27 Nov 2015

Jejak Langkah


"Nenek moyang mereka mengajarkan: tak ada satria lahir, tumbuh dan perkasa tanpa ujian." (Minke, Jejak Lagkah hal. 201)

"Bagi yang kehausan di gurun pasir setitik embun kotor pun akan diraih, bahkan fatamorgana pun akan diparani." (Minke, Jejak Langkah hal. 495)




Review: Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer

Sebagai pembukaan, akan saya ungkapkan saja identitas Minke yang sebenarnya. Dari kover buku ini dan inisial “T.A.S.” yang muncul di halaman 596, sudah dapat ditebak siapa sebenarnya Minke. Dia adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo yang pada November 2006 lalu ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Minimnya sumber bacaan dan literatur tentang dirinya membuatnya sedikit terlupakan dari panggung sejarah bangsa ini. Padahal benih cikal bakal negara dan bangsa Indonesia yang bersatu ada di tangannya. Lewat Tetralogi Buru inilah Pram seakan ingin mengingatkan dan mengenalkan pada kita bahwa ada seseorang, seorang pahlawan nasional, bersenjatakan pena, tinta, dan kertas mampu mengubah jalannya sejarah Hindia hingga menjadi seperti yang kita nikmati sekarang ini.

Jejak Langkah sedikit berbeda dengan dua seri sebelumnya, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Meski Minke masih sebagai pusat cerita dan sudut pandang bercerita, dalam Jejak Langkah peran Minke lebih mendominasi. Seperti yang pernah diungkapkan Minke sendiri dalam Anak Semua Bangsa, selama ini dia seperti berada di bawah bayang-bayang Nyai Ontosoroh. Tak salah memang. Selama membaca Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Nyai Ontosoroh lebih terasa perannya dibanding Minke. Karena itu setelah menyelesaikan berbagai urusan hukum dan keluarga di ending Anak Semua Bangsa, Minke memutuskan merantau ke Betawi untuk mencari jati diri dan melanjutkan studi di STOVIA⎯ sekolah kedokteran untuk kaum pribumi.

Karena itu lupakan Nyai Ontosoroh, Darsam, Jean Marais, bahkan lingkungan Borderij Buitenzorg yang begitu mendominasi di dua seri sebelumnya. Kisah Minke di buku ini sudah beralih ke ranah Betawi, tempatnya menjalani studi di STOVIA, dan Bumi Priangan, tempatnya melahirkan dan menjalankan Medan Priyayi⎯ media pribumi pertama di Hindia.

Minke mengawali kisahnya dalam Jejak Langkah dengan pengalaman-pengalamannya selama studi di STOVIA. Teman-teman baru ia dapatkan di sini, meski tidak banyak. Kehidupannya juga terjamin kerana tidur di asrama dan setiap minggu mendapat wang saku dari sekolah. Meski begitu, pendidikan dokter yang dijalaninya tidak sesuai dengan harapannya. Peraturan sekolah yang sangat ketat tidak sesuai dengan karakternya yang mengagungkan kebebasan. Selain itu dirinya diharuskan memakai pakaian adat tradisional Jawa selama mengikuti kegiatan sekolah. Benar-benar berbeda 180 derajat dengan kebiasaan sehari-harinya yang berpakaian Eropa dan bisa bebas ke mana saja.

Saat berstatus siswa STOVIA ini Minke bertemu dengan Ang San Mei berkat wasiat yang diberikan Khouw Ah Soe. Hubungan Minke dengan Mei sangat baik, bahkan kemudian mereka menikah. Setelah memperistri gadis Tionghoa tersebut, pemikiran Minke jadi semakin tajam dan kritis kepada Belanda. Terinspirasi dari beberapa hal⎯gerakan Angkatan Muda di Tiongkok, perlawanan rakyat Filipina terhadap penjajahan Spanyol, dan kemajuan pesat bangsa Jepang di belahan bumi utara, Minke juga terpacu untuk melakukan hal yang sama di Hindia.

Kesempatan itu datang ketika seorang dokter Jawa senior melakukan kuliah umum di STOVIA. Dokter ini - yang tak lain adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo⎯ menekankan kepada murid-murid STOVIA untuk berorganisasi seperti yang telah dilakukan golongan Tionghoa. Dengan berorganisasi, golongan pribumi akan bangun dari tidurnya. Dengan berorganisasi, di dalam diri golongan pribumi akan timbul kesedaran bangsa. Jika tidak segera berorganisasi, pribumi sudah pasti akan semakin jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Jangankan dengan bangsa Jepang yang sudah sederajat dengan bangsa Eropa, dengan golongan Tionghoa dan Arab di Hindia saja golongan pribumi sudah jauh tertinggal.

Kuliah umum dokter Jawa tersebut benar-benar mempengaruhi Minke. Dia pun segera bergerak membentuk organisasi yang dimaksud. Hasilnya terbentuklah Syarikat Priyayi. Bersamaan dengan terbentuknya Syarikat Priyayi, koran mingguan Medan Priyayi pun terbit. Di awal-awal penerbitannya, mingguan ini lebih berfungsi sebagai media penyampai suara organisasi kepada masyarakat. Medan Priyayi pun segera mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Namun dalam perjalanannya, Syarikat Priyayi mengalami kemacetan. Meski begitu Minke berhasil mempertahankan Medan Priyayi sebagai sumber informasi, edukasi hukum, dan pengaduan hukum bagi masyarakat pribumi.

Selang beberapa waktu seorang siswa STOVIA bernama Raden Tomo⎯kemudian kita kenal sebagai dr. Soetomo⎯datang kepada Minke untuk berkonsultasi tentang organisasi yang akan dibentuk, Budi Utomo. Raden Tomo juga menawari Minke untuk bergabung ke organisasi tersebut. Minke pun setuju bergabung, tapi di kemudian hari keluar dari organisasi tersebut karena berlainan prinsip.

Minke tetap tak patah arang. Dia masih tetap vokal dan berjuang melalui Medan Priyayi. Hingga di suatu hari dia menyadari bahwa perdagangan juga merupakan kunci kemajuan dan kemakmuran sebuah bangsa. Dari inspirasi ini dia kemudian membentuk Syarikat Dagang Islamiyah (SDI). Tak disangka-sangka SDI berkembang menjadi organisasi raksasa di kawasan Asia Tenggara. Bersama-sama Medan Priyayi menjalankan misi dan propagandanya, SDI menjadi kekuatan yang luar biasa di Hindia. Impian dan cita-cita Minke untuk menggugah dan menggerakkan pribumi Hindia melawan kolonialisme Belanda semakin mendekati kenyataan. Sayangnya sebuah blunder rekan-rekannya di Medan Priyayi mengandaskan hal tersebut.

Ada beberapa kelebihan yang membuat saya sangat menyukai seri ketiga Tetralogi Buru ini. Yang pertama adalah kekayaan alur dan detail sejarahnya, lebih kaya dibanding Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Selain dalam roman Arok Dedes, di sini Pram juga menunjukkan kepiawaiannya meramu fiksi dan fakta sejarah. Lewat Minke, kita dapat membaca proses lahir dan berkembangnya generasi pertama organisasi-organisasi pergerakan pribumi di Hindia.


Mingguan Medan Priyayi
(Sumber: Wikipedia)

Organisasi yang paling disorot dalam buku ini tentu saja Syarikat Priyayi, Budi Utomo, dan Syarikat Dagang Islamiyah. Medan Priyayi juga tidak boleh kita lupakan. Meski bukan sebuah organisasi pergerakan, media ini sangat berperan dalam menunjang kegiatan organisasi-organisasi tersebut. Medan Priyayi justru yang memberikan pengaruh luar biasa kepada masyarakat dalam misi menggugah kesadaran bangsa⎯yang nantinya akan bermuara pada bangkitnya rasa nasionalisme.

Seperti yang disebutkan di awal review ini, Minke memiliki andil yang besar terhadap media dan organisasi-organisasi tersebut. Wajar saja jika Pram lebih fokus pada keempat elemen tersebut dalam mengisahkan benih-benih awal pergerakan nasional Indonesia. Meski begitu hal ini sudah cukup untuk memberikan gambaran pada kita tentang situasi dan landasan yang digunakan sebagai pergerakan nasional pada era tersebut.

Pram juga banyak menyebut nama-nama tokoh yang berperan dalam pergerakan nasional awal. Selain nama-nama yang disebut di awal review, ada juga Thamrin Mohammad Thabrie (ayah M.H. Thamrin), Gadis Jepara (R.A. Kartini), Dewi Sartika, Haji Samadi (K.H. Samanhudi), Marko (Marco Kartodikromo), dan Abdoel Moeis. Mayoritas dari tokoh-tokoh tersebut tidak sekedar numpang lewat. Malahan mereka banyak berperan membantu Minke. Seperti Thamrin Mohammad Thabrie yang berandil besar dalam pembentukan Syarikat Priyayi dan Marko yang bertugas sebagai bodyguard Minke serta ikut membantu kegiatan operasional Medan Priyayi.


R.M. Tirto Adhi Soerjo
(Sumber: Wikipedia)

Hal menarik lain dalam buku ini adalah perkembangan karakter Minke. Di sini Minke semakin matang. Lepas dari bayang-bayang Nyai Ontosoroh sepertinya menjadi salah satu faktor. Sehingga Minke dapat memutuskan segala sesuatunya secara mandiri tanpa campur tangan orang lain. Beberapa situasi yang dihadapinya ketika menjadi siswa STOVIA juga sangat membantu proses kematangannya. Apalagi dia juga selalu bertukar pikiran dengan Ang San Mei, yang pemikirannya sangat maju dan revolusioner. Selain itu pengalaman-pengalaman keras yang dialaminya selama di Surabaya benar-benar membentuk pribadinya menjadi sosok yang tahan banting. Sehingga ketika dia dikeluarkan dari STOVIA pun, hal itu tidaklah menjadi masalah besar baginya. Justru dia mampu memanfaatkannya sebagai titik balik kebangkitannya.

Hal lain yang menarik dari perkembangan karakter Minke adalah sikapnya terhadap bahasa Melayu. Jika di Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Minke tampak begitu ‘memuja’ bahasa Belanda dan memandang sebelah mata bahasa Melayu, di buku ini justru sebaliknya. Hal ini terjadi setelah dia menyadari bahwa bahasa Melayu merupakan alat yang tepat untuk melakukan propaganda terhadap golongan pribumi.

Sejak itulah sikapnya terhadap bahasa Melayu berubah. Baginya bahasa Melayu adalah bahasa wajib. Bahasa Melayu juga merupakan alat yang tepat untuk menyatukan kaum pribumi yang berbangsa ganda (multietnis). Karena sikap inilah dia kemudian keluar dari Budi Utomo. Dia mengkritik kebijakan Budi Utomo yang hanya menerima orang Jawa sebagai anggota. Bahasa komunikasi Budi Utomo sendiri bukan bahasa Jawa maupun Melayu, melainkan bahasa Belanda. Prinsip berbangsa tunggal ini sangat jauh dari prinsip berbangsa ganda yang dianut Minke.

Sayangnya di buku ini saya menemukan satu kejanggalan. Hal itu adalah ketika Minke berkunjung ke Surakarta untuk menemui Haji Samadi (K.H. Samanhudi) yang merupakan ketua Syarikat Dagang Islamiyah cabang Surakarta. Padahal jika menilik fakta sejarah, organisasi yang dipimpin K.H. Samanhudi bukanlah cabang dari Syarikat Dagang Islamiyah, melainkan organisasi perkumpulan pedagang-pedagang Islam bernama Syarikat Dagang Islam. SDI rintisan K.H. Samanhudi sendiri berdiri lebih dulu daripada SDI rintisan Tirto Adhi Soerjo. Tapi mengingat buku ini bukan buku sejarah, hal ini masih bisa dimaklumi. Mungkin saja Pram mengondisikan hal ini agar cerita sesuai dengan alur yang dirancangnya.

Padatnya informasi sejarah yang dijejalkan Pram memang membuat Jejak Langkah tampak seperti buku sejarah. Ditambah lagi dengan ketebalannya yang memang paling tebal di antara seri-seri Tetralogi Buru yang lain. Namun, tetap ada bagian yang membuat buku ini tetap tampil sebagai sebuah roman. Yang paling utama tentu saja kisah percintaan Minke. Sejak awal seri Tetralogi Buru, Minke sudah digambarkan sebagai seorang pecinta wanita. Jika di dua seri sebelumnya kita membaca kisah cintanya bersama Annelies, di sini kita akan membaca kisah cintanya bersama tiga wanita: Ang San Mei, Maysaroh Marais, dan Prinses van Kasiruta.

Selain itu, bukan Minke namanya jika kisah-kisah hidupnya tidak tragis dan ngenes. Sejak kisahnya di Bumi Manusia, hal ini seakan menjadi trademark dirinya. Pram sendiri sampai sejauh ini mengisahkan hal tersebut dengan sempurna: sangat menyentuh dan memainkan emosi. Dan sekali lagi, di sini Pram mengeksplorasi tragisnya kisah cinta dan nasib Minke seperti yang sudah-sudah. Sepertinya hal ini menjadi pakem Pram dalam mengisahkan serial Tetralogi Buru.

Overall, saya lebih menikmati buku ini sebagai penggemar sejarah, bukan roman. Lewat buku ini wawasan saya bertambah tentang siapa itu Tirto Adhi Soerjo. Di tengah-tengah minimnya literatur dan pustaka yang membahas sosok dan jasa-jasanya, buku ini dapat dipakai untuk mengenal lebih jauh sosok Tirto Adhi Soerjo. Buku ini membuat mata saya terbuka bahwa jauh sebelum sumpah pemuda dirancang dan proklamasi diproklamirkan, ternyata sudah ada putra bangsa yang memiliki visi sejauh itu.

pustakaide


Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah, 2006.

Minke. 1901. Akhirnya mendarat di Betawi. Syukur, dia mendapat bea siswa untuk kuliah di S.T.O.V.I.A ! sekolah kedokteran untuk pribumi. Betapa beruntungnya. Tidak sampai disitu. Pada hari pertamanya di asrama, dia diundang ke gedung De Harmonie untuk bertemu dengan anggota Yang Terhormat Tweede Kamer ( Parlemen? ) Belanda. Amboy.
Dan Jenderal Van Heutsz, panglima perang penakluk Aceh, yang kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia. Demikian pentingkah seorang Minke sehingga diperlukan ikut dalam acara itu. Rupanya tulisan tulisannya dalam bahasa Belanda yang selama ini begitu sempurna - sehingga nyaris semua orang tidak percaya kalau yang menulis hanya seorang pribumi - menarik perhatian pihak Gubermen......

Tapi bukan Minke kalau tidak berulah. Di sela sela kuliahnya dia menjalin hubungan asmara dengan guru Bahasa Inggris, seorang Tionghoa. Ang San Mei. Mereka bahkan menikah. Jadilah Minke orang kuliahan yang sekaligus seorang suami. Itu terjadi sampai tahun kelima. Sampai sesuatu yang misterius terjadi. Mei tiba tiba menjadi aneh. Dia mulai berani meninggalkan suami, malam malam, tanpa penjelasan, dan berulang ulang. Selidik demi selidik akhirnya terungkap dia bagian dari jaringan organisasi internasional para Tionghoa yang berharap revolusi di tanah leluhur. Namun keterkuakan itu datang terlambat. Mei kelelahan dengan apa yang dilakoninya. Dia terkena penyakit kuning, dan meninggal. Kembali Minke menjadi duda. Belum sempat berduka, kabar kelam lainnya datang. Dia dipecat sebagai mahasiswa dan diminta mengembalikan uang bea siswa ke Gubermen!

Dikeluarkan dari sekolah kedokteran menjadi berkah terselubung buat Minke. Ia kembali menekuni dunia jurnalistik seperti minatnya semula. Di saat yang sama dunia mulai berubah. Jepang bangkit dan menang perang atas Rusia. Bangsa Asia bisa! semangat Jepang mulai menjalar ke anak anak muda China untuk mulai berorganisasi dan mengobarkan revolusi. Seorang dokter Jawa tua mengobarkan pentingnya berorganisasi bagi pribumi Hindia. Dan Minke menjawab tantangan itu.

Mula mula ia mendirikan Syarikat Priyayi, yang ternyata kurang berhasil. Namun ia berhasil mendirikan harian ' Medan ' yang tirasnya terus meningkat. Belum kapok, ia turut membidani lahirnya organisai modern ' Boedi Oetomo ' yang disambut lebih baik dari Syarikat Priyayi. Sementara harian ' Medan ' mulai mengalahkan harian harian yang dikelola orang Belanda.

Kerinduannya akan organisasi yang lebih ' Hindia ' dan merangkul semua kalangan membuatnya kembali membuat organisasi ' Syarikat Dagang Islam '. Tuah kata ' dagang' dan 'Islam' membuatnya dengan cepat menggucang Nusantara dan daratan Eropa. Pemerintah Gubermen mulai khawatir.....

Gubernur Jenderal Van Heutsz yang dekat dengan Minke digantikan Idenberg. Mulailah operasi rahasia untuk menghancurkan Syarikat Dagang Islam. Rumah tangga Minke yang menikahi Prinses Van Kasiruta, putri seorang raja Maluku, mulai diteror. ' Medan ' dibekukan, Minke sendiri ditangkap untuk dibuang ke Ternate.

Roman sejarah yang memukau. Walaupun novel ini bukan buku sejarah, namun ia memberikan gambaran yang lebih jelas tentang aktor sejarah Budi Utomo dan Syarikat Dagang Islam dalam panggung sejarah pergerakan. Pramoedya seolah ingin menunjukan siapa sebenarnya sang Pemula, pelopor pergerakan modern kebangsaan yang kemudian dikenal dengan Indonesia......

esanugrahaputra

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena