1 Jun 2014

ketika segalanya terbenam


ketika segalanya terbenam

ketika segalanya terbenam
terasa beratnya kesurutan, terambil segalanya
begitu pahitnya ketiadaan
warna-warna itu pun tak lagi kembali memberi terang
samar dan berbayang-bayang 
nyanyian pun berakhir tiba-tiba
semuanya terambil dan sirna
beratnya kejatuhan 
siapa lagi yang ingin peduli
sendiri mengaut hancur harap
semakin hitam warna 

ketika segalanya terbenam
hanya tinggal airmata hinggap di pipi
kekeruhan mengalir menindih kejernihan
segalanya menjadi kesakitan
bagaimana untuk melepaskan?

usah begitu dalam galau waktu
jangan terbenam berpacu dalam lumpur gusar
kepedihan adalah warna-warna dari lampu hidup
jangan semua itu membunuh pohon harap
kau masih ingin bermimpi
hentikanlah tangisan dan tidurlah untuk menemui mimpi-mimpimu
esok ketika pagi melebarkan sayapnya
kau harus berlari kembali mengejar peta mimpimu
ketika terbenam ke dasar 
tahulah betapa manisnya pucuk kemenangan
biarlah luka-luka itu menjadi pedoman
membuang khilaf membetulkan bingkai jiwa

ketika segalanya terbenam
tuhan memberi kesempatan untuk kita merasa
dukacita sebuah perjuangan
perbetulkanlah kembali jalanmu
kita masih berkesempatan
menunggu hujan menghijaukan semangat
membuka kelopak keyakinan
belajar dari airmatamu
kesakitan adalah peringatan yang indah
sebelum kita benar-benar
terbenam
dalam kekalahan panjang


 

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena