20 Feb 2014

hati seorang ayah


jari ini begitu kecil ketika kau menyambutnya
terasa begitu kasar dan berkedut jarimu
tapi berbeza dengan jemari lain yang kugapai
begitu hangat dan mendebarkan hatiku
tidak pernah kutahu apa erti dan maksudnya debaran itu
ketika itu
melalui waktu aku mengenal kedewasaan
baru tertemu jawabnya
rupanya itulah getar cinta yang mengalir dari hatimu
memasuki perdu hatiku

jari ini bukan lagi sekecil dulu
sudah bisa menulis tentang apa yang terakam
di benua jiwa atau apa yang berlegar dalam hidupku sendiri
jari inilah yang semakin membesar dalam genggammu
dalam warna cinta yang selalu kautaburkan
sehingga pada suatu ketika
aku kehilangan jemari yang kasar dan mendebarkan itu
aku perlu belajar meraba kasih sayang
tanpa lagi kehadiran jemarimu
sehingga aku tahu makna dunia dan luas alam
tapi tak pernah pula terfikir untuk aku menulis
tentang jemari kasarmu
sedang begitu lama kaubangunkan cinta
dalam kalbuku

hingga aku menulis tentang jemarimu
sesudah semuanya tiada
baru terasa bahawa tanpa jemarimu
aku tak mungkin dapat menulis segala yang aku rasakan
dan aku menulisnya tentang rasa cinta itu
rasa ketiadaan jemarimu
sesudah kau tiada

mengapa tidak pernah terlintas olehku 
menulis tentang semua itu 
dan menghulurkan padamu
pasti kaugembira membacanya
hanya setelah kau tiada
aku menulis tentang jemarimu
dan aku sendiri yang membacanya

tiada kau lagi mendengar
hanya airmataku mengalir

aku belajar lagi 
tanpa jemarimu
bahawa segala cinta dan rasa sayang
ungkapkanlah pada ibu dan ayah
sewaktu mereka upaya mendengarnya
dan hargailah jemari itu
yang membesarkan
dengan hati
dengan segala cinta






hati seorang ayah
ada yang sukar dimengerti
tetapi apabila kita berada di tempat ayah ini
membelai anak yang pergi
kita akan lebih mengerti
bagaimana hati seorang ayah

2 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

© 2011 mimbar kata, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena