7 Aug 2015

Bumi Manusia

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai." 
(Magda Peters, Bumi Manusia 233)

"Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya." (Minke, Bumi Manusia 135)

Bumi Manusia


Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980.

Buku ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika masih mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 terlebih dahulu telah diceritakan ulang kepada teman-temannya.

Setelah diterbitkan, Bumi Manusia kemudian dilarang beredar setahun kemudian atas perintah Jaksa Agung. Sebelum dilarang, buku ini sukses dengan 10 kali cetak ulang dalam setahun pada 1980-1981.[1] Sampai tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Pada September 2005, buku ini diterbitkan kembali di Indonesia oleh Lentera Dipantara.

Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangkitan Nasional. Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.

Sinopsis

Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang "Nyai" yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Minke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Millema.

Melalui buku ini, Pram menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, dapat mengubah nasib. Seperti di dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa HBS dan Minke. Bahkan pengetahuan si nyai itu, yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah HBS.

wiki

Resensi Novel Bumi Manusia
Aris Purnama



paperback, 535 pages
Published 2005 by Lentera Dipantara (first published 1975)
ISBN 9799731232 (ISBN13: 9789799731234)

Prolog

Bumi Manusia merupakan buku pertama dari tetralogi buru yang ditulis oleh sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, ketika mendekam di penjara di pulau Buru,1975. Semasa hidup beliau sebagian dihabiskan dalam penjara- sebuah wajah purba semseta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat : 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun di Orde Baru (13 Oktober 1965 – Juli 1969, Pulau Nusa-Kambangan Juli 1969 – 16 Agustus 1969, Pulau Buru Agustus 1969 – 12 November 1979, Magelang/ Banyumanik November – Desember 1979) tanpa proses pengadilan. Meskipun separuh hidupnya berada dalam penjara beliau tak luput dari kegiatan menulis, baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dibuang dan dibakar. Termasuk karya Tetralogi Buru ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang dilarang terbit pada tahun 1981 oleh Jaksa Agung karena dianggap mengandung ajaran marxisme atau komunis, nyatanya buku ini tidak mengajarkan tentang hal tersebut yang ada tentang nasionalisme. Namun sebelum diterbitkan buku ini, Pram menceritakan kepada rekan-rekan di Pulau Buru tentang tetralogi bumi manusia , itu menunjukan bahwa ia hafal betul dan menguasai apa yang ia tulis, sehingga tidak ada kekhawatiran mengenai originalitas ketika naskah buku ini dibakar dan dilarang terbit.

Review

Novel ini berlatar akhir abad 18, menampilkan suasana dengan sangat apik dan detail. Lokasi yang diceritakan pada buku Bumi Manusia yatiu Wonokromo pada akhir abad 19, yang merupakan kawasan perkebunan tebu, Surabaya, Blora. Ketika membacanya seolah-olah pembaca berada pada abad masa itu.

Bercerita tentang seorang keturunan Jawa, Minke, yang sering diperolok-olok oleh kaum totok belanda karena kulitnya, karena pribumi! Pram memberikan karakter minke sebagai manusia pribumi yang terpelajar, melawan penindasan terhadap dirinya, terhadap orang lain dan terhadap bangsanya. Minke bersekolah di H.B.S (Hogere Burger School)yaitu sekolah yang setara SMA yang tidak semua pribumi bisa bersekolah sampai sejauh itu, hanya keturunan minimal ningrat yang boleh bersekolah. Minke merupakan anak dari bupati kota B (disebutkan dalam novelnya seperti itu, mungkin maksud Pram adalah Blora karena menceritakan tentang RM. TAS) karena itulah dia dapat bersekolah di H.B.S. Tetapi hidup ditengah-tengah pergaulan eropa menjadikan pandangan minke menjadi pengagung eropa, dia melupakan tradisi dan adat jawanya, tradisi yang ada dari nenek moyangnya hilang begitu saja karena pengetahuan eropanya bahkan ia tidak mau memakai baju adat jawa karena sudah terbiasa dengan pakaian-pakaian eropanya. Hal tersebut sempat membuat geram ayahnya yang merupakan Bupati B akan tetapi sang ibunda lah yang terus mendukung anaknya minke agar melaksanakan apa yang ia cita-citakan, disini minke mengalami pencarian jati dirinya, seorang pribumi tapi pengagung eropa.

Adalah Robert Surhof teman sekaligus akan menjadi lawan, teman yang memiliki niat picik, serakah dan ingin mendapatkan apapun yang dia inginkan meskipun melakukan dengan cara-cara kotor. Suatu hari Robert Surhof mengajak minke berkunjung ke Wonokromo, sebuah perkebunan tebu dan perusahaan perdagangan, peternakan milik Nyai Ontosoroh (Nyai adalah sebutan bagi gundik-gundik kompeni). Perkebunan yang begitu luas dengan rumah yang bagai istana, selain perkebunan Nyai memelihara ternak karena pelataran nya sangatlah luas. Pertemuan kali pertama Minke dengan Annelies (putri dari Nyai Ontosoroh) menjadi poin penting dalam novel ini. Kisah Cinta pada pandangan pertama digambarkan oleh Pram begitu romantis. Annelies dideskripsikan oleh Pram sebagai Gadis indo-Belanda yang memiliki paras sangat cantik, bertubuh langsing, beramput pirang dan lurus, dikatakan bahwa kecantikannya melebihi Ratu Wilhemnia (Ratu belanda), mungkin akan membuat pembacanya jatuh cinta pada sosok Annelies. Walaupun taraf pendidikan Annelies tidak sampai H.B.S akan tetapi dia memiliki pesona luar biasa lainnya, yaitu di usianya yang masih dikatakan belia dia mampu mengurusi perkebunan dan peternakan dan membantu ibunya menjalankan perusahaan, karena ayahnya,Mellema, kelakuannya berubah 180 derajat yang dikatakan akibat pengaruh hobinya pelesiran dan mabuk-mabukan pada saat itu. Semenjak pertemuan pertama minke dan annelies sekiranya telah menimbulkan benih cinta dikeduanya, Minke yang terpandang terpelajar dan pintar dalam berbahasa belanda serta prancis membuat Nyai Ontosoroh kagum dan tak ragu menyetujui jika mereka berhubungan. Namun masalah lain timbul, Robert Surhof yang ternyata temannya memang mengincar annelies sejak lama, Robert berteman lama dengan kakak kandung annelies, Robert Mellema, tentunya surhof memandang annelies secara nafsu. Berbagai siasat ditempuh surhof untuk menjauhkan minke dari annelies. Suatu hari Annelies jatuh sakit karena memikirkan sang pangerannya, Minke, karena minke pernah berjanji kepada annelies pada kunjungan yang pertamanya bahwa dia akan menemuinya lagi beberap hari kedepan, namun sudah berminggu-minggu minke tidak berkunjung ke kediaman Nyai Ontosoroh. Akhirnya karena melihat anaknya sakit, Nyai menyuruh salah seorang pekerjanya untuk mengirimkan surat kepada minke serta menjemput minke untuk bersedia tinggal di kediamannya.

Begitu besar kisah cinta yang digambarkan antar Minke dan Annelies sehingga akhirnya mereka menikah walaupun banyak pertentangan dari orang tua Minke yang tidak menyetujui ia menikah dengan seorang keturunan Belanda. Namun yang menarik, Pram menyajikan novel selalu diluar dugaan, ketika kondisi pembaca tengah asik dan memiliki perasaan senang tiba-tiba pram membalikan kondisi tersebut menjadi terbalik. Kisah cinta antara Minke dan Annelies mengalami sesuatu yang sangat memilukan, yaitu karena Annelies anak dari seorang Gundik yang bernama Nyai Ontosoroh, akibatnya perkawinan antara Nyai Ontosoroh dengan Robert Mellema tidak diakui pengadilan tinggi belanda. Begitupun dengan pernikahan Minke dan Annelies tidak di akui pengadilan belanda karena tidak ada ijin orangtua sah dari annelies, hak asuh annelies diberikan kepada ibu tirinya di Belanda. Dan Akhirnya secara terpaksa Annelies harus angkat kaki dari dan pergi ke Belanda. Mendengar kabar tersebut Anneies kembali jatuh sakit dan selama berhari-hari dia tidak makan dan tidak bicara, kekecewaan yang mendalam dirasakan annelies, dia akan kehilangan cintanya, ibunya dan semua kenangan-kenangan dari masa kecilnya.

Sementara Minke dan Nyai Ontosoroh tidak tinggal diam melawan ketidakadilan pengadilan putih belanda, minke dengan kepiawannya menulis pengaduan diberbagai media cetak telah menyalakan api para pembacanya, pendukung Minke tidak hanya sekedar kerabat-kerabatnya, kini seluruh masyarakat di wonokromo dan Madura ikut protes terhadap ketidakadlilan belanda. Namun apalah yang bisa dilakukan oleh seorang Pribumi terhadap pengadilan tinggi, semuanya tidak ada hasil. Annelies harus pergi ke Belanda dan terpisah dari pangerannya Minke. Hal tersebut merubah semua pemikiran minke yang semula pengagum belanda kini dia merasakan ketidakadilan, penjajahan, diskriminasi belanda terhadap pribumi.

Novel ini sungguh menarik dan sangat berkualiti, novel terbaik yang pernah saya baca! Novel lanjutan bumi manusia akan menjelaskan bagaimana kisah Annelies dan Minke serta perjuangan dan perlawanan mereka terhadap kompeni. Dalam novel pertamanya Pram belum menggambarkan siapa sosok Minke sebenarnya dan apa peran penting dalam kebangkitan nasional.

kompasiana

Dunia Melayu Yang Tersirat Dalam Tetralogi Bumi Manusia Pramoedya
Koh Young Hun

Bumi Manusia-Satu Tonggak Baru

Pramoedya merupakan seorang novelis Indonesia yang terkemuka dan sering dibicarakan oleh pengkritik sastera dalam dan luar negara Indonesia. A. Teeuw pula pernah mengungkapkan bahawa Pramoedya adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah dalam satu abad (1980: 242). Di antara hasil-hasil karya sastera Indonesia, barangkali karya-karya sastera yang dihasilkan oleh Pramoedya merupakan karya yang paling banyak diterjemahkan dalam bahasa-bahasa asing di luar Indonesia. Justeru hakikat inilah yang membuat Pramoedya sebagai novelis Indonesia yang terkenal dalam arena sastera internasional. Di samping itu, jejak kehidupannya yang bersengsara pada masa yang lalu pula mengambil perhatian golongan pembaca di luar negara. Akan tetapi sebagaimana yang diketahui di Indonesia nama Pramoedya semakin terlupa dalam kalangan pembaca, khususnya para pembaca muda, kerana karya-karyanya dilarang beredar.

Pramoedya menerbitkan novel Bumi Manusia pada bulan Ogos 1980, iaitu lapan bulan selepasnya dari tarikh pembebasan dari pengasingan Pulau Buru. Novel ini merupakan bahagian pertama dari tetraloginya yang tersusul, iaitu Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988). Tetralogi ini dapat dianggap sebagai karya novel sejarah Indonesia yang mengandungi wawasan baru. Ini kerana Pramoedya memaparkan amanat yang istimewa dalam karya novel tersebut.

Sejarah adalah merupakan satu fakta, atau sesuatu yang dapat dibuktikan dengan fakta. Sejarawan mahu tidak mahu terikat pada fakta-fakta yang pernah terjadi: dia tidak bebas dalam penggarapan bahan-bahan sejarah itu. Akan tetapi, seorang penulis novel sejarah dapat lebih bebas menciptakan ceritanya sendiri. Menurut Georg Lukacs, novel sejarah yang sebenar ialah novel yang membawa masa lampau kepada kita dan membuat kita mengalami hakikat masa silam yang sebenar (1962: 53).

Dalam menganalisis seri novel sejarah Bumi Manusia ini eloklah perhatian lebih utama diberikan kepada penyorotan pemikiran Pramoedya sendiri. Dengan perkataan lain, apa yang dimaksudkan oleh Pramoedya sendiri lebih penting daripada penjelasan fakta sejarah yang berkenaan. Ini kerana, seorang penulis novel sejarah tidaklah berhajat untuk mendedahkan sifat hakiki masa yang silam saja, melainkan dia lebih berkecenderungan untuk memaparkan pemikirannya sendiri dengan berpandukan kepada fahaman masa lalu. Dalam konteks ini, sebagai seorang sasterawan yang juga pengamat sejarah bangsanya yang serius, Pramoedya menciptakan tidak lain sebuah karya sastera. Menurut pandangan Jakob Sumardjo, sejarah merupakan harta karun budaya yang dapat digali, ditimba, ditafsirkan dalam kaitan membicarakan masalah masa kini. Di sana penuh dengan lambang, kejadian yang tidak jelas dan kerananya menentang imaginasi bentuk mengembangkannya. Sejarah sebenarnya adalah wilayah bagi sasterawan yang serba berkemungkinan (1985). Jadi, sebagai seorang sasterawan, beliau amat beruntung kerana boleh melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan disiplin sejarah yang amat terikat pada fakta, bukti dan ketepatan peristiwa itu. Pramoedya, justeru itu, secara bebas mencipta dan membentuk watak-watak historis mengikut kemahuannya. Maka, hasilnya lahirlah watak Minke alias R. M. Tirto Adhisoerjo, bapa kewartawanan berbahasa Melayu di Jawa dan perintis pergerakan yang telah menubuhkan Syarikat Priyayi dalam tahun 1906, yang agak lebih romantis dan lebih bersih daripada hakikatnya (Ahmat Adam 1989: 32).

Berhubungan dengan ini, dapat dikatakan bahawa, walaupun ada banyak kemiripan antara watak utama Minke dengan R. M. Tirto Adhisoerjo, mereka tidak keseluruhannya identik. Pramoedya sendiri menegaskan bahawa novel-novelnya tetap harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah (dalam wawancara 17 Jun 1991). Oleh sebab itu watak utama dalam tetralogi ini bukan Tirto, melainkan Minke sebagai seorang tokoh buatan yang bersumberkan dari tokoh sejarah itu. Mengenai pengambilan tokoh Tirto, beliau menjelaskan sebagai berikut:

R. M. Tirto bukan saya maksudkan ditampilkan sebagai hero, tapi sebagai individu yang telah melepaskan diri dari kebersamaan tradisional, yang berabad lamanya jadi penghambat progres. Ini nilai kultural yang telah dicapai oleh R. M. Tirto (surat kepada Marjanne Termorshuizen Arts, 6 Feb. 1987).

Perlu diingatkan bahawa sastera yang baik dapat menciptakan kembali rasa kehidupan, bobot, dan susunannya. Menciptakan kembali keseluruhan hidup yang dihayati, kehidupan emosi, kehidupan budi, individu mahupun sosial, dunia yang penuh mengandungi objek. Hal ini diciptakannya bersama-sama dan secara saling berjalinan, seperti yang terjadi dalam kehidupan yang kita hayati sendiri. Sastera yang baik menciptakan kembali kemendesakan hidup (Richard Hoggart 1966: 226-227). Pramoedya pula berpendapat bahawa seorang pengarang juga mengedepankan ideanya tentang masa tertentu dalam hasil karya, dan dia bukan hanya memotret peristiwa sejarah, tetapi juga menghidupkan sejarah dengan pendapat peribadi (dalam wawancara 17 Jun 1991).

Dalam karya ini Pramoedya menyentuh beberapa hal yang belum pernah dibicarakan oleh para sasterawan Indonesia yang lain. Beliau dengan terus terang memaparkan pandangan mengenai imej pemberontakan terhadap kuasa kolonial, warisan kebudayaan bangsa, pergerakan kebangkitan bangsa di tanahairnya, peranan wanita dalam peralihan zaman dan humanisme. Dalam sebahagian besar karya-karya sasteranya yang terdahulu, Pramoedya menceritakan masalah perseorangan manusia yang diilhami oleh peristiwa-peristiwa yang dialaminya sendiri. Sedangkan dalam tetralogi ini beliau mengolah masalah manusia sebagai warga dunia, masalah warisan kebudayaan, yang berkaitan dengan hari depan bangsa sendiri (Koh Young Hun, 1993: 131). Hakikat ini membuktikan bahawa pemikiran Pramoedya dalam karya ini adalah lebih matang daripada masa yang dulu, dan cakerawala pemikiran pula sudah diperluaskan. Dalam pada itu, pemikiran kebangkitan nasional (nasionalisme) yang dipaparkan dalam karya ini dapatlah dikaitkan dengan dunia Melayu.

Bahasa dan Agama sebagai Faktor Penyatuan Bangsa

Terdapat bermacam-macam definisi tentang nasionalisme dengan sudut pandangan masing-masing. Antara lain, nasionalisme dihuraikan sebagai suatu keadaan akal atau fikiran yang mengembangkan keyakinan bahawa kesetiaan terbesar harus diberikan kepada negara (Hans Kohn 1965: 6);gabungan rasa kesetianegaraan dengan kesedaran kerakyatan (Carlton J. H. Hayes 1931: 6) dan lain-lain. Akan tetapi, dari apa yang ada ini dapat dikatakan bahawa suatu definisi atau konsep nasionalisme yang khusus tidak dapat diterapkan untuk semua negara bagi digunakan untuk menghuraikan gerakan nasionalisme masing-masing. Ini kerana pengalaman hidup yang menumbuhkan gerak kesedaran sesuatu masyarakat ke arah penentuan nasib tidaklah sama pada semua negara.

Tanggapan Pramoedya mengenai penyatuan bangsa, yang dipaparkan dalam karya ini perlu ditekankan. Ini kerana beliau memberi tanggapannya dengan tafsiran tersendiri. Misalnya, beliau berpendapat bahawa selepas kerajaan Majapahit sampai awal abad ke-20, bangsanya belum pernah dipersatukan. Maka, bangsa baru yang mencakupi kepulauan yang jauh lebih besar daripada Majapahit ini dapat dipersatukan dengan beberapa faktor yang sedikit sebanyak memiliki persamaan dan sarana moden yang diperlukan. Faktor-faktor tersebut, antara lain, adalah bahasa Melayu yang sudah menjadi lingua franca di seluruh kepulauan Nusantara pada masa itu dan agama Islam sebagai kepercayaannya.

Tanggapan ini bertepatan dengan penjelasan Ben Anderson yang menegaskan bahawa “nationalism has to be understood by aligning it, not with self-conciously held political ideologies, but with the large cultural systems that preceded it, out of which - as well as against which - it came into being” (1986: 19). Sistem kebudayaan yang sesuai untuk memenuhi matlamat itu, menurut Ben Anderson, adalah komuniti agama dan alam dinasti (dynastic realm). Dengan demikian anggota-anggota masyarakat dapat menganggap bahawa, walaupun saling tidak kenal-mengenal, mereka adalah berada di bawah satu naungan, iaitu komuniti bayangan (imagined community) (ibid. : 15-16). Maka, beliau memberi definisi mengenai bangsa sebagai suatu komuniti politik yang dibayangkan sebagai terhad dan berdaulat. Beliau seterusnya menerangkan bahawa karya novel dan suratkhabar boleh memberi sarana teknikal untuk menubuh semula suatu komuniti bayangan, iaitu suatu bangsa. Ini kerana para pembaca novel dan suratkhabar, walaupun berada secarara berasingan, dapat mengambil imej yang sama, iaitu imej bayangan (ibid. : 30-34).

Kalau ditinjau dari segi ini, pandangan Pramoedya yang menganggap peranan suratkhabar berbahasa Melayu sebagai pemimpin fikiran masyarakat pembaca untuk membangkitkan kesedaran dalam karya ini dapat dikatakan sesuai dan masuk akal. Sokongan penuh terhadap pemilihan bahasa Melayu sebagai penentu “Bangsa Melayu Besar” (Pramoedya 1985: 450), walaupun bukan bahasa ibunda (mother tongue)nya, menunjukkan sikapnya yang lebih mengutamakan faktor-faktor yang praktikal untuk penyatuan bangsa. Hakikat ini menunjukkan hasrat pengarang yang ingin menyatukan sebuah bangsa yang sebenar, iaitu bangsa yang sudah sedia bersatu dalam bahasa dan agama. Pramoedya menunjukkan pendapatnya melalui watak Minke seperti berikut:

Tidak sebagaimana diimpikan Douwager, tetapi berdasarkan bahan-bahan yang telah disediakan oleh nenek-moyang, bukan yang diambil dari angan-angan satu dua orang. Dan dasar-dasar itu adalah golongan tengah Pribumi yang menentukan kehidupan di Hindia, agama Islam sebagai dasar persaudaraan, usaha merdeka dan perdagangan sebagai dasar hidup bersama. Bahwa persatuan yang dapat melahir-kan nasionalisme Hindia bukan semata-mata Jawa, bukan semata-mata Hindia, tetapi di mana saja ada bangsa yang berbahasa Melayu, Islam dan merdeka (Pramoedya 1985: 447-448).

Adalah tepat kalau dikatakan bahawa penentunya dunia atau tamadun Melayu adalah bahasa Melayu dan agama Islam. Kepentingan bahasa Melayu untuk dunia Melayu amat muktamad, seperti dijelaskan oleh Ben Anderson. Agama Islam pula sudah menjadi rantai pengikat bagi bangsa Melayu. Ada pendapat bahawa “tamadun Melayu adalah tamadun Islam dari Asia Barat dan tamadun Islam itu sendiri telah pun mencapai kedudukan yang gemilang jauh terdahulu daripada tamadun Eropah moden” (Harun Mat Piah 1989: 433). Aziz Deraman pula menjelaskan bahawa perlembagaan yang memperuntukkan Islam sebagai agama persekutuan, kedudukan bahasa Melayu sebagai bahasa rasmi negara dan institusi raja berperlembagaan tidak lain sebagai hakikat sejarah dan kesinambungan budaya yang tidak terkeluar begitu saja (1992: 18). Dan bahasa Melayu serta agama Islam di dunia Melayu tidak dapat dipisahkan. Ini kerana antara lain bahasa dan khazanah sastera Melayu sebagian besarnya ditulis dengan nafas Islam. Jadi, kedua faktor, iaitu bahasa Melayu dan agama Islam dapat dianggap sebagai unsur penyata kesatuan bangsa Melayu.

Bahasa Melayu

Pramoedya menekankan pentingnya penggunaan bahasa Melayu sebagai salah satu faktor penyatuan bangsanya dalam tetralogi ini. Beliau mengutarakan pandangan ini melaui watak-watak yang muncul dalam karya ini, khususnya watak utama Minke. Pada awal ceritanya Minke sebenarnya digambarkan lebih bijak menulis makalah untuk suratkhabar dalam bahasa Belanda daripada bahasa Jawa dan bahasa Melayu, kerana dia menerima pendidikan di HBS (Hogere Burger School) yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa perantaraannya. Akan tetapi, apabila golongan bukan peribumi menerbitkan suratkhabar dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa, watak-watak seperti Marais dan Kommer, sebagai orang-orang yang memupuk semangat nasionalisme kepada Minke, mula mendesaknya supaya menulis makalah dalam bahasa Melayu. Ini kerana pada waktu ini bahasa Melayu sudah menjadi lingua franca di kepulauan Indonesia. Watak-watak tersebut menganggap bahawa dengan berbuat demikian, Minke dapat mempersoalkan isu-isu yang menyangkut kepentingan pembaca peribumi sendiri secara lebih berkesan dan menyeluruh. Mereka menuntut seperti berikut:

“Sekali Tuan mulai menulis Melayu, Tuan akan cepat dapat menemukan kunci. Bahwa Tuan mahir berbahasa Belanda memang mengagumkan. Tetapi bahwa Tuan menulis Melayu, bahasa negeri Tuan sendiri, itulah tanda kecintaan Tuan pada negeri dan bangsa sendiri - - - - Siapa yang mengajak bangsa-bangsa pribumi bicara kalau bukan pengarang-pengarangnya sendiri seperti Tuan?” (Pramoedya 1980b: 104).

Seperti yang dijelaskan di atas, Minke dituntut untuk menyuluhi bangsanya sendiri yang tenggelam dalam kegelapan melalui tulisan dalam suratkhabar. Untuk itu dia harus mendalami bahasa Melayu yang sudah tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Pada permulaan abad ke-20, yang merupakan latar belakang waktu karya novel ini, bahasa Jawa hanya digunakan secara terbatas dalam lingkungan orang-orang Jawa, begitu juga bahasa Sunda, dan bahasa-bahasa suku yang lain, kecuali bahasa Melayu. Di samping itu, kaum intelek Indonesia yang sejak tahun 1908 dengan pelbagai cara telah berusaha untuk mendirikan organisasi-organisasi bagi mempengaruhi rakyat agar mereka bangun dan maju, lambat laun sedar bahawa mereka tidak akan dapat berhubungan rapat dengan seluruh rakyat melalui perantaraan hahasa Belanda. Ini kerana bahasa Belanda itu untuk selama-lamanya hanya akan dapat difahami oleh sejumlah yang kecil dari bangsa Indonesia. Berdasarkan kepada keyakinan bahawa hanya penyatuan bangsa Indonesia seluruhnya yang dapat suatu tenaga besar untuk menentang kekuasaan penjajahan, maka dengan sendirinya mereka berusaha mencari suatu bahasa yang dapat difahami oleh bahagian rakyat yang terbesar, iaitu bahasa Melayu (S. T. Alisjahbana 1956: 14-15).

Menurut John Hoffman, bahasa Melayu telah pun diperkenalkan di daerah Ambon mulai pertengahan abad ke-15 oleh para pedagang yang datang dari Melaka ; dan, pada awal abad ke-17 dapat dikatakan bahasa ini digunakan secara meluas di daerah tersebut. Di daerah Batavia pula, mulai tahun 1620, bahasa Melayu sudah merupakan salah satu bahasa agama pembaharuan (reformed religion). Dan pada awal abad ke-18 pihak VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) lebih memihak untuk menggunakan bahasa Melayu dalam urusan-urusan perdagangan dan pentadbiran (1979: 66-77). Sebenarnya, sudah dijelaskan oleh ahli-ahli bahasa bahawa jauh lebih sebelumnya, iaitu mulai abad ke-8, bahasa Melayu sudah lama berfungsi sebagai alat komunikasi dalam masyarakat yang sudah mencapai keberaksaraan dan segala ciri kebudayaan canggih yang lain. Dengan demikian bahasa Melayu dapat mengambil peranan yang penting di kepulauan Nusantara ini. George Mac T. Kahin pula menegaskan habawa satu faktor penyatuan Hindia adalah perkembangan satu lingua franca lama di kepulauan itu, iaitu bahasa Melayu, sebagai bahasa kebangsaan, yang bersama-sama dengan agama Islam telah berjaya melenyapkan fahaman sempit mengenai nasionalisme Indonesia (1980: 50).

Pramoedya dalam karya ini memberi penjelasan kenapa bahasa Melayu harus digunakan untuk membentuk persatuan bangsa. Tanggapannya ialah selain dari sudah menjadi lingua franca di kepulauan itu, bahasa Melayu mempunyai ciri-ciri khas, iaitu sangat praktikal kerana tidak mengandungi tingkatan-tingkatan pertuturan bahasa. Dalam pandangan ini tersirat keinginan beliau hendak melepaskan ciri-ciri warisan yang feudal, kerana tingkatan-tingaktan dalam suatu penggunaan bahasa sebenarnya hanya digunakan oleh golongan masyarakat feudal sahaja, yang memang berhasrat mewujudkan tingkatan itu.

Watak utama Minke sebetulnya mengalami perubahan fikiran selepas dia menangani kes Trunodongso di Tulangan. Kes Trunodongso ini memberikan rangsangan besar kepada Minke untuk mengenal bangsanya sendiri dengan lebih mendalam. Dalam pada itu, Minke mula merasakan suatu konflik telah timbul dari dalam hati nuraninya. Ini kerana, walaupun dia menganggap dirinya sebagai seorang pengagum Revolusi Perancis, yang meletakkan harga diri manusia pada tempatnya yang tepat, namun jiwa dan semboyan revolusi itu belum dapat mengubah sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya gagasan revolusi itu hanya tinggal jadi pengetahuan atau hiasan sahaja dalam fikirannya. Buktinya ialah, Minke merasa tersinggung juga kalau seorang petani, seperti Trunodongso bertegur dengan bahasa Jawa ngoko kepadanya. Maka, dia bercakap seorang diri: “Kau belum mampu melepaskan keenakan-keenakan yang Kau dapatkan dari leluhurmu sebagai penguasa atas pribumi bangsamu sendiri. Kau curang! Mata semboyan kebangsaan, persamaan dan persaudaraan Revolusi Perancis itu Kau pungkiri, demi keenakan warisan itu”. Seperti yang dapat dilihat dalam adegan ini, satu saat perubahan penting (turning point) berlaku dalam dirinya, kerana pemikiran Minke mengalami perubahan dari saat itu. Berbanding dengan sebelumnya, Minke dengan aktif melibatkan diri dalam pembelaan kaum marhaen melalui tulisan berbahasa Melayu dalam suratkhabar. Oleh yang demikian, dapat dikatakan bahawa soal penggunaan bahasa Melayu membuka jalan yang luas untuk mencapai cita-citanya.

Dengan demikian Minke memilih bahasa Melayu sebagai salah satu faktor bagi mengelakkan dunia yang bemasalah. Dari itu watak utama Minke akhirnya digambarkan sebagai seorang pelopor yang amat menghargai bahasa Melayu sebagai bahasa yang digunakan dalam suratkhabar dan organisasi-organisasi baru. Maka, apabila bertemu dengan ketua cawangan Palembang Syarikat Dagang Islamiah dalam perjalanan yang diadakan untuk melihat perkembangan organisasi itu dari dekat, dia menjelaskan perlunya menggunakan bahasa Melayu seperti ini:

“Dik,” panggilnya, “mengapa kita mesti menggunakan Melayu?”

“Dalam rapat-rapat cabang yang tahu bahasa Jawa tentu tak diharuskan berbahasa Melayu. Tetapi kalau tingkatnya sudah kongres atau tingkat pusat, atau berhubungan dengan pusat, tak bisa tidak harus dipergunakan Melayu. ”

“Mengapa Jawa harus dikalahkan oleh Melayu?”

“Diambiul praktisnya, Mas. Sekarang, yang tidak praktis akan ter- singkir. Bahasa Jawa tidak praktis. Tingkat-tingkat di dalamnya adalah bahasa pretensi untuk menyatakan kedudukan diri. Semua anggota sama, tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah - - - - Waktu bangsa-bangsa asing menguasai Nusantara, bukan Jawa lagi bahasa diplomasi. Melayu. Organisasi bukan organisasi Jawa, tapi Hindia - - - -“

“Tapi orang Jawa lebih banyak. ”

“Orang Jawa tak perlu bersusah-payah mempelajari Melayu, sebaliknya bangsa-bangsa lain membutuhkan tahunan untuk bisa menggunakan Jawa. Kita ambil praktisnya. Apa salahnya orang Jawa mengalah, melepaskan kebesaran dan kekayaannya yang tidak tepat lagi untuk jamannya yang juga tidak tepat? Demi persatuan Hindia?” (Pramoedya 1985: 373-374).

Denzel Carr pula berpendapat bahawa bahasa Melayu lebih demokratik daripada bahasa Jawa, dan lebih sederhana dalam bentuk tatabahasa, pengucapan dan paling utama dalam kekayaan kata-kata (1959). Memandangkan definisi bahasa sebagai ucapan fikiran dan perasaan manusia, maka segala usaha Pramoedya untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa perantaraan, yang dipaparkan dalam karya ini patut diberi perhatian.

Dengan itu Minke sendiri berusaha untuk mempraktikkan sifat bukan feudal bahasa Melayu dalam pembicaraan sehari-hari. Ini diketahui dari hakikat bahawa dia menasihati Krio, seorang calon anggota Syarikat Dagang Islamiah supaya menggunakan istilah “sudara”, dan bukan “ndoro” lagi kepada Minke, apabila dia mengunjungi cawangan Solo organisasi itu. Alasannya ialah, menurut Minke, sebutan “sudara” berasal dari “se-dara”, “se-susu”, “se-penyusuan” yang mengandungi makna kesamarataan (Pramoedya 1985: 369). Selain dari itu, Minke menganggap bahawa hanya dengan bahasa Melayu organisasi umum di Hindia Belanda akan dapat menjadi besar dan subur. Maka, dia mendesak Samadi, ketua cawangan Solo yang lebih menghendaki bahasa Jawa, supaya memberikan keyakinan kepada bahasa Melayu dengan alasan bahawa bahasa Melayu semakin jauh dari pengajaran pihak penjajah, semakin jauh dari orang-orang feudal, semakin demokratik dan menjadi alat perhubungan yang nyaman, dan lebih-lebih lagi ianya memang bahasa bebas. Ini kerana, menurutnya hanya golongan bebas yang akan menentukan nasib bangsa-bangsa Hindia, dan salah satu syarat untuk persatuan bagi bangsa-bangsa majmuk itu adalah dekat-mendekati dasar demokrasi (ibid. : 169).

Perlu ditegaskan bahawa skala pemikiran Minke terhadap konsep bangsanya amat besar. Minke menganggap bahawa bangsa yang dimaksudkan olehnya adalah seluruh bangsa-bangsa yang berbahasa Melayu di dalam dan luar Hindia. Ini bererti selain dari Hindia, termasuklah Melayu seluruhnya kecuali yang berbahasa Cina, serta orang-orang yang berbahasa di Siam, Singapura dan Filifina. Aziz Deraman pula pernah menerangkan bahawa alam Melayu atau dunia Melayu telah ditafsirkan sebagai suatu kawasan budaya yang kaya dan luas melingkungi rantau geografi yang meliputi Malaysia, Indonesia, Filifina, Brnei, Singapura, Selatan Thai, Indo-China dan berkembang ke kepulauan Pasifik di bahagian timur dan mencecah Malagasi di barat sehingga ke Taiwan di bahagian utara. Mereka itu terdiri daripada beberapa kumpulan dialek atau pengucapan bahasa yang mempunyai asas-asas keserumpunan (1992: 13). Dalam karya ini nama bangsa yang Minke sebutkan adalah tidak lain “Bangsa Melayu Besar”. Satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah bahawa di sini juga justeru bahasa Melayu yang menjadi dasar bagi pandangan ini. Gagasan ini jelas bertepatan dengan pendapat bahawa suatu bangsa dapat wujud kerana kebudayaan dan bahasa kebangsaan (Ben Anderson 1986: 66), dan “the new middle-class intelligentsia of nationalism had to invite the masses into history: and the invitation-card had to be written in a language they understood” (Tom Nairn 1977: 340).

Selain dari itu, pentingnya menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa penyatuan di kepulauan Hindia banyak lagi ditekankan dalam tetralogi ini. Apabila seorang watak peranakan Haji Moeloek menerangkan jasa golongannya untuk Hindia kepada Minke, ditampilkannya pula peranan golongan peranakan dalam mempelopori penerbitan suratkhabar berbahasa Melayu. Dalam situasi begini dia memberikan pandangan bahawa:

“Pribumi mengisi perbendaharaan kata-katanya melalui golongan Indo, dan nama-nama alat kerja yang tadinya tidak dikenal Pribumi. Yang lebih penting, Tuan, juga bahasa Melayu tertulis, tertulis dalam Latin, golongan Indo juga yang memulai. Juga penerbitan koran dan majalah dalam Melayu. - - - - Hanya karena kecintaannya saja pada bahasa Melayu, Tuan. Seperti aku sendiri ini, Melayu lebih sedap dari bahasa apa pun yang aku kenal, dan dapat aku ucapkan. Bahasa yang luarbiasa bebasnya, bisa dipergunakan dalam keadaan apapun, dalam suasana bagaimana pun, tanpa diri merasa kehilangan kehormatan (Pramoedya 1985: 277-278).

Pendapat ini menunjukkan bahawa golongan peranakan lebih dahulu menguasai bahasa Melayu daripada peribumi Hindia (lihat Ahmat Adam 1985: 32-50). Hakikat ini berkaitan dengan pandangan Pramoedya yang mementingkan khazanah sastera yang dihasilkan sebagian besarnya oleh golongan peranakan dan Cina pada perlintasan abad 19 ke 20. Sebenarnya hasil-hasil karya sastera seperti ini tidak diberi perhatian yang istimewa oleh para pengkritik sastera Indonesia. Akan tetapi, justeru Pramoedya yang menganggapnya penting sebagai sebahagian khazanah sastera Indonesia dengan memberi istilah “Sastra Melayu Lingua Franca”, “Sastra Assimilatif” atau “Sastra Pra-Indonesia”. Perlu diambil perhatian terhadapnya, kerana sastera pada masa itu sebagai cerminan keadaan zamannya mengandungi gagasan-gagasan yang mengawali kesedaran nasional. Pramoedya sendiri menjelaskan bahawa Melayu lingua franca merupakan fenomena tunggal di Asia Tenggara, kerana dipergunakan dan dikembangkan oleh orang-orang asing sewaktu memasuki Nusantara dari Melaka sebagai pangkalan. Mula-mula dipergunakan oleh para mubalig asing, juga dari pangkalan Melaka, untuk menyebarkan Islam. Maka tidak mengherankan bila naskhah-naskhah tua Tafsir Al-Quran yang didapatkan di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa berbahasa Melayu. Bahkan raja Islam pertama di Demak diperkirakan tidak berbahasa Jawa, tetapi Melayu (1982: 9).

Seperti dijelaskan di atas soal penggunaan bahasa amat penting dalam karya ini. Pramoedya sendiri telah pun berusaha menggunakan kata-kata Melayu untuk menggambarkan pemikirannya, yang sudah tidak biasa digunakan lagi pada masa kini di Indonesia, misalnya antara lain “cik’gu”, “emak”, “kelmarin”, “encik” dan “cawan”. Ini bererti bahawa sebagai seorang sasterawan Pramoedya menyedari ketepatan bahasanya dengan zaman yang dijadikan latar belatang karya, dan penyelidikan yang dilakukan untuk penulisan karyanya amat mendalam. Dalam konteks ini Keith Foulcher memberi pendapat bahawa:

The question of language is, in fact, of crucial importance in Bumi Manusia. Suffice it to say that the wider concerns of the narrative are constantly reflected through references in the text to the relationship between language and consciousness. In one of the exchanges with his mother, as Minke struggles to articulate his rejection of Javanese values, the degree of alienation between his consciousness and his environmemt is expressed at its most poignant through the issue of language (1981: 4).

Dengan demikian Pramoedya menunjukkan sikapnya yang mementingkan penggunaan bahasa Melayu dalam tetralogi ini. Sikap ini sebenarnya berpunca dari pandangan yang menghargai sikap demokratik, praktikal dan anti-feudal, yang justeru merupakan sifat-sifat bahasa Melayu juga.

Agama Islam

Tanggapan Pramoedya terhadap agama Islam juga dapat dilihat dalam karya ini. Sebagaimana yang tersebut di atas agama Islam merupakan salah satu faktor penting untuk penyatuan bangsa Melayu. Dan tidaklah berlebihan jika dikatakan tamadun Melayu adalah sebenarnya tamadun Islam. Dalam karya ini juga Islam dianggap penting sebagai rantai pengikat Bangsa Melayu Besar yang diistilahkan oleh watak utama Minke. Ini kerana dianggap olehnya bahawa satu faktor yang menimbulkan semangat nasionalisme yang padu adalah persamaan agama yang tinggi darjatnya yang terdapat di kepulauan Indonesia. Agama Islam dianggap “bukan saja boleh menjadi rantai pengikat, malah sebenarnya ia menjadi semacam lambang persaudaraan yang dapat mengawal atau mempertahankan diri daripada anasir-anasir pengacau asing dan tekanan dari agama-agama lain (George Mac T. Kahin 1980: 49).

Dalam karya ini watak utama Minke tidak digambarkan sebagai seorang Jawa yang termasuk dalam kalangan santri asli yang mempunyai orientasi yang lebih kuat dan lebih asli terhadap agama Islam berbanding dengan penduduk-penduduk lainnya, melainkan dia dapat dikatakan termasuk golongan abangan (lihat Clifford Geertz 1989). Namun begitu, tidak dapat dinafikan bahawa Minke adalah seorang muslim yang tetap menggantungkan harapan kepada kepercayaan agamanya, iaitu Islam. Ini terlihat pada sikap Minke yang bersandarkan kepada Allah apabila dia mengalami kesulitan seperti berikut:

Ya, Allah, juga kenelangsaan bisa menghasilkan sesuatu tentang ummatMu sendiri. Kau jugalah yang perintahkan ummat untuk berbangsa- bangsa dan berbiak. - - - - Aku berpaling kepadaMu, karena orang-orang yang dekat denganMu pun tidak pernah menjawab. Kaulah yang men- jawab sekarang. Aku hanya menulis tentang yang kuketahui dan yang kuanggap aku ketahui. Bukankah segala ilmu dan pengetahuan juga berasal tidak lain dari Kau sendiri? (Pramoedya 1980a: 186).

Selain itu, Minke sedaya upaya berusaha memperluaskan organisasi peribumi yang bercirikan kepada agama Islam,iaitu melalui gerakan Syarikat Dagang Islamiah. Maka, watak Pangemanann sebagai seorang pegawai peribumi yang berpangkat tinggi, dan juga sebagai seorang pengagum Minke, yang mengintip juga gerak-geri Minke untuk mencegah perluasan gerakan kebangkitan nasional itu, menilainya bahawa “beribu-ribu pengikutnya, terdiri dari muslim putih dan terutama abangan dari golongan mardika. Dia sendiri dari golongan priyayi, kadar keislamannya mudah ditukar. Islam baginya unsur pemersatu yang tersedia di Hindia” (Pramoedya 1988: 7). Dan, apabila Minke berbincang dengan Douwager, seorang peranakan yang membantu Minke di pejabat redaksi majalah Medan, dia memberi pendapatnya mengenai Islam sebagai berikut:

Dan, Islam, kataku selanjutnya, yang secara tradisional melawan penjajah sejak semula Eropa datang ke Hindia, dan akan terus melawan selama penjajah berkuasa. Bentuknya yang paling lunak: menolak kerjasama, jadi pedagang. Tradisi itu patut dihidupkan, dipimpin, tidak boleh mengamuk tanpa tujuan. Tradisi sehebat dan seperkasa itu adalah modal yang bisa menciptakan segala kebajikan untuk segala bangsa Hindia (Pramoedya 1985: 339).

Perlu disebut juga segala usaha Minke yang dipaparkan dalam karya ini adalah berpunca dari pemikiran kemanusiaan Pramoedya sendiri, yang menjadi salah satu asas tamadum Islam. Pada dasarnya tamadun Islam yang dibentuk dalam berbagai corak dan rupa itu mempunyai asas-asas yang kukuh. Asas-asasnya adalah antara lain: keagungan dan keluhuran nilai kemanusiaan berbanding dengan nilai benda ; dan, berfungsinya nilai kemanusiaan yang menyebabkan berkembangnya sifat kemanusiaan manusia bukannya sifat kebintangan. Dengan perkataan lain, apabila kemanusiaan manusia itu menjadi nilai tertinggi dalam sebuah masyarakat dan apabila sifat kemanusiaan di dalam masyarakat itu menjadi tumpuan penilaian ketika itulah masyarakat itu menjadi sebuah masyarakat yang bertamadun (Azam Hamzah 1990: 25-26).

Kemanusiaan adalah merupakan satu dasar pemikiran Pramoedya, kerana sebahagian besar karya sasteranya mengandungi ciri-ciri tersebut sebagai landasan penciptaannya. Rasa kemanusiaan ini terdedah dalam karyanya sebagai pancaran dari penderitaan yang dialaminya sendiri. Memandangkan kehidupan Pramoedya yang selalu didampingi dengan penderitaan manusia secara langsung atau tidak langsung, wajarlah beliau membawa ciri-ciri kemanusiaan yang ditimbulkan daripada lenturan penderitaan itu dalam karyanya sendiri. Pemikiran kemanusiaan yang dipaparkan oleh Pramoedya dalam karya ini adalah berpunca dari satu anggapan bahawa manusia manghayati kehidupannya sebagai manusia sebenar dengan melapaskan diri dari segala belenggu, umpamanya warisan kebudayaan yang kolot dan ketidakadilan dari kuasa kolonial. Dalam konteks ini Minke sangat bersimpati dengan nasib watak Nyai dan Surati yang dijual oleh ayah mereka sendiri untuk kenaikan pangkat ayahnya masing-masing.

Pramoedya memperlihatkan aspek kemanusiaan dalam karya tetraloginya ini dengan memberatkan juga soal penggunaan kekerasan dalam satu tindakbalas. Ini dapat dilihat apabila Trunodongso cedera parah kerana tertikam pedang Kompeni dalam suatu rusuhan. Minke menasihatinya bahawa tidak semua permasalahan dapat diselesaikan dengan senjata dan amarah. Di samping itu, Minke merasa sangat gelisah apabila isterinya, Prinses Kasiruta, menembak mati orang-orang yang hendak membunuh Minke. Semua ini berlaku kerana, seperti yang tersebut di atas, dia menangapi bahawa penggunaan kekerasan untuk tujuan apa pun tidak dapat merupakan penyeselaian masalah. Rasa kegelisahan Minke terhadap tindakan isterinya ditunjukkan seperti berikut:

Dia tidak mau tahu betapa gelisah suaminya tidur di samping seorang pembunuh.

“Kau menembak orang yang tidak siap untuk melawan. ”

“Aku hanya punya seorang suami. Suamiku bekerja untuk banyak urusan. Pekerjaanku terutama mengurus suamiku. Mereka dalam keadaan hendak menyerang waktu kutembak - - - -. ”

Ia sama sekali tak terganggu setelah melakukan perbuatannya. Tenang- tenang seperti tak ada terjadi sesuatu. Barangkali ia pernah melaku- kan pembunuhan-pembunuhan sebelumnya. Bulu romaku menggermang. Benar- kah selama ini aku beristrikan seorang pembunuh? Dan aku tidak tahu? (Pramoedya 1985: 436-437).

Seperti yang dijelaskan di atas Pramoedya membuat soal kemanusaian tertonjol dan hidup melalui peranan dan tindakan watak-watak dalam karya ini. Dengan demikian pemikiran Pramoedya yang mementingakan bahasa Melayu dan agama Islam ini bertepatan dengan asas-asas alam Melayu yang memang bersifat demikian.

Mengkaji seorang pengarang sesungguhnya adalah bermaksud mengikuti tanggapan diri pengarangnya terhadap dunia luar, yang terpancar dalam karyanya. Mengikuti pertumbuhan dan perkembangan karya sastera Pramoedya bererti membicara dan menganalisis dunia dan alam pemikirannya sendiri. Seorang novelis tidak hanya menyajikan kehidupan, tetapi juag intuisi dan tafsiran tentang kehidupan. Oleh yang demikian lahir batin yang didedahkan dalam karyanya dapat dirasakan juga sebagai pengalaman manusia umumnya. Dan pengalaman demikian menjadi dasar terpenting dalam menumbuhkan pemikiran Pramoedya, kerana sesuatu pemikiran tidak dapat langsung diwujudkan dari keadaan vakum. Semua ini bermakna pula apabila karya-karya yang mempersoalkannya itu dikaji atau dikritik tanpa sesuatu prasangka terhadap pengarangnya.

Bibliografi

Ahmat Adam, 1985, “The Bintang Hindia and the Pursuit of Kemajuan for Indonesians” dalam Jurnal Antropologi dan Sosiologi, vol. 13, UKM: 3-14.

Ahmat Adam, 1989, “Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca” dalam Dewan Sastera, Jun: 29-33.

Anderson, Benedict, 1986, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, London: Verso.

Azam Hamzah, 1990, Tamadun Islam: Konsep dan Pencapaiannya, Shah Alam: Hizbi.

Aziz Deraman, 1992, Tamadun Melayu dan Pembinaan Bangsa Malaysia, KL: Arena Ilmu.

Carr, Denzel, 1959, “Sampai Ke mana Memurnikan Bahasa?” dalam Siasat, 21 Januari.

Foulcher, Keith, 1981, “Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa: Pramoedya Ananta Toer Enters the 1980s” dalam Indonesia, no. 32: 1-15.

Geertz, Clifford, 1989, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya.

Harun Mat Piah, 1989, “Tamadun Melayu Sebagai Kebudayaan Kebangsaan: Satu Tinjauan Dan Justifikasi” dalam Aziz Deraman et al. (ed. ), Tamadun Melayu, Jilid Dua, KL: DBP.

Hayes, Carlyon, J. H. , 1931, The Historical Evolutuin of Modern Nationalism, New York: Richard R. Smith.

Hoffman, John, 1979, “A Foreign Investment: Indies Malay to 1901” dalam Indonesia, no. 27: 65-92.

Hoggart, Richard, 1966, “Literature and Society” dalam Mckenzie (ed. ), A guide to the Social Sciences.

Jakob Sumardjo, 1985, “Novel Sejarah Kita” dalam Kompas, 15 Oktober.

Kahin, George Mac T. , 1980, Nasionalisme Dan Revolusi di Indonesia, KL: DBP.

Koh Young Hun, 1996, Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-Novel Mutakhirnya, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kohn, Hans, 1965, Nationalism: Its Meaning and History, Toronto: Van Nostrand.

Lukacs, Georg, 1962, The Historical Novel, London: Merlin Press.

Nairn, Tom, 1977, The Break-Up of Britain, London: New Left Books.

Pramoedya Ananta Toer, 1980a, Bumi Manusia, Jakarta: Hasta Mitra.

Pramoedya Ananta Toer, 1980b, Anak Semua Bangsa, Jakarta: Hasta Mitra.

Pramoedya Ananta Toer, 1982, Tempo Doeloe, Jakarta: Hasta Mitra.

Pramoedya Ananta Toer, 1985, Jejak Langkah, Jakarta: Hasta Mitra.

Pramoedya Ananta Toer, 1988, Rumah Kaca, Jakarta: Hasta Mitra.

Sutan Takdir Alisjahbana, 1956, Sejarah Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Rakyat.

Teeuw, A. , 1980, Sastra Baru Indonesia, Ende: Nusa Indah.

sumber

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena