23 Aug 2014

Kompilasi Puisi Perpisahan


ketika segalanya terbenam

ketika segalanya terbenam
terasa beratnya kesurutan, terambil segalanya
begitu pahitnya ketiadaan
warna-warna itu pun tak lagi kembali memberi terang
samar dan berbayang-bayang 
nyanyian pun berakhir tiba-tiba
semuanya terambil dan sirna
beratnya kejatuhan 
siapa lagi yang ingin peduli
sendiri mengaut hancur harap
semakin hitam warna 

ketika segalanya terbenam
hanya tinggal airmata hinggap di pipi
kekeruhan mengalir menindih kejernihan
segalanya menjadi kesakitan
bagaimana untuk melepaskan?

usah begitu dalam galau waktu
jangan terbenam berpacu dalam lumpur gusar
kepedihan adalah warna-warna dari lampu hidup
jangan semua itu membunuh pohon harap
kau masih ingin bermimpi
hentikanlah tangisan dan tidurlah untuk menemui mimpi-mimpimu
esok ketika pagi melebarkan sayapnya
kau harus berlari kembali mengejar peta mimpimu
ketika terbenam ke dasar 
tahulah betapa manisnya pucuk kemenangan
biarlah luka-luka itu menjadi pedoman
membuang khilaf membetulkan bingkai jiwa
ketika segalanya terbenam
tuhan memberi kesempatan untuk kita merasa
dukacita sebuah perjuangan
perbetulkanlah kembali jalanmu
kita masih berkesempatan
menunggu hujan menghijaukan semangat
membuka kelopak keyakinan
belajar dari airmatamu
kesakitan adalah peringatan yang indah
sebelum kita benar-benar
terbenam
dalam kekalahan panjang
 
 
 
bagaimana airmata
 
bagaimana airmatamu mengalir
sehabis upaya aku ingin menahannya
tapi tak semuanya bisa terhapus oleh jemariku
aku tahu kau tak memilih jalan gerhana
tetapi dalam ulang waktu dan pintas ketika
kita akan melintas sepi 
atau terbenam dalam guris yang panjang
bagaimana senja itu turun dan menghantar cahaya jauh
 gelap yang memanggil dan terasa akan hilang bersama pergi
kepayahan akan ada
keperihan akan tumbuh
sebagaimana kaki melangkah 
ada ketika tertusuk tajam onak
jangan mengalah dengan kesakitan kecil
barangkali esok akan kau dengar jeritan
atau masih ada yang berladung kesedihan
tetapi mereka tidak ingin menangis
 kerana untuk apa airmata
kesedihan adalah anugerah 
tuhanlah yang tahu bagaimana semua itu


hanya ketika kau pergi

hanya ketika kau pergi
dan kami menunggu kau tak kembali
begitu cepat perpisahan datang
menjarakkan batas waktu dan ruang
bukan semua mudah
menyarung kekosongan 
jejakmu masih hangat di beranda
sedang kau tak lagi kembali

bagaimana dapat tangguhkan duka
kau tak pernah kami lepaskan
entah di sudut mana kau menunggu
kami pun tak bisa mencarimu
 dalam airmata kami menanti
dalam doa kami pasrahkan
tuhan permudahkan segenap harapan
terlihat segenap garis dan bayang
terasa ada kau datang
rupanya cahaya  berbalam panjang

hanya ketika kau pergi
kami bersatu mengumpul semangat
bersama doa bersama ratap
janji tuhan tidak ke mana
kami menunggu takdir 
menjelma
 
 
 sebelum matahari pergi
 
sebelum matahari pergi
akan ada merah jingga warna
bertaburan di pintu langit
 
akan jauh matahari
meminggirkan cahaya
semakin jauh warna
semakin berbisik ketiadaan
 
 ebelum matahari pergi
awan gelap memgapungkan kehitaman
menutup cerah warna
semakin jauh cahaya
kesejukan semakin mendekat
 
garis-garis cahaya semakin mengecil
semakin usai warna
semakin tiada
begitu matahari bermohon
sebelum pamitan
 
 warna-warna memudar
pintu cahaya tertutup
matahari tak akan kembali lagi
meski lama kau menanti

begitu matahari
sebelum pergi
senyap meninggalkan
luas alam
 
 
pada ketika kesejukan itu tiba
 
pada ketika kesejukan  itu tiba
segalanya begitu dingin
hujan membawa angin basah 
memamah kepanasan yang masih tersisa
awan pun akan terbang rendah
membawa sarat air membawa berat kabus 
warna-warna begitu memudar
berbungkus tabir putih
dan matamu kehilangan kecerahan
kesejukan itu tiba
tertanam di tanah-tanah basah
tertinggal pada tangkai mawar
batu-batu itu pun mulai menerima kesejukan
kesenyapan mulai berlabuh di pintu langit
awan yang berat kabus yang sarat
kesejukan baru telah tiba
apa lagi yang dapat kukatakan
walau bagaimana kita menolak
hujan dan  keredupan itu akan tiba
menjamah jemari kita
 
pada ketika kesejukan itu tiba
kita hanya memiliki sekepal jantung
yang masih memanaskan alir darah
kau harus percaya pada apa yang kaumiliki
bahawa antara lapis-lapis kesejukan itu
jangan menyerah dan mereputkan harap
kita tak pasti bila matahari akan menjelma
tapi ia pasti ada
menunggu dalam kejauhan
memberimu semangat dan harap
 
 
 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena