation and the whole episode is proving to be a shameful failure. The international community can quite rightly militate loudly against the mere mention of Assad’s use of the chemical weapon, but the daily dying and starvation of refugees seems to be a humanitarian crisis too far, or insignificant for positive action. It is a shameful indictment on the compassion of the international community that this deepening crisis in the Syrian conflict has received such little attention. There has not even been a resolution by the UN concerning Yarmouk, and as such one has to question the regard for the value of a Palestinian refugee’s life, in the grand scheme of things.

Meanwhile the Palestinian government is arranging more peace talks and it is very difficult to holdout any hope for their success. Palestinian refugee camps are starving to death and their problems are hardly a priority.

Presently the Palestinian refugees have no political representation, no legal status, no international support and no true leadership dedicated to solving their most pressing issues. Palestinian refugees were initially dispossessed by Israel in 1948, and have since been suffering equally at the hands of the Arab countries as well. These countries have also proved to be as inhospitable and unwelcoming to the refugees of Palestine.

There have been numerous instances which have suggested that Arab countries and militias have in the past perpetrated massacres on the Palestinian people. Even though many Arab peoples have expressed solidarity with the Palestinians, their acts have often suggested otherwise. Nothing has been done politically or practically as the population of Yarmouk has shrunk from 250,000 to 18,000 souls cowering, famished and shivering with pain, starvation and cold. Not only is the Arab world indifferent to the whole situation, one Lebanese journalist has been callus enough to put into the words what certain leaders believe but shrink from saying, ‘the whole situation is the responsibility of Palestinians themselves’.

Irrespective of the brutal non-response of the world the seeds of the whole scenario can be found in the Balfour declaration all those years ago, and the responsibility should be shared not only by the Israelis and their illegal occupation but by the entire international community.

- Rana Abdulla is a Palestinian Canadian writer and activist, originally from the Palestinian village of Balaa near Tulkarem. She is an advocate for refugee rights, and her work has been highlighted by Canadian media. She contributed this article to PalestineChronicle.com.

Palestinechronicle

Krisis kemanusiaan di Yarmouk
28 Jan 2014


Gambar bayi bernama Israa al-Masri yang juga kekurangan zat makanan. Israa meninggal dunia beberapa hari kemudian. - AGENSI

DAMSYIK 27 Jan. - Satu lagi kekejaman Presiden Syria, Bashar al-Assad terbongkar, apabila sebanyak 71 pelarian Palestin yang ditempatkan di Kem Yarmouk, di sini dilaporkan meninggal dunia akibat kebuluran dan kekurangan bekalan ubat selepas kem berkenaan dikepung selama 197 hari oleh tentera negara ini.

Perkara itu disahkan dengan penyebaran sebuah video di Internet, memaparkan seorang pelarian warga emas lelaki yang kurus kering, menceritakan pengalamannya yang sukar mendapatkan makanan.

"Saya sendiri tidak ingat, bilakah kali terakhir saya makan," katanya dalam video berdurasi 27 saat itu.

Penyebaran video itu di media-media sosial, menguatkan lagi dakwaan bencana kemanusiaan di kem pelarian Palestin tersebut yang telah berlarutan selama berbulan-bulan.

Krisis kemanusiaan itu turut memberi kesan terhadap wanita dan kanak-kanak, malah ada antaranya meninggal dunia kerana kebuluran.

Menurut Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), kira-kira 45,000 orang di Yarmouk, kebanyakan rakyat Palestin, dikepung oleh tentera kerajaan dan tidak mempunyai akses kepada bekalan makanan dan perubatan.

Aktivis Syria turut menggesa penentang kerajaan yang menghadiri rundingan damai di Switzerland untuk menyiarkan video tersebut bersama gambar-gambar lain sebagai bukti berlakunya krisis kemanusiaan di kem berkenaan.

Kira-kira 500,000 rakyat Palestin berlindung di Syria sejak Israel mula menjajah negara itu pada 1948.

Sebelum kebangkitan menentang Assad pada tahun 2011, kebanyakan daripada pelarian Palestin menetap di Yarmouk, selatan Damsyik, namun sebahagian besar mereka kini hilang tempat tinggal selepas perang saudara Syria meletus.

Sementara itu, kerajaan Syria bersetuju untuk membenarkan golongan wanita dan kanak-kanak berpindah keluar dari kawasan yang dikuasai penentang di bandar Homs pada hari kedua perbincangan antara wakil kerajaan dan penentang kerajaan di sini, semalam.

Dalam perjanjian yang dibuat antara kedua-dua pihak bertelagah itu, utusan khas PBB dan Liga Arab, Lakhdar Brahimi berkata, kerajaan Assad membenarkan pemindahan tersebut bermula serta-merta.

Namun begitu, aktivis penentang di Homs menyatakan keraguan dan menuntut bekalan bantuan disalurkan terlebih dahulu selain jaminan supaya wanita dan kanak-kanak terlibat tidak ditahan. - AGENSI/AFP

utusan malaysia



73 Pelarian Palestin Mati Kebuluran Di Yarmouk Kem Pelarian

28 Januari 2014 - Rakyat Palestin di Syria telah berkata bahawa 73 pelarian Palestin telah mati kelaparan di Yarmouk kem pelarian dikepung .

Kenyataan pada hari Isnin bahawa jumlah itu telah didaftarkan sehingga Ahad 26/1/2014, bahawa 27 daripada itu mati dalam tempoh 12 hari lalu.

Kumpulan yang memantau dan mendokumenkan peristiwa harian pelarian Palestin di Syria berkata, kem pelarian Yarmouk berada dalam perkepungan untuk 197 hari akibat konfrontasi yang berterusan antara tentera Syria dan pembangkang.

Ia berkata bahawa pengepungan telah menyebabkan kebuluran di kalangan penduduk kem baki yang terjejas terutamanya kanak-kanak dan warga tua mencatatkan bahawa kem itu telah kehabisan bahan makanan, ubat-ubatan, dan susu bayi.

Kumpulan itu juga menunjukkan bahawa lebih daripada dua ribu pelarian Palestin telah terbunuh dalam perang negara Arab sejak konflik itu bermula tiga tahun lalu.

Kumpulan itu berkata bahawa tujuh pelarian meninggal dunia pada hari Ahad akibat pengepungan terus di kem Yarmouk termasuk kanak-kanak dan lima orang lama manakala seorang maut di tangan penembak curi semasa mencari sesuatu untuk dimakan.
Sumber: http://www.palestine-info.co.uk




Bekalan makanan tiba di kem Yarmouk
1 Feb 2014


DAMSYIK 31 Jan. - Konvoi bantuan makanan semalam dibenarkan memasuki kem pelarian Palestin di Yarmouk di mana beribu-ribu penghuninya mengalami kebuluran selepas kawasan berkenaan terkepung akibat perang saudara Syria.

Jurucakap Agensi Bantuan dan Pekerjaan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNRWA), Chris Gunness berkata, sebanyak 1,028 catuan makanan telah dihantar ke kem yang terletak di selatan Damsyik itu dalam operasi awal bantuan kemanusiaan tersebut.

"Setiap catuan cukup untuk sebuah keluarga seramai lapan orang makan selama 10 hari,'' katanya.

Beliau berkata, keadaan agak huru-hara ketika makanan tersebut diagihkan ekoran bantuan itu merupakan yang pertama memasuki kem tersebut pada 21 Januari lalu selepas lebih enam bulan tidak menerima sebarang bekalan akibat perang saudara Syria.

Katanya, UNRWA berharap dapat meneruskan penghantaran konvoi-konvoi bantuan berkenaan ketika puluhan ribu penduduk awam masih memerlukan bantuan.

"Berpuluh-puluh ribu orang termasuk 18,000 penduduk Palestin terutama wanita dan kanak-kanak di sana masih memerlukan bantuan,'' katanya.

Menurut Badan Pemantau Hak Asasi Manusia Syria, sekurang-kurangnya 86 orang mati di Yarmouk dalam beberapa bulan ini akibat kebuluran atau kekurangan bekalan perubatan.

Kem tersebut terletak di bawah kawalan kumpulan penentang kerajaan dan dikepung oleh tentera kerajaan sejak Jun lalu.

Keadaan itu menyebabkan bantuan makanan serta bekalan perubatan sukar dihantar ke kawasan berkenaan.

Dijangka kira-kira 18,000 penduduk Palestin masih berada di kem tersebut walaupun sebahagian besar kawasan itu musnah akibat pertempuran antara tentera dan kumpulan penentang kerajaan. - AFP

utusan malaysia

Yarmouk Palestinian refugee camp

Yarmouk camp is home to the largest Palestinian refugee community in Syria, with more than 148,500 residents registered with the UN
It lies 8km (5 miles) from the centre of Damascus and resembles an urban quarter, occupying 2.1 sq km (0.8 sq miles) and containing mosques, schools and other public buildings
Since its establishment in 1957, refugees have built cement block homes and the camp is now densely populated. Conditions are better than at other Palestinian refugee camps in Syria
Many of the refugees in Yarmouk are professional, working as doctors, engineers and civil servants. Others are employed as casual labourers and street vendors

Source: UN Relief and Works Agency (Unrwa)




Jangan kesal bila kecundang

Senandung Hidup

Bila hati dalam kesedihan
Bila diri rasa kesunyian
Mengapa itu harus kau kesalkan
Jangan pula kau tangiskan

Tiada insan yang tetap sempurna
Tiada pula yang terus derita
Hidup ibarat berputarnya roda
Ambil itu untuk renungan

Hidup ini suatu perjuangan
Perlukan pengorbanan
Jangan kesal bila kau kecundang
Anggap itu bukan penghalang

Bila jaya usah engkau lupa
Bila gagal usah kau kecewa
Berjaya bukan tanda bahagia
Gagal tidak arti derita

Hidup ini suatu perjuangan
Perlukan pengorbanan
Jangan kesal bila kau kecundang
Anggap itu bukan penghalang

Bila jaya usah engkau lupa
Bila gagal usah kau kecewa
Berjaya bukan tanda bahagia
Gagal tidak arti derita

Lirik : Suharti Ali
Lagu : J Mizan

Senandung Hidup- J Mizan



Penyanyinya J Mizan dan lirik ditulis oleh Suharti Ali. Judul lagunya Senandung Hidup. Lagu ini terhasil puluhan tahun yang lalu. Namun sesuatu yang menarik dan terindah tersembunyi dalam lagu ini. Lapis bahasanya sederhana tetapi kekal puitis. Nyanyian yang memikat oleh J Mizan. Lagu ini adalah antara lagu yang pernah menjulang nama J Mizan sebagai penyanyi popular Malaysia.

Khazanah yang tersimpan lama ini sebenarnya mengandungi unsur deduktif dan semangat yang tersendiri.  Iramanya perlahan dan romantis. Hadirnya persis pesan-pesan yang berbisik ke telinga mereka yang berhadap dengan segala suram hidup atau mereka yang mencari pedoman jiwa. Mesejnya begitu jelas untuk mengembalikan semangat dan harapan buat mereka yang merasa kecewa dan lemah mengharung payah dan sukar.

Jangan kesel bila kecundang. Inilah harapan dan intuisi yang dibawakan dalam lagu. Kesuraman bukanlah penghujung sebuah perjuangan. Kejayaan bukan penanda bahawa ia suatu kebahagiaan. Dalam nafas cabaran hidup hari ini, kita hanyalah biduk-biduk kecil yang belayar di luas samudera. Dalam hela nafas kita mencantum harapan, perjuangan, dan impian ada ketika kita terbenam dalam kepayahan yang dalam. Inilah antara lagu yang harus didengar dan diperhalusi. Secara perlahan ia memberi semangat dan keyakinan baru untuk berhadapan dengan segala rentak hidup. Sayangnya lagu seperti ini jarang diputar di radio dan ia semakin dibiarkan.


Lagu yang memberi kata semangat dan harapan secara sederhana seperti ini mustahak untuk semua peringkat. Remaja di bangku pelajaran memerlukan ini untuk meniupkan kata kekuatan ke dalam diri bagi mencapai kejayaan. Ada yang tidak berupaya keluar dari bayang-bayang ketewasan dan merasa lemah mengharung gelora masa. Upaya jiwa dan kesanggupan diri menjadi semakin malap dan akhirnya tehenti dalam kecundang.

Begitu juga dengan golongan lain. Mereka yang hidup dan tersisih dari rasa bahagia. Mereka yang kehilangan dahan berpaut atau semangat meneruskan perjuangan. Tidak kira pada batas usia mana pun lagu ini mampu mengetuk pintu sedar perlahan-lahan. Dengarkanlah dengan penuh sedar dan yakinlah bahawa segenap yang tersisa masih bisa dicantumkan menjadi haluan baru hidup.

Inilah pesan-pesan yang diperlukan terutama kepada generasi muda yang masih berhadapan dengan keras cabaran. Terlalu banyak pesona yang merombak kesedaran atau memancang alpa yang ditemui terlalu sedikit pengharapaan yang ditaburkan.

Kita harus mencari yang bererti dan sentiasa memberi peduli.
Semoga lagu ini dapat mencanai semangat membangkitkan kekuatan untuk merempuh gelombang.




pada kilau warna


pada kilau warna

pada kilau warna
usah pesona berpanjang
di dalamnya berpintal ilusi
yang masih tak pasti
kerana hitam bukan selamanya
menyatakan kegelapan atau derita
dan kau anggap semua itu memedihkan
atau yang terindah pada tatap mata
biru yang terang memikat
merah yang menggamit harap
 putih yang menyambar kalbu
usah simpulkan semua itu
kemanisan yang bisa kau genggam
kerana semua itu
datang hanya dari serpih cahaya
yang masih belum tertulis realiti

putih atau hitam
hanya kilau warna
mempesona tatap mata
berjanjilah untuk memilih
dengan kebijakan fikir 
bahawa hitam darinya bukan selamanya memedihkan
semakin kaumendekati
semakin tertemukan tulus murninya
bahawa merah dan biru warna 
ada ketikanya hanya hiasan 
semakin kaumendekati
semakin kautemui kepalsuan
 semakin terjawab kebenaran

pada kilau warna
masih belum pasti
hanya ilusi






12 Feb 2014

Kenapa Ciptakan Jalan Berduri?

Kembali
Apa yang kau cari dengan desah nafas
Yang semakin terengah itu
Kau temui hanya mimpi mimpi
Dari berbagai ilusi sebenarnya menderamu
Kenapa ciptakan jalan berduri
Padahal kau takut luka
Kenapa kau ciptakan luka di hati
Padahal kau takut seksa
Kenapa ciptakan seksa ohh..
Padahal kau tak berdaya
Jangan bermain api nanti menjadi abu
Janganlah suka bermain oh hati nanti menjadi beku
Maka kembalilah menjadi diri
Agar lebih kan bererti

Rafly - Kembali


Lagu ini begitu memikat. Dari sentuh muzik yang sederhana
serta lirik yang begitu puitis.
Lontaran diksi yang meracau perasaan. Meminta renungan dan berpaling seketika
pada segenap langkah dan aturan yang pernah kita lakukan.

Nasihatnya sederhana tanpa memaksa tetapi meminta secara lembut
untuk menjurai kembali langkah dan tindak yang pernah kita ambil
melayari kapal kehidupan ini.

Kisah manusia dalam pemgembaraan hidup yang terkadang merungkai
payah dan seksa meneruskan cita-cita. Hasrat antara memilik dan
tertuang ke dalam kesakitan yang sememmangnya mahu dihindari.

Segalanya adalah pilihan yang tak tersangkakan. Ada ketika kita memilih
jalan berduri sedang begitu sedar bahawa ia akan melukakan.
Banyak kita memilih jalan begini. Kemudian terperangkap
dalam seksa dan sulit hanya kerana pilihan yang tak tersangkakan
atau tak berfikir panjang.
Banyak garap sembilu yang kita tempuh hanya kerana tanpa waspada
dan berfikir jauh.
Kesannya penanggungan yang begitu perih terpaksa dialami
dan untuk keluarnya pula terasa begitu payah dan sulit.

Lagu ini memberi saran sederhana buat sesiapapun yang telah
tersalah memilih jalan dan terdera dalam ilusi yang menyulitkan.
Tiada lain, selain kembali ke akar mula dan meninggalkan
segenap lorong silam yang menyulitkan itu.
Hanya itu jalan yang ada.
Kita sendiri menyedari bagaimana dan sejauhmana upaya
untuk menghadap segenap cabar dan  runtuk hidup.
Jika tak berdaya usah memilih payah dan suram yang
memang menunggu.

Kembalilah kerana kita perlu
menemui jalan terindah dalam hidup ini
Jalan redha dan jalan penuh kerahmatan

Bimbinglah hidup dengan bijaksana
Semoga Allah merahmati....


Segmen 12 Jam Bloglist #7 Mialiana.com


Pencarian bloglist bagi bulan Mac dan April 2014 di Mialiana.com bermula pada hari ini, 12 Februari 2014, iaitu tepat jam 11.00 pagi sehingga 11.00 malam nanti. Semua dijemput join.

Syarat-syaratnya :
  1. Follow blog Mialiana.com, Add To Circle Google+ Mia Liana dan Like Fanpage Mialiana.com
  2. Buat entri bertajuk Segmen 12 Jam Bloglist #7 Mialiana.com
  3. Copy coding yang telah disediakan dan paste kan ke dalam ruangan HTML dan Publish entri.
  4. Tinggalkan URL entri anda ke dalam ruangan komen INI
Senang dan mudah bukan?


12 blog yang bertuah akan dipilih oleh random.org dan kepada yang terpilih nanti diminta agar memasukkan blog Mialiana.com ke dalam bloglist mereka juga. Keputusan pemenang akan diumumkan pada 28 Februari 2014.

tunggu apa lagi... jom support Mia Liana ya...

sinar

sinar

sinar tiba menyisih gelap
garis-garis cerah yang kemilau
kembalilah mengikut jalur sinar
kautemui jalan kembali

sinar itu cahaya
benderang mermberimu harap
di tengah gelombang tak berhenti
sinar tiba mengajakmu
membina keyakinan

sinar pada gelap pekat
adalah kilau yang jauh
mengapung indah


usah mudah menyerah
selagi sinar melambungkan cahaya
segalanya belum berakhir
dan kegagalan tidak berupaya
mematikan inginmu

sinar adalah bunga terang
indah di permaidani alam

pada hari yang senyap





11 Feb 2014

1st Giveaway by Cik Yaanie 2014

http://babysiiwan.blogspot.com/2014/02/1st-giveaway-by-cik-yaanie-2014.html
klik banner

Ist giveaway by cik yaanie
ikut untuk bersama....

10 Feb 2014

Yayasan Usman Awang

 
Yayasan Usman Awang ditubuh himpun karya untuk penyelidikan
February 10, 2014

Sebuah badan dikenali sebagai Yayasan Usman Awang, ditubuhkan hari ini bagi menghimpun karya sasterawan negara untuk kemudahan para pengkaji sastera dalam dan luar negara membuat penyelidikan.

Haslina Usman, anak sasterawan itu berkata:
"Penubuhan Yayasan Usman Awang ini juga sebenarnya adalah untuk dijadikan sebuah 'research centre' bagi memudahkan pengkaji sastera dalam dan luar negara mencari karya ayah saya".

Bercakap di sidang media berhubung penubuhan yayasan itu, di bangunan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Haslina berkata usaha akan dilakukan segera bagi mengumpul dan memulihara khazanah karya sasterawan itu di dalam negara dan juga yang berada dalam simpanan Perpustakaan Nasional Singapura.

Turut hadir adalah Ketua Pengarah DBP, Datuk Dr Awang Sariyan, Sasterawan Negara, Datuk Anwar Ridhwan dan Pengarah Urusan Hai-O Enterprise Berhad, Tan Kai Hee yang turut mengumumkan untuk menyumbang RM1juta kepada Yayasan Usman Awang.

Beberapa rakan karib Usman turut hadir, antaranya Senator Dr Syed Husin Ali; mantan Pengerusi Lembaga Pengelola DBP, Tan Sri Kamarul Ariffin; dan penggiat teater tanah air, Che Shamsudin Othman atau Dinsman.

Haslina berkata beliau dan ahli jawatankuasa sementara Yayasan Usman Awang sedang menjalankan usaha mengumpul semua karya Usman melalui nama pena yang pernah digunakan tokoh itu.

"Selain Tongkat Warrant, ayah saya pernah menggunakan nama pena seperti Pengarang Muda, Manis, Zaini dan Atma Jiwa.

Jadi, karya arwah ayah saya sebenarnya banyak, setakat yang diketahui novel ada satu, puisi 200 lebih, cerpen 100 lebih dan beberapa puluh drama. Itu yang diketahui, bayangkan kalau kita mencari, banyak lagi karya arwah yang dihasilkan sejak beliau mula menulis, dari muda sehingga akhir hayatnya akan ditemui," katanya.

Pada majlis itu, Haslina turut mengumumkan akan mengadakan majlis Pertemuan Kawan-Kawan Usman Awang yang dianjurkan pihaknya, bertujuan untuk menghimpun penggiat sastera tanah air pada Ahad ini di Dewan Bankuet, DBP.

Pelbagai program bakal diisi pada majlis pertemuan itu, antaranya tayangan dokumentari Usman Awang (gambar), Anugerah Integrasi Nasional Usman Awang, makan malam dan deklamasi puisi Usman Awang. – Bernama, Februari 10, 2014.

malaysian insider


Yasasan Usman Awang to be established soon
By ASYRAF ABDUL SAMAD

KUALA LUMPUR: The establishment of Yayasan Usman Awang by the late Datuk Dr Usman Awang’s close friends and family members is in the beginning stages, said Haslina Usman.
“The proposal to set up a charitable foundation to preserve all works of literary treasures by my late father has long been discussed at various meetings held by some of his close friends who are very concerned about the fate of the status of his works,” she said.

Haslina added that many of his works went unpublished those in the Singapore’s National Archive are not found in the Malaysian Archives.

“These are some of Malaysia’s national literary treasures and we would like to see them collected and preserved before they are lost forever.”

Dubbed as the father of modern Malay literature, Usman was awarded the Malaysian National Laureate in 1983 for his work as a poet, playwright and novelist.

“One of the goals of the foundation is to ensure that the creation of our literary heritage continues, as well as to collect literary works of Usman that were previously unknown,” said Senator Dr. Syed Husin Ali, a member of the ad hoc committee.

Syed Husin also said that the foundation aims to provide assistance to writers and children with talent or interest in the literary arts.

Also present during today's conference were National Laureate Datuk Dr. Anwar Ridhwan, writer and poet Samsudin Othman, Tan Sri Kamarul Ariffin, Datuk Dr Awang Sariyan, Kamarazaman Yacob and Tan Kai Hee of Hai-O Enterprise.

nst

STATUS

Search This Blog

DAUN