18 Jun 2018

songket sampai ke siak

Sejarah Tenun Songket sampai ke Tanah Melayu Siak: Dibawa Orang dari Kerajaan Terengganu, Dikembangkan oleh Tengku Maharatu



Tengku Maharatu, permaisuri kedua Sultan Syarif Kasim II (gambar kiri) dan para puteri di Kesultanan Siak dalam pendidikan di LatifahSchool (gambar kanan). (foto: http://chroniclid.blogspot.co.id/)


PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Orang pertama yang memperkenalkan tenun ini adalah seorang pengrajin yang didatangkan dari Kerajaan Terengganu Malaysia pada masa Kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali.Seorang wanita bernama Wan Siti binti Wan Karim dibawa ke Siak Sri Indrapura, beliau adalah seorang yang cakap dan terampil dalam bertenun dan beliau mengajarkan bagaimana bertenun kain songket. Karena pada saat itu hubungan kenegerian Kesultanan Siak dengan negeri-negeri Melayu di semenanjung sangat lah erat, terutama juga dalam hal seni dan budaya Melayu yang satu.

Pada awalnya tenun yang diajarkan adalah merupakan tenun tumpu dan kemudian bertukar ganti dengan menggunakan alat yang dinamakan dengan "kik", dan kain yang dihasilkan disebut dengan kain tenun Siak (masuk wilayah Provinsi Riau).

Pada awalnya kain tenun Siak ini dibuat terbatas bagi kalangan bangsawan saja terutama Sultan dan para keluarga serta para pembesar kerajaan di kalangan Istana Siak. Kik adalah alat tenun yang cukup sederhana dari bahan kayu berukuran sekitar 1 x 2 meter.

Sesuai dengan ukuran alatnya, maka lebar kain yang dihasilkan tidaklah lebar sehingga tidak cukup untuk satu kain sarung, maka haruslah di sambung dua yang disebut dengan kain "berkampuh".

Akibatnya untuk mendapatkan sehelai kain, terpaksa harus ditenun dua kali dan kemudian hasilnya disambung untuk bagian atas dan bagian bawah yang sudah barang tentu memakan waktu yang lama. Dalam bertenun memerlukan bahan baku benang, baik sutera ataupun katun berwarna yang dipadukan dengan benang emas sebagai ornamen (motif) atau hiasan.

Dikarenakan benang sutera sudah susah didapat, maka lama kelamaan orang hanya menggunakan benang katun. Dan pada saat ini pula kain tenun songket siak dikembangkan pula pembuatannnya melalui benang sutera. Nama-nama motif tenun songket Riau itu antara lain, pucuk rebung, bunga teratai, bunga tanjung, bunga melur, tapuk manggis, semut beriring, siku keluang. Semua motif ini dapat pula saling bersenyawa menjadi bentuk motif baru.

Tokoh Wanita Melayu Riau yang sangat berperan dalam mengembangkan kerajinan kain tenun songket Melayu Siak di Riau adalah Tengku Maharatu. Tengku Maharatu adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua, setelah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggal dunia.

Dia melanjutkan perjuangan kakaknya dalam meningkatkan kedudukan kaum perempuan di Siak dan sekitarnya, yaitu dengan mengajarkan cara bertenun yang kemudian dikenal dengan nama tenun Siak. Tenun Siak yang merupakan hasil karya kaum perempuan telah menjadi pakaian adat Melayu Riau yang dipergunakan dalam pakaian adat pernikahan dan upacara lainnya.

Berkat perjuangan permaisuri pertama yang dilanjutkan oleh permaisuri kedua, perempuan yang tamat dari sekolah Madrasatun Nisak dapat menjadi mubalighat dan memberi dakwah, terutama kepada kaum perempuan.

Tenunan yang lazim di sebut songket itu dalam sejarah yang panjang telah melahirkan beragam jenis motif, yang mengandung makna dan falsafah tertentu. Motif-motif yang lazimnya di angkat dari tumbuh-tumbuhan atau hewan (sebagian kecil) di kekalkan menjadi variasi-variasi yang serat dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai asas kepercayaan dan budaya melayu.

Selanjutnya, ada pula sebagian adat istiadat tempatan mengatur penempatan dan pemakaian motif-motif dimaksud, serta siapa saja berhak memakainya. Nilainya mengacu kepada sifat-sifat asal dari setiap benda atau makhluk yang dijadikan motif yang di padukan dengan nilai-nilai luhur agama islam. Dengan mengacu nilai-nilai luhur yang terkandung di setiap motif itulah adat resam tempatan mengatur pemakaian dan penempatannya, dan menjadi kebanggaan sehingga diwariskan secara turun temurun.

Orang tua-tua menjelaskan bahwa kearifan orang melayu menyimak islam sekitarnya memberikan mereka peluang besar dalam memilih atau menciptakan motif. Hewan yang terkecil seperti semut, yang selalu bekerja sama mampu membuat sarang yang besar, mampu mengangkat barang-barang yang jauh lebih besar dari badannya, dan bila bertemu selalu berangkulan, memberi ilham terhadap pencintaan motif untuk mengabadikan perihal semut itu dalam motif tersebut sehingga lahirlah motif yang dinamakan motif semut beriring.

Begitu pula halnya denagn itik yang selalu berjalan beriringan dengan rukunnya melahirkan motif itik pulang petang atau itik sekawan. Hewan yang selalu memakan yang manis dan bersih (sari bunga), kemudian menyumbangkannya dengan mahkluk lain dan bentuk madu dan selalu hidup berkawan-kawan dengan damainya melahirkan pula motif lebah bergantung atau lebah bergayut.
Bunga-bungaan yang indah, wangi dan segar melahirkan motif-motif bunga yang mengandung nilai dan filsafah keluhuran dan kehalusan budi, keakraban dan kedamaian seperti corak bunga setaman, bunga berseluk daun dan lain-lain. Burung balam, yang selalu hidup rukun dengan pasangannya, melahirkan motif balam dua setengger sebagai cermin dari kerukunan hidup suami istri dan persahabatan.



Ular naga, yang dimitoskan menjadi hewan perkasa penguasa samudra, melahirkan motif naga berjuang serindit mencerminkan sifat kearifan dan kebijakan. Motif puncak rebung dikaitkan dengan kesuburan dan kesabaran. Motif awan larat dikaitkan dengan kelemah-lembutan budi, kekreatifan, dan sebagainya.

Dahulu setiap pengrajin diharuskan untuk memahami makna dan falsafah yang terkandung di dalam setiap motif. Keharusan itu dimaksudkan agar mereka pribadi mampu menyerat dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, mampu menyebarluaskan, dan mampu pula menempatkan motif itu sesuai menurut alur dan patutnya. Karena budaya melayu sangat ber-sebati dengan ajaran islam, inti sari ajaran itu terpateri pula dengan corak seperti bentuk segi empat dikaitkan dengan sahabat Nabi Muhammad SAW yang berempat, bentuk segi lima dikaitkan dengan rukun islam, bentuk segi enam dikaitkan dengan rukun iman, bentuk wajik dikaitkan dengan sifat Allah yang maha pemurah, bentuk bulat dikaitkan dengan sifat Allah yang maha mengetahui dan penguasa alam semesta, dan sekitarnya.

Menurut orang tua Melayu Riau, makna dan falsafah di dalam setiap motif, selain dapat meningkatkan minat-minat orang untuk menggunakan motif tersebut, juga dapat menyebar-luaskan nilai-nilai ajaran agama Islam yang mereka anut, itu lah sebabnya dahulu pengrajin diajarkan membuat atau meniru corak. Ungkapan adat mengatakan :

Di dalam pantun banyak penuntun
Bertuah orang berkain songket Coraknya banyak bukan kepalang
Petuahnya banyak bukan sedikit
Hidup mati di pegang orang
Kain songket tenun melayu
Mengandung makna serta ibarat
Hidup rukun berbilang suku Seberang kerja boleh di buat
Bila memakai songket bergelas
Di dalamnya ada tunjuk dan ajar
Bila berteman tulus dan ikhlas
Kemana pergi tak akan terlantar

Khazanah songket Melayu amatlah kaya dengan motif dan serat dengan makna dan falsafahnya, yang dahulu dimanfaatkan untuk mewariskan nilai-nilai asas adat dan budaya tempatan. Seorang pemakai songket tidak hanya sekedar memakai untuk hiasan tetapi juga untuk memakai dengan simbol-simbol dan memudahkannya untuk mencerna dan menghayati falsafah yang terkandung di dalamnya. Kearifan itulah yang menyebabkan songket terus hidup dan berkembang, serta memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan mereka sehari-hari. ***

Sumber:
[1] Riaudailyphoto.com
[2] Sejarah Tenun Songket Siak Melayu Riau


potretnews


Asal Muasal Keindahan Tenun Siak yang Memukau
25 Sept 2017



Bidal tua Melayu bertuliskan “Dari kapas menjadi benang. Pilin benang menjadi kain” merupakan tugu pengingat dan menjadi simbol kreatifitas masyarakat Siak dalam mengubah kapas menjadi tenunan yang bernilai berharga. Tenun Siak, sebagaimana namanya, adalah tenunan tradisional yang dibuat oleh masyarakat Siak, Provinsi Riau. Tenun Siak sudah ada sejak Siak masih berupa kesultanan yang dipimpin oleh Tengku Said Ali.

Sejarahnya pekerjaan menenun hanya dikenal sebagai pekerjaan sambilan di dalam lingkungan istana saja. Namun, seiring perkembangan zaman tenun Siak dapak dibuat oleh masyarakat kalangan biasa.

Dialah Tengku Maharatu, seorang tokoh Melayu Riau yang sangat berperan dalam mengembangkan kerajinan kain tenun songket Melayu Siak di Riau. Tengku Maharatu merupakan permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua. Setelah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggal dunia, dia melanjutkan perjuangan kakaknya tersebut dalam meningkatkan kedudukan kaum perempuan Siak di lingkungannya, yakni dengan cara mengajarkan bertenun yang hasil karyanya hingga kini disebut dengan Tenun Siak.



Tenun Siak yang merupakan hasil karya perempuan Melayu telah menjadi pakaian adat Melayu Riau yang kerap dipergunakan dalam upacara adat pernikahan dan upacara lainnya.

Pada awalnya tenun yang diajarkan merupakan tenun tumpu dan kemudian diganti menggunakan alat yang dinamakan dengan Kik. Kik merupakan alat tenun yang cukup sederhana dari bahan kayu berukuran 1 x 2 meter. Karena ukurannya inilah, KIK tidak mampu menghasilkan kain tenun yang lebar, sehingga perlu digabungkan untuk dapat menjadi kain sarung. Kain tenun yang telah digabungkan ini disebut dengan kain “Berkampuh”.

Tenun Siak telah melalui sejarah panjang dan kini mempunyai ragam motif dan corak yang variatif. Motif-motif yang kerap dipakai adalah tumbuh-tumbuhan dan hewan. Konon kearifan orang Melayu dalam menyimak ajaran Islam dan alam sekitar telah memberikan mereka banyak inspirasi dalam menciptakan motif. Beberapa motif yang dikenal saat ini antara lain:

Motif Flora: ampuk manggis, bunga tratai, bunga kenanga, bunga kundur, akar berjalin, pucuk dara, bunga melur, bunga tanjung, bunga hutan, kaluk paku, daun pandan, tampuk pedade, bunga cina, daun sirih.
Motif fauna: semut beriring, siku keluang, ayam-ayaman, itik sekawan, balam dua, naga-nagaan, ikan-ikanan, ulat.
Motif Alam: potong wajid, bintang-bintang, jalur-jalur, pelangi-pelangi, awan larat, perahu, sikat-sikat bulan sabit.

mahligai

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena