6 Jul 2014

suara merdeka




BERJALAN DI BUMI MERDEKA
Ahmad Razali

Mari kita ungkap kembali
makna dan tafsir kemerdekaan
negara bangsa yang sering menyelinap
di saujana luas kehidupan kita
bumi merdeka bumi tercinta.

Mari kita ungkap kembali
sejarah bangsa yang berlari
di landas kekuatan dan tembok halangan
yang mencengkam harapan dalam
menusuk-nusuk jantung kemerdekaan
tersula dendam membara cengkam.

Berjalan di bumi merdeka ini
tidak seperti laluan di lebuh raya
yang mudah kita menemui destinasi
untuk mengangkat kejayaan mimpi
berpaut di pohon kejituan waktu
terbalar tubuh dibakar sumpah
tercalar maruah bangsa dirasuk sejarah
melimpah kekuatan ke puncak harapan.

Mari kita kuatkan kembali
pulau-pulau fikir yang berselerak
di laut dan bumi merdeka
jadikan sebuah pulau gagah
yang dapat mengatur sejalur fikir dan tafsir
tanpa sempadan waktu yang berang.

Mari kita dirikan kembali
makna dan tafsir kemerdekaan
di halaman alaf baru ini
mari kita sama-sama isikan kemerdekaan

dari kekuatan yang kita bina sendiri
untuk mengangkat dendam cita-cita
jangat bangsa yang bermaruah dan berwibawa
kita rempuh dunia tanpa sempadan
dengan cengkam tangan kita
mengatur langkah peribadi.


TANAH AIRKU
Dharmawijaya

I
tanah airku
ini kunyanyikan lagu
setiarela yang padu
ke bumi jantungmu.

telah melimpah sudah
citawaja dan keluhuran sumpah
dengan kasih wangi
di ini hati budi anak peribumi.

lantas teguh-utuhlah
kujunjung mahkota keagunganmu
bersama air mata dan darah
dan tenang-tenteramlah
ku hirup udara kemakmuranmu
bersama keringat basah.

II
tanah airku
meski dikau telah mengukir ucap-puja kemerdekaan

kudengar jua rintih sendu
anak-anak dalam meminta-minta
di ruang dadamu yang kaya raya!

maka dari sari yakin yang dianugerahkan
akan kukembangkan sayap kesedaran
di tari-siang dan mimpi malamnya
tentang harga diri yang penuh makna
bahawa ini kemerdekaan
adalah meminta pengorbanan
pada yang memberi dan menerima
tanpa mengenal putus-asa

III
tanah airku
hari ini telah kutau
dan anak-anakmu bisa mengaku
bahawa milik hidup yang diburu bimbang
antara senyum dunia yang molek
‘pipih tidak datang melayang
bulat tidak datang menggolek’.

IV
tanah airku
dalam jatuh bangunmu
anak-anakmu telah lama menjadi kuda-pacu
maka sekali ini bersama restumu
ia akan hidup berpawai bertanjak di mana-mana
ia akan mati mengusung nisan yang bernama.


PADA SETIAP KALI KAU TIBA, OGOS
Kemala

Pada setiap kali kau tiba, Ogos
bumi dan hati ini
melapangkan ruang buat kata hikmah
harga diri
awan hitam semalam
awan hitam belenggu
terbenam di kaki hari

Bukan gerimis
tapi taufan
bukan pesimis
tapi pahlawan
seribu, dua ribu tak bernama gugur tak bertanda
memeluk kemerdekaan dalam diam
syahdu yang datang adalah sepi hening
bukan nestapa
tapi gelegak
bukan duka
tapi ombak
gelegak ombak penampil bicara
pada setiap kali kau tiba, Ogos
siapa lagi bakal melihat dirinya
analisa ini
di ganggang siang
di tampuk malam
dewasa pancaroba serba
ini ketentuan
inti pencarian yang nikmat
dimensi gerak fikir daya
pada setiap kali kau tiba, Ogos.





0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena