13 Nov 2015

Anak Yatim : Sebuah Renungan


Anak Yatim karya Rafli

Lirik Versi Bahasa Melayu

Anak Yatim
Rafly

Kini kuceritakan sebuah riwayat
Kisah yang baru terjadi di Aceh Raya
Dalam kekisruhan Aceh.. Aceh, Timur dan Barat
Disuatu tempat..begini ceritanya

Ada seorang anak yang menangis terus
Terus menagis dipangkuan ibunya
Ditanya pada ibunya, di mana ayah sekarang
Aku sangat rindu, rindu sekali
ingin melihat wajahnya

Kalau masih hidup, dimana tinggalnya
kan ku datangi, datangi waktu lebaran
Jika meninggal..meninggal
Mana kuburan kuburannya
Aku kan datang... kan datang membaca doa

Hidup si ibu tanpa sang ayah
Kucari kerja ya kerja
Untuk kehidupan bonda
Sudah nasib kita, kehendak Allah ya Allah
Walaupun susah oh susah tetap bersabar
Dijawab ibunya , wahai anakku
Kehendak Allah ya Allah, kita bersabar
Jangan putus asa hai asa, cubaan Allah ya Allah
Sabar dan Tabah dan tabah, akhirnya bahagia

Kita berdoa, Niatkan pada Allah
Semua musibah..musibah, jangan lagi datang
Aceh harus aman, jangan lagi tumpah darah
Serambi Mekah, Kuatkan agama

lirik Versi Bahasa Aceh


Aneuk Yatim
Rafly

Jino lon kisah saboh riwayat
Kisah baro that...baro that di Aceh Raya
Lam karu Aceh..Aceh Timu ngon Barat ngon Barat
Di saboh tempat...tempat meuno calitra

Na sidro aneuk jimo siat at
Lam jiep jiep saat saat dua ngon poma
Ditanyong bak ma bak ma ayah jino pat..jino pat?
Ilon rindu that...rindu that
keuneuk eu rupa

Nyo mantong hudep meupat alamat
Uloun jak seutot ..jak seutot oh watee raya
Nyo ka meuninggai..meuninggai
Meupat keuh jirat ..keuh jirat
Loun keuneuk jak siat ...jak siat loun baca do'a

Udeep di poma oh tan lee Ayah
Loun jak tueng upah tueng upah
Loun bri bu gata
Ka naseb tanyo geutanyo Kehendak bak Allah..bak Allah
Adak pih susah... susah tetap loun saba

Se eu't lee poma...aneuk meutuah
Kehendak bak Allah..bak Allah geutanyo saba
Bek putouh asa ..hai asa cobaan Allah..Ya Allah
Saba ngon tabah ..ngon tabah dudo bahgia..

Talakee do`a ..taniet bak Allah
Ubee musibah..musibah bek lee trok teuka
Aceh beu aman..beu aman bek lee ro darah..ro darah
Seuramo mekkah..mekkah beu kong agama.
Anak Yatim Versi Bahasa Indonesia


Rafli, lagu Anak Yatim dan rintihan Aceh di masa konflik
Heyder Affan Wartawan BBC Indonesia

10 Mac 2015


Sebahagian karya penting Rafli mampu menyuarakan kegetiran Aceh saat wilayah itu dikoyak konflik bersenjata.

Dibesarkan dalam keluarga seniman yang mendalami musik tradisional, Rafli menggali khazanah musik tradisional Aceh dan kemudian memadukannya dengan muzik moden.

Sebagian karya legendarisnya juga mewakili kegetiran Aceh saat wilayah itu dilanda konflik bersenjata yang berpanjangan.

Ketika tsunami meluluhlantakkan Aceh sepuluh tahun silam, lagu berjudul Anak Yatim -yang mirip rintihan itu- mampu menyihir dan memeras emosi sebagian masyarakat Indonesia.

Berulang-ulang diputar oleh sebuah televisi swasta, lagu ini saat itu sekaligus membuat pencipta dan pelantunnya, yaitu Rafli, semakin dikenal oleh masyarakat banyak -- tidak semata di Aceh.

Pria kelahiran tahun 1967 di Samadua, Aceh ini menciptakan lagu tersebut ketika konflik bersenjata mendera Aceh yaitu tepatnya pada 1999.

"Ini syair yang merespon persoalan gejolak politik di Aceh. Ada pesan perdamaian yang saya sampaikan melalui lagu ini," kata Rafli, Jumat (27/02) kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui sambungan telepon.


Nama Rafli makin dikenal masyarakat melalui lagu "Anak Yatim" yang mampu menyedot emosi masyarakat saat tsunami melanda Aceh.

Mampu menyedot perhatian masyarakat dua tahun kemudian, tetapi lagu sendu ini mencapai puncaknya saat tsunami melanda Aceh dan kelak selalu diputar dalam setiap peringatan bencana itu.

Selain muatan liriknya, Rafli mengaku lagu ini memiliki kekuatan pada irama yang dia warisi secara turun-temurun dari musik tradisional Aceh.

"Ada melodi, ada irama lokal pada lagu ini yang sangat kuat membumi pada masyarakat Aceh," kata mantan guru sekolah agama setingkat sekolah dasar ini.
Irama batin

Saat peringatan 10 tahun tsunami pada Desember 2014 lalu, lagu Anak Yatim ini diputar kembali dalam acara rasmi di Banda Aceh.

Dan seperti sepuluh tahun silam, lagu ini tetap mampu menyedot emosi sebagian pendengarnya -sampai sekarang.

"Ini memang benar-benar irama batin. Kerana saat itu kita hidup dalam konflik yang menggelisahkan. Ada kegelisahan yang harus dituangkan dalam senandung-senandung itu," ungkap pendiri grup musik Kande ini.

Namun demikian, ungkap Rafli, tidaklah gampang menuangkan senandung seperti itu dalam suasana konflik di Aceh di masa itu.

 Rafli menggali inspirasi dari peninggalan syair-syair kuno Aceh untuk sebagian besar lirik dan irama lagunya.

"Apalagi dengan syair yang gamblang. Iramanya saja sampai dicurigai. Saya merasakan itu (dicurigai oleh aparat)," ungkap Rafli yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh.

Ditanya apa yang ada di benaknya ketika mengetahui lagunya seperti mampu mewakili kegetiran masyarakat Aceh saat dilanda tsunami dan konflik bersenjata yang berkepanjangan, Rafli berkata:

"Saya rasa, ini ada semacam sinergi alam, sinergi kondisi, sinergi rasa, yang sudah berproses lama."

Dia kemudian menambahkan: "Apakah orang luar tidak pernah mendengar rintihan ini. Ini suatu penyampaian universal bahwa persoalan kemanusiaan akhirnya tersampaikan juga dengan melodi ini."

Mewarisi musik tradisional Aceh

Diawali kegelisahan terhadap nasib musik tradisional Aceh, Rafli menggali inspirasi dari peninggalan syair-syair kuno Aceh untuk sebagian besar lirik dan irama lagunya.

Ayahnya, Muhammad Isa, dan ibunya, Masniar adalah seniman musik tradisional Aceh sangat mewarnai karakteknya dalam bermusik.

Dan dibesarkan dalam keluarga seniman yang mendalami musik tradisional Aceh, Rafli kemudian menggali khazanah musik tradisional itu dan memadukannya dengan musik modern.

"Saya merasa punya tugas penting untuk bisa menampilkan kandungan tradisional Aceh yang harus ditampilkan dalam bentuk modern dan dinamis," kata Rafli yang di masa mudanya pernah menggeluri musik rock ini.

Sikap Rafli yang tidak menolak sentuhan musik modern, rupanya, sesuai dengan pandangannya yang mendukung agar Aceh membuka diri terhadap nilai-nilai dari luar.

"Kita harus menawarkan Aceh terbuka akan hal-hal yang baru," kata Rafli yang pernah meraih penghargaan "Duta Perdamaian Aceh" dari sejumlah organisasi internasional.


Sikap Rafli yang tidak menolak sentuhan musik modern, rupanya, sesuai dengan pandangannya yang mendukung agar Aceh membuka diri terhadap nilai-nilai dari luar.

Namun demikian, lanjutnya, "kita tetap selektif dalam penyerapan dan penerapannya sesuai etika dan estetika Aceh."

"Contoh, syairnya berisi pesan pentingnya menjaga kebersamaan. Terus komposisinya lebih ke jazz tapi tetap ada instrumen tradisi. Nah, kalangan anak muda akan melihat ini sebagai sesuatu yang berkarakter bagi mereka: 'Kok terasa saya di Aceh'," ungkapnya.

"Kalangan muda yang sangat mudah terbawa arus dengan persoalan 'kemodernan', nah, mereka bisa masuk ke dimensi esensi apa yang ingin saya sampaikan," jelas Rafli yang pernah kuliah di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ini.

Lagu 'Seulanga'

Selain lagu Anak Yatim yang melejitkan namanya, ada satu lagu lainnya yang dianggapnya sebagai "karya terbaiknya" sejauh ini, yaitu Seulanga.

Seulanga adalah nama bunga dalam bahasa Aceh. Seperti lagu Anak Yatim, melalui perumpamaan bunga itu tadi, Rafli secara simbolis menggambarkan apa yang disebutnya sebagai kepiluan Aceh saat dilanda konflik.

"Membuat lagu Seulanga ini, ada semacam kepiluan yang sangat luar biasa saya pada Aceh," ungkap suami Dewi Lisnaida dan ayah empat anak ini, mulai bercerita.

"Aceh ini seperti bunga. Kami ini bunga yang harum, yang bersedia menebarkan semerbak kepada dunia, yaitu dalam konteks antara Aceh dan pemerintah pusat yaitu Indonesia. Tapi saya fikir kok disewenang-sewenangkan. Ada sedikit kepiluan ya, bukan keputusasaan."

Karena itulah, saat ini, Rafli mengaku sangat bersyukur setelah ada kesepakatan perdamaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia.


Sepuluh tahun setelah perdamaian, banyak hal yang dicapai oleh Aceh, yaitu pertama adalah rasa aman yang luar biasa. Ini yang menjadi muara kerinduan karya-karya saya," kata Rafli.

"Sepuluh tahun setelah perdamaian, banyak hal yang dicapai oleh Aceh, yaitu pertama adalah rasa aman yang luar biasa. Ini yang menjadi muara kerinduan karya-karya saya," kata pemimpin grup musik Kande.

Dunia politik dan seni

Dan ditanya apakah pilihannya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Aceh tidak akan menggangu "proses kreasi" dalam dunia seni, Rafli menjawab secara diplomatis: "Saya punya jadwal konser seperti dulu."

"Kalau saya kunjungan kerja (sebagai anggota DPD), saya suruh menyiapkan panggung satu malam," ungkapnya.

Mengapa Anda tidak mendalami saja dunia muzik saja? Tanya saya.

"Selama saya berkarya (dalam dunia muzik), tidak mungkin (saya) tidak berpolitik. Semua karya saya bermuatan politik," tegasnya, masih dengan nada diplomatis.

"Dunia politik yang saya masuki sekarang, malah menjadi semakin tersampaikan apa yang ingin saya utarakan dalam karya-karya saya," kata Rafli.

bbc indonesia

1 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena