14 May 2016

3 buah puisi hari guru


selamat hari guru
tiga buah puisi ini
barangkali berupaya menjelaskan
dunia guru dan warnanya




garis

yang pertama kauajarkan adalah garis dan titik
berbekas pada kertas kecil hidup muridmu
ia membesar menjadi aksara dan warna
kaulah yang menajamkan kalam kebijakan
membuka peta harapan dan melukis garis mimpi
saban hari mereka akan tiba di hadapanmu
menatapmu dengan segala kepercayaan segala harapan
bahawa kau akan mengisi relung jiwa mereka dengan keyakinan
bahawa kau akan membimbing tangan-tangan mereka
mendaki puncak tinggi menatap pulau-pulau jauh

kaulah yang membajak akal menjadi ladang kebijaksanaan
kaulah yang menabur benih berani membajai gigih perjuangan
pesan-pesanmulah obor hikmah cahaya pada gelap yang datang
kaulah dupa wangi memberi harum setanggi perjuangan

datanglah dengan hatimu dengan cinta dan kasih sayang
semua itu adalah hujan yang menghijaukan padang sukma
jadilah bening embun membuka kesegaran kelopak hidup
siapa lagi yang harus menjadi kekasih yang mengerti
atau sahabat yang budiman
kala mereka meraba dalam khilaf tertinggal denai perjuangan
siapa lagi yang harus memberi petunjuk kala mereka melihat kekosongan
siapa lagi yang harus mengesat airmata kala kehibaan merempuh panjang
tataplah hati mereka suara jiwa yang sering mereka lafazkan
mereka masih kerdil mamahami kasar hidup dan ganas gelora cabaran
ukirkanlah garis senyum di bibir mereka
biar hati mereka berbunga cinta
biar jiwa mereka berbingkai ketulusan
biar jantung mereka berukir indah kasih sayang

terima kasih cikgu
cermin pujangga kitab bestari rujukan insan
lorong terbuka denai manusiawi pemandu insan
pohon pelindung akar kasih sayang hubungan insan
segalanya bermula dari garis bakti dan tuai jasamu
nyala bintang gemerlap di langit zaman
terima kasih cikgu

 
kautuliskan kata

kautuliskan kata
dari bahasa cinta seorang kekasih
dari warna jiwa seorang sahabat
memujuk kosong jiwa menetas sunyi batin
membuka bahasa akal melamar  ilmu baru
menghembuskan angin semangat mememburu masa depan
kau dirikan bahtera keyakinan
merekalah pendayung teguh mencari pulau impian

kautuliskan kata
menjadi sumur jiwa yang mendinginkan gulir perasaan
siapa lagi yang akan sabar berdiri di depan ragu dan pilu
menukarkan lesu akal menjadi nyala kebijakan pujangga
kaucantumkan segala aksara
menjadi sebaris kata 
kaubancuhkjan segala warna
menjadi lukisan rasa
kaucantumkan segala garis
menjadi rajah dan ukir hidup
begitu kaumulakan perjalanan panjang seorang insan
meletakkan matahari dalam kabur hidup seorang anak kerdil
kaugantungkan bintang-bintang pada gelap nasib seorang manusia
kau jalinkan pelangi terindah pada buram harap muridmu
kaulah yang mengesat airmata pada pedih dan pilu kalbu
kau telah memberikan yang terbaik untuk mereka
kau telah membuka segala yang tesembunyi
kaupancarkan warna-warna terang memasuki kedewasaan mereka

begitulah seorang guru
kautinggalkan kata-kata
berbekas di kertas kecil buku-buku muridmu
dan kata-kata itulah menjadi peta pedoman
menjadi doa dan harapan
menjadi nyanyi dan suara mimpi
mereka membongkar dan meneroka
ilmu dan kebijakan
kemahiran dan kecekapan
dan masih ada lagi kata-kata
yang saban waktu kau lafazkan
menjadi ungkap terindah
tertulis kejap di  pintu kalbu
menjadi unggun nasihat 
rumpun keinsafan
yang tak  pernah terpisah dari hela nafas
mereka yang pernah bergelar
muridmu

guruku
terima kasih atas kata-katamu
kerana kata-kata itu
menemukan aku dengan apa yang aku miliki
terima kasih cikgu
 
 
mutiara yang kau ungkap 
 
mutiara yang kau ungkap
ketika aku belum mengerti tentang cinta dan warna
ia menjadi kata yang tertinggal rapi di sanubari
berada dalam gerak hayatku
semakin aku dewasa dan mengenal nafas kehidupan
terasa amat berharga mutiara itu
kunci untuk segala pintu perjuangan
matahari untuk segala gelap perjalanan
hujan untuk segala kemarau semangat
hanya kata-kata yang biasa
tetapi terungkap dari danau mulia hatimu
butir-butir mutiara yang berkilau terang
kepada seorang manusia
yang mencari dan ingin mengerti
dunia dan hidup ini
aku belajar dari bahasa yang kau tinggalkan
mengunyah payah meyakini masa depan
kau seperti ada membawa pedoman dan saksi
untuk aku melangkah dan pergi
begitu kau ada
memberitahu apa yang tak aku mengerti
sebahagian yang kini aku miliki
datangnya dari asuh didikmu 
cinta yang kau ikhlas pancarkan
ke dalam mangkuk masa depanku
bagaimana kau sekarang
semakin tua dan ditunda waktu
terbiar dan kesendirian?
tapi kau pernah membangkitkan
semangat
gunung dan rimba itu
tak pernah aku takuti
untuk mendaki
tuhan
bagaimana pun insan ini
berilah rahmat dan keberkatan
untuk segala dirinya
tiada lain aku mohon
sejahterakanlah guruku
ya tuhan
 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena