10 Jul 2015

Lelaki dan Pohon Epal




Anak Lelaki dan Pohon Epal

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon epal besar dan seorang anak lelaki yang gemar bermain-main di bawah pohon epal itu pada setiap hari.

Anak laki-laki itu begitu gembira memanjat hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, dan tidur di  di celah rimbunan dahan rendang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon epal itu. Demikian pula pohon epal yang sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini semakin membesar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon epal itu pada  setiap hari.

Suatu hari ia mendatangi pohon epal. Wajahnya begitu  sedih. “Marilah  ke sini bermain-main lagi denganku,” rayu pohon epal itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya wang untuk membelinya.”

Pohon epall itu menyahut, “Oh, maaf aku pun tak punya wang…, tetapi kau masih boleh mengambil semua buah epalku dan menjualnya. Kau boleh dapatkan wang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat gembira. Ia  memetik semua buah epal yang ada di pohon dan pergi dengan penuh sukacita. Namun, setelah  kejadian itu, itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon epel itu kembali sedih. Dia benar-benar merindui anak lelaki itu.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon epal sangat gembira melihat kehadiran anak lelaki itu..

“Marilah bermain-main denganku lagi,” kata pohon epal

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami memerlukan rumah untuk tempat tinggal. Mahukah kau menolongku?”

“Aku mintak maaf kerana aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk dijadikan sebagai rumahmu,” kata pohon epal

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon epal itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu begitu gembira, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi selepas itu. Pohon epal  benar-benar merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon epal merasa sangat gembira menyambutnya.


“Marilah bermain-main lagi denganku,” kata pohon epal

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi beristirahat dan berlayar. Mahukah kau memberi aku sebuah kapal untuk aku bersiar-siar?”

“Maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membina sebuah kapal.  Pergilah berlayar dan gembirakanlah hatimu.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon epal itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon epal itu.

Selang beberapa tahun kemudian, anak lelaki itu kembali semula menumui pohon epal. “Maaf anakku,” kata pohon epal itu. “Aku sudah tak memiliki buah epal lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah epalmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang boleh kau panjat,” kata pohon epal
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang dapat aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan ini,” kata pohon epal itu sambil menitiskan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.

“Aku hanya menginginkan tempat untuk aku beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oh begitu. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di celah-celah dipelukan akar-akar pohon. Pohon epal itu sangat gembira dan tersenyum sambil menitiskan air matanya. Ia terharu anak itu kembali kepadanya.


1 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena